Ketika Banjir Mendatangkan Rejeki Bagi Warga Masyarakat

Banjir tak selalu identik dengan hambatan. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi para pengguna jalan termasuk saya dan dua teman yang ditugaskan ke Pontianak dan Sintang, banjir di jalan induk km 3 arah logpond benar-benar menjadi penghalang perjalanan.

Namun bagi masyarakat, banjir adalah rejeki yang diberikan Tuhan. Sekali membantu menyeberangkan motor mereka mendapatkan 50 ribu rupiah dan 20 ribu untuk penumpang.

Lolos dari genangan air di km 5 dengan menerobos banjir menggunakan Hilux, di depan ada lagi hambatan. Kami turun dari mobil dan melihat apakah memungkinkan menerobos.

Oleh warga yang siap-siap menyeberangkan sepeda motor, kami diingatkan bahwa makin ke tengah air makin dalam. Kami sejenak amati apa yang dibilang warga. Ternyata benar, semakin rakit didorong ke arah tengah oleh empat orang, badan mereka semakin masuk ke dalam air hingga setinggi pinggang.

Hampir saja kami menyeberang naik sampan atau rakit. Beruntung bantuan datang. Dari logpond ada berita sedang kirimkan speed untuk jemput kami. Saat itu kami memutuskan balik lagi ke km 5.

Akhirnya kami tiba di logpond. Lanjut perjalanan menggunakan mobil avanza sampai Pinoh. Sarapan dulu dan teruskan lagi naik bis Damri. Dua orang kawan ke Pontianak, saya melanjutkan ke Sintang.

 

 

Iklan

Memotret di Atas Laju Speedboat

image

Yang namanya hobi memotret, momen seperti naik speedboat ini termasuk langka.

Kalau bukan karena jalan rusak, kayaknya nggak bakal bisa dapat kesempatan naik speedboat.

Foto di atas diambil waktu naik speedboat dari Logpond ke Nanga Pinoh. Lumayan perjalanannya, sekitar 1 jam kalau milir. Kalau mudik dengan rute yang sama bisa lebih lama karena melawan arus sungai.

Cukup seru juga motretnya. Karena speed sedang melaju di atas sungai Melawi, saya harus jaga keseimbangan badan. Apalagi motretnya harus balik badan supaya dapat gambar gelombangnya.

Pegang handphone juga harus kuat. Khawatir kalau kena hempasan gelombang, terus speed oleng, hilang keseimbangan dan handphone jatuh ke sungai.

Inilah seninya memotret ketika berada di atas benda yang sedang bergerak. Harus benar-benar fokus dengan obyek dan juga alatnya.

Akhirnya Naik Speedboat Lagi

Setelah kurang lebih setahun nggak naik speedboat, hari Sabtu lalu akhirnya kami bertiga tanpa direncanakan harus mengubah rencana. Yang awalnya mau naik mobil sewaan dari Logpond ke Pinoh, berubah jadi naik speedboat, karena jalan tanjakan berlumpur kena guyur hujan.

Rencana yang mendadak berubah. Setelah ada informasi dari teman yang pulang dari Pontianak, kalau kendaraan terhambat  sekitar 4 jam di dekat Ella karena ada truk  amblas.

Tambahan lagi waktu saya hubungi bapak kepala logpond, beliau kasih saran supaya naik speedboat. Khawatir kalau naik mobil bisa tertahan berjam-jam di tempat truk amblas.

Sarannya betul juga, daripada terlambat sampai Pinoh dan ketinggalan naik bis malam, lebih baik naik speedboat sore itu juga.

Kalau dipikir-pikir, yang namanya membuat rencana itu tetap perlu. Namun jangan sampai kaku saat pelaksanaannnya, karena ada hal-hal tak terduga yang terjadi di lapangan. Mendengar masukan orang lain terutama yang langsung mengetahui kondisi terbaru saat itu di lapangan juga perlu. Karena saya akan tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan kondisi terbaru itu.

Syukurlah, setelah naik speedboat  sekitar 1 jam akhirnya kami tiba di Pinoh dengan selamat sore itu juga jam 4. Meski selama di atas speedboat badan kami kedingainan kena terpaan angin dan terguncang-guncang kena hempasan ombak kendaraan sungai lainnya. 🙂

Memotret di atas Speedboat

IMG01830-20140408-1516Gelombang air sungai setelah dilewati speedboat

Kesempatan untuk naik speedboat ini sebenarnya ada unsur kebetulan. Karena jalan dari logpond ke Nanga Pinoh rusak di beberapa tempat, menyusuri sungai adalah solusinya.

Tidak mudah memang memotret obyek yang sedang bergerak. Sama nggak mudahnya ketika memotret berada di atas obyek yang sedang bergerak. Ini yang saya alami ketika satu jam menyusuri sungai Melawi. Berada di atas speedboat dengan kekuatan 40 PK dan memotret beberapa obyek di sungai menggunakan Blackberry. Harus konsentrasi, hati-hati dan pegang gadget erat-erat.

Lengah sedikit, posisi memotret berubah dan gambar yang didapat pun nggak akan fokus. Resiko lainnya kalau speedboat sedang bermanuver ke kiri ke kanan menghindari sampah-sampah potongan kayu. Posisi badan pun ikut bergeser, oleng dan bisa memecah konsentrasi. Untung gadget nggak terlepas dari tangan dan jatuh ke sungai.

Meski kamera atau gadget beresiko kecemplung ke sungai jika nggak hati-hati, tapi mendapatkan hasil jepretan yang bagus akan memberikan kepuasan tersendiri. Beberapa jepretan saya ambil untuk satu obyek yang sama. Setelah itu dipilih satu jepretan yang menurut saya paling bagus.

Ada beberapa obyek menarik yang bisa diabadikan ketika berada di atas speedboat dan menyusuri sungai Melawi. Mulai kampung yang berada di tepi sungai, speedboat lainnya yang melintas, kapal ponton pengangkut kayu bulat, juga rangkaian rakit kayu buat. Beberapa obyek itu adalah momen berharga karena belum tentu ada ketika air sungai surut.

IMG01716-20131212-1008Kapal ponton pengangkut kayu bulat

IMG01720-20131212-1019Speedboat meluncur di sungai Melawi

IMG01725-20131212-1055 Pemukiman penduduk di tepi sungai Melawi

IMG01730-20131212-1101Rakit kayu bulat yang akan ditarik ke pabrik

Akhirnya Naik Speedboat Lagi

IMG01713-20131212-1002

Kondisi jalan Nanga Pinoh – Logpond Popai yang rusak parah membuat transportasi via sungai menjadi satu-satunya pilihan.  Tidak ada jalan lain. Speedboat yang sebelumnya sepi penumpang karena jarang digunakan, sekarang justru yang paling dicari.

Hukum ekonomi pun berlaku di sini. Karena permintaan melebihi penawaran, harga akan meningkat. Karena banyak karyawan dan masyarakat yang menggunakan speedboat, tarif Pinoh – Logpond pun naik. Biasanya 60 ribu rupiah per orang menjadi 100 ribu. Penumpang pun mengomel dan protes. Naiknya 50 % lebih.

Namun apa boleh buat. Nggak ada pilihan lain. Jika memaksakan naik mobil dengan kondisi jalan rusak parah, resiko di depan mata siap menanti. Mobil amblas di lubang-lubang yang dalam.

Meski bisa lolos, tapi  harus antri menunggu mobil lainnya yang terjebak lumpur ditarik alat berat atau truck. Yang lebih parah jika berangkatnya siang dan terjebak kendaraan yang amblas. Bisa tidur dan menginap di mobil, seperti yang dialami dua orang rekan kerja.

IMG01721-20131212-1019

Pada kondisi seperti itu, Naik speedboat memang waktu tempuhnya lebih cepat. Sekitar satu setengah jam. Namun ada juga yang merepotkan,  waktu menuju dermaga speedboat. Harus naik dan turun tangga. Apalagi kalau banyak bawa barang.

Kalau yang nggak biasa, nafas bisa ngos-ngosan. Seperti ketika saya bertemu lima orang tamu dari Pontianak waktu tiba di logpond Popai.

“Istirahat dulu, pak. Habis napas saya waktu naik tangga tadi”kata salah seorang tamu sembari duduk di samping saya. Bawa badannya sendiri saja sudah berat apalagi kalau menenteng tas atau koper.

“Ha..ha..ha”. Nggak apa-apa, Pak. Hitung-hitung olahraga”jawab saya.

SPBU Terapung

Tempat Pengisian BBM

Pasti nggak ada yang heran dengan yang namanya SPBU. Itu lho, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Kalau kita bepergian dan BBM kendaraan menipis, pasti harus singgah ke tempat ini dulu untuk isi premium atau solar. Maklum sebagian besar kendaraan kita masih pakai BBM supaya tetap bisa jalan.

Nggak beda dengan di kota, di daerah pedalaman Kalimantan, kendaraan sungai seperti speedboat, perahu klotok atau bandong juga perlu BBM. Nah, mereka beli minyaknya biasanya di SPBU juga. Cuma bukan SPBU yang ada di darat, tapi SPBU yang terapung di tepi sungai.

SPBU terapung ini bermanfaat sekali. Bisa dibayangkan gimana susahnya kalau untuk beli BBM saja, mereka harus turun ke darat dan antri di SPBU. Pengalaman sewaktu naik speedboat 40 PK, bukan speedboatnya diisi minyak dulu baru operatornya cari penumpang. Tapi sebaliknya, kalau sudah dapat 5-6 orang penumpang, operatornya cari minyak. Bisa beli di SPBU ini atau juga di kios eceran lainnya.

Supaya nggak hanyut di sungai, SPBU terapung yang bentuknya seperti kapal atau ponton ini diikat kuat menggunakan tali tambang. Kalau yang ada di gambar itu pas air lagi surut. Jadi bagian tebing sungai kelihatan jelas.

Tapi kalau air sungai lagi pasang, tingginya mencapai tebing rumput berwarna hijau. SPBU itu pun ikut naik dan posisinya hampir sejajar dengan daratan.  Jadi dia fleksibel, posisinya naik-turun mengikuti kondisi air sungai.

Saat ini dan ke depan, SPBU terapung ini makin berkurang pembelinya. Hanya perahu klotok dan bandong yang masih setia singgah di tempatnya. Karena kendaraan itu masih diperlukan untuk transportasi barang dan sembako ke daerah yang belum bisa dijangkau roda empat.

Di lokasi yang transportasi daratnya semakin lancar, penumpang lebih memilih naik mobil. Akibatnya, sebagian besar operator menjual speedboatnya. Mereka membeli kendaraan roda empat dan beralih menjadi pengemudi oplet.

Ya, mereka juga ikut berubah dan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Harus fleksibel, seperti halnya SBPU terapung yang naik turun menyesuaikan kondisi air sungai.

Haruskah kita juga perlu fleksibel dalam menjalani perubahan dalam kehidupan ini?

Asyiknya Naik Speedboat

Pernah naik speedboat? Di Kalimantan, terutama yang tinggal di daerah pedalaman, speedboat masih menjadi sarana transportasi yang sering digunakan masyarakat. Harap dimaklumi, sebagian besar daerah tersebut dilalui sungai-sungai besar selebar lebih dari 20 meter.

Meskipun untuk menghubungkan lokasi antar kecamatan telah tersedia jalan, namun masyarakat yang tinggal di tepi sungai, terkadang masih menggunakan speedboat. Perjalanan dengan waktu tempuh 1-4 jam menggunakan speedboat adalah hal yang biasa.

Saya sendiri sudah cukup lama tidak merasakan asyiknya naik speedboat. Sekitar tiga tahun lalu, ketika sarana jalan belum memadai, speedboat menjadi andalan transport untuk bolak-balik Nanga Pinoh – logpond. Dengan kapasitas 5 penumpang dan satu motoris, rute tersebut ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Waktu itu biayanya 50 ribu rupiah per orang.

Mesin Speedboat

Kenangan naik speedboat terulang lagi kemarin (29/9), ketika mengantar tamu ke seberang kota Nanga Pinoh. Meskipun hanya 15 menit, sudah cukup untuk mengobati kerinduan menikmati asyiknya menyusuri sungai Melawi menggunakan speedboat.

Ada pengalaman menarik saat kita naik speedboat. Pada saat berangkat, penumpang terutama yang duduk di depan harus berdiri ketika speedboat mulai berjalan dan menghentak-hentakkan badannya ke lantai speedboat. Istilah kami, supaya speedboatnya bisa terbang. Tujuannya  untuk mengurangi beban di bagian belakang dan memberikan tekanan ke bagian bawah speedboat, sehingga kecepatannya bertambah.

Ketika laju speedboat mulai bertambah, para penumpang memang terasa terbang. Pada saat inilah speedboat dalam kondisi yang stabil dan kita yang duduk di dalamnya seperti melayang. Seperti halnya naik pesawat terbang, pada saat tinggal landas, rasanya berat sekali. Tapi setelah pesawat di atas awan, suasananya tenang. Hanya terdengar suara mesin pesawat.

Sensasi lainnya ketika naik speedboat, adalah ketika berpapasan dengan speedboat lain. Pada saat gelombang speedboat yang berpapasan menghantam body speedboat, rasanya speedboat seperti hampir terbalik dan penumpang langsung berteriak.

Pernah juga ketika naik speedboat, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan lebat. Ngeri sekali rasanya. Bukan apa-apa, pandangan di depan terbatas sekali. Selain itu, sampah-sampah potongan ranting kayu dan batang ikut hanyut. Kelihaian motoris sangat menentukan agar speedboat tidak menabrak sampah-sampah yang hanyut tersebut. Kalau sudah menghadapi kondisi seperti ini, hanya bisa pasrah pada Tuhan. Mudah-mudahan selamat sampai di tujuan.

Banyak pemandangan yang bisa dilihat ketika naik speedboat. Suasana khas di tepi sungai di Kalimantan, mulai SPBU terapung, kapal bandong atau rumah terapung yang bisa berpindah-pindah, dan lanting alias pondok MCK.

Bagi yang pertama kali baik speedboat, Ada satu hal yang perlu disiapkan. Jangan lupa bawa penutup telinga, karena suara mesin speedboat cukup keras dan bising. Bagi yang hobi dengerin musik, bisa pasang earphone atau headset selama di perjalanan.

Namun bagi yang sudah terbiasa, nampaknya suara mesin speedboat tidak berpengaruh banyak. Enjoy aja.