Menelepon dan nggak Dijawab Apa Sebabnya?

Ketika kita menelepon seseorang dan saat itu belum menjawab, jangan kesal. Saat kita SMS dan si penerima belum langsung membalas, jangan sewot. Bisa jadi ketika kita menelepon, orang tersebut sedang mengemudikan kendaraan dan untuk menjawab dia harus menepikan kendaraan dulu. Mencari tempat untuk berhenti sebentar. Kalau dia tidak sendirian di dalam mobil bisa saja dia serahkan handphone ke orang di sebelahnya untuk menjawab panggilan itu.

Hal seperti itu pernah saya alami ketika pada malam hari sedang berada dalam perjalanan. Bersama keluarga malam itu rencananya mau makan di luar. Belum sampai lima menit, terdengar dering telepon dan langsung saya serahkan ke istri karena saya pada posisi menyetir mobil. Rupanya bos yang menelepon. Sementara istri menjawab panggilan telepon, saya menepikan kendaraan dan berhenti sebentar. Akhirnya gantian istri yang menyetir dan saya duduk di sampingnya.

Pembicaraan terus berlangsung sekitar 10 menit dan sekitar 5 menit kemudian kami sampai di warung bakso yang menjadi favorit keluarga. Syukurlah akhirnya dua kegiatan bisa berjalan lancar. Menjawab panggilan telepon dan makan malam di luar rumah juga tetap bisa dinikmati.

Bisa saja pada malam itu saya menghentikan mobil dan menerima panggilan telepon. Berbicara sampai selesai, baru berangkat lagi. Tapi gimana dengan anak-anak dan istri yang ada di mobil? Saya nggak mau kalau mereka harus menunggu saya selesai bicara.

Saya nggak mau menjawab telepon dan berbicara sambil nyetir mobil, baik pada posisi mobil berjalan atau berhenti sementara di perempatan. Resikonya itu, lho. Pernah waktu saya berhenti di pertigaan jalan dan menjawab panggilan telepon kena marah polantas. Saat itu mobil saya pada posisi berhenti di urutan pertama dan menunggu giliran lewat. Telepon berbunyi dan saya terima. Nggak saya sadari kalau lalu lintas dari arah saya sudah boleh lewat. Gara-gara mobil yang seharusnya sudah boleh jalan tapi saya masih berhenti, akibatnya antrian kendaraan di belakang tambah panjang.

Memang kalau kita menelepon atau kirim SMS, kita ingin supaya segera direspon. Segera dijawab dan dibalas. Namun kalau kenyataannya justru sebaliknya, telepon belum dijawab dan SMS belum dibalas, berprasangka baik saja. Bisa jadi si penerima telepon atau SMS itu sedang mengerjakan sesuatu hal yang penting. Bukannya dia tidak mau menjawab panggilan atau membalas SMS. Kalau saya mengalami hal seperti itu, ada panggilan telepon masuk dan nggak bisa langsung saya jawab, asalkan dari nomor yang dikenal langsung saya telepon balik.

Bersikap positip dan berprasangka baik juga nggak ada salahnya kita lakukan saat menelepon dan mengirim SMS.

Apa Sebaiknya Dibantu atau Tidak ?

Baru kali ini dapat SMS dari nomor HP 081336480441 yang isinya permintaan bantuan atau sumbangan untuk anak-anak panti asuhan. Isi lengkap SMS-nya seperti ini:

Aslm, dibutuhkan beras utk ank2 yatim & duafa, hubungi PA Baitul Yatim Jl. Ry Saritama 17 Tandes Sby 60188 BCA 6170246321 a/n Baitul Yatim. SMS 08184045717. Mhn dijenguk.

SMS saya tulis persis sama dengan yang ada di ponsel. Pada saat pertama terima SMS itu, hati ini langsung trenyuh dan rasanya ingin segera membantu. Rupanya pengirim SMS itu pintar mengaduk-aduk emosi penerimanya. Namun muncul pertanyaan, kok dia tahu nomor ponsel saya? Darimana ya?

Beberapa hari SMS itu saya biarkan dan nggak ditanggapi. Nggak saya balas apalagi telepon balik. Karena ragu-ragu antara ingin membantu atau tidak, saya coba cari referensi. Setelah googling dengan kata kunci Panti Asuhan Baitul Yatim, langsung mengarah ke blog ini.

Dan setelah saya baca blog itu, ternyata nggak hanya saya yang mendapat kiriman SMS seperti itu. Sudah ada 16 orang yang juga menerima SMS dan minta konfirmasi di blog tersebut. Sebagian besar yang menerima SMS juga merasa sangsi karena setelah dicek, ada kejanggalan antara nomor rekening di SMS dengan di blog.

Nah, kalau setelah dicek dan ditelusuri ternyata permintaannya janggal seperti ini, apakah tidak sebaiknya sumbangan saya berikan kepada anak-anak yatim piatu di tempat lainnya yang jelas-jelas membutuhkan?

 

Apapun Masalahnya, Coba Atasi dengan Komunikasi

“ Mas keluar dari grup keluarga ya”, demikian pesan Black Berry Messsenger (BBM) tadi malam (25/4) dari adik ipar yang tinggal di seberang pulau. Berita tersebut cukup mengejutkan dan membuat saya penasaran.

Siapa pun anggota grup yang membaca berita tersebut, akan memiliki persepsi kalau saya tidak mau gabung lagi dengan grup keluarga. Setelah saya cek, ternyata informasi tersebut tidak benar karena saya tidak pernah gabung di grup keluarga. Saya balas pesan tersebut  kalau selama ini saya tidak pernah masuk grup keluarga. Barulah, dia menjelaskan ada dua grup keluarga dalam BBM tersebut,  A dan  B, dan nama saya tidak ada di dua grup itu. Saya baru tahu, rupanya di pihak keluarga besar  ada dua grup untuk berkomunikasi dengan anggotanya. Saya pun baru sadar dan menyadari kekeliruan, rupanya selama ini saya jarang berkomunikasi sehingga tidak tahu informasi dan perkembangan keluarga besar.

Berkaca dari pengalaman di atas, kalau kita perhatikan, sebagian besar permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangga maupun tempat kerja berawal dari kurangnya komunikasi. Salah paham, salah persepsi, salah informasi sebenarnya dapat dikurangi bila dua pihak bersedia meluangkan waktu untuk berkomunikasi secara rutin.

Seseorang yang taat berkomunikasi dengan sang penciptaNya akan diberikan kemudahan dan jalan keluar dari permasalahannya. Suami istri yang sering berkomunikasi, akan tahu perkembangan yang terjadi di dalam rumah tangganya walaupun tinggal berjauhan. Orang tua yang rajin berkomunikasi dengan anaknya, akan memahami masalah yang dihadapi anak-anaknya baik di rumah maupun di sekolah. Atasan yang tidak alergi berkomunikasi dapat mengurangi kesalahan persepsi dan pemahaman dari bawahannya. Nggak heran, kalau pada saat ini di beberapa perusahaan, media sosial (facebook, twitter, blog, SMS) sering dijadikan sarana untuk menjalin komunikasi antar karyawan dan menyampaikan informasi terbaru. Karena selain keakuratan, kecepatan penyampaian informasi juga sangat penting dalam pengambilan keputusan.

Memang tidak mudah berkomunikasi secara intensif.  Kemauan mendengarkan adalah modal penting agar komunikasi berjalan lancar. Tidak hanya mendengar (to hear), tetapi mendengarkan (to listen). Sekilas nampak sama antara pengertian mendengar dan mendengarkan, padahal substansinya berbeda.

Mendengar dapat dilakukan sambil mengerjakan kegiatan lain seperti baca koran, mendengar musik, melihat televisi, menatap layar komputer atau mengetik pesan SMS/BBM. Lain halnya dengan mendengarkan, dimana lawan bicara anda akan menghentikan sejenak aktivitasnya dan dengan seksama menyimak isi pembicaraan anda, menanggapi dan bahkan memberi alternatif solusi. Jelas berbeda, bukan.

Kemampuan berkomunikasi sangat penting bagi kita, terutama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Apapun masalah yang terjadi, akan dapat diatasi bila kita rajin berkomunikasi. Dan komunikasi akan berjalan dengan baik,  bila kita tidak hanya mau didengarkan, tapi juga mau mendengarkan.

Sumber foto : lintas zona baca.blogspot.com