Hari Pertama Ramadhan Diiringi Hujan

Hari ini 24 April 2020 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1441 H. Di camp, hari pertama bulan Ramadhan Allah SWT turunkan hujan sejak jam 5 pagi.

Udara bertambah segar dan sejuk. Bisa jadi inilah berkah bulan Ramadhan. Meski sudah memasuki bulan April yang biasanya musim kemarau, namun masih ada hujan.

Bahkan sampai dengan jam 7 pagi ketika masuk kerja, hujan masih turun.  Bisa jadi nanti siang jam 11 cuaca berubah cerah dan hangat. Kondisi cuaca saat ini memang tidak mudah diprediksi dan cepat berubah.

Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1441 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita.

 

 

Buka Puasa di Bis dan Sahur Jam 23.15

Berpuasa saat dalam perjalanan memang menyisakan beberapa kenangan. Mulai bekal makan malam yang perlu dibawa sebab bis berangkat jam 19.00 sampai sahur yang terlalu awal karena bis hanya sekali singgah di rumah makan.

Sebenarnya kalau kita dalam perjalanan yang jaraknya lebih dari 80 km, diberikan keringanan (rukhsoh) untuk tidak berpuasa. Tapi kalau dipikir-pikir rasanya sayang juga satu hari puasanya bolong gara-gara bepergian. Apalagi saat ini sarana transportasi begitu mudah dan nyaman. Jadi nggak salah juga kalau ada orang yang berpuasa meskipun statusnya dalam perjalanan. Semuanya dikembalikan ke niat masing-masing orang.

Ini yang saya alami beberapa hari lalu ketika ada tugas ke Pontianak. Berangkat dari camp jam 5 pagi ke Nanga Pinoh dengan tiga teman kerja. Sampai Pinoh terus naik bis antar kota yang berangkatnya jam 9 pagi. Sebelum ke terminal saya sempatkan belanja snack dan minuman karena diperkirakan buka puasanya di dalam bis.

Dugaan saya benar, satu jam sebelum tiba di Pontianak ketika bis memasuki daerah Ambawang adzan Maghrib berkumandang. Bis melaju pelan dan kami pun berbuka puasa. Beberapa teguk air minuman dan kurma saya nikmati untuk berbuka puasa. Perjalanan sekitar 10 jam itu rasanya tidak terlalu berat meskipun kami dan penumpang lainnya berpuasa.

Pengalaman yang nggak terlupakan ketika pulang kembali ke Nanga Pinoh. Beda dengan waktu berangkat yang naik bis pagi, pulangnya ke Pinoh naik bis malam. Sempat berbuka puasa dan sholat maghrib serta sekalian dijamak dengan Isya di rumah terus berangkat ke agen bis. Cuaca saat itu baru saja hujan lebat sehingga beberapa ruas jalan tergenang.

Sampai di agen, ternyata bis belum datang. Bis baru berangkat jam 19.15 dan berhenti di rumah makan di Sosok jam 23.15 WIB. Meski belum waktunya sahur, tapi waktu itu saya ikut turun dari bis untuk makan. Makan sahur yang terlalu awal. Padahal waktu bis berangkat saya baru saja menyantap bekal yang disiapkan istri.

Kalau waktu itu ketiduran dalam bis mungkin saya nggak sahur, karena bis langsung meluncur ke Pinoh tanpa singgah-singgah lagi. Di perjalanan, sebelum Imsak saya sempatkan makan buah jeruk, roti dan minum secukupnya. Sampai di terminal bis Pinoh, saat itu waktu subuh telah datang. Menjalani puasa dalam perjalanan memang perlu persiapan dan penuh kenangan.

Bersyukur Berpuasa Ramadhan di Indonesia

“Di Jerman hari pertama puasa Ramadhan 2014 jatuh pada hari Sabtu, jadwal fajarnya pukul 2.51 dan maghribnya pukul 21.59, karena berbarengan dengan awal musim panas, jadi waktu berpuasanya lebih lama dari tanah air”kata mbak Ely dalam postingannya di Dunia Ely.

Berarti kalau dihitung-hitung lama puasa Ramadhan tahun ini di sana sekitar 19 jam. Waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Kalau Ramadhannya jatuh pada awal atau akhir tahun apakah seperti itu juga ya?

Membaca postingan itu, saya membayangkan kalau di sana berarti waktu berbuka puasa itu jam 10 malam. Terus mulai sholat tarawih jam 11 malam selama sekitar 1 jam. Selesai tarawih sekitar jam 12 malam lalu tidur dan jam 2 bangun lagi untuk sahur. Jadi istirahat atau tidurnya hanya 2 jam. Bisa juga selama dua jam itu nggak digunakan untuk tidur, tapi untuk tadarus Quran dan persiapan memasak untuk sahur, terus selesai subuh baru tidur.

Bersyukur kita tinggal di Indonesia. Itulah kata-kata yang terucap setelah membaca cerita di atas. Di tengah perbedaan pendapat masalah penetapan awal puasa, ada hal yang seharusnya saya syukuri tinggal di negeri ini. Rentang waktu berpuasanya lebih pendek. Kalau dihitung, mulai imsak sampai dengan maghrib waktunya sekitar 14 jam. Selisih 5 jam kalau dibandingkan dengan di Jerman. Jadi selesai tarawih dan tadarus Quran, waktunya masih bisa digunakan untuk istirahat dan bangun sahur jam 3 pagi. Atau yang hobi bola, malah waktunya digunakan untuk nonton piala dunia 🙂

Antara Puasa Ramadhan, Piala Dunia dan Pilpres

Puasa Ramadhan tahun ini benar-benar istimewa. Bukan hanya bulannya saja yang istimewa. Juga karena bertepatan dengan ajang Piala Dunia (Pildun) dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Jarang lho tahun-tahun sebelumnya bisa terjadi seperti itu.

Tantangan untuk meraih juara dan pemenang tak hanya dihadapi oleh peserta pildun atau pilpres. Predikat taqwa yang menjadi tujuan ibadah puasa pun menghadapi tantangan yang tak ringan. Suasana pildun dan pilpres secara langsung maupun nggak langsung akan mempengaruhi konsentrasi puasa kita.

Tak hanya peserta pildun saja yang bersaing mengalahkan lawannya agar lolos ke babak 16 besar, maju ke perempat final, tampil di semifinal, bertanding di final dan menjadi juara. Nggak cuma dua capres saja yang saling berupaya dan berkampanye untuk memikat massa agar memilih dirinya. Umat Islam yang menjalani puasa Ramadhan pun harus berjuang agar tetap istiqomah melakukan amalan-amalan sunah: tadarus, tarawih, sholat tahajud, mengkaji Al Qur’an. Kenapa?

Karena ibadah-ibadah sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan tahun ini godaan dan tantangannya juga ekstra. Di saat bangun dini hari, kita harus memilih antara mengerjakan shalat tahajud atau menonton tim kesayangan. Memutuskan untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid atau tetap di rumah karena pertandingan lagi seru-serunya.

Nggak hanya itu. Malam harinya, di saat akan melaksanakan sholat tarawih godaan dan tantangan lainnya juga muncul. Bentuknya adalah tayangan jadwal debat capres, siaran ulang tayangan pertandingan pildun atau cerita sinetron favorit .

Godaan dan tantangan nggak hanya di dunia nyata, namun juga muncul dari dunia maya. Maksud hati ingin membaca status yang bermanfaat ketika membuka akun facebook. Namun yang dilihat justru status-status para pendukung capres yang cenderung saling menyerang, menjelekkan, atau menyindir capres pesaingnya.

Di sinilah diri kita sebenarnya sedang diuji. Pada saat inilah diri kita sejatinya sedang merasakan makna puasa: pengendalian diri. Mampukah kita sebagai pendukung salah satu capres menahan diri untuk tidak balas mengejek atau menghina? Sanggupkah kita berpuasa tak hanya makan dan minum saja? Namun juga berpuasa dari membuat update status yang memancing kemarahan pihak lain dan menggantinya dengan kata-kata yang menentramkan hati. Dapatkah kita bersabar dan tidak terpancing untuk menyerang pihak lain yang berbeda pilihan dengan kita?

Mungkin inilah salah satu hikmah puasa Ramadhan tahun ini. Bisa jadi ini adalah cara Allah memberikan pelajaran kepada diri kita. Agar dalam suasana berbeda awal penetapan Ramadhan, ketika berbeda pendapat dan berbeda pilihan, kita tetap mampu mengendalikan diri.

Jangan sampai kita tergolong kepada orang-orang yang dikatakan Nabi Muhammad sebagai orang-orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Selamat berpuasa di bulan Ramadhan.