Kunci Menyerap Ilmu adalah Rendah Hati

Biasanya kalau rapat atau pertemuan, saya cenderung lebih banyak mendengar daripada bicara. Sebagian orang lebih suka kalau sebaliknya. Banyak bicara dan ingin pendapatnya didengar orang lain. Ada kepuasan kalau bisa meyakinkan orang lain, Apalagi bisa mendebat dan lawan bicaranya kehabisan argumen.

Nggak mudah memang bersikap lebih banyak mendengar daripada bicara. Karena harus menahan ego dan bersabar tidak berkomentar sampai orang lain selesai bicara. Perlu ilmu gelas kosong untuk bisa menyerap informasi dan ilmu dari orang lain. Kalau diri kita memposisikan seperti gelas terisi penuh, kita akan lebih banyak bicara daripada mendengar. Tapi kalau bersikap seperti gelas kosong atau setengah penuh, kita akan lebih mudah menerima pendapat orang lain meski berbeda.

Makanya, kalau kita ingin belajar hal baru, semua atribut yg kita miliki perlu dilepas dulu. Pengalaman, pengetahuan, jabatan sementara ditanggalkan dulu. Nggak mudah sih. Karena nafsu akan membujuk kita supaya menonjolkan semua yang kita punya. Dan setelah itu kita akan merasa bangga karenanya.

Itulah sebabnya, kalau sedang ngobrol berdua dengan teman kerja, sering waktunya lama. Bukan karena saya banyak cerita, tapi karena mendengarkan dengan seksama curhatnya. Pernah ditanya teman yang lain, “Kok, tadi lama ngobrolnya?”

Seperti tiga hari lalu ketika ada teman kerja yang resign. Dia masuk ke ruang kerja saya untuk pamitan. Nggak terasa ngobrol sampai satu jam lamanya. Biasanya kalau ada karyawan yang resign, pamitannya sebentar. Cukup salaman terus pulang.

Dia banyak cerita tentang apa saja yang sebenarnya masih bisa diperbaiki, bagian apa yang bisa diefisiensi sampai ide-idenya yang awalnya nggak dipakai akhirnya di kemudian hari berguna. Sampai-sampai dia cerita hal-hal yang off the record. Padahal saya nggak minta dia cerita. Mungkin selama ini dia pernah cerita ke teman kerja yang lain, tapi kurang didengarkan atau responnya ogah-ogahan.

Belum lagi waktu cerita rencana dia selanjutnya setelah resign. Apakah mau kerja lagi di perusahaan lain atau merintis usaha. “Saya mau ketemu kawan-kawan dulu yang pernah kerja di sini, Pak”jawabnya.

Karena ngobrol berdua, tanpa sungkan saya juga minta koreksi yang saya kerjakan dan hadapi saat ini. Karena pagi itu dia sudah siap-siap berangkat, di akhir cerita dia minta maaf atas kesalahan-kesalahan selama dia bekerja. Sama halnya dengan saya, ucapan permintaan maaf juga saya sampaikan.

Setelah keluar dari ruangan, saya luangkan waktu menemui dia yang sedang berkemas-kemas di kamarnya. Saya hantarkan dia hingga masuk kendaraan, pulang dan membuka lembaran baru. Semoga lebih baik, lebih cemerlang dan lebih berkah bekerja di tempat yang baru, teman.

EF #10 The Last Nasi Uduk from My Friend

image

Have you ever eaten Nasi Uduk?  A local food from Jakarta or Betawi but now it’s easy to find this food in another city, even in the forest. Really?

Yes, some days ago my friend in the office usually offered to others who wanted to order Nasi Uduk. He and his wife had a cooperation to provide Nasi Uduk for employees in the office.

My friend offered and wrote who wanted to order Nasi Uduk. Usually 20-30 employees interested to order. Then he and his wife cooked and made Nasi Uduk as many as the order. It was an unique marketing methode. Not made Nasi Uduk first and tried to sell. But only made depend on the order.

Now, I and my friends in the office can’t order Nasi Uduk which price is 25.000 rupiah every box. Why? Because he decided to resign and with his wife went back to Java.

Resign

Tinggal berjauhan dengan keluarga, terkadang tak bisa dihindari dalam hidup ini. Termasuk bagi yang sudah bekerja. Di sisi lain, hal itu juga dapat menjadi penyebab seseorang memutuskan untuk resign.

Seperti salah seorang teman, sebut saja si A, akhirnya kembali ke Jawa setelah kurang lebih tiga tahun bekerja di lapangan. Sang istri keberatan kalau harus tinggal berjauhan. Dia bekerja di Jawa, sementara suaminya di Kalimantan.

Akhirnya, sang suami yang mengalah. Mengundurkan diri baik-baik dan pulang untuk mendekatkan jarak dengan keluarga, istri tercinta.

Perkenalan mereka terjadi di tempat kerja, ketika berawal dari kunjungan tamu. Sang istri yang baru dikenalnya, saat itu sebagai tamu sekaligus guide para peneliti dari negeri matahari terbit. Dari mulai kenalan, sama-sama mendampingi tamu, akhirnya tumbuh benih cinta di antara keduanya.

Setelah menikah, sang suami kembali ke tempat kerja dan sang istripun tetap bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di Jawa. Mereka menjalani awal-awal masa pernikahan dengan tinggal terpisah.

Hingga akhirnya keterpisahan itu justru makin menguatkan tekad mereka untuk bisa berkumpul kembali. Keputusan si A untuk pulang sudah bulat, demi istri tercinta. Saran dari pimpinannya agar pikir-pikir lagi dengan keputusan itu, tetap tidak mampu menahannya untuk resign.

Dalam kisah lain, resign juga bisa disebabkan keinginan orangtua.

Sebagai contoh, si B, salah seorang teman kerja juga. Istrinya tinggal bersama-sama di tempat kerja sang suami. Istri yang dikenal ketika melakukan praktek lapangan. Setelah lulus dan bekerja, akhirnya sang istri mengalah dan menyusul suami ke tempat kerja. Buah hati tercinta pun telah hadir di tengah rumah tangga mereka.

Namun, setahun yang lalu, sang suami memutuskan untuk resign. Karena pihak orangtua istri menawarkan pekerjaan bagi menantunya. Bapak mertua bela-belain mencarikan lowongan kerja bagi menantu lelakinya. Mungkin ada keinginan orangtua, agar tetap bisa dekat dengan anak, menantu dan cucunya.

Saat ini bukan hal yang aneh, bila pasangan suami istri harus berpisah tempat karena faktor pekerjaan. Masing-masing bekerja di kota yang berbeda dan terpisah jarak.

Tak mudah memang tinggal berjauhan dengan pasangan hidup. Apalagi bagi yang baru menikah. Rasa rindu hanya mampu terobati dengan mendengar suaranya di telepon atau melihat wajahnya di skype.

Sekali telpon, tak cukup lima atau sepuluh menit. Karena begitu banyak yang ingin diungkapkan oleh suami. Dan juga tak sedikit cerita yang ingin disampaikan sang istri. Belum lagi jika terjadi permasalahan yang perlu segera diatasi.

Hidup tak lepas dari keterampilan dalam memilih dan mengambil keputusan. Termasuk bagi pasangan yang ingin membina bahtera rumah tangga. Bagi istri yang tidak bekerja, biasanya nggak terlalu susah untuk memutuskan tinggal di mana. Karena dia cenderung mengikuti dimana suaminya bekerja.

Namun bagi keduanya yang bekerja, perlu ada kompromi apakah sang suami yang mengalah, atau sang istri yang mengikuti suami. Bahkan, ada juga yang memilih menjalani kehidupan seperti sebelum berkeluarga, tetap bekerja di kota yang berbeda dan tinggal berjauhan satu sama lainnya.

Tak perlu ada yang disesali dengan setiap pilihan yang telah diambil dan dijalani.
Karena hidup adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan, memiliki konsekuensi dan risiko yang harus dihadapi.

Kepergian Seorang Sahabat

“I will resign”, ujar seorang sahabat. Berita itu begitu mendadak dan mengagetkan saya. Memang, sebelumnya saya sudah mendengar informasi dia akan berhenti dari pekerjaan. Tetapi berita itu saya anggap kabar burung dan tidak secepat ini waktunya. Setelah mendengar langsung darinya, baru saya percaya.

Sepuluh tahun lebih, kami mengenal satu sama lain.  Seorang sahabat yang sering berdiskusi tentang suatu persoalan. Seorang sahabat yang spontan mengoreksi saya bila ada kesalahan. Seorang sahabat yang sering melontarkan gagasan cemerlang. Seorang sahabat yang  sering sejalan dalam mengatasi permasalahan. Seorang sahabat yang punya karakter mirip tokoh Bima dalam dunia pewayangan. Atau Umar bin Khotob, sahabat Nabi Muhammad SAW. Lugas, temperamen, blak – blakan dan tanpa tedeng aling-aling, tapi logis.  Karakter yang tidak setiap orang siap dan bisa menerima.

Ketika berkunjung ke desa dua hari lalu dan sebelumnya singgah di tempat kerjanya, saya ditanya, ”Boleh nggak  Pak saya ikut ke desa. Saya mau pamit dengan masyarakat”. Spontan saya jawab,”Boleh, kita sekarang berangkat sama-sama”.

Dalam perjalanan, bila bertemu  masyarakat di pondok ladang, dia juga mendatangi mereka untuk berpamitan. Setelah menempuh sekitar 1,5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga kami di rumah bapak tokoh masyarakat yang sekaligus sesepuh di desa tersebut.

Setelah tiba di rumahnya, kami diterima oleh menantu perempuan dan cucu – cucunya. “Bapak sedang di belakang, memberi makan ayam dan babi”, tambahnya. Tak lama kemudian, sang bapak  masuk rumah dan berbincang dengan kami.

Satu – persatu warga lainnya juga datang memasuki rumah bapak mantan kades tersebut. Suasana desa yang masyarakatnya penuh rasa kekeluargaan.

Setelah saya selesai berbicara  tujuan kunjungan ke desa, giliran sahabat yang menyampaikan maksudnya. Tuan rumah begitu seksama mendengarkan penjelasannya. Pada saat sahabat tadi berkata dia mau berhenti dari pekerjaan dan berpamitan, suasana tiba-tiba menjadi hening.

Di rumah yang sederhana tersebut, mata kami semua berkaca-kaca. Suara kami tercekat. Tampak butiran air mata meleleh dari wajah sahabat dan bapak. Pemandangan yang begitu mengharukan bagi saya dan warga lainnya. Apalagi ketika keduanya berjabat tangan dan berpelukan, linangan air mata pun tak terbendung lagi.

 ”Selama ini hubungan saya dengan bapak sudah seperti keluarga. Saya datang ke sini baik-baik, saya pulang juga baik-baik. Saya juga berterima kasih atas bantuan dan nasehat Bapak. Saya tidak sempat berpamitan dengan warga desa lainnya.  Hanya satu desa yang bisa saya datangi”, ujar sahabat tadi.

Hari ini (28/7), dia mencari saya di kantor untuk berpamitan. Tidak hanya dengan saya, termasuk juga dengan teman-teman lainnya. Ketika bertemu saya, dia berkata, “Meskipun kita berpisah, kita masih bisa bersilaturahmi. Masih bisa bertemu lagi. Apalagi kita tinggal di satu kota”.  Saya pun menjawab. “Insya Allah. Mudah-mudahan waktu lebaran nanti kita bisa bertemu” .  Dia pun menjabat tangan erat – erat dan memeluk diri saya.

Selamat jalan. Saya percaya, ini adalah cara Allah untuk memberikan yang terbaik bagi sahabat.

Insya Allah, sahabat akan mendapatkan hikmah dan tempat kerja baru yang lebih baik lagi.

Sampaikan salam saya untuk keluarga yang tengah menanti di rumah.