Antusiasme Warga Ketika Sholat Gerhana

image

Luar biasa antusiasnya warga Pontianak melaksanakan sholat gerhana.

Meski sholat dimulai jam 7 pagi, tapi antrian mobil sudah terjadi satu jam sebelumnya.

Suasananya seperti saat sholat Idul Fitri

Nggak hanya di tempat parkir, jamaah juga harus antri masuk masjid.

Shaf-shaf penuh. Tapi alhamdulilah, ketika saya dan anak-anak antri, saya lihat ada shaf kosong di tengah.

Jamaah di depan saya juga melihat shaf kosong itu.

Setelah antrian mulai bergerak lagi, kami langsung menuju shaf itu. Jadi nggak perlu jalan ke shaf belakang. Betapa senangnya dapat shaf kosong di tengah.

Kegembiraan lain adalah bisa kumpul dan sholat gerhana bersama keluarga.

Sebuah momen langka. Karena tidak terjadi tiap tahun atau lima tahun sekali. Tapi sampai puluhan tahun.

Ini adalah kenangan yang tak terlupakan buat anak-anak.

Iklan

Rumah Betang, Rumah Adat Dayak

Bila ada berwisata ke kota Pontianak, selain menikmati wisata kuliner dengan mencicipi beberapa makanan khasnya, seperti lempok durian, minuman lidah buaya, kue bingke, kerupuk ikan belida, jangan lupa untuk mengunjungi beberapa obyek wisata budaya yang menarik, seperti Tugu Khatulistiwa, Jembatan Kapuas, Istana Kadariyah dan Rumah Betang.

Rumah Betang atau disebut juga rumah panjang (Long House) merupakan rumah adat suku dayak yang letaknya berada di pusat kota Pontianak, yaitu di Jalan Sutoyo bersebelahan dengan gedung Perpustakaan Daerah atau sekitar 150 meter dari rumah dinas Gubernur Kalbar.

Berbeda dengan rumah atau bangunan modern lainnya, ciri khas bangunan rumah betang adalah hampir semua bahannya terbuat dari kayu ulin, mulai dari tiang penyangga, dinding, lantai, tangga hingga atapnya.

Selain itu, tidak seperti rumah masa kini yang pondasinya berada di bawah tanah dan lantainya terletak di permukaan tanah, rumah betang berbentuk rumah panggung yang lantai dan bangunannya ditopang oleh beberapa tiang penyangga, sehingga bila kita memasuki rumah tersebut harus menaiki anak tangga yang juga terbuat dari kayu ulin.

Ciri khas lainnya adalah rumah ini berbentuk satu bangunan memanjang yang terdiri atas beberapa kamar, sebagai contoh dalam gambar terdiri atas delapan kamar. Biasanya dalam satu bangunan yang terdiri atas beberapa kamar tersebut dihuni oleh beberapa keluarga.

Pada saat ini, rumah betang keberadaanya semakin langka dan hanya dapat dijumpai di daerah pelosok Kalbar, ataupun di daerah pedalaman Kalimantan. Rumah betang yang berada di Pontianak lebih sering dipergunakan sebagai tempat untuk penyelenggaraan acara budaya seperti naik dango atau pesta setelah memanen padi .

Oleh karena tergolong bangunan langka,  sebagai salah satu upaya untuk melestarikan ciri khas bangunan rumah betang, model dan konsep rumah betang tersebut diadopsi oleh Pemerintah Propinsi dalam membangun beberapa gedung pemerintahan, seperti  Kantor Gubernur Kalbar dan Gedung DPRD Kalbar.

Bis yang Melewati Tiga Negara

Rute bis biasanya melewati beberapa kota dalam satu pulau atau beberapa kota antara dua pulau yang masih berada  dalam satu negara.

Tidak demikian halnya dengan rute bis di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain melayani rute antar kota dalam propinsi, seperti Pontianak – Sintang PP, Pontianak – Nanga Pinoh PP, Singkawang – Sintang PP, rute bis tersebut juga melayani antar kota lintas negara.

Oleh karena transportasi jalan dari Kalbar telah terhubung ke negara bagian Sarawak Malaysia melalui perbatasan Entikong,  beberapa perusahaan milik swasta ataupun milik negara (BUMN) juga mengoperasikan bis antar negara rute Pontianak – Kuching dengan tarif  Rp 160.000 per orang sekali jalan.

Tidak hanya itu, perusahaan milik negara, DAMRI, juga telah mengoperasikan bis dengan rute yang berbeda yang melintasi tiga kota dalam tiga negara, yaitu  Pontianak  (Indonesia) – Serian (Malaysia) – Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam).

Bis yang melintasi tiga negara tersebut berangkat dari Pontianak pukul 07.30 setiap hari menuju Bandar Seri Begawan dengan waktu tempuh 23  – 27  jam. Harga tiketnya  Rp 550.000 per orang  sekali jalan dengan kapasitas tempat duduk 28 – 36 orang.

Memang ironis, transportasi darat antar negara dari Kalbar telah terhubung dengan lancar hingga negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunei. Namun, dengan propinsi tetangga seperti Kalteng, Kalsel dan Kaltim, justru belum ada akses jalan yang memadai yang memungkinkan transportasi umum dari Kalbar menjangkau kota-kota di ketiga propinsi tersebut.

Hal tersebut ditambah lagi tidak adanya sarana transportasi udara yang langsung menghubungkan antar ibukota propinsi di pulau Kalimantan, baik dari Pontianak – Samarinda, Pontianak – Palangkaraya ataupun Pontianak –  Banjarmasin. Untuk melakukan perjalanan menuju kota – kota tersebut via udara, harus memutar dan transit di Jakarta terlebih dahulu.

Tak heran, kalau saat ini tetangga saya yang tinggal di Pontianak bila ingin kembali ke tempat kerjanya di Banjarmasin menggunakan pesawat, harus singgahdan jalan-jalan di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu, karena pesawat yang ada rutenya  dari Pontianak – Jakarta dan  dilanjutkan dari Jakarta – Banjarmasin.

Itulah faktanya, meski dalam satu pulau, transportasi darat ke negara tetangga sangat lancar, tetapi ke propinsi tetangga malah harus memutar .

Sumber foto : regional.kompasiana.com