Garuda Kini Melayani Pontianak-Sintang PP

Jpeg

Tak hanya satu maskapai yang kini melayani rute penerbangan Pontianak-Sintang PP. Kalau sebelumnya hanya Kalstar, kita Garuda juga melayani rute tersebut setiap hari. Jadi bagi teman-teman yang mau bepergian ke Sintang, Sekadau, Melawi dan sekitarnya, moda penerbangan ini bisa jadi alternatif.

Informasi itu saya tahu waktu menjemput dan mengantar tamu awal bulan April ini. Tamu dari Malaysia dan Singapura yang datang ke camp. Dari Pontianak-Sintang PP naik Garuda. Waktu tempuhnya hanya 40 menit saja.  Dengan harga tiket sekitar 650 ribu per orang. Waktu tempuh yng jauh beda dibandingkan naik bis sekitar 9 jam atau travel 8 jam dengan harga tiket 200 – 250 ribu per orang.

Jpeg

Waktu itu, empat orang tamu dan satu pendamping dari Pontianak  tiba di bandara Susilo Sintang 3 April jam 13.00 WIB. Terbang kembali ke Supadio Pontianak 6 April jam 13.35 WIB. Kalau mau lanjutkan dari Pontianak ke bandara lain juga bisa. Seperti yang saya lihat waktu check in ada penumpang pria yang meneruskan perjalanan ke Jakarta, juga menggunakan Garuda.

Kalau naik Kalstar, saya sudah pernah, baik dari Pontianak-Sintang maupun sebaliknya. Nah, setelah ada Garuda, satu saat ingin juga merasakan gimana suasana penerbangannya. Supaya saya juga bisa cerita di postingan selanjutnya.

 

Tugas Mendadak ke Sintang

Alhamdulillah, kemarin sore jam 16.30 sudah sampai di Losmen Setia, Sintang.

Setelah naik minibus dari Terminal Pinoh yang baru berangkat setelah dapat tujuh penumpang.

Padahal kapasitasnya bisa sampai 15 orang, lho kendaraannya. Setelah masuk , baru saya tahu. Rupanya kursinya memang dimodifikasi buat tujuh penumpang. Dua orang di depan, lima orang di tengah duduk menghadap pintu samping dan belakang.

Setengah bagian belakang, dikosongkan. Nggak ada kursi. Ternyata dipakai buat bawa barang. Jadi separuh isi penumpang, separuh isi barang. Kreatif. Sekali jalan dari tujuh penumpang sudah dapat 350 ribu. Belum pemasukan tambahan dari angkut barang.

Sebenarnya nggak ada rencana pergi ke Sintang. Pagi kemarin masih ngobrol sama tamu dari Jakarta.

Karena ada teman kantor yang sakit, akhirnya jadi pemain pengganti.  Diberitahu mendadak setengah jam sebelum berangkat. Supaya ke Sintang untuk ikut pertemuan  ekspose potensi ekowisata yang diadakan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya dan WWF.

Segala sesuatu memang perlu direncanakan. Tapi terkadang ada hal mendadak di luar rencana yang harus cepat kita putuskan dan lakukan.

Kopdar Ternyata nggak Mudah

Sebelumnya, saya membayangkan kalau kopdar sesama blogger di dunia nyata itu mudah. Apalagi setelah membaca postingan dari teman-teman tentang serunya kopdar. Ditambah lagi foto-fotonya yang menggambarkan kalau kopdar adalah kegiatan yang sangat berkesan dan meninggalkan sejuta cerita.

Janjian ketemu di suatu tempat, tentukan tanggalnya dan sesuai kesepakatan langsung meluncur ke lokasi. Jadilah kopdar. Yang biasa berakrab ria di dunia maya, akhirnya kesampaian bertemu di dunia nyata

Namun dibalik keberhasilan kopdar tersebut, mungkin tidak banyak yang bercerita bagaimana lika-liku dan proses yang dijalani sehingga pertemuan tersebut bisa terjadi. Saya baru mengalami, ternyata untuk kopdar memang nggak mudah.

Mungkin si A bisa datang pada tanggal dan tempat yang ditentukan, tapi bagi si B nggak bisa karena kesibukan pekerjaan. Atau bagi si B pada saat ini ada di rumah dan tidak bepergian, namun si A tidak dapat datang ke kota tersebut karena tidak diijinkan pimpinannya. Cara mensiasatinya, akhirnya dengan menjadikan kopi darat bukan sebagai satu-satunya tujuan pada saat kita bepergian di suatu tempat. Itu pun belum menjamin kopdar bisa terlaksana. Seperti yang saya alami beberapa hari lalu.

Setiap blogger termasuk saya dalam hati kecil pasti ingin ketemu dengan teman-teman blogger secara langsung. Dengan mas Zainal, proses penjajagan untuk kopi darat sudah dilakukan. Mulai dari saling tukar nomor HP, SMS-an, juga bicara lewat telepon.
Dalam komentar postingan, dia pun pernah menanyakan kapan ada waktu ke Sintang. Nah, kesempatan itu datang juga. Akhir Pebruari lalu, dalam waktu seminggu saya tiga hari bolak-balik camp-Sintang.

Pertama, tanggal 24 Pebruari untuk jemput dua orang tamu di bandara. Kedua tanggal 27 Pebruari untuk antar kembali ke bandara 1 orang tamu dari Jerman yang pulang duluan. Ketiga, tanggal 1 Maret kemarin untuk antar satu tamu lagi yang pulang. Waktu antar tamu yang pulang tanggal 27 Pebruari, sempat terlintas dalam pikiran untuk merancang kopi darat dengan Mas Zainal yang domisilinya di Pandan, Kecamatan Sungai Tebelian. Daerah ini selalu dilalui kendaraan yang melintas dari Nanga Pinoh ke Sintang PP. Waktu tempuh kedua tempat itu sekitar 1,5 jam.

Setelah tiba di camp, sore hari saya SMS mas Zainal. Isinya tawaran kopi darat di warung Bakso mas Bejo di pertigaan jalan Pinoh-Sintang tanggal 1 Maret. Rencananya setelah mengantar tamu, pulangnya bisa makan bakso sekalian kopdar dengan Mas Zainal.

SMS terkirim dan saya menunggu balasannya dengan harap-harap cemas, semoga rencana kopi darat dapat dilaksanakan. Balasan SMS saya terima malam hari ketika menemani tamu makan malam. Namun Allah SWT menentukan lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mas Zainal ternyata belum bisa memenuhi permintaan untuk kopi darat tanggal 1 Maret, karena kesibukan pekerjaan. Semoga lain waktu bisa ketemu ya, Mas. Juga dengan teman blogger-blogger lainnya.

Hanya 35 menit dari Pontianak ke Sintang

“Kalau naik pesawat, waktunya hanya 35 menit”, ungkap salah seorang tamu di dalam kendaraan jemputan. “Dari Sintang ke camp berapa jam”, tanya tamu lainnya yang duduk di sebelah kanan saya. “Masih 4 jam lagi, Pak”, jawab saya dalam perjalanan dari Sintang ke Nanga Pinoh.

Lebih cepat perjalanan dari Pontianak ke Sintang, daripada dari Sintang ke camp. Padahal jarak Pontianak – Sintang sekitar 500 km, sementara jarak tempuh dari Sintang ke camp tidak sampai sepertiganya.

Setelah pesawat Kalstar beroperasi melayani rute Pontianak – Sintang, beberapa tamu sering menggunakan moda transportasi udara ini sebagai alternatif perjalanan menuju camp. Jadwal terbang pesawat  jenis ATR tersebut setiap hari dengan kapasitas 50 tempat duduk.

Berangkat dari Pontianak pukul 13.00 WIB dan tiba di Sintang pukul 13.35. Setelah menurunkan penumpang dan barang sekitar 20 menit, pesawat terbang lagi ke Pontianak pukul 13.55.

Sebelumnya, tamu-tamu sering menggunakan bis umum eksekutif atau kendaraan travel dari Pontianak ke Nanga Pinoh. Waktu tempuhnya 9 jam, dilanjutkan menggunakan kendaraan umum sekitar 2 jam ke camp.

Perlu waktu 11 jam perjalanan untuk mencapai daerah yang masih berada dalam satu propinsi. Betapa luasnya propinsi Kalimantan Barat. Luasnya sama dengan satu setengah kali luas Jawa ditambah Bali. Kalau di pulau Jawa, waktu tempuh selama itu sudah melewati 6 propinsi : Jabar, Banten, DKI Jaya, Jateng, DIY dan Jatim.

Dengan menumpang pesawat Kalstar, total waktu tempuh ke camp menjadi 4,5 jam. Menghemat waktu dan tidak menguras fisik dan tenaga. Terus, kalau naik pesawat Kalstar, berapa harga tiketnya? Dari Pontianak ke Sintang tiketnya Rp 459.300. Sekitar empat kali lipat harga tiket bis. Kalau bicara harga tiket, memang lebih mahal. Tapi waktunya tempuhnya hanya 1/16 kali dibandingkan waktu tempuh bis. Pilih mana?

Bagi penumpang yang super sibuk, dari sisi waktu jelas lebih efisien naik pesawat. Apalagi kalau penumpang ingin meneruskan penerbangan selanjutnya ke kota lainnya. Seperti waktu para tamu tersebut pulang ke Pontianak. Setelah terbang dari Sintang menggunakan Kalstar dan tiba di bandara Supadio, mereka melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat lainnya.

Tidak perlu ke luar bandara, tidak perlu menginap lagi di hotel. Cukup menunggu di bandara untuk penerbangan selanjutnya.

Sumber bacaan ;

– Pontianak Post

Bis yang Melewati Tiga Negara

Rute bis biasanya melewati beberapa kota dalam satu pulau atau beberapa kota antara dua pulau yang masih berada  dalam satu negara.

Tidak demikian halnya dengan rute bis di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain melayani rute antar kota dalam propinsi, seperti Pontianak – Sintang PP, Pontianak – Nanga Pinoh PP, Singkawang – Sintang PP, rute bis tersebut juga melayani antar kota lintas negara.

Oleh karena transportasi jalan dari Kalbar telah terhubung ke negara bagian Sarawak Malaysia melalui perbatasan Entikong,  beberapa perusahaan milik swasta ataupun milik negara (BUMN) juga mengoperasikan bis antar negara rute Pontianak – Kuching dengan tarif  Rp 160.000 per orang sekali jalan.

Tidak hanya itu, perusahaan milik negara, DAMRI, juga telah mengoperasikan bis dengan rute yang berbeda yang melintasi tiga kota dalam tiga negara, yaitu  Pontianak  (Indonesia) – Serian (Malaysia) – Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam).

Bis yang melintasi tiga negara tersebut berangkat dari Pontianak pukul 07.30 setiap hari menuju Bandar Seri Begawan dengan waktu tempuh 23  – 27  jam. Harga tiketnya  Rp 550.000 per orang  sekali jalan dengan kapasitas tempat duduk 28 – 36 orang.

Memang ironis, transportasi darat antar negara dari Kalbar telah terhubung dengan lancar hingga negara tetangga, yaitu Malaysia dan Brunei. Namun, dengan propinsi tetangga seperti Kalteng, Kalsel dan Kaltim, justru belum ada akses jalan yang memadai yang memungkinkan transportasi umum dari Kalbar menjangkau kota-kota di ketiga propinsi tersebut.

Hal tersebut ditambah lagi tidak adanya sarana transportasi udara yang langsung menghubungkan antar ibukota propinsi di pulau Kalimantan, baik dari Pontianak – Samarinda, Pontianak – Palangkaraya ataupun Pontianak –  Banjarmasin. Untuk melakukan perjalanan menuju kota – kota tersebut via udara, harus memutar dan transit di Jakarta terlebih dahulu.

Tak heran, kalau saat ini tetangga saya yang tinggal di Pontianak bila ingin kembali ke tempat kerjanya di Banjarmasin menggunakan pesawat, harus singgahdan jalan-jalan di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu, karena pesawat yang ada rutenya  dari Pontianak – Jakarta dan  dilanjutkan dari Jakarta – Banjarmasin.

Itulah faktanya, meski dalam satu pulau, transportasi darat ke negara tetangga sangat lancar, tetapi ke propinsi tetangga malah harus memutar .

Sumber foto : regional.kompasiana.com