Akhirnya Naik Speedboat Lagi

Setelah kurang lebih setahun nggak naik speedboat, hari Sabtu lalu akhirnya kami bertiga tanpa direncanakan harus mengubah rencana. Yang awalnya mau naik mobil sewaan dari Logpond ke Pinoh, berubah jadi naik speedboat, karena jalan tanjakan berlumpur kena guyur hujan.

Rencana yang mendadak berubah. Setelah ada informasi dari teman yang pulang dari Pontianak, kalau kendaraan terhambat  sekitar 4 jam di dekat Ella karena ada truk  amblas.

Tambahan lagi waktu saya hubungi bapak kepala logpond, beliau kasih saran supaya naik speedboat. Khawatir kalau naik mobil bisa tertahan berjam-jam di tempat truk amblas.

Sarannya betul juga, daripada terlambat sampai Pinoh dan ketinggalan naik bis malam, lebih baik naik speedboat sore itu juga.

Kalau dipikir-pikir, yang namanya membuat rencana itu tetap perlu. Namun jangan sampai kaku saat pelaksanaannnya, karena ada hal-hal tak terduga yang terjadi di lapangan. Mendengar masukan orang lain terutama yang langsung mengetahui kondisi terbaru saat itu di lapangan juga perlu. Karena saya akan tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan kondisi terbaru itu.

Syukurlah, setelah naik speedboat  sekitar 1 jam akhirnya kami tiba di Pinoh dengan selamat sore itu juga jam 4. Meski selama di atas speedboat badan kami kedingainan kena terpaan angin dan terguncang-guncang kena hempasan ombak kendaraan sungai lainnya. 🙂

Iklan

Meniti Jembatan

IMG00761-20121112-0906

Meski sudah belasan tahun di Kalimantan, mata serasa berkunang-kunang kalau harus berjalan meniti jembatan kayu bulat. Kalau jembatannya dari papan dan balok masih mendingan dan berani lewat. Tapi kalau sudah jembatan kayu bulat yang lebar lantainya  cuma seukuran tapak kaki, nanti dulu ah.

Ini seperti yang saya alami ketika satu jembatan runtuh akibat banjir di bulan Nopember 2012 lalu. Hujan deras sejak sore hari hingga malam menyebabkan sungai meluap dan merobohkan jembatan. Ruas jalan utama pun terputus.

Jika masih tetap ingin melanjutkan perjalanan, pilihannya cuma ada dua. Pertama, meniti batang kayu bulat sepanjang 10 meter di atas sungai. Kedua, menyeberang menggunakan rakit.

Alternatif pertama saya coba. Setapak demi setapak, coba berjalan di pangkal batang kayu bulat. Makin ke tengah, gerakan kaki terasa makin berat dan melambat. Akhirnya… ups terhenti juga jejak kaki. Masyarakat yang melihat saya berdiri mematung, berteriak menyemangati, ”Jangan lihat bawah, Pak. Terus saja jalan lihat ke depan”.

Teriakan masyarakat nggak mampu mendongkrak nyali untuk melanjutkan langkah hingga ke seberang. Belum sampai separuhnya, keringat dingin mulai mengalir, mata pun berkunang-kunang. Waktu meniti jembatan, pikiran nggak bisa fokus dan udah bayangkan yang nggak-nggak. Daripada jatuh ke sungai, akhirnya  balik lagi ketempat semula.

Pilihan kedua juga yang akhirnya diambil. Meski harus turun ke sungai dan membayar ongkos jasa rakit 10 ribu rupiah. Itu lebih baik, daripada saya harus berkeringat dingin dan mata berkunang-kunang meniti jembatan.

Bagi warga sekitar, meniti batang kayu bulat sudah seperti berjalan di permukaan tanah. Tanpa ragu dan khawatir terjatuh, mereka melenggang sambil membawa barang-barang. Melihat mereka berjalan, seperti pemain sirkus yang meniti tali tambang di arena pertunjukan.

Robohnya jembatan dan terputusnya jalan, di satu sisi menjadi sumber rezeki tersendiri bagi mereka. Warga begitu jeli dan kreatif melihat peluang usaha. Ada yang menawarkan jasa membawa barang melewati titian jembatan,  ada juga yang menyiapkan rakit dan siap mengantar penumpang ke seberang.

Kalau dipikir-pikir, selalu ada hikmah di balik sebuah kejadian. Hikmah yang dapat berbuah menjadi sumber rezeki yang tak terduga-duga. Menolong orang lain sambil berusaha menjemput rezekinya. Terbukti, tak ada  peristiwa yang terjadi dengan sia-sia dan tanpa makna. Semua memang tergantung bagaimana kita memaknai dan menyikapinya.

Asyiknya Naik Speedboat

Pernah naik speedboat? Di Kalimantan, terutama yang tinggal di daerah pedalaman, speedboat masih menjadi sarana transportasi yang sering digunakan masyarakat. Harap dimaklumi, sebagian besar daerah tersebut dilalui sungai-sungai besar selebar lebih dari 20 meter.

Meskipun untuk menghubungkan lokasi antar kecamatan telah tersedia jalan, namun masyarakat yang tinggal di tepi sungai, terkadang masih menggunakan speedboat. Perjalanan dengan waktu tempuh 1-4 jam menggunakan speedboat adalah hal yang biasa.

Saya sendiri sudah cukup lama tidak merasakan asyiknya naik speedboat. Sekitar tiga tahun lalu, ketika sarana jalan belum memadai, speedboat menjadi andalan transport untuk bolak-balik Nanga Pinoh – logpond. Dengan kapasitas 5 penumpang dan satu motoris, rute tersebut ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit. Waktu itu biayanya 50 ribu rupiah per orang.

Mesin Speedboat

Kenangan naik speedboat terulang lagi kemarin (29/9), ketika mengantar tamu ke seberang kota Nanga Pinoh. Meskipun hanya 15 menit, sudah cukup untuk mengobati kerinduan menikmati asyiknya menyusuri sungai Melawi menggunakan speedboat.

Ada pengalaman menarik saat kita naik speedboat. Pada saat berangkat, penumpang terutama yang duduk di depan harus berdiri ketika speedboat mulai berjalan dan menghentak-hentakkan badannya ke lantai speedboat. Istilah kami, supaya speedboatnya bisa terbang. Tujuannya  untuk mengurangi beban di bagian belakang dan memberikan tekanan ke bagian bawah speedboat, sehingga kecepatannya bertambah.

Ketika laju speedboat mulai bertambah, para penumpang memang terasa terbang. Pada saat inilah speedboat dalam kondisi yang stabil dan kita yang duduk di dalamnya seperti melayang. Seperti halnya naik pesawat terbang, pada saat tinggal landas, rasanya berat sekali. Tapi setelah pesawat di atas awan, suasananya tenang. Hanya terdengar suara mesin pesawat.

Sensasi lainnya ketika naik speedboat, adalah ketika berpapasan dengan speedboat lain. Pada saat gelombang speedboat yang berpapasan menghantam body speedboat, rasanya speedboat seperti hampir terbalik dan penumpang langsung berteriak.

Pernah juga ketika naik speedboat, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan lebat. Ngeri sekali rasanya. Bukan apa-apa, pandangan di depan terbatas sekali. Selain itu, sampah-sampah potongan ranting kayu dan batang ikut hanyut. Kelihaian motoris sangat menentukan agar speedboat tidak menabrak sampah-sampah yang hanyut tersebut. Kalau sudah menghadapi kondisi seperti ini, hanya bisa pasrah pada Tuhan. Mudah-mudahan selamat sampai di tujuan.

Banyak pemandangan yang bisa dilihat ketika naik speedboat. Suasana khas di tepi sungai di Kalimantan, mulai SPBU terapung, kapal bandong atau rumah terapung yang bisa berpindah-pindah, dan lanting alias pondok MCK.

Bagi yang pertama kali baik speedboat, Ada satu hal yang perlu disiapkan. Jangan lupa bawa penutup telinga, karena suara mesin speedboat cukup keras dan bising. Bagi yang hobi dengerin musik, bisa pasang earphone atau headset selama di perjalanan.

Namun bagi yang sudah terbiasa, nampaknya suara mesin speedboat tidak berpengaruh banyak. Enjoy aja.