Menunya Sederhana, Rasanya Bikin TERLENA

Jpeg

Salah satu menu makanan yang saya sukai adalah lalapan atau rebusan sayuran dan goreng ikan. Seperti yang saya nikmati waktu makan malam. Menunya sederhana kok, rebung dan daun ubi yang direbus, ikan nilai goreng dan sambel terasi. Tentu saja dengan nasi putih hangat.

Sayurannya saya beli dari ibu yang menawarkan dagangannya di depan kantor. Macam-macam sayuran yang dijual seperti daun ubi, rua (bagian empulur rotan), rebung, cabai, pakis, jamur dan juga buah pisang, sirsak dan pepaya.

Menu khas sayuran yang dipetik dari kebun, ladang dan hutan. Setelah dimasak menjadi hidangan yang lezat dan menyehatkan.

Kalau sudah menikmati menu seperti itu, nggak tahan untuk nggak nambah nasi putih. Apalagi ada lauk ikan, sambal terasi dan kerupuk. Wah, benar-benar sedap deh…

Iklan

Tetap Menulis meski nggak Fit

Apa kabar sobat? Semoga baik dan sehat di hari ini. Mungkin sobat blogger nggak menyangka kalau postingan sebelumnya saya buat ketika kondisi badan lagi nggak fit. Sejak hari Rabu lalu saya terkena demam. Badan terasa dingin. Di malam hari hawa dingin itu terasa menusuk hingga tulang meski saya sudah memakai jaket dan berselimut cover bed ketika tidur.

Berbeda dengan kondisi cuaca di pulau Jawa yang sering hujan deras dan berakibat bajir. Cuaca di tempat kerja ini berubah-ubah, jarang hujan tapi suhunya sejuk dan anginnya cukup kencang. Pernah saya tanya teman kerja yang punya termometer.

Setelah makan malam, saya tanya, “Berapa suhu udaranya, pak?” Beranjak dari tempat tidur dia mengambil termometer di dinding dan mengamati posisi air raksa merah di dalam tabung, “21,5 derajad, padahal biasanya 27 derajad”. Nggak bisa dibayangkan gimana kalau suhunya sampai di bawah nol  seperti yang terjadi di beberapa tempat di Amerika dan Eropa.

“Pantas hawanya sejuk”jawab saya sambil pamit pulang. Untuk mengusir hawa sejuk itu, dua hari berturut-turut saya minta tolong mbak-mbak yang masak di dapur kantor untuk membuatkan jahe hangat dicampur sedikit gula jawa. Setelah menyeruput beberapa kali, cukup menghangatkan badan di malam hari. Dugaan saya kalau sudah minum jahe hangat rasa dingin di badan mulai berkurang.

Ternyata dugaan saya keliru, keesokan harinya badan masih terasa dingin. Padahal paginya sempat masak air hangat untuk mandi. Selama ini sebelum pergi ke kantor, saya biasa mandi jam 5.30 dan jarang pakai air hangat. Sampai siang belum juga ada perubahan. Akhirnya setelah jam istirahat dan masuk kantor saya minta surat pengantar untuk berobat.

Menunggu sebentar karena ada seorang pasien ibu dan anak, saya duduk di sebelah ruang praktek. Setelah diperiksa, petugas medis mengatakan ada radang di bagian tenggorokan dan itu yang menyebabkan demam. Saya juga minta diperiksa tekanan darah, asam urat dan gula darah.

Hasilnya untuk tekanan darah 110/80, asam urat 2,9 dan gula darah 143. Tekanan darah saya memang jarang di atas 120/80 karena termasuk orang yang punya tekanan darah rendah. Mungkin ini ada faktor turunan juga dari orangtua terutama bapak.

Yang bikin saya terkejut adalah hasil tes asam urat. Ternyata nilanya di bawah standar. Ketika saya tanya berapa standarnya, petugas medis bilang antara 3,7-7. Sedangkan gula darah tergolong normal karena antara  100-170. Sempat diolok-olok teman, kalau orang yang kena tekanan darah rendah itu harus sering makan hati 🙂

Setelah minum obat dan vitamin, kondisi badan alhamdulillah membaik. Sejak kemarin demam di badan sudah mulai berkurang, namun flu dan pilek masih belum hilang. Dan hari ini kondisi badan sudah mulai segar kembali. Menulis pun rasanya lebih nikmat karena nggak terganggu pilek.

Pengalaman ketika sakit demam itu mengajarkan kepada saya, bahwa kita tidak tahu persis apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika seseorang sedang menulis. Kita tak mengetahui kondisi penulis saat itu apakah dia sehat wal afiat, sedang sakit, sedih, bahagia, putus asa atau kecewa. Kita tak sepenuhnya paham suasana hati ketika jari-jemari penulis mengetikkan kata demi kata.

Dan saya tersadar bahwa di balik sebuah tulisan yang dibuat, ternyata ada berbagai macam kondisi fisik dan psikis yang sedang dialami sang penulis. Jika badan fit dan suasana hati sedang damai, tentu proses menulis nggak akan terganggu. Berbeda halnya ketika badan nggak fit dan lagi nggak mood. Akhirnya, kemauan yang kuat dan keinginan untuk berbagilah yang menyebabkan seseorang tetap berusaha konsisten untuk menulis.

Ingin Sehat

Sudah tiga hari ini, terutama sore hari selepas jam kerja, saya sering makan Quaker Oatmeal untuk mengganjal perut yang terasa lapar. Cara buatnya mudah. Empat sendok quaker dibubuhi air panas dari dispenser, terus diaduk-aduk sampai berbentuk seperti bubur.

Setelah dicicipi, benar-benar tawar rasanya. Lebih tawar daripada makan bubur. Saking tawarnya, hampir makanan itu nggak saya habiskan. Tapi, saya pikir-pikir, sudah saya beli jauh-jauh dari Pontianak, sayang kalau nggak dihabiskan. Apalagi di lemari masih tersimpan 1 bungkus lagi.

Kenapa makan Quaker oatmeal, bukan mie instant? Bukan mau promosi, tapi ini bagian dari program untuk menjaga kesehatan, khususnya mengurangi kolesterol. Saya memang belum pernah cek darah lagi untuk mengetahui berapa angka kolesterol, asam urat dan gula darah dalam tubuh. Terakhir, lima tahun yang lalu sewaktu kena typhoid.

Tapi, saya pikir nggak perlu nunggu cek darah dulu deh. Setelah ketahuan hasilnya, baru sibuk bergaya hidup sehat : mengurangi makanan yang enak-enak, harus olahraga teratur dan tidak lupa minum obat. Saya cuma belajar dari cerita orang lain yang pernah mengalami gangguan kesehatan, akibat pola makan yang tidak tepat. Apalagi umur sudah kepala empat.

Ceritanya bermacam-macam. Ada yang kakinya bengkak dan sakit waktu dipakai berjalan. Ada juga yang bagian sendi kaki dan tangannya terasa nyeri seperti ditusuk duri. Teman lainnya bilang, bagian belakang kepalanya mulai terasa cenut-cenut dan pusing setelah mengkonsumsi daging.

Semua itu adalah contoh konkret yang menjadi peringatan bagi saya untuk lebih memahami, bahwa ternyata “mencegah itu lebih baik daripada mengobati”. Mencegah itu caranya lebih mudah daripada mengobati. Dan yang pasti, mencegah sakit itu biayanya lebih murah daripada berobat.

Memang, kalau sudah di meja makan dan terhidang berbagai makanan, bicara kesehatan seolah terlupakan. Cerita kolesterol seakan menguap begitu saja. Makanan yang kolesterolnya tinggi seperti udang goreng, telur mata sapi, tumis cumi-cumi seperti bukan sesuatu yang perlu diwaspadai, tapi justru harus dinikmati.  Seperti kata teman saya, “Di sini nggak ada kolesterol. Kolesterol itu adanya di lab”.

Karena ingin sehat, saya nggak cuma membatasi makanan yang tinggi kolesterol, untuk menghindari diabetes atau kencing manis, konsumsi  minuman yang manis-manis  pun dikurangi.  Setiap hari selepas bangun pagi, minum segelas air putih. Di kantor, pagi minum teh hangat dan siang hari ganti minum air putih lagi.

Semua itu saya lakukan supaya badan tetap fit dan sehat. Nggak lupa juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa, pemilik segalanya, agar diberi kesehatan. Terus manfaatnya apa, kalau itu semua sudah dilakukan? Nggak muluk-muluk sih. Minimal kalau badan sehat, saya masih bisa ngeblog : bikin tulisan untuk pembaca, kasih komentar atau just blogwalking. 🙂

Bugar dan Sehat Setiap Hari

Di tengah tuntutan pekerjaan  yang semakin meningkat, kebugaran dan kesehatan tubuh perlu kita perhatikan. Bagaimana menjaga kondisi tubuh anda agar tetap bugar dan sehat setiap hari walaupun padat dengan berbagai aktivitas? Mengutip tulisan Anne Ahira, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan agar badan kita tetap bugar dan sehat :

1. Mulailah aktivitas dengan semangat dan tujuan yang jelas

Satu hari sebelumnya,  tuliskan apa saja kegiatan untuk esok hari. Fokuskan pikiran dan tenaga serta semangat untuk  menyelesaikan tugas-tugas yang telah direncanakan tersebut.

2. Lakukan olahraga ringan sebelum beraktivitas

Sebelum bekerja, di pagi hari lakukan jogging, jalan kaki atau senam ringan untuk  melemaskan otot-otot tubuh anda. Jika anda seorang muslim, pergi ke masjid dengan jalan kaki untuk sholat subuh adalah contoh olahraga ringan yang bisa dilakukan

3. Selingi rutinitas pekerjaan dengan  kegiatan lain

Bekerja di kantor selama berjam-jam tentu menyebabkan kepenatan dan rasa bosan. Gunakan sesekali waktu untuk ke luar ruangan, melihat pemandangan di luar kantor, bertegur sapa dengan rekan kerja bagian lain atau office boy adalah salah satu cara mengurangi kepenatan.

4. Gunakan waktu luang untuk istirahat

Seperti halnya mesin mobil yang perlu istirahat setelah  menempuh perjalanan jauh, demikian juga dengan diri anda. Bekerja terus-menerus tanpa jeda justru akan menurunkan produktivitas.  Gunakan waktu istirahat yang disediakan di tempat kerja anda dengan sebaik-baiknya.