Persiapan Takbir Keliling Lebaran Haji

Nggak terasa sebulan lagi datang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran Haji. Di camp biasanya sudah ada persiapan untuk menyambut hari raya itu.

Tiga hari lalu, pengurus masjid sudah mengadakan rapat dan diputuskan bahwa acara takbir keliling tetap diadakan. Pertimbangannya sebagai bagian dari syiar dengan cara mengunjungi rekan-rekan kerja bagian lain yang lokasi messnya berbeda.

Takbir keliling biasanya diadakan selepas sholat Isya. Bapak-bapak, remaja dan anak-anak berbaris dan berjalan sambil bertakbir menuju mess yang telah ditentunkan. Ada 5-6 mess karyawan yang dikunjungi. Mess guru, workshop atau bengkel, sopir, kantin, survei dan kantor.

Di setiap mess ada penanggung jawabnya yang betugas mengoordinir penyediaan hidangan snack dan minuman. Hidangan penutup berupa makan biasanya disiapkan di mess yang terakhir dikunjugi.

Saat berjalan naik-turun, ada petugas yang bertakbir secara bergantian menggunakan pengeras suara. Yang lainnya mengikuti. Setelah sampai di satu mess takbiran dilanjutkan lagi, kemudian membaca sholawat, nasyid dan diakhiri dengan doa. Setelah itu menikmati hidangan sambil lesehan.

Anak-anak karyawan yang paling suka mengikuti acara ini. Mereka terlihat menikmati karena bisa mencicipi macam-macam kue dan hidangan lainnya di setiap mess yang dikunjungi. Sering mereka juga sudah menyiapkan kantong plastik hitam untuk menampung hidangan yang tersisia. Itu pun terkadang nggak muat lagi kantong plastiknya.

Selain singgah di mess yang sudah ditentukan, terkadang ada juga karyawan yang meminta supaya jamaah takbir keliling singgah di rumahnya. Membaca sholawat, berdoa dan diminta mencicpi hidangannya juga. Salut dengan kerelaannya untuk bersedekah.

Waktu saya berlebaran Idul fitri di Pontianak, pengurus masjid di kompleks juga mengadakan takbir keliling. Bedanya, rombongan yang ikut semuanya anak-anak. orangtua hanya mendampingi. Dan setiap singgah di satu rumah mereka diberi hadiah uang. Setelah selesai mereka kembali ke masjid. Pengurus akan menghitung jumlah uang saat itu juga di depan anak-anak yang duduk berbaris rapi.

Setelah jumlahnya diketahui, selanjutnya dibagi rata dengan jumlah anak yang ikut takbir sampai selesai. Yang ikut takbir nggak sampai selesai nggak akan diberikan uangnya.

“Nabil dapat uang berapa dari takbir keiling tadi?”tanya saya

“Lima puluh ribu, Pa.”jawabnya

“Nabil suka nggak ikut takbir keliling?”

“Suka, Pa.”

Rasa suka itulah yang memancing anak-anak untuk tertarik dengan kegiatan di masjid. Jika sudah tertarik dan suka, tanpa disuruh-suruh pun anak-anak akan datang ke masjid.

Memang terkadang saat di masjid mereka berlarian ke sana-sini dan berteriak-teriak. Ini yang sering membuat pengurus masjid sewot dan memarahi mereka, karena alasannya mengganggu jamaah yang sedang sholat atau mengaji.

Padahal jika dikasih tahu baik-baik dan berulangkali, anak-anak itu bisa tertib. Atau kumpulkan saja mereka dan ada satu pengurus yang bercerita atau mendongeng. Saya yakin anak-anak itu akan suka dan tidak mengganggu yang lainnya.

Memang perlu kesabaran ekstra menghadapi anak-anak yang aktif itu

 

 

Kebersamaan dalam Takbir Keliling

Jpeg

Meski kondisi lagi krisis, takbir keliling tetap eksis. Meski situasi lagi sulit, semangat bertakbir masih solid. Demikian kata-kata pembawa acara saat mengakhiri acara takbir keliling jam 10.30 WIB.

Setelah berkeliling dengan jalan kaki ke lima lokasi mess karyawan, acara takbir keliling diakhiri di mess kantor.

Takbir keliling tak hanya diikuti karyawan dari berbagai bagian, tapi juga anak-anaknya yang masih SD. Semangat anak-anak untuk ikut takbir keliling memang luar biasa. Namanya anak-anak paling suka kalau diajak jalan-jalan, singgah ke rumah, terus ada macam-macam cemilan.

Mereka sampai berlatih nasyid di masjid hampir tiap hari. Habis sholat maghrib atau sholat isya latihannya.

Jpeg

Sambutan dari tuan rumah juga dahsyat. Keinginan untuk berbagi rejeki dengan menyajikan kudapan atau cenilan benar-benar tulus. Sampai-sampai jamaah diminta bawa pulang makanan yang tersisa.

Nggak heran kalau akhirnya anak-anak banyak bawa oleh-oleh makanan. Bahkan ada yang udah menyiapkan kantong plastik dan kotak kue. Buat nampung kue-kue yang nggak habis.

Bagi anak-anak, ikut takbir keliling adalah kegiatan yang mungkin tak terlupakan. Ketika dewasa nanti mungkin takbir keliling bisa jadi tinggal cerita yang tak pernah lagi dialami generasi selanjutnya.

Mereka saat itu akan ingat dan cerita ke anak-anaknya,”Dulu waktu ibu atau bapak masih kecil, sering ikut takbir keliling. Jalan kaki dan singgah ke rumah-rumah. Dapat banyak kue dan juga ikut nasyid”. Anak-anaknya pun hanya dapat mendengar tanpa pernah merasakan indahnya kebersamaan saat melaksanakan takbir keliling.

Takbir Keliling di Tengah Hutan

IMG01645-20131014-1954

Sama seperti Idul Fitri bulan Agustus lalu, Idul Adha tahun ini juga saya rayakan di tempat kerja, di hutan. Bedanya, kalau Idul Adha keluarga tidak berkunjung ke camp. Yang kedua, kalau lebaran Idul Fitri banyak teman-teman kerja yang pulang mudik. Namun Idul Adha sebaliknya, sebagian besar justru stand by di tempat kerja.

Satu hal yang sudah menjadi tradisi saat menjelang Hari Raya Idul Adha adalah takbir keliling camp. Ini yang nggak ada waktu malam Idul Fitri. Selepas sholat Isya di masjid, rombongan yang berjumlah sekitar 30-an orang langsung bergerak menuju lima mess karyawan.

Sesuai kesepakatan, mess pertama yang dikunjungi adalah mess karyawan kantor. Ini termasuk mess yang jaraknya paling jauh dari masjid dan jalannya menanjak. Jadi kalau yang kebagian tugas takbiran, siap-siap dengan atur nafas supaya nggak putus di tengah jalan suara takbirnya.

Ada dua orang yang bertugas mengumandangkan takbir. Satu menggunakan megapohone, berjalan paling depan. Satu lagi di barisan belakang menggunakan pengeras suara yang terhubung ke sound system. Nah posisi yang dibelakang ini harus dilakukan dua orang, satu membawa perangkatnya, satu orang lagi yang mengumandangkan takbir.

Setelah sampai di mess kantor, selain bertakbir juga bersholawat dan diakhiri dengan membaca doa. Di setiap mess, sebelum berpindah ke mess berikutnya, biasanya para peserta dijamu tuan rumah dengan berbagai hidangan. Resoles, bakwan, irisan puding, ketan adalah beberapa makanan ringan yang dinikmati jamaah takbir keliling.

IMG01646-20131014-1956

Setelah mess karyawan kantor, giliran berikutnya adalah mess guru, mess sopir dan mess karyawan bengkel di dua lokasi. Di saat berkunjung ke mess yang terakhir, tuan rumah dengan bantuan atau subsidi dari masjid menyediakan hidangan makan malam untuk jamaah takbir keliling. Kenapa mess bengkel sampai dua tempat? Sebenarnya dari pihak panitia hanya merencanakan empat tempat.

Namun ada permintaan khusus dan pribadi dari pimpinan bengkel dan wakilnya. Mereka yang menginginkan agar rute takbiran juga singgah di deretan tempat tinggalnya. Pucuk dicita ulam pun tiba. Rupanya jumlah dan jenis makanan yang dihidangkan yang paling banyak dan paling bervariasi dibandingkan dengan mess lainnya. Wow…. begitu antusiasnya mereka menjamu pseserta takbiran keliling dengan hidangan yang lebih dari cukup.

Ada hal yang menarik di tengah-tengah takbir keliling yang saya ikuti hingga selesai sekitar jam setengah sepuluh malam. Pertama, adalah suasana keakraban yang terjalin di antara sesama karyawan. Tua muda, anak-anak dan orangtua, atasan dan bawahan semuanya bergabung menjadi satu, berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebuah keakaraban yang terjalin spontan.

Kedua, antusiasme tuan rumah untuk menyajikan yang terbaik bagi tamunya. Setiap mess yang dikunjungi selalu mmenyediakan hidangan ringan dan minuman. Dan hidangan ini yang biasanya disiapkan oleh ibu-ibu istri karyawan. Nampaknya sabda nabi Munammhad yang mengatakan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya, dipraktekkan dengan baik oleh masing-masing tuan rumah.

Ketiga, bagi anak-anak momen mengikuti takbir keliling adalah peristiwa berkesan yang mungkin akan terkenang-kenang hingga dewasa kelak. Apalagi kegiatan ini sudah jarang diadakan. Takbiran yang saat ini dilakukan lebih banyak di dalam masjid, itupun terkadang menggunakan kaset atau piringan CD. Kalaupun berkeliling beberapa tempat di kota, justru lebih banyak menggunakan mobil atau sepeda motor.

Takbir keliling di tengah hutan. Momen yang dilakukan setahun sekali dan dirindukan oleh karyawan.
Allahu Akbar.. 3x Laa Ilaha Illallohu Allohu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd..

Takbiran di Tengah Hutan

Harusnya postingan ini sudah terbit kemarin (26/10) agar aktual. Tapi, tak apalah baru bisa menulis hari ini. Rasa letih nggak bisa dihindari setelah dua hari yang lalu benar-benar full kegiatan. Malamnya ikut takbir keliling di lima tempat, paginya sholat Ied dan siang hari menggantikan posisi teman sebagai petugas sholat Jumat.

Ini cerita waktu takbir keliling di tempat kerja. Takbir menyambut hari Raya Idul Adha keesokan harinya. Bcara ini bertepatan dengan awal musim penghujan. Sejak sore hari hingga maghrib, hujan seperti ditumpahkan dari langit.

Udara malam cukup dingin dan menjadi ujian bagi peserta yang ingin ikut takbir keliling. Ujian dari Allah untuk mengetahui seberapa besar kesungguhan kami melaksanakan acara tersebut.

Kalau tekad nggak bulat, mungkin ada yang ngomel, “Gimana mau takbir keliling kalau hujan nggak berhenti?.
Tapi, tiba-tiba seperti ada keajaiban. Selesai sholat Isya berjamaah ditunaikan, derai hujan mulai berkurang, hingga benar-benar reda ketika para peserta bersiap-siap berangkat.

Anak-anak yang bersuka ria didampingi remaja dan para orangtua, mulai bergerak menuju mess karyawan.
Pengeras suara dan wireless juga tak lupa dibawa. Mess guru adalah tempat pertama yang didatangi. Setelah itu ke mess karyawan bengkel, mess sopir dan terakhir mess kantor.

Sebenarnya saya inginnya takbiran di masjid, supaya masjid jangan sampai kosong. Tapi pak Ketua bilang,”Bapak ikut aja takbir keliling. Selama di jalan, bapak yang bertakbir. Giliran kami yang bertakbir dan baca doa di mess yang dikunjungi”. Nggak masalah kalau harus begitu.

Di struktur pengurus masjid, saya juga bukan jadi ketua, lho. Seperti halnya kepengurusan olahraga yang pernah saya ceritakan beberapa waktu yang lalu (Tulisan : Terima kasih, tidak Memilih Saya jadi Ketua) .

Saya sekadar jamaah biasa. Jadi nggak boleh merasa dongkol kalau disuruh. Nggak boleh marah kalau diperintah. Kalau diminta oleh pengurus, tetap akan saya lakukan sebisa saya.

Prinsip saya sederhana saja, kalau ada orang yang minta, berarti dia sedikitnya sudah tahu kemampuan seseorang. Nggak logis dong, kalau dia minta tolong sesuatu yang orang itu nggak bisa kerjakan.

Di beberapa tempat yang disinggahi, tuan rumah sudah menyiapkan macam-macam kudapan. Berbagai kue basah, gorengan, minuman plus buah-buahan disajikan oleh istri karyawan di selasar halaman. Setelah melantukan takbir, dilanjutkan dengan tampilan nasyid gabungan. Vokalis dan pemukul rebananya gabungan anak-anak dengan bapak-bapak.

Setelah menikmati hidangn, kunjungan di masing-masing mess diakhiri dengan pembacaan doa oleh masing-masing wakil tuan rumah. Puncak kunjungan adalah di mess kantor yang bangunannya terletak dibagian atas mess-mess lainnya.

Sebelum tiba di mess kantor, peserta takbir keliling harus antri menaiki tangga dengan 5 kelokan. Perlu berhenti sejenak dan mengatur napas di kelokan, bagi peserta yang belum terbiasa mendaki.

Rasa lelah takbir keliling, seperti sirna ketika tiba di mess kantor. Senyum dan keramahan tuan rumah terlihat menyambut kedatangan peserta. Tak hanya itu, hidangan makan malam pun telah disediakan. Setelah semua duduk bersila di selasar, gema takbir pun dikumandangkan, lagu-lagu nasyid dilantunkan.

Selanjutnya, dengan berbaris tertib, peserta pun dipersilakan menikmati hidangan makan malam. Ada dua meja hidangan yang disediakan secara terpisah di selasar. Ketika waktu telah menunjukkan jam 9.30 malam, acara diakhiri dengan untaian doa kepada Alllah SWT. Satu per satu, para tamu berpamitan pulang.

Sebuah rangkaian acara yang sungguh berkesan, terutama bagi anak-anak yang tak terlihat rasa lelah. Justru suka cita dan kegembiraan yang ada di setiap perjalanan. Sebuah pengalaman masa kecil yang bermakna bagi mereka dan akan terbawa hingga dewasa.

Bisa jadi dua puluh tahun lagi, pada saat dewasa nanti, dia akan teringat masa itu dan bercerita kepada anak-anaknya di saat malam menjelang lebaran.

“ Dulu waktu masih kecil, Bapak pernah ikut takbir keliling, Nak”.
“Takbir keliling?”, tanya sang anak penasaran.
“Ya, takbir keliling di tengah hutan”
“Di tengah hutan?”, lanjut sang anak dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
“Ya, ketika itu bapak masih SD. Bersekolah dan tinggal di tengah hutan”, jawab sang bapak sambil pandangannya menerawang jauh.

Ya, takbir keliling adalah pengalaman menarik dan berkesan bagi anak-anak.

Ikan tenggiri di tengah lautan
Ditangkap nelayan dimasak tekwan
Andai diri kami banyak kesalahan
Harap sekiranya agar dimaafkan

Selamat Idul Adha 1433 H