Akhirnya, Jadi juga ke Jogja (1)

IMG01360-20130826-1842

Man shabara zhafira. Barangsiapa bersabar dia beruntung.

Mantra kedua dalam novel Ranah 3 Warna, karya Ahmad Fuadi itu benar-benar mujarab. Mantra itulah yang akhirnya membawa saya dan keluarga bisa ke Jogja. Tanpa kesabaran, mungkin sudah lama saya menyerah.

Enam bulan lamanya kami menunggu, kapan bisa terbang ke Jogja. Menjalani penantian yang penuh ketidakpastian terbang benar-benar melelahkan.

Mengurus pengalihan tiket secara mandiri tanpa ada koneksi memang nggak mudah, harus siap lahir dan batin. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan ini.

Dan kabar gembira itu datang tepat pada hari kemerdekaan RI ke-68 lalu, 17 Agustus 2013. Petugas maskapai pengganti menelepon, kami bisa terbang ke Jogja 26 Agustus.

Apakah masalah selesai? Belum. Saya masih harus minta ijin ke perusahaan untuk bisa ke Jogja. Dan Alhamdulillah diijinkan.

Yang agak ribet, mengurus ijin anak-anak yang baru seminggu sekolah. Istri sampai harus mendatangi tiga sekolah, untuk minta ijin anak yang masih di SD, SMP dan SMA.

Ini memang kondisi yang nggak normal untuk liburan. Di saat murid-murid lain sekolah, anak-anak malah jalan-jalan. Perlu penjelasan panjang lebar ke guru bahkan menghadap kepala sekolah.

Sebenarnya saya dan istri mengajukan ke maskapai pengganti, agar bisa terbang ke Jogja waktu lebaran haji atau akhir tahun, bertepatan dengan masa liburan sekolah.

Tapi jawaban dari maskapai, ibu kalau minta jadwal musim liburan nggak bisa. Jadwalnya harus di luar musim libur. Wah kok bisa begitu ya?

Saya coba memahami, mungkin harga tiket waktu musim-musim itu melambung tinggi. Paling murah sekitar 1,3 juta, bahkan bisa sampai 1,7 juta. Sementara saya beli tiket di maskapai yg sudah tutup, pada saat harga normal, sekitar 900 ribu.

Jadi maskapai mungkin nggak mau rugi. Menerbangkan kami berenam pergi pulang dengan tiket normal, di waktu musim peak season. Kecuali mungkin kalau saya mau nambah biaya sesuai harga tiket liburan. Wah, kalau ini yang diminta, nanti dulu.

Hari Senin, 26 Agustus jam lima sore, akhirnya kami berempat terbang ke Jogja. Istri dan anak ketiga menyusul, karena kepala sekolahnya hanya kasih ijin tiga hari.

Alhamdulillah, setelah tahu kami jadi pulang ke Jogja, bapak mertua yang tinggal di Pringwulung Condongcatur menjemput di bandara. Padahal usianya udah 70 tahunan. Mungkin kangen banget dengan cucu-cucunya. Karena terakhir ketemu tahun 2010 lalu.

Pertemuan kali ini waktunya sempit, hanya enam hari. Itupun dibagi dua, tiga hari di Jogja dan tiga hari di Semarang. Waktu yang tiga hari di Jogja itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Nah, sewaktu di Jogja jalan-jalan kemana aja, tunggu di postingan berikutnya ya.

Pontianak-Palangkaraya, Memutar Via Jakarta

IMG00806-20121212-1821

Ruang boarding bandara Soekarno-Hatta

Pontianak dan Palangkaraya berada di satu pulau. Sama – sama berada di pulau Kalimantan. Pontianak di Kalbar dan Palangkaraya di Kalteng. Tetapi untuk bepergian dari Pontianak ke Palangkaraya dan sebaliknya, terkadang harus menyeberang laut Jawa dan memutar dulu lewat Jakarta.

Hal seperti itu yang saya alami ketika hari Selasa (11/12) lalu harus terbang dari Pontianak – Jakarta – Palangkaraya untuk keperluan tugas. Menggunakan pesawat Lion dari Pontianak, rencana berangkat jam 4 sore, ternyata terkena delay dan baru terbang ke Jakarta satu jam kemudian. Setelah transit di bandara Soekarno – Hatta, jam 8 malam perjalanan dilanjutkan dengan maskapai yang sama ke Palangkaraya.

Selesai mempresentasikan realiasi kegiatan tahun ini dan rencana kerja tahun depan, siangnya sekitar jam 1 berangkat lagi ke bandara Tjilik Riwut untuk kemabli ke Pontianak. Seperti waktu berangkat, rutenya juga sama, Palangkaraya –  Jakarta – Pontianak.

Di dalam pesawat,  dalam perjalanan keberangkatan dari Jakarta – Palangkaraya, saya sempat berpikir, kenapa sih tidak ada penerbangan langsung dari Pontianak – Palangkaraya? Kenapa harus mutar dulu lewat Jakarta?

Memang ada penerbangan langsung dari Pontianak ke kota lain di Kalimantan, seperti Pontianak – Sintang, Pontianak – Banjarmasin, Pontianak – Sampit, Pontianak – Pangkalan Bun. Bahkan penerbangan antar kota antar negara juga ada , seperti Pontianak – Kuching atau Pontianak – Singapura.

Waktu saya tanyakan hal itu ke pimpinan yang juga ikut ke Palangkaraya, beliau bilang,” Kalau pesawat dari Pontianak langsung ke Palangkaraya, ada nggak penumpangnya?”.  Saya sendiri juga belum tahu jawabannya.

Saya berpikir, kalau pesawat dari Pontianak ke Palangkaraya atau pesawat-pesawat lainnya harus transit di Jakarta, bukankah akan menambah padat lalu lintas penerbangan di bandara Soekarno – Hatta? Bukankah para penumpang transit akan menyebabkan ruang tunggu di bandara makin sesak, hingga mereka terpaksa duduk di lantai koridor menuju ruang boarding?

Bagi petugas Air Traffic Control (ATC), saya bisa bayangkan, betapa sibuknya mereka mengatur pesawat-pesawat dari maskapai dalam maupun luar negeri yang akan lepas landas dan mendarat di bandara. Bisa jadi, mereka adalah karyawan yang bekerja dengan  tingkat stress yang tinggi.

Saya sendiri yang hanya sesekali transit di bandara Soekarno-Hatta merasakan,  suasana bandara saat ini kok ramai sekali ya. Nggak hanya ramai dengan penumpang, tapi juga para pedagang asongan.

Malah waktu kami beristirahat di salah satu tempat makan menunggu pesawat ke Pontianak, ada dua pedagang yang masuk ke ruang makan dan menawarkan barang. Penjual pertama menawarkan parfum dan yang kedua menawari jam tangan. 🙂

Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang

“Kalau naik pesawat, waktunya hanya 35 menit”, ungkap salah seorang tamu di dalam kendaraan jemputan. “Dari Sintang ke camp berapa jam”, tanya tamu lainnya yang duduk di sebelah kanan saya. “Masih 4 jam lagi, Pak”, jawab saya dalam perjalanan dari Sintang ke Nanga Pinoh.

Lebih cepat perjalanan dari Pontianak ke Sintang, daripada dari Sintang ke camp. Padahal jarak Pontianak – Sintang sekitar 500 km, sementara jarak tempuh dari Sintang ke camp tidak sampai sepertiganya.

Setelah pesawat Kalstar beroperasi melayani rute Pontianak – Sintang, beberapa tamu sering menggunakan moda transportasi udara ini sebagai alternatif perjalanan menuju camp. Jadwal terbang pesawat  jenis ATR tersebut setiap hari dengan kapasitas 50 tempat duduk.

Berangkat dari Pontianak pukul 13.00 WIB dan tiba di Sintang pukul 13.35. Setelah menurunkan penumpang dan barang sekitar 20 menit, pesawat terbang lagi ke Pontianak pukul 13.55.

Sebelumnya, tamu-tamu sering menggunakan bis umum eksekutif atau kendaraan travel dari Pontianak ke Nanga Pinoh. Waktu tempuhnya 9 jam, dilanjutkan menggunakan kendaraan umum sekitar 2 jam ke camp.

Perlu waktu 11 jam perjalanan untuk mencapai daerah yang masih berada dalam satu propinsi. Betapa luasnya propinsi Kalimantan Barat. Luasnya sama dengan satu setengah kali luas Jawa ditambah Bali. Kalau di pulau Jawa, waktu tempuh selama itu sudah melewati 6 propinsi : Jabar, Banten, DKI Jaya, Jateng, DIY dan Jatim.

Dengan menumpang pesawat Kalstar, total waktu tempuh ke camp menjadi 4,5 jam. Menghemat waktu dan tidak menguras fisik dan tenaga. Terus, kalau naik pesawat Kalstar, berapa harga tiketnya? Dari Pontianak ke Sintang tiketnya Rp 459.300. Sekitar empat kali lipat harga tiket bis. Kalau bicara harga tiket, memang lebih mahal. Tapi waktunya tempuhnya hanya 1/16 kali dibandingkan waktu tempuh bis. Pilih mana?

Bagi penumpang yang super sibuk, dari sisi waktu jelas lebih efisien naik pesawat. Apalagi kalau penumpang ingin meneruskan penerbangan selanjutnya ke kota lainnya. Seperti waktu para tamu tersebut pulang ke Pontianak. Setelah terbang dari Sintang menggunakan Kalstar dan tiba di bandara Supadio, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat lainnya.

Tidak perlu ke luar bandara, tidak perlu menginap lagi di hotel. Cukup menunggu di bandara untuk penerbangan selanjutnya.

Sumber bacaan ;

– Pontianak Post