Nikmatnya Buka Puasa Bersama Karyawan dan Keluarganya

Jpeg

Sambil melihat kalender meja, saya coba hitung  sudah berapa hari puasa Ramadhan ini. Rupanya sudah hari kesebelas di hulan Ramadhan. Rasanya seperti baru kemarin memulai puasa. Terasa cepat waktu berjalan. Dan saya baru ingat kalau belum posting satu pun aktivitas yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.

Padahal di awal puasa lalu, pengurus masjid Al Adh ha di tempat saya bekerja mengadakan acara buka puasa bersama. Alhamdulillah, jamaah yang datang sekitar 150 orang. Mulai dari pengurus masjid, tiga ustadz yang diundang dari Pontianak, karyawan dan keluarganya.

Senang rasanya lihat mereka bisa berkumpul di masjid. Mendengarkan ceramah ustadz menjelang berbuka. Menikmati es buah dan snack saat berbuka dan sholat maghrib berjamaah. Setelah itu menikmati hidangan nasi kotak. Lauknya ayam goreng, lalapan dan sambal.

Jpeg

Semua biaya berbuka puasa bersama termasuk mendatangkan ustadz diambil dari dana kas masjid. Dana yang berasal dari iuran sukarela karyawan setiap bulan yang langsung dipotong dari gajinya. Dananya dikelola pengurus masjid yang juga karyawan perusahaan. Setiap bulan dilaporkan. Berapa pemasukan dan pengeluarannya. Jadi nggak perlu lagi minta sumbangan ke perusahaan.

Hidangan yang disajikan saat berbuka puasa bersama, mulai dari snack dan nasi kotak juga dibuat oleh istri karyawan yang tergabung dalam majelis taklim. Demikian juga saat acara peringatan hari besar islam lainnya seperti Isra Mi’raj dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang semuanya diberdayakan. Ya pengurusnya, ibu-ibu majelis taklim dan para ustadznya.

Jpeg

Tak hanya buka puasa bersama saja agendanya selama Ramadhan. Tiga orang ustad yang diundang ditugaskan di sembilan camp yang berbeda untuk syiar. Memimpin sholat tarawi, mengisi ceramah dan tadarus bersama. Paginya memberikan kesempatan konsultasi bagi bapak-bapak setelah sholat subuh dan ibu-ibu di masing-masing camp saat waktu dhuha.

Alangkah nikmatnya kebersamaan di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberikan keberkahan terhadap apa yang telah mereka lakukan.

Iklan

Kita Sebenarnya Memerlukan Puasa

Kita perlu bersyukur kepada Allah karena masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan di tahun ini.

Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, rahmah dan ampunan. Allah menyediakan satu bulan dalam satu tahun sebagai pelatihan bagi kita untuk mengendalikan diri dari nafsu duniawi. Nafsu yang dapat menggelincirkan diri kita dari derajad ahsani taqwiim atau sebaik-baik bentuk makhluk ciptaan Allah menjadi tingkatan yang asfala saafiliin alias yang serendah-rendahnya.

Puasa di bulan Ramadhan adalah metode pelatihan yang efektif untuk mengingatkan kita akan pentingnya pengendalian diri.

Puasa adalah cara yang ampuh untuk menahan diri dari luapan emosi yang muncul secara spontan dan sesaat. Luapan emosi yang akhirnya merugikan diri kita sendiri dan membuat kita menyesal. Puasa kita perlukan saat kita menghadapi berbagai permasalahan di rumah, di tempat kerja, di jalanan, di dalam kendaraan umum bahkan ketika kita sendirian. Apa jadinya ketika kita menghadapi semua masalah tanpa kemampuan untuk menahan dan mengendalikan diri? Betapa banyak masalah terjadi akibat kurang mampunya diri kita dalam mengendalikan diri.

Ya, makna puasa sejatinya adalah menahan atau mengendalikan. Menahan diri untuk tidak berbuat yang membatalkan puasa dan pahalanya. Menahan untuk tidak makan dan minum hingga tiba waktunya. Menahan diri untuk tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Mengendalikan diri agar tidak sering berpikir negatif terhadap apa yang terjadi pada diri kita.

Berprasangka buruk dan berpikir negatip adalah dua hal yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan raga kita. Apakah berprasangka buruk dan berpikir negatif  dapat berpengaruh bagi kesehatan diri kita? Jawabannya adalah ya. Bila kita sering berprasangka jelek dengan orang lain, maka hormon pemicu stres dalam tubuh kita akan meningkat.

Bila kita sering berpikir negatif terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, maka tingkat kekebalan tubuh kita akan menurun. Oleh karena itu, tidak heran bila seseorang yang banyak berprasangka buruk dan berpikir negatip, lebih mudah jatuh sakit dibandingkan orang-orang yang lebih berpikir positip dan berprasangka baik.

Puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan prasangka buruk dan berpikir negatip. Tidak hanya raga kita saja yang berpuasa dari makan dan minum. Pikiran kita juga perlu berpuasa dari hal-hal negatip, seperti rasa pesimis, putus asa dan tak berpengharapan. Hati kita juga harus dipuasai dari sifat yang merusak mental seperti iri, dengki dan dendam.

Oleh karena itu berterima kasih lah kepada Allah yang telah menciptakan metode pelatihan pengendalian diri yang efektif secara gratis. Kalau kita ikut pelatihan atau seminar tentang pengendalian diri biasanya kita harus bayar, lho. Tapi latihan pengendalian diri dengan puasa ini gratis. Nggak ada mentornya, nggak ada coachnya. Juga nggak dapat sertifikat kalau sudah selesai pelatihan. Semuanya dikembalikan pada diri kita yang menjalaninya.

Kita diwajibkan berpuasa bukan hanya bentuk ketaatan kita kepadaNya. Puasa yang kita lakukan tidak hanya sebagai tanda bukti kita telah menjalankan ajaran agama. Namun, sebenarnya diri kita lah yang memetik banyak manfaat puasa. Kita membutuhkan puasa bagi kesehatan jiwa dan pikiran kita.

Selamat Idul Fitri 1435 H

IMG01549-20130831-1028foto: Masjid Agung Jawa Tengah (yudhihendros)

 

Bila ada postingan yang terkandung kesalahan

Atau  komentar yang tergores kekhilafan

Dan membuat hati tak berkenan

Mohon sekiranya agar dimaafkan

 

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H

Semoga Allah SWT mempertemukan kita

dengan Ramadhan di tahun depan

Silakan Buka Puasa Bersama, tapi Jangan Lupa Sholatnya

“Kalau kita menerima undangan buka puasa bersama di restoran, mall atau café, sholat Maghribnya apa bisa dijamak dengan Isya, Ustadz?”
Itulah salah satu pertanyaan jamaah sholat subuh pada saat acara tanya jawab tadi pagi di masjid.

Ustadz pun menjawab bahwa keringanan (rukhsoh) menjamak sholat bisa dilakukan ketika kita dalam perjalanan yang jarak tempuhnya lebih dari 80 km. Namun pada saat acara bukber, sholat Maghrib tetap harus dilaksanakan sesuai waktunya

Menarik sekali pertanyaan salah seorang jamaah sholat shubuh tersebut. Sebuah pertanyaan yang digali dari pengamatan dan mungkin juga pengalamannya saat menghadiri buka puasa bersama.

Acara buka puasa bersama (bukber) memang sedang menjadi fenomena di saat bulan Ramadhan. Berbagai kelompok masyarakat atau keluarga menggelar acara bukber di kantor, sekolah atau rumah. Tak hanya itu, acara bukber terkadang juga diadakan di restoran, mall, cafe atau tempat-tempat keramaian lainnya.

Acara bukber tersebut sebenarnya bertujuan baik. Memanfaatkan momen bulan Ramadhan untuk lebih menjalin keakraban dan mempererat persaudaraan sesama anggota keluarga atau komunitas. Namun demikian, pada saat penyelenggaraan bukber tersebut terkadang kita malah melupakan yang wajib, yaitu sholat maghrib. Rentang waktu yang pendek antara saat maghrib dan Isya sekitar 1 jam tanpa disadari berlalu karena kita asyik menikmati hidangan sambil ngobrol.

Menyelenggarakan acara buka puasa bersama sebenarnya sah-sah saja. Namun sudah selayaknya pada saat penyelenggaraan bukber, alokasi waktu untuk melaksanakan sholat Maghrib juga diprioritaskan. Jangan sampai acara bukbernya meriah dan lancar, sholatnya malah ditinggalkan.

Sebelum acara bukber, bersyukur kalau ruangan untuk sholat juga sudah disiapkan, sehingga bagi yang akan menunaikan sholat maghrib tidak kebingungan mencari mushola. Lebih bagus lagi apabila pada acara bukber tersebut ada pemandu acara atau MC yang mengingatkan kepada undangan untuk tidak lupa melaksanakan sholat Maghrib.

Jadi Pembaca Doa Selesai Tarawih dan Witir

“Ada seorang jamaah yang usul, pak. Kalau yang baca doa habis tarawih tahun ini sekalian ustadznya, gimana menurut bapak?”tanya teman kerja yang juga jadi ketua pengurus masjid.

“Sebaiknya pak Ustadz jadi imam sholat dan kasih kultum saja. Terus yang baca doa habis tarawih dan witir jamaah. Biar mereka dapat tugas dan nggak semuanya diserahkan ke pak Ustadz”jawab saya.

Saat bulan Ramadhan, pengurus masjid biasanya mendatangkan ustadz untuk mengisi kegiatan selama sebulan. Termasuk menjadi imam sholat Isya, kultum, sholat Tarawih dan Witir. Subuhnya juga sama. Pak Ustadz tugas jadi imam sholat shubuh, menyampaikan kultum dan acara tanya jawab. Berbeda dengan hari-hari selain bulan Ramadhan. Yang jadi imam sholat Maghrib, Isya dan Subuh biasanya dari karyawan.

Akhirnya ketua masjid pun setuju. Dia lalu menyusun jadwal petugas bilal dan pembaca doa. Setelah selesai, selembar kertas diserahkan kepada saya. Karyawan dapat giliran dua hari bertutur-turut baca doa. Selang dua minggu kemudian tugas dia lagi. Saya dijadwalkan  tanggal 1 dan 2 Juli. Ketuanya yang bikin jadwal juga kebagian tugas.

Ini adalah pengalaman kedua buat saya. Tahun lalu juga dapat tugas baca doa. Cuma waktu itu karena pertama kali dan rasanya kurang persiapan, jadi baca doanya tersendat-sendat meski sambil membaca.

Tahun ini karena sudah ditugaskan ya harus lebih baik lagi. Jangan sampai mengecewakan yang memberi tugas. Caranya? Perlu latihan dulu. Karena waktunya sudah mepet, hari ini jadwal diterima besok sudah harus dilakukan, akhirnya bacaan doa itu saya bawa ke kantor. Tujuannya supaya bacaannya lancar dan syukur-syukur bisa hapal. Di waktu nggak banyak kerjaan, saya baca berulang-ulang. Kalau ada kerjaan mendadak, berhenti dulu bacanya.

Alhamdulillah, tadi malam tugas itu sudah ditunaikan. Awalnya sebelum baca doa memang terasa berat, tapi setelah menjalaninya langsung lega. Plong rasanya. Semoga nanti malam dan jadwal selanjutnya juga makin lancar baca doanya. Aamiin

Ramadhan (lagi) di Hutan

IMG01891-20140629-1659

Kemarin, tiga potong kurma saya makan untuk membatalkan puasa. Ditambah segelas es buah terasa sekali nikmatnya. Selesai sholat Maghrib, baru dilanjutkan dengan makan malam. Nasi kotak buatan istri-istri karyawan yang berisi sepotong daging rendang, sambal goreng kentang, sup sosis dan kerupuk udang rasanya enak sekali.

Makasih ya ibu-ibu yang sudah kompak berupaya menyiapkan hidangan berbuka puasa… Insya Allah ibu-ibu dapat pahala ganda, dari puasa yang dijalani dan pahala dari menyiapkan hidangan untuk orang-orang yang berbuka.

IMG01896-20140629-1752

Itulah acara buka puasa bersama yang diadakan pengurus masjid di tempat kerja. Suasananya akrab dan penuh kekeluargaan. Berbeda kalau dibandingkan dengan berbuka puasa sendiri. Mungkin ini salah satu berkah bulan Ramadhan. Bisa bertemu karyawan-karyawan lainnya dari bagian dan tempat yang berbeda. Kalau nggak pas Ramadhan nggak mudah sih kumpul seperti ini.

Saya lihat beberapa karyawan juga mengajak keluarganya berbuka puasa bersama di masjid. Bulan Ramadhan yang bersamaan dengan liburan anak sekolah menjadi momen yang pas untuk berkumpul dengan keluarga. Beberapa istri dan anak-anak karyawan naik ke camp untuk melepas rindu dengan suami dan ayah tercinta.

Ketika menjelang berbuka puasa di masjid, keakraban itu begitu terlihat. Seorang karyawan menimang anaknya yang masih bayi di pangkuannya. Anak-anak lainnya bermain dan bergurau dengan kawannya.

Tiada terlihat rasa kesepian meski berada di tengah hutan. Yang ada adalah keceriaan dan kebahagiaan. Saya yang melihat saja begitu senang, apalagi mereka yang mengalami dan merasakan. Ramadhan memang membawa keberkahan dan kebahagiaan.

 

Kenangan di Masjid Raya Cinere

Alhamdulillah, tanpa diduga dan direncanakan, Tuhan memberikan kesempatan pada saya untuk melihat ibukota negeri tercinta, Jakarta. Bukannya saya tidak pernah pergi ke kota metropolitan yang terkenal dengan kemacetannya itu. Terakhir, mungkin tiga tahun yang lalu.

Karena momennya mendekati bulan Ramadhan, saya mau berbagi cerita yang kalau dipikir-pikir semuanya terjadi secara tidak sengaja dan memberikan hikmah bagi saya

Awalnya saya dan lima orang teman diantar kendaraan perusahaan untuk menuju suatu tempat di cinere. Karena saya bawa BB yang sudah dipasang GPS, langsung saya tandai posisi berangkat dari hotel dan tempat yang dituju : Cinere.

GPS langsung membuat track di peta Jakarta dengan garis warna merah. Plus keterangan : Jarak tempuh 21,6 km, waktu tempuh 28 menit. Garis itu menunjukkan rute yang harus dilewati : jalan Hayam Wuruk – Majapahit – Medan Merdeka Barat – Thamrin – Fatmawati – Lebakbulus – Cinere. Rupanya peta Jakarta yang ada di GPS lengkap sekali. Nama jalan kecil atau gang pun tergambar jelas.

Rupanya hitungan waktu tempuh di atas kalau nggak ada kemacetan. Kenyataannya, walaupun sudah berangkat jam 6.30 dari Hayam Wuruk, ternyata tiba di Cinere sekitar jam 8 pagi. Perlu 1,5 jam sampai di lokasi yang dituju. Awalnya waktu berangkat lalu lintas lancar, nggak ada macet. Setelah masuk Depok, kendaraan mulai padat merayap.

Sampai di Cinere, rupanya kantor yang dituju belum buka. Lokasinya pas di seberang Polsek Limo. Ditunggu setengah jam lebih belum buka juga. Rupanya ada dua orang kawan yang pingin ngopi dan buang air kecil. Daripada menunggu kantor buka sambil bengong, terus mereka cari tempat di seberang jalan.

Kebetulan di seberang jalan kelihatan menara mesjid. Langsung mereka menuju ke situ. Pasti disitu ada masjid. Selesai buang air kecil di toilet masjid dilanjutkan ngopi di kantin Polsek Limo. Empat orang lainnya termasuk saya yang menunggu di depan kantor yang masih tutup tadi ikut juga ngopi dan cari toilet.

Nah, pas saya masuk ke halaman masjid, toilet dan tempat wudhunya bukan main bersihnya. Ini saya ambil gambarnya :

Saya baru tahu rupanya bangunan itu adalah Masjid Raya Cinere (MRC). Di komples masjid itu ada juga SMP dan SMA. Nggak cuma buang air kecil, saya sama satu orang kawan sekalian sholat dhuha di situ. Tambah kagum saya melihat interior MRC. Disainnya bagus, rapi, bersih dan karpetnya wangi.

Kelihatan sekali kalau masjid tersebut dikelola dengan professional. Tidak hanya ruang sholatnya, bahkan sampai ke tempat wudhu dan toiletnya. Nggak kalah dengan toilet di hotel berbintang. Semuanya diperhatikan dan dirawat dengan serius. Kok bisa-bisanya masjid besar bisa terawat seperti ini. Saya pun baru tahu jawabannya ketika membaca informasi yang ditempel di tempat wudhu yang isinya seperti ini :

Rupanya pengurus MRC menyediakan nomor telepon untuk meminta saran dan kritik orang-orang yang pernah berkunjung ke situ. Biasanya orang atau pihak kalau dikritik merasa alergi. Di MRC, pengurus justru minta dikritik. Bisa jadi dari kritik dan saran itu, mereka dapat masukan untuk membenahi dan merawat masjid dengan baik.

Urusan bangunan masjid mulai dari tempat sholat, tempat wudhu dan toilet sudah buat saya kagum. Bukan hanya itu. Hal kedua yang membuat saya juga kagum dan senang adalah ketika waktu sholat Dhuhur tiba. Anak-anak SMP dan SMA yang ada disekitar masjid bergegas melaksanakan sholat berjamaah. Saya lihat ada dua shof cewek dan dua shof cowok waktu itu. Gambaran saya tentang anak-anak SMA di Jakarta yang sering tawuran seperti tayangan di tv langsung hilang.

Satu lagi, pas sore hari waktu ashar ada acara pengajian untuk anak-anak. Saya lihat di sekeliling beranda masjid ada 4 kelompok anak-anak SD yang sedang diajar oleh guru mengaji. Mereka mengulang bacaan surat yang dicontohkan oleh gurunya.

Walaupun saya dan teman-teman kebetulan cuma menumpang buang air kecil dan sholat di MRC, tapi saya melihat ada satu hikmah yang diperoleh. Bahwa hadits Nabi Muhammad yang berbunyi “Kebersihan adalah Sebagian dari Iman”, di MRC bukan hanya sebatas slogan, tapi diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Sebagai muslim, bagaimana kita akan beribadah atau sholat dengan khusuk kalau lingkungan masjid atau tempat sholat kita tidak bersih?