Pelayanan Sepenuh Hati dari Kru Bis Antar Kota Dalam Propinsi

“Assalamu alaikum. Pesan tiket untuk 1 orang ke Ponti tanggal 6 Mei ya, bang. Nomor kursinya 3A atau 4A”kata saya lewat WA ke bang Udin, agen tiket bis antar awal bulan ini.

“Iya, pak, entar saya lihat, saya lagi di rumah”jawabnya

“Yang single habis, pak, yang ada nomor 5B”sambungnya tiga jam kemudian.

“Yang nomor 3B atau 4B apa ada”tanya saya lagi

“3B, 4B gak ada lagi, pak, yang ada 5B. Full penumpangnya”bang Udin menjelaskan

“Ok 5B gak apa-apa kalau memang penumpangnya full”kata saya dengan nada pasrah.

Saya nggak minta dia usahakan atau mendesak supaya dapat nomor kursi sesuai pesan saya.

Saya tahu diri kalau saya yang salah. Kenapa mepet waktu booking tiketnya. Tiga hari mau berangkat ke Ponti baru cari tiket. Berangkatnya hari Minggu lagi.  Kenapa nggak seminggu sebelumnya, kan tanggal berangkatnya sudah direncanakan. Ya wajar kalau dapat kursinya agak di belakang. Bukan kursi  depan yang tunggal.

Saya baru ingat kalau penumpang full karena tanggal 8 Mei ada SBMPTN. Pasti  lulusan SMU dari Melawi yang mau ikut seleksi di Pontianak banyak yang naik bis malam.

Dan sehari sebelum berangkat, tanggal 5 Mei sewatu saya di kantor ada pesan WA dari bang Udin

“Pak, tiketnya  nomor 3A ya”

“Oya?ok bang. Buat besok tanggal 6 Mei, ya” jawab saya.

Pesan WA pagi itu benar-benar mengejutkan saya. Saya nggak pernah membayangkan akan dapat tiket sesuai nomor kursi favorit saya, 3A. Saya pun gak bertanya ke bang Udin kok dia masih berusaha carikan kursi sesuai keinginan saya. Atau mungkin ada penumpang yang batal berangkat dan kursinya diberikan ke saya.

Yang jelas ingatan dan ikhtiarnya memenuhi kebutuhan penumpang patut diacungi jempol.

“Makasih ya bang, sudah usahakan dapat kursi tunggal buat saya”kata saya ketika bis bergerak keluar dari terminal Sidomulyo di Nanga Pinoh.

 

Iklan

Semoga Tes Kali ini Engkau Berhasil, Nak

“Minta doa restunya ya, Pa, semoga Dea lancar mengikuti tes UNY hari ini,” kata Nadia dalam pesan WA-nya pagi ini.

Hari ini, sudah yang kelima kalinya Dea ikut tes masuk perguruan tinggi. Pertama waktu ikut jalur SNMPTN belum diterima. Mencoba ikut tes SBMPTN juga belum lolos. Yang ketiga mencoba lagi jalur UTUL UGM, masih belum berhasil. Keempat berusaha ikut jalur penerimaan siswa prestasi UNY yang syaratnya mengunggah nilai raport semester 1-5. Itu juga belum tembus. Kali ini dia ingin mencoba lagi lewat jalur tes tertulis. Semua dengan pilihan fakultas atau program studi yang sama, Psikologi.

Pada awal dia nggak diterima lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN, dia sempat down dan balik ke Pontianak. Tapi mamanya, saya juga tante dan oomnya menyemangati supaya dia mencoba lagi. Apalagi ketika tantenya yang di Jogja bilang”welcome to the real life’.

Ya, inilah kehidupan yang nyata yang harus dijalani Dea. Ilmu kehidupan yang harus dia alami untuk membentuk sikapnya, tantangan di depan mata yang harus dia atasi. Semua tak hanya memerlukan ikhtiar dan kemampuan dirinya. Namun upaya-upaya spiritual juga harus dilakukan. Apa saja itu? Minta maaf sama orangtua terutama ibu, seperti yang dibilang teman tantenya.

Saya bisa rasakan bagaimana perasaan Dea ketika sudah mencoba meraih apa yang dicita-citakan ternyata belum berhasil. Untungnya dia nggak berlama-lama sedih. Meski dengan berat hati, dia berusaha kembali ke Jogja. Mentalnya bangkit lagi dan di luar dugaan saya, beberapa hari lalu menelepon untuk minta maaf atas kesalahannya.

Hampir saya tidak kuasa membendung air mata yang keluar ketika dia minta maaf dengan suara yang pelan.

“Dea minta maaf ya, Pa, kalau ada salah”

“Ya,  papa maafkan kesalahan Dea. Semoga Dea lancar waktu ikut tes UNY. Baiknya Dea juga telpon mama untuk minta maaf dan minta doanya,”kata saya.

Ternyata, ketika dia berada jauh dari saya dan mamanya, sikapnya sudah mulai dewasa. Kehidupan nyata yang dia jalani setelah empat kali gagal lolos tes telah mengubah mental dan pola pikirnya.

Ketika Nadia harus Tes SBMPTN di Jogja

Selama anak saya yag pertama, Nadia, berada di Pontianak, jarang sekali saya komunikasi dengannya via whatsapp. Sesekali hanya telpon atau SMS. Menanyakan kabarnya atau kegiatannya di sekolah. Namun semuanya itu berubah ketika Dea, nama panggilannya, memutuskan untuk ikut tes SBMPTN di Jogja.

Setelah tidak diterima di PTN melalui jalur SNMPTN, dia mencoba lagi menggunakan jalur SBMPTN. Karena pilihan fakultasnya semua berada di wilayah II, dia harus mengikuti tes di salah satu kota yang PTN-nya termasuk wilayah II.

Bisa saja dia tetap tes di Pontianak, asalkan salah satu pilihan fakultasnya berada di PTN yang termasuk dalam wilayah I, baik di Sumatera, Banten, DKI Jaya , Jawa Barat maupun Kalbar.

Seminggu sebelum berangkat ke Jogja, saya sering ingatkan dia supaya jaga kondisi kesehatan. Usahanya untuk diterima di PTN begitu besar. Setelah UN, hampir setiap hari dia mengikuti les di lembaga bimbingan belajar di Pontianak.  Ikut try out, belajar lagi di rumah. Bahkan saya pernah melihat dia belajar hingga larut malam.

Ketika perjalanan dari Pontianak ke Jogja, saya tidak bisa mengantar. Demikian juga ibunya yang tidak bisa ke Jogja karena mendampingi anak bungsu, Nabil, yang menghadapi ulangan. Meski nggak bisa mengantar, komunikasi saya dengannya tetap lancar. Setelah saya kirim pesan lewat whatsapp menanyakan apakah sudah sampai di Jogja, rasanya nggak sabar menunggu balasannya.

Demikian juga ketika menanyakan apakah dia sudah melihat lokasi tesnya, mengingatkan perlengkapan yang harus dibawa saat tes seperti pensil, pulpen, penghapus dan kartu peserta tes. Hal-hal kecil yang jarang saya perhatikan ketika dia berada di Pontianak.

Dan hari ini, setelah mengukti tes SBMPTN, dia mencoba lagi kemampuannya di jalur Ujian Tulis (UTUL) yang dilaksanakan secara mandiri oleh UGM. Saya hargai usahanya, upaya belajar keras yang telah dilakukannya. Ibunya juga tak lupa minta supaya dia berdoa selain belajar. Semoga engkau diterima di fakultas dan PTN yang engkau idam-idamkan, Nak.

Diskusi Pilihan Studi buat Dea

Si sulung Dea memang masih kelas XI. Kalau sekarang istilah kelasnya lebih simpel. Sebutan kelasnya meneruskan dari kelas VI sampai kelas XII. Dulu jaman saya disebut kelas 2 SMA. Waktu saya masih SMP kalau ditanya kelas berapa, jawabnya ya kelas 1, 2 atau 3. Juga waktu di SMA.

Meski baru kelas XI, tapi sekarang Dea sudah mulai siap-siap milih fakultas atau jurusan untuk SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Kalau dulu istilahnya jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Artinya, anak-anak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri tanpa harus mengikuti ujian tertulis. Kalau nggak lolos PMDK, ikut SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Yang ikut tes ini bisa saja lulusan baru atau lulusan yang tahun sebelumnya nggak diterima di kampus yang diidam-idamkan.

Jadi kilas balik deh waktu dulu ikut ujian tertulis. Waktu itu tahun 1989, untuk ikut SIPENMARU saya harus beli formulir IPA karena memilih dua fakultas di perguruan tinggi yang berbeda. Beli formulirnya harus antri di kampus tempat kita akan ikut tes. Harga formulir IPA dan IPS sama, tapi  formulir IPC lebih mahal karena bisa memilih tiga fakultas atau jurusan.

Setelah beli formulir lalu kita isi dan diserahkan kembali. Kemudian kita akan dapat nomor ujian dan lokasinya. Satu hari sebelumnya saya perlu cek dulu lokasinya. Jadi waktu hari H nggak perlu cari-cari lagi. Ada beberapa gedung fakultas yang digunakan untuk ujian penerimaan mahasiswa baru selama dua hari.

Kalau lewat jalur PMDK, nggak perlu ikut tes masal seperti itu. Anak-anak yang diterima di jalur PMDK salah satu syaratnya memiliki rata-rata nilai rapor semester 1-5 yang stabil. Tidak naik turun seperti roller coaster. Pertimbangan lain adalah rekam jejak kakak kelasnya yang diterima di jalur PMDK di perguruan tinggi itu.

Kalau ada kakak kelas yang diterima di fakultas A namun pada saat daftar ulang tidak datang, sekolah bisa diblacklist. Bisa saja pada tahun berikutnya kampus tidak akan menerima adik kelasnya lewat jalur PMDK.

Saat ini istilah PMDK sudah digantikan dengan SNMPTN. Prosedurnya hampir sama dengan jalur PMDK. Nilai rapor rata-rata dan rekam jejak kakak kelas menjadi pertimbangan.

Pada awalnya Dea ingin mendaftar psikologi di salah satu PTN di Jogja. Namun ada aturan bahwa pilihan fakultas atau jurusan harus sesuai dengan jurusan di SMU. Artinya kalau sekarang Dea ambil jurusan IPA, fakultas yang dipilih harus yang berbasis ilmu eksakta. Tidak bisa memilih jurusan atau fakultas berbasis ilmu sosial atau ekonomi. Akhirnya pilihan perguruan tingginya yang berubah. Tetap memilih psikologi tapi di PTN lain yang menerima dari jurusan IPA.

Hal-hal seperti ini yang saya dan mamanya Dea sering diskusikan. Keputusan akhir memang ada di tangan anak. Namun sebagai orangtua kita juga perlu tahun dan mengikuti perkembangan studinya.