Harus Tebang Pilih agar Tetap Hijau dan Lestari

IMG_1145

Istilah tebang pilih nggak selamanya berkonotasi negatip, lho. Dalam terminologi hukum, istilah tebang pilih sering diartikan pilih-pilih dalam memberikan sanksi atau hukuman bagi pelanggar hukum.

Namun dalam bidang kehutanan istilah tebang pilih justru berkonotasi positip. Kalau hutan ditebang dengan cara dipilih-pilih, justru akan memberikan kesempatan bibit-bibit pohon untuk tumbuh menggantikan pohon-pohon besar. Kalau ditebang habis, yang terjadi adalah resiko terjadinya banjir dan longsor lebih tinggi. Satwa akan kehilangan habitatnya. Dan iklim akan berubah.

Seperti gambar di atas. Hutannya pernah ditebang dua kali, tapi pohon-pohonnya tetap menghijau. Kok bisa, ya? Padahal  sebagian orang beranggapan kalau hutan ditebang pasti gundul. Nggak ada lagi pohon yang tersisa.

Kalau menebangnya sistem tebang habis, ya betul. Semua jenis pohon mulai yang besar sampai kecil ditebang. Tanpa ada satupun yang disisakan untuk regenerasi.

Tapi kalau menebangnya pakai sistem tebang pilih dan ditanami, pasti hutan akan tetap lestari. Dipilih jenisnya. Jenis pohon yang dilindungi seperti manggris, jelutung, tengkawang tetap dibiarkan tumbuh. Ukuran diameternya juga dipilih. Hanya menebang pohon yang besarnya lebih dari 40 cm. Kecuali pohon-pohon yang berada di rintisan yang akan dibuat jalan angkutan.

Nah, pohon-pohon yang nggak ditebang tadi yang diameternya kurang dari 40 cm, setelah 20-25 tahun akan menjadi 50-60 cm. Dan bisa dipanen lagi. Ditambah lagi bibit yang ditanam yang pertumbuhannya cenderung lebih cepat daripada pohon besar tadi. Sepanjang tempat tumbuhnya cocok. Menerima sinar matahari yang cukup dan bibitnya berkualitas baik. Seperti halnya bayi dan anak-anak yang lebih cepat tumbuh dibandingkan orang dewasa.

Jadi, nggak selamanya pilih-pilih itu berarti negatif. 🙂

 

 

Rehat Sejenak itu Perlu

Bila sobat bekerja di kota besar atau ibukota negara, tentu tak susah menemukan pemandangan berupa bangunan yang sering disebut pencakar langit dan hutan beton. Sebuah istilah yang merujuk pada gedung atau menara yang tinggi menjulang, memiliki beberapa lantai dan berdiri dengan kokohnya di belantara kota.

Setiap orang yang berada di dalamnya, bila ingin rehat sejenak dari rutinitas kerja dapat menengok lewat jendela.  Berbagai pemandangan dan aktivitas di luar sana dapat menjadi penyegar dari kejenuhan dalam bekerja. Gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah penduduk, birunya awan di langit dan kepadatan lalu lintas di jalan, adalah pemandangan keseharian yang dapat dinikmati.

Tak terkecuali dengan diri saya. Pada saat rasa kejenuhan melanda dalam bekerja, sering saya rehat sejenak. Berdiri di samping jendela dan memandang view di luar sana. Bedanya, saya tidak bekerja di kota besar, tapi di tengah rimba.

Jadi, pada ketinggian sekitar 350 meter itu, pemandangan yang dilihat bukan deretan bangunan pencakar langit atau hutan beton, tapi hutan yang sebenarnya. Deretan pepohonan yang tampak seperti lukisan dari kejauhan. Gugusan tajuk pepohonan yang didominasi warna hijau dengan bentuk khas. Sekilas kalau dilihat dari atas atau samping berbentuk seperti kembang kol atau brokoli.

Setelah puas melihat pemandangan yang hijau-hijau, biasanya pikiran terasa segar kembali. Kejenuhan pun berangsur-angsur menghilang. Memang dalam menjalani rutinitas kerja, rehat sejenak itu perlu. Waktu 10 – 15 menit cukup untuk melemaskan otot-otot kaki, tangan dan badan. Dan juga menyegarkan pikiran, serta mengurangi kejenuhan yang ada.

Sudahkan rekan blogger meluangkan waktu sejenak untuk rehat, di saat menjalankan rutinitas bekerja, berusaha atau belajar ?

Akar Banir, Penopang Kekokohan Sebatang Pohon

Selama ini, di benak kita sering terbayang kalau yang namanya akar pasti letaknya di dalam tanah. Memang nggak salah sih, karena  bagian pohon atau tanaman yang biasanya tumbuh di atas tanah adalah batang, cabang dan ranting.

Tidak demikian halnya dengan pohon-pohon yang hidup di hutan tropis yang didominasi oleh suku meranti-merantian (Dipterocarpaceae). Dengan ukuran diameter batang yang cukup besar, yaitu lebih dari 50 cm, bahkan hingga 1 meter, dan tingginya bisa mencapai 30 meter, pohon di hutan cenderung beradaptasi dengan lingkungannya dengan membentuk akar yang tumbuh di atas permukaan tanah. Akar tersebut tumbuh dari bagian pangkal batang pohon, berbentuk  segitiga, pipih dan jumlahnya antara 2-5 buah.

Akar yang tumbuh di atas permukaan tanah itu disebut akar banir atau akar papan, karena bentuknya yang pipih seperti papan.  Semakin dekat letaknya dengan permukaan tanah, akan semakin lebar. Bila ditarik garis lurus dengan permukaan tanah dan batang pohon, berbentuk bangunan seperti segitiga. Kalau anda berkesempatan jalan-jalan di hutan atau kebun raya, akar tersebut bisa digunakan untuk tempat bersembunyi.

Terbentuknya akar banir atau akar papan tersebut mengikuti proses pertumbuhan pohon. Semakin besar pohon, bentuk dan ukuran akar banir juga akan semakin lebar dan tinggi.

Akar banir yang terbentuk tersebut berfungsi mempertahankan kekokohan pohon, karena menopang batang pohon yang berukuran besar dan tajuknya yang lebar, sehingga tidak mudah tumbang karena hempasan angin. Jika dijumpai pohon berbanir tumbang, biasanya disebabkan oleh akarnya di dalam tanah yang rapuh dan bukan karena akar banirnya.

Benar-benar suatu proses alam yang luar biasa dan menarik yang terjadi pada sebatang pohon untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya.

Bila anda pernah menonton film Jurassic Park,  benarlah apa yang dikatakan Dr. Ian Malcolm yang diperankan dengan bagus oleh Jeff Goldblum , “Alam sekitar akan mencari jalannya sendiri untuk menemukan kehidupannya”