Suvenir MUG Cantik Bagi Peserta Terjauh

Jpeg

Saat mengikuti acara pengembangan kemitraan oleh travel penyelenggara umroh, pembicara meminta para peserta praktek presentasi di depan. Hampir semua peserta yang berjumlah sekitar dua puluh orang diminta tampil di panggung.

Setiap tahap ada tiga orang yang diminta praktek bicara di depan peserta yang lain. Tahap pertama tiga orang diminta praktek sebagai pembawa acara atau MC. Masing-masing hanya diberi waktu tiga menit.

Tahap kedua memperkenalkan profil perusahaan. Tiga orang juga tampil di depan. Tahap yang terakhir menyampaikan program solusi yang ditawarkan bagi calon jamaah umroh yang terkendala masalah dana

Saya memberanikan diri maju dan berdiri di panggung untuk praktek presentasi profil perusahaan. Pembicara yang dari Jakarta menunjuk satu orang untuk memulai dan saya giliran yang ketiga.

Meski sudah beberapa kali bicara di depan publik, kali ini rasa grogi justru muncul dari dalam diri. Aneh memang, saat dminta tampil memberi sambutan atau presentasi di depan tamu, saya bisa lancar dan rileks, tapi ketika diminta praktek atau simulasi malah grogi dan nggak  tenang.

Saat presentasi saya nggak sesuai slide, pembicara sempat memberikan kode agar saya melihat tampilan slide. Biasanya sih saya saat presentasi sudah otomatis melihat wajah peserta yang hadir dan sesekali melihat slide di layar lebar.

Saya grogi apa karena dilihat pembicara yang jam terbang presentasinya sudah di atas saya? Atau karena menganggap remeh dan nggak ada persiapan sebelumnya?

Yang jelas, dalam hati saya menyesal dan berjanji untuk selanjutnya harus lebih rileks dan tidak grogi lagi. Juga persiapan pelajari slidenya dulu sebelum tampil.

Meski pembicara mengoreksi presentasi saya, ada satu apresiasi yang membuat saya surprise.

“Saya punya suvenir yang saya bawa dari Jakarta. Mug yang ada foto saya. Salah satu akan saya berikan buat peserta yang datang paling jauh dari Melawi”jelasnya

Dan saya diminta tampil lagi menerima suvenir mug cantik dari pembicara utama. Kenang-kenangan yang sampai sekarang masih saya ingat. Meski hanya sebuah mug, tapi perhatian yang diberikan di luar dugaan saya dan juga peserta lainnya.

“Mugnya disimpan saja ya, mas, jangan dipakai buat tempat minum”kata istri saya.

Awali Bicara di Depan Publik dengan Cerita

Pernah diminta berbicara di depan orang banyak dalam sebuah acara? Saya yakin setiap diri kita pernah diminta untuk berbicara di depan umum. Apakah sebagai ketua organisasi, karyawan, mahasiswa, pemilik bisnis atau juara dalam sebuah lomba.

Apa yang teman-teman blogger katakan ketika diminta berbicara di depan publik? Salah satu yang sering saya lakukan adalah dengan bercerita. Saya tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak dengan membaca teks. Semuanya spontan. Apa yang ada dalam pikiran ya saat itu saya ceritakan.

Seperti beberapa hari lalu ketika training penggunaan pelumas yang diadakan Pertamina. Ketika penyaji dari Pertamina selesai presentasi company profile, saya cerita kalau perusahaan milik negara ini diibaratkan klub sepakbola Indonesia, dia sudah bisa bersaing dengan klub-klub asing. Sebagai perusahaan BUMN, Pertamina bahkan pernah masuk jajaran 500 perusahaan kelas dunia menurut Global Fortune. Perusahaan yang mampu bersaing dengan perusahaan sejenis dari luar negeri.

Kenapa saya cerita dan ibaratkan dengan sepakbola? Karena saya melihat audiens adalah karyawan yang rata-rata hobi bola. Nah, kita sebagai bangsa harusnya bangga ya. Apalagi khusus untuk pelumas, perusahaan kita full pakai produk Pertamina. Berarti secara nggak langsung kan menghargai produk-produk dalam negeri. Kok tahu? Ya iya, saya sempatkan tanya kawan yang duduk di samping beberapa menit sebelumnya  🙂

Semua itu saya ceritakan secara spontan dan nggak pernah ada persiapan. Saya baru diberitahu teman kerja satu hari sebelumnya dan diminta bicara mewakili perusahaan.

Memang untuk berbicara di depan umum, terkadang kita perlu persiapan. Namun kita terkadang juga nggak bisa mengelak ketika ada permintaan mendadak. Kalau sudah seperti ini, nggak sempat lagi bikin konsep pidato atau teks sambutan. Apalagi kalau kerjaan lagi padat.

Bicara spontan di depan orang banyak, sebenarnya modalnya nggak susah kok. Kalau ada pembicara sebelum kita, kita bisa memberikan tambahan informasi yang saat itu belum disampaikan.

Apa yang pernah kita alami bisa jadi bahan omongan. Apa yang pernah kita baca, lihat dan lakukan juga bisa jadi cerita menarik. Kuncinya adalah telaten mengamati sesuatu yang terjadi, banyak baca dan rajin mengikuti informasi. Itulah sebenarnya persiapan yang diperlukan ketika kita bicara di depan orang banyak.

Agar Presentasi Menarik dan Inspiratif

Teman-teman pernah melihat seseorang memberikan presentasi? Bagaimana materi presentasinya? Apakah slidenya hanya berisi kata-kata atau kalimat panjang sehingga susah dipahami? Atau disain slidenya monoton karena tidak ada tampilan visual yang menggambarkan isi presentasi.

Selain kemampuan pembicara menyampaikan materi presentasi, rancangan slide yang menarik juga mempermudah audiens menangkap materi presentasi. Kita susah memahami isi presentasi jika tulisannya panjang-panjang, warna tulisan kurang kontras dengan latar belakang atau hurufnya kurang besar.

Terus slide presentasi yang menarik itu seperti apa sih? Ini yang baru saya ketahui ketika belajar di internet. Tak hanya itu, saya juga bisa mendownload e-book materi presentasi gratis di http://www.presentasi.net/dap/a/?a=5843.

Kalau teman-teman sering presentasi dan ingin membuat materi presentasi yang menarik, silakan berkunjung ke website tersebut. Segala hal mengenai presentasi diulas tuntas termasuk tutorial langkah-langkah menciptakan slide yang menarik dan inspiratif.

Hanya Bertanya dan Dapat Hadiah

Saya sudah beberapa kali mengikuti pelatihan, kursus atau diklat. Acaranya kurang lebih sama. Di dalam ruangan ada presentasi dari masing-masing instruktur atau tutor dan forum tanya jawab. Setelah itu ada juga yang dilanjutkan dengan praktek di tempat yang berbeda.

Ada satu acara training yang pernah saya ikuti dan suasananya cukup menarik. Salah satu dealer alat-alat berat mengadakan program Customer Care di camp. Posisi saya pada waktu itu bukan sebagai peserta, tetapi diminta mewakili pimpinan untuk memberikan sambutan. Pesertanya adalah para mekanik dan operator alat berat. Beberapa karyawan dealer yang memiliki keahlian menyajikan materi yang berbeda. Ada yang presentasi bagaimana merawat alat berat, cara mengganti spare part, sampai mengatasi kerusakan alat.

Sebelum acara dimulai, setiap peserta diberi satu tas warna kuning yang berisi modul, t-shirt, topi, kartu peserta dan pulpen. Kemudian masing masing peserta diminta menggunakan kaos selama mengikuti acara tersebut. Seorang teman kerja mendesak saya supaya memakai t-shirt, namun saya tolak karena saya saat itu mengenakan seragam kantor.

Acara dimulai sekitar jam 9 pagi. Diawali perkenalan masing-masing tutor dan dilanjutkan dengan presentasi. Satu session selesai kemudian acara tanya jawab. Nah, di sinilah acara ini jadi menarik. Kebiasaan saya kalau dikasih kesempatan bertanya, saya usahakan angkat tangan. Saya terkejut ketika MC bilang bahwa bagi yang bertanya akan mendapatkan suvenir dari panitia. Sambil berbicara, dia mendekati saya sambil memberikan souvenir gantungan kunci dengan tulisan nama dealer alat berat tersebut.

Wow, baru kali ini saya ikut acara training dan bertanya kemudian dapat hadiah 🙂 . Biasanya hadiah diberikan kepada yang bisa menjawab pertanyaan panitia, ”Ayo siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? Nanti dapat hadiah”. Peserta lainnya yang bertanya juga menerima hadiah berupa buku catatan, miniatur alat berat atau gelas minuman.

Kejutan yang diberikan panitia tidak hanya itu. Selesai session presentasi yang lain, panitia menyodorkan gulungan kertas, meminta saya  mengambil salah satu dan membacanya. Modelnya sama seperti arisan. Bagi yang namanya beruntung disebut, akan mendapatkan hadiah dari panitia. Acara ini diulang tiga kali hingga sore hari.

Saya pikir ini cara kreatif panitia membuat suasana training menjadi menarik. Selain materi presentasi yang baik dan cara penyampaian yang informatif, kejutan-kejutan seperti itu terkadang diperlukan dalam sebuah pelatihan. Agar presentasi terasa tidak membosankan dan peserta tidak mengantuk atau malah sibuk dengan gadgetnya.

Ikut Workshop

IMG00905-20130306-0756

Cerita ini masih kelanjutan dari postingan sebelumnya, baik Kipas Koran maupun Mumet dan Mual. Karena satu dengan lainnya saling bersambung. Di postingan Mumet dan Mual, ada cerita sekilas tentang persiapan untuk ikut workshop tanggal 5-6 Maret di Pontianak. Nah, kali ini, saya teruskan cerita tentang ikut workshop itu.

Bukan sekadar ikut sebagai peserta, lho. Tapi juga diminta tampil sebagai penyaji materi sekaligus pembicara di workshop yang diadakan di Uninersitas Tanjungpura (Untan). Temanya  Forestry and Local People “Toward A Joint Use and Management of Tropical Rain Forest, Indonesia”.

IMG00906-20130306-0759

Organizing Committee yang minta supaya dari pihak perusahaan yang menjadi lokasi riset, ada wakil yang menyampaikan presentasi. Di tempat kerja memang menjalin kerjasama dengan Kyoto University selama 3 tahun. Perguruan tinggi itu juga menggandeng perguruan tinggi lain dari dalam negeri seperrti IPB, UGM, Untan dan  LIPI sebagai counterpart dari Indonesia.

Menjelang kerjasama berakhir pada akhir bulan ini, panitia mengadakan workshop untuk mempresentasikan hasil-hasil riset yang telah dilakukan para peneliti sekaligus dosen dari masing-masing perguruan tinggi.

Menyampaikan presentasi bukanlah hal yang asing bagi saya. Kalau presentasi di lingkungan perusahaan sudah biasa. Karena tiap bulan salah satu tugas rutin memang menyajikan progres kegiatan dan permasalahan di hadapan manajemen cabang. Presentasi di level manajemen pusat juga sudah pernah, meski cuma sekali. Diminta untuk presentasi di depan instansi kehutanan propinsi, juga pernah mengalami.

Tapi diminta untuk presentasi dalam workshop internasional, wow baru pertama kali ini terjadi dan mudah-mudahan juga bukan yang terakhir. Ini benar-benar pengalaman yang menantang. Tampil sebagai penyaji materi dan pembicara di forum workshop international, di hadapan para akademisi dan peneliti.

IMG00918-20130306-1219

Dari tempat kerja ada tiga wakil yang diberikan kesempatan mengisi dua sesi. Dua wakil tampil di sesi pertama dan saya tampil di sesi kedua. Masing-masing diberi waktu 30 menit untuk presentasi.

Sementara tiga sesi lainnya diberikan kepada para peneliti dari lembaga-lembaga tersebut ditambah dari perwakilan NGO, yaitu WWF yang juga pernah melakukan survey populasi dan distribusi orangutan dan wau-wau di lokasi kerja.

Startegi pun mulai disusun. Kami bertiga berbagi tugas sesuai tema yang telah ditentukan panitia. Dua teman kerja diminta untuk menyiapkan  materi “Socio-economic condition and challenges in SBK Consession”. Sementara panitia meminta saya untuk menyajikan materi yang bertema “Intensive Forest Management System by SBK”.

Setelah materi dirancang, langkah berikutnya adalah latihan preentasi.  Maklum, karena baru pertama kali tampil di forum international, persiapan harus matang. Latihan presentasi dilakukan dua kali.

Latihan pertama masih banyak kekurangan. Mulai isi materi yang tampilannya kurang nyaman dibaca seperti angka dalam tabel yang terlalu kecil, data angka yang belum lengkap, sampai warna huruf atau angka yang kurang kontras dengan backgroundnya.

Itu belum lagi dengan teknis penyampaian materi. Pada latihan pertama tanggal 25 Pebruari, pembicara duduk sambil melihat laptop untuk menjelaskan isi materi. Padahal cara ini lebih sulit dibandingkan dengan berdiri dan melihat di layar. Karena si pembicara harus membagi fokus dari layar laptop, layar lebar dan mengklik tombol enter utuk perpindahan slide.

Kesalahan itu diperbaiki pada waktu latihan kedua tanggal 28 Pebruari. Pembicara tampil berdiri dan melihat layar lebar. Pointer laser digunakan untuk menunjuk obyek penting di layar, sementara perpindahan slide dilakukan oleh teman lain di depan laptop. Dan cara ini ternyata lebih efektif.

Disain slide, isi silde dan proses penyampaian materi pada latihan kedua jauh lebih baik. Terlihat kalau teman kerja yang jadi pembicara lebih rileks, nggak grogi dan percaya diri. Waktu saya mengomentari latihan  yang kedua ini lebih lancar, dia menjawab “ Malam-malam saya juga berusaha memahami isi slide dan cara nyampaikannya, Pak”.

Ooo.. rupanya selain latihan yang sudah dijadwalkan, mereka menambah sendiri di malam hari. Pantas baru sekali latihan dan banyak salah, waktu latihan kedua kok sudah lancar. Senang sekali punya teman kerja seperti itu. Mau menambah porsi latihan presentasi atas inisiatif sendiri, tanpa harus diminta atau disuruh-suruh.

Practice makes perfect. Latihan dan persiapan matang memang diperlukan untuk tampil di sebuah acara. Agar kita tahu dimana letak kekurangannya. Dari situlah kita berupaya untuk memperbaiki, sehingga pada saat tampil, kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir.

Waktu presentasi berakhir, rasanya plong sekali. Puass banget…….. Terasa ada kebanggaan saat tampil menyampaikan materi di hadapan audiens. Gimana nggak, orang lapangan dan sehari-hari kerja di hutan ternyata bisa juga presentasi.

Apalagi waktu makan siang, salah seorang peneliti yang bergelar associate professor di Kyoto University bilang, bahan presentasi itu akan dijadikan bahan kuliah buat mahasiswanya di kampus.

Wow… benar-benar apresiasi yang tak pernah diduga dan dibayangkan. Ternyata, hasil karya dan presentasi kami dihargai. Materi presentasinya bahkan sampai diminta dan sekarang mungkin sudah berada di negeri matahari terbit. Cuma berharap aja…kira-kira kapan ya yang buat materinya juga  diundang ke sana? 🙂

Mumet dan Mual

IMG00882-20130303-2035

Postingan ini harusnya sudah terbit sebelum postingan “Kipas Koran”. Karena kejadiannya memang duluan dan ceritanya saling terkait.

Waktu menulis di dalam bis hari Senin siang (4/3), malam sebelumnya aku sempat bikin satu postingan juga. Mengetiknya bukan di laptop, tapi di BB sambil berbaring di kasur. Cerita panjang dan mudah-mudahan nggak bosan bacanya. Langsung saja ya :

Bahan presentasi untuk workshop 5-6 Maret  sudah disiapkan. Materi dan laporan untuk rapat 7-8 Maret, tadi pagi juga sudah kelar. Kerja tim yang sangat memuaskan. Kalian memang super tim. Semangat kerja kalian layak diacungi jempol. Everything is running well.

Aku bilang kalau tanggal 3 semua materi bahan rapat diusahakan sudah siap. Dan ternyata tanggal 3 pagi memang benar-benar  siap.  Nggak lupa, siang tadi  juga sudah konsultasi ke boss.

Benar-benar hari yang cukup melelahkan. Dan rasanya nggak percaya semua itu bisa kelar. Apalagi kemarin kondisi badan sempat drop, harus istirahat dan berobat.

Setelah mengikuti presentasi hasil riset dua mahasiswa anthropologi Neijmegen University, dilanjutkan latihan presentasi dua karyawan yang akan jadi pembicara workshop, badan langsung tepar. Kepala terasa mumet, perut mual, badan masuk angin.

Waktu jam istirahat sekalian makan siang, badan udah bener2 drop. Tapi dipaksa-paksain makan. Kalo nggak, bisa tambah lemes dan roboh waktu pulang ke mess.

Untungnya, pas makan ada karyawan bagian personalia  yang mengingatkan, “Kalau sakit, istirahat saja, pak”. Dengan suara perlahan dan badan masih lemas, saya jawab,” Mungkin nanti siang saya nggak masuk, pak. Minta ijin”.

Pulang ke mess, langsung rebah ke tempat tidur. Sekitar jam setengah tiga bangun, badan masih lemas.

Keputusan harus diambil, aku harus segera berobat. Ambil HP, terus kirim sms ke call center, minta disampaikan ke bagian personalia supaya  dibuatkan surat berobat.

Nggak sampai seperempat jam, datang dua orang dari kantor . Ooo, ternyata mereka bawa  surat berobat sambil mau antar ke balai pengobatan, kalau aku udah nggak mampu jalan lagi.

Sambil memakai jaket, pelan-pelan  masuk ke kendaraan yang akan mengantar.
Tiba di balai pengobatan terus cek tekanan darah, 120/80, masih normal. “Keluhannya apa, Pak? tanya mantri. “Mual, pusing dan masuk angin, Pak” jawabku.

Tiga jenis obat lalu diambilkan di sebelah ruang periksa. Dua untuk hilangkan mual dan pusing dan satu jenis vitamin. Pulang ke mess, langsung aku minum ketiga tablet itu. Malamnya juga sama, minum lagi. Habis itu istirahat total. Nggak baca koran, lihat tivi atau buka internet.

Paginya badan agak membaik, alhamdulillah sudah nggak lemas lagi. Dan malam ini harus istirahat yang cukup.

Karena besok (4/3) jam 5 pagi harus meluncur ke Pontianak. Masih 13 jam perjalanan lagi untuk bisa sampai ke kota khatulistiwa.

Dapat Apa Setelah Belajar Internet ?

Pasti banyak yang didapat setelah kita belajar internet. Teknologi yang satu ini memang benar-benar mengubah dunia. Mengubah pola kita berkomunikasi. Mengubah cara kita mendapat informasi. Mengubah cara kita mengirim data. Mengubah perilaku kita mempelajari sesuatu. Segala informasi menjadi lebih cepat didapat hanya dalam hitungan detik.

Bagi saya, awalnya beranggapan belajar internet itu sulit. Apalagi yang namanya kirim dan balas email. Gimana caranya juga nggak tahu. Tuntutan dalam pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar. Kadang-kadang untuk berubah memang harus dipaksa.

Jadi kalau ada yang bilang berubah itu harus muncul dari kesadaran seseorang, nampaknya sulit. Perlu ada faktor pemaksa yang membuat seseorang harus berubah. Nggak usah jauh-jauh.  Lha, contohnya saya sendiri.

Saya berpikir, kalau ada tamu yang tanya dan minta alamat email, terus saya nggak punya alamatnya, gimana mau jawab?. Orang sekarang, kalau ketemu teman atau relasi baru, biasanya ada dua hal yang ditanya dan diminta : berapa nomor hp-nya dan alamat emailnya.

Sejak saat itu, mulailah belajar bikin akun email, buat surat, balas surat sampai gimana caranya melampirkan data. Jadi internet nggak cuma dipakai untuk FB-an, browsing cari berita atau chatting.

Bayangan awal sulitnya belajar buat email, pelan – pelan hilang setelah mencoba. Nah, ini pelajaran baru lagi. Sesuatu yang baru akan terbayang sulit ketika hanya dipikirkan. Tapi setelah dicoba dan dilakukan, ternyata nggak susah kok.

Kalau gagal, coba lagi. Gagal, ulangi lagi. Gagal, jangan segan tanya sama yang sudah bisa, walaupun umurnya lebih muda dari saya. Akhirnya bisa juga. Kuncinya cuma perlu kemauan dan buang jauh-jauh yang namanya gengsi.

Setelah merasakan nikmatnya bisa mempelajari buat email, saya belajar yang lain lagi dari internet. Apa itu?. Gimana membuat presentasi yang lebih baik dari sisi disain dan isi materi. Ini juga perlu saya pelajari, karena ada hubungan dengan pekerjaan saya. Tiap bulan saya harus presentasi secara rutin. Belum lagi ditambah presentasi yang sifatnya dadakan. Ya, presentasi yang tiba-tiba diminta ketika tamu datang.

Mau nggak mau, saya harus belajar lagi gimana memperbaiki materi slide presentasi. Untuk urusan yang satu ini, saya sangat berterima pada Mas Muhammad Nur, guru virtual saya dalam mengajari bagaimana membuat presentasi yang baik dan menarik.

Satu slide berisi satu ide, hindari gunakan model bullet, gunakan warna kontras yang berbeda dengan latar belakang, gunakan gambar untuk menjelaskan ide, hindari kalimat yang panjang, adalah  pesan yang disampaikan Mas Nur agar tampilan presentasi kita terlihat menarik.

Masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan dari internet.Tidak hanya dua hal seperti yang saya ceritakan di atas. Masing-masing orang tentu berbeda dalam memanfaatkan teknologi internet, disesuaikan dengan keperluannya.

Yang jelas, ini yang saya alami dan rasakan. Semakin sering saya belajar dari internet, keinginan untuk mempelajari hal-hal baru lainnya semain besar. Apakah ini yang dinamakan ketagihan atau kecanduan berinternet ?

Sumber gambar :

–  onbile.com

Bukan Sekadar Praktek Kerja

Sekeping Compact Disc  (CD) saya terima beberapa hari lalu dari mahasiswi-mahasiswi yang berasal dari kota hujan. CD berjudul “ Kenang – kenangan PKL  17 Peb – 17 April 2012 IPB ” tersebut, mengingatkan saya pada tiga cewek yang selama dua bulan tinggal di pedalaman Kalimantan untuk praktek kerja. CD yang berisi semua kegiatan yang mereka ikuti selama praktek kerja.

Waktu perkenalan dan pemberian arahan kegiatan untuk tiga “Charlie’s Angels” itu, mereka ternyata berasal dari daerah yang berbeda :  Afif dari Bogor, Mike asal Bengkulu dan Diah yang kampung halamannya di Kuningan.

Setiap tahun, mahasiswa-mahasiswi datang dan berkunjung ke tempat kerja. Tujuannya untuk praktek kerja, magang atau penelitian. Satu kelompok biasanya ada 3 – 5 orang, biasanya dua cewek dan tiga cowok atau sebaliknya. Jarang ada yang cewek atau cowok semua. Namun, sudah dua periode ini, Fakultas Kehutanan IPB mengirimkan dua kelompok praktek yang semua anggotanya cewek.

Nggak cuma mengikuti praktek, kadang – kadang ada juga mahasiswi yang ketemu jodohnya di lapangan dan menikah dengan karyawan. Sambil magang dapat pasangan. Sambil penelitian sekaligus ketemu sang idaman….

Memang Tuhan sudah mengatur jodoh seseorang, termasuk yang dipertemukan di tengah hutan. Terbukti, sampai saat ini, sudah ada lima karyawan yang ketemu jodohnya, dapat mahasiswi yang sedang magang atau penelitian.

Nah, cerita kembali ke tiga mahasiswi tadi : AMD (namanya disingkat biar simpel). Ada hal yang bikin mereka berbeda dengan mahasiswa-mahasiswi lainnya ketika praktek. Ada dua sebab yang bikin saya salut dan angkat jempol untuk mereka :

1.    Praktek Kerja bukan Sekadar Cari Nilai

Selesai menjalani PKL, ada forum presentasi. Mahasiswa-mahasiswi akan diminta menjelaskan apa saja kegiatan yang dilakukan selama di lapangan. Penyampaian materi presentasi dan diskusi terjadi di forum ini antara peserta praktek dan para pendamping lapangan dari pihak perusahaan.

Dari penjelasan mereka, akan terlihat apakah mereka sungguh-sungguh menjalani praktek atau sekadar memenuhi kewajiban dari Fakultas. Dari jawaban mereka akan tersimpulkan, apakah mereka benar-benar mencari data dan melihat fakta atau berleha-leha.  Dari pertanyaan mereka, akan diketahui apakah mereka aktif dan menguasai materi atau justru pasif.

Hasil pengamatan selama presentasi, ternyata ketiga cewek tersebut benar-benar menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti setiap kegiatan. Satu persatu tampil menjelaskan disertai data dan fakta yang meyakinkan.

Bahkan di luar dugaan, tanpa diminta, mereka melakukan pengamatan sendiri. Kegiatan yang tidak termasuk dalam materi praktek kerja. Ketiganya bukan sekadar ikut kegiatan, tapi juga sekaligus melakukan pengamatan. Tidak cuma sekadar ingin mendapat angka, tapi juga ikut mencoba.

Memang, di fakultas mereka, praktek kerja merupakan kegiatan yang diwajibkan. Sementara di tempat lainnya, praktek kerja adalah pilihan. Namun, bagi AMD, tampaknya praktek bukan sekadar menjalankan kewajiban fakultas. Tapi suatu kesempatan untuk melihat dan menjalani “dunia lain” yang berbeda dengan dunia kampus.

Dunia yang sangat berbeda dengan berbagai teori, informasi dan pengetahuan yang selama ini mereka terima di bangku kuliah. Dunia yang akan melengkapi wawasan dan pengalaman mereka, serta bermanfaat ketika menjalani kehidupan selanjutnya.

2.    Tidak Eksklusif dan Mau Membaur

Keakraban tidak hanya terjadi di antara mereka bertiga. Dalam berbagai kegiatan, terlihat mereka tidak canggung bergaul dengan karyawan dan masyarakat.

Saat mengikuti kegiatan pembinaan masyarakat, mereka tidak segan datang ke rumah warga dan berbincang-bincang dengan penghuninya.

Bahkan dengan petugas pendamping, keakraban terasa ketika makan siang atau makan malam. Tidak hanya menunggu hidangan siap, mereka justru ikut membantu memasak. Apalagi jaman sekarang ini, ada lho sudah mahasiswi dan calon ibu rumah tangga tapi nggak bisa masak.

Keakraban yang terjalin tidak hanya terbatas saat mengikuti kegiatan lapangan. Kesan-kesan yang menawan yang diingat tidak hanya oleh karyawan, tapi juga warga masyarakat.

Makasih buat Afif, Mike dan Diah, atas kiriman sekeping kenangan di lapangan.

Selama saya kerja, baru kali ada mahasiswa atau mahasiswi yang tidak cuma kirim laporan hasil praktek kerja, tapi juga sekaligus dokumentasinya secara lengkap. Salut banget dan sukses buat kalian bertiga.

Salam………

Sumber gambar  :

Foto dokumentasi mahasiswi PKL IPB 2012 (Afif, Mike dan Diah)