Lanjutkan Cita-citamu untuk Sekolah lagi, Kawan

Tidak banyak karyawan yang setelah bekerja ingin melanjutkan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi sampai ke luar negeri. Bagi yang berprofesi sebagai dosen, meneruskan pendidikan ke jenjang S2 dan S3 adalah sebuah kebutuhan. Tidak cukup hanya lulus S1 setelah itu mengajar mahasiswa S1.

Namun, bagi yang bekerja di perusahaan swasta, tak mudah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Apalagi bekerjanya di tengah hutan. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Kenapa tidak mudah bekerja sambil kuliah? Karena belum tentu perusahaan mau memberi ijin karyawannya untuk full study seperti mahasiswa lainnya. Mengijinkan karyawannya setiap hari datang ke kampus untuk kuliah hingga lulus.

Terus bagaimana jalan keluarnya? Karyawan diberikan ijin dua bulan sekali untuk mengikuti kuliah. Selama seminggu dia ke kampus. Ikut kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Jam kuliahnya bisa dari pagi sampai sore. Jadwalnya dipadatkan

Itu yang dijalani oleh teman kerja yang lulusan sekolah vokasi. Dulu namanya pendidikan diploma. Setelah lulus D3 dari Jogja, dia kerja di perusahaan. Di tengah hutan. Setelah empat tahun kerja, dia meneruskan kuliah S1 di Sintang. Perlu 4 jam perjalanan dari tempatnya bekerja ke kampus.

Tekadnya untuk sekolah tak pernah padam. Selesai jenjang S1 dia ingin meneruskan lagi ke S2 di Jogja. Karena jarak yang cukup jauh, akhirnya dia memutuskan resign. Berhenti  bekerja  dan memulai langkah baru. Kuliah. Mungkin nggak sambil kerja lagi.

Dia memang masih muda. Umurnya 27 tahun dan belum menikah. Namun pola pikir dan wawasannya melebihi usianya.

Saya kenal dia karena sering ketemu saat mendampingi tamu. Selain terkenal sebagai pekerja keras, dia juga terampil presentasi.

Bekal pengalaman lapangan selama hampir lima tahun, terampil presentasi dan terbiasa membuat laporan kegiatan adalah modal berharga baginya.

Selamat jalan, kawan. Lanjutkan langkahmu dalam mengejar cita-citamu. Ilmu memang harus dicari dan bukan ditunggu. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi hidup kita.

Nanti Sekolah di Jogja saja, ya

“Nanti kalau udah lulus, sekolah di Jogja saja, ya”kata eyang putri saat ngobrol-ngobrol dengan istri dan anak-anak di rumahnya.

“Dea sih maunya bisa kuliah di Bandung  lewat jalur undangan ”jawab istri saya.

“Kalau sekolah di Jogja, nanti tinggal di rumah ini. Nggak usah kos lagi”lanjut eyang putri.

Memang masih satu tahun lagi Dea lulus SMA. Belum tau juga apakah akan diterima lewat jalur SNMPTN atau SBMPTN. Semuanya baru rencana.

Namun satu hal yang bisa saya petik dari obrolan di atas. Keinginan eyangnya agar bisa dekat dengan cucunya. Memang selama ini tempat tinggal kami terpisah. Eyang putri dan eyang kakungnya di Jogja. Sementara saya dan keluarga di Pontianak.

Nggak setiap tahun bisa pulang ke Jogja. Terakhir pulang dua tahun lalu. Itu pun hanya seminggu di Jogja. Malah istri dan Andra hanya sehari semalam di Jogja. Syukur alhamdulillah tahun ini bisa pulang dan lebih lama tinggal di rumah eyangnya. Manfatkan liburan sekolah sekalian puasa Ramadhan dan Idul Fitri di Jogja.

Saya yakin setiap orangtua punya keinginan agar ada salah satu anaknya atau cucunya yang bisa tinggal dekat dengannya. Nggak mesti harus tinggal serumah. Bisa saja sekota tapi beda rumah.

Memang dilematis. Kadang-kadang karena pekerjaan, anak-anak harus tinggal terpisah dari kedua orangtuanya. Tinggal di tempat lainnya yang beda kota, beda pulau bahkan beda negara. Dengan sendirinya frekuensi ketemu pun jarang-jarang. Komunikasi dilakukan sebatas saling telepon atau chatting di handphone. Dengan sendirinya, cucunya juga jarang ketemu dengan kakek nenek dan sanak saudara lainnya.

Momen liburan sekolah atau lebaran adalah saat yang tepat untuk menengok orangtua. Juga mengenalkan anak-anak dengan kerabat lainnya: paman, bibi, dan saudara sepupunya. Mumpung bisa berkumpul minimal setahun sekali.

Meski tiket lebaran lebih mahal daripada hari biasa, hitungan itu belum seberapa dibandingkan rasa bahagia yang hadir di hati orangtua. Meski persiapan pulang begitu menyita waktu, semua itu belum ada apa-apanya dibandingkan doa yang dipanjatkan orangtua bagi kebaikan anak-anaknya. Meski perjalanan jauh harus ditempuh, semua itu belum berarti dibandingkan perjalanan kedua orangtua mendidik kita.

Semoga kita dimudahkan Allah untuk lebih sering bertemu dengan kedua orangtua.

Orang-orang yang Menunggu

IMG01928-20140813-1225

Pernah kan lihat orang-orang yang sedang menunggu? Apalagi menunggu sambil nggak ngapa-ngapain? Apa yang mereka lakukan? Biasanya kalau nggak ada yang dikerjakan, saat kita menatap mereka sejenak, mereka juga akan balas menatap. Contohnya ya seperti gambar di atas. Orang-orang yang hanya menunggu dan berpangku tangan. Tanpa berbuat sesuatu.

Gambar di atas yang saya jepret ketika selesai mengantar bekal makan siang anak-anak di sekolah. Setelah ke SMAnya Nadia dan nitip bekal ke guru piket, saya dan istri terus ke sekolah dua anak yang masih SD. Jaman sekarang kalau anak SMA masih diantarin bekal makan siang, mungkin udah jarang kali ya. 🙂

Dan waktu di SD, sebelum pulang sekalian lewat gedung SMP  yang satu lokasi yang baru selesai dibangun. Akhirnya dapatlah poster yang digantung di plafon depan ruang kelas.

Nampaknya pesan poster itu tak hanya ditujukan untuk murid-murid, juga guru-guru dan pengurus sekolah supaya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melakukan sesuatu. Jangan hanya bengong dan membuang-buang waktu. Dan pesan yang lebih penting adalah jangan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat sesuatu. Jangan menunggu mau ulangan baru belajar. Jangan menunggu mengerjakan PR setelah tahu besok harus dikumpulkan. Jangan menunggu siswa-siswa protes dulu baru mengajarnya lebih disiplin.

Dalam pengertian yang lebih luas, kalimat di atas bisa berlaku untuk kita juga. Jangan menunggu dapat ide yang bagus baru menulis. Tuliskan saja apa yang sedang dipikirkan saat ini. Jangan menunggu hingga kaya untuk bersedekah. Berikan saja saat ini seberapa yang kita punya. Jangan menunggu orang lain berbuat baik dulu pada kita, baru kita mau berbuat baik. Jangan menunggu dikoreksi orang lain dulu baru mau berubah. Jangan menunggu disuruh dulu baru bertindak.

Lebih baik berinisiatif melakukan sesuatu dalam kondisi apapun. Seperti pesannya pak Mario Teguh, “Bersikap dan berbuatlah sebaik-baiknya dalam seburuk-buruknya keadaan”. Karena tidak akan datang waktu yang tepat jika hanya menunggu dan berpangku tangan. Nggak hanya itu, kesan orang lain yang melihat jadi negatip. Beda dengan mereka yang menunggu sambil mengerjakan sesuatu. Membaca, belajar hal baru, menolong orang lain atau berdzikir adalah lebih baik daripada duduk berpangku tangan. Orang-orang yang menunggu sambil berbuat sesuatu akan terlihat lebih punya nilai. Kita pun yang melihatnya nggak merasa suntuk dan gemas.

Memang ada pilihan di saat menunggu. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat apa pun alias berpangku tangan. Dan diri kita sendirilah yang memutuskannya.

 

Belajar-Mengajar Tak Hanya di Ruang Kelas

Selama ini kita sering berpendapat, pendidikan identik dengan proses belajar mengajar di sekolah dan ruang kelas. Mulai jenjang SD, SMP, SMU hingga Perguruan Tinggi, kegiatan belajar lebih banyak dilakukan dengan metode “guru menyampaikan  materi dan murid duduk manis mendengarkan”.

Ketika saat mengajar tiba, guru berdiri di depan kelas, siswa mendengarkan dan menyimak berbagai pelajaran yang disampaikan.

Berbagai mata pelajaran yang disusun sesuai kurikulum pun disiapkan. Bersumber pada buku-buku pelajaran yang ditentukan, guru pun menyampaikan materi pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia agar dihafal dan dipahami siswa. Cara pemahaman materi yang lebih mengutamakan proses learning by listening oleh siswa.

Dalam kegiatan tersebut, proses pemahaman materi akan sangat ditentukan oleh cara guru menyampaikan dan ketersediaan materi pelajaran.

Sebenarnya, proses belajar mengajar tersebut tidah hanya dapat dilakukan di ruang kelas. Di luar ruang kelas, alam sekitar adalah sumber pengetahuan yang tiada terbatas untuk dipelajari. Banyak contoh yang bisa dilihat langsung oleh siswa-siswa pada saat belajar dari alam sekitarnya, mulai dari berbagai jenis tanaman maupun hewan.

Bisa jadi, selama ini mereka tahu tanaman padi karena mendapat penjelasan dari gurunya atau melihat gambar yang ada dalam buku pelajaran. Namun, dia tidak pernah melihat langsung tanaman tersebut, bagaimana cara menanamnya, di mana tempat hidupnya maupun berapa lama tanaman tersebut bisa menghasilkan beras.

Demikian juga dengan para tenaga pengajar atau guru-guru yang akan menyampaikan materi pelajaran.

Pengenalan alam sekitar akan memperkaya khazanah dan wawasan berpikir mereka. Pengetahuan yang diperoleh pun tidak hanya bersumber dari buku-buku pelajaran. Tapi dari apa yang dia lihat dan amati.

Pelajaran bagaimana pohon tumbuh lebih mudah dipahami bila guru-guru pernah melihat proses yang sebenarnya. Mulai pengadaan bibit, menanam sebatang pohon, hingga pohon tersebut tumbuh besar berumur beberapa tahun.

Jika guru mengajarkan apa itu pupuk ? Mengapa tanaman harus dipupuk ? Bagaimana cara membuatnya ? Semua bisa dilihat dan dipelajari di lokasi pembibitan.

Proses pengenalan terhadap alam sekitar dan lingkungan, dapat dilakukan apabila ada kerjasama antara sekolah atau perguruan tinggi dengan perusahaan milik pemerintah ataupun swasta.

Bagi perusahaan, program pengenalan lingkungan tersebut dapat diagendakan sebagai salah satu perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility).

Sosialisasi kegiatan pengelolaan lingkungan, selayaknya tidak hanya dilakukan terhadap para birokrat, lembaga swadaya masyarakat dan media massa. Para pengajar dan siswa – siswa juga perlu diikutsertakan dalam program tersebut. Terutama yang tinggal dan belajar di lingkungan sekitar perusahaan, industri milik pemerintah maupun swasta.

Hal tersebut juga sekaligus memperkaya pengetahuan para pengajar dan siswa-siswa dengan melihat dan belajar langsung di alam terbuka.

Proses belajar yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas ataupun gedung sekolah dalam suasana formal. Proses pemahaman materi yang dilakukan sambil bermain dan bercanda ria. Proses belajar yang dilakukan dalam suasana keakraban, rileks, gembira, dan dinikmati oleh siswa-siswa dan guru-guru.

Siswa Kelas I Ikut Bimbingan Belajar, Apakah Perlu?

Lewat telepon seluler (ponsel), istri saya cerita, dia baru saja memberi ultimatum anak-anak, terutama yang kelas 6 SD dan 3 SMP. “Pokoknya kelas 1 SMP dan 1 SMA nanti , nggak ada yang namanya ikut les atau bimbingan belajar ”, ujarnya.

Saat ini saja, untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun 2013, anak-anak sudah harus menyisihkan  2-3 hari seminggu untuk ikut bimbingan belajar. Mereka harus mempersiapkan diri dari sekarang, padahal UN berlangsung sekitar 8 bulan lagi.

Terkadang, muncul rasa iba juga setelah melihat anak-anak habis pulang sekolah, terus les dan pulang ke rumah keletihan dan tertidur. Bagi si sulung, sewaktu kelas 2 SMP, karena jarak dari sekolah ke tempat les dekat, pulang sekolah nggak langsung ke rumah. Tetapi beli makan siang dan istirahat di sekolah. Setelah itu, langsung ke tempat les dan selesai baru dijemput ibunya.

Anak-anak yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD , 3 SMP dan 3 SMA, baru masuk tahun ajaran baru sudah dihadapkan pada pilihan : ikut bimbingan belajar atau tidak, ikut les atau belajar sendiri. Ikut les privat atau bimbingan belajar. Semuanya punya tujuan yang sama, dapat nilai bagus pada waktu UN dan SNMPTN, serta diterima di sekolah atau perguruan tinggi yang diinginkan.

Dan jika pilihannya adalah ikut bimbingan belajar atau les, orangtua yang harus siap-siap untuk menyediakan dana yang tidak sedikit.

Apalagi kalau memilih ikut bimbingan atau les jangka panjang, sekitar 8-9 bulan. Seperti atlet yang menjalani Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) yang akan dikirim mengikuti turnamen atau kejuaraan. Bedanya kalau atlet, hanya fokus pada satu bidang atau cabang olahraga, misal bulutangkis, atletik atau sepakbola. Selama itu pula, dia akan konsentrasi berlatih fisik dan teknik didampingi sang pelatih.

Tetapi kalau anak-anak sekolah, mereka harus mempelajari berbagai mata pelajaran. Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Semua mata pelajaran yang akan diujikan pada saat UN. Selain mata pelajaran itu sudah diajarkan di sekolah, dia harus belajar lagi di bimbingan.

Memang kalau ditinjau dari sisi persiapan, tidak ada salahnya merencanakan beberapa bulan sebelumnya mengikuti bimbingan untuk menghadapi UN atau SMPTN.

Namun, jika hal tersebut sudah dimulai ketika anak-anak baru kelas 1 SMP atau 1 SMA, muncul pertanyaan yang jadi bahan diskusi saya dengan istri lewat telepon. Apakah pelajaran yang sudah diberikan di sekolah tidak cukup? Apakah tidak muncul kejenuhan belajar saat anak-anak duduk di bangku kelas 3? Apakah kondisi badan dan pikiran yang letih saat dipacu mengikuti bimbingan sejak kelas 1, bisa kembali segar saat menghadapi UN atau SNMPTN?

Referensi Gambar :

  • cikarang.biz

Kebahagiaan Orangtua

Kemarin (31/5), saya terima SMS dari istri. Isinya mengabarkan kalau Aysha, anak kedua yang duduk di bangku kelas 5 SD, dapat nilai 100 untuk dua mata pelajaran : bahasa Inggris dan Kemuhammadiyahan. Nilai pelajaran lainnya pun rata-rata di atas 80.

Sebagai orangtua, rasa letih setelah bekerja langsung terasa hilang, begitu tahu nilai ulangan Caca, demikian dia biasa dipanggil, termasuk bagus. Beberapa hari sebelumnya, sang adik yang baru kelas 1 dan bersekolah di tempat yang sama juga mendapat nilai ulangan yang bagus.

Berbagai masalah dalam urusan pekerjaan pun jadi terasa ringan, begitu tahu prestasi belajar anak-anak termasuk lumayan.

Perasaan itu sama seperti yang saya alami dua tahun lalu, ketika mendapat kabar dari istri kalau nama anak pertama, Nadia, tercantum dalam papan pengumuman penerimaan siswa baru SMP. Walaupun diliputi ketidakpastian, karena setiap hari harus mengamati pergerakan peringkat nilai di papan pengumuman, sama seperti orang memelototi pergerakan saham di bursa efek, akhirnya pada hari terakhir, diumumkan bahwa dia diterima di sekolah yang diinginkan. Rasanya plong, begitu membaca namanya tercantum di papan pengumuman penerimaan siswa baru.

Saya bisa membayangkan, betapa bahagianya orangtua yang mengetahui anaknya lulus SMU atau Perguruan Tinggi dan mendapat predikat lulusan terbaik atau nilai tertinggi.

Saya bisa merasakan betapa bangganya orangtua Triawati Octavia, siswi SMUN 2 Kuningan yang meraih nilai tertinggi dalam Ujian Nasional (UN) tahun ini. Betapa terkejutnya guru-guru dan teman-temannya di sekolah, karena selama duduk di bangku SMU, dia tidak pernah juara kelas atau masuk dalam 3 besar.

Triawati pun tidak pernah menduga  namanya bakal mendadak terkenal, karena nilai UN-nya tertinggi se Indonesia : 58,6 atau rata-ratanya 9,77.  Rata-rata nilai UN yang mendekati sempurna : 10. Bahkan untuk mata pelajaran kimia, dia mendapat nilai 10.

Sebagai orangtua, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan di dalam hati, adalah ketika mendengar dan mengetahui kalau anak-anak bisa terus belajar, melanjutkan sekolah di tempat yang dia inginkan dan juga berprestasi….

Terima kasih anakku…