Nikmati Durian di Sintang Sebelum Terbang ke Jogja

Jpeg

Yang namanya bertugas mendampingi tamu, saya sering mengalami permintaan mendadak dari sang tamu. Ada yang pernah pesan minta dicarikan pisang nipah atau pisang kepok. Sebelum tamu mendarat di Sintang, dia lewat pendampingnya di Pontianak sms saya supaya carikan buah itu untuk dibawa ke camp.

Ada juga yang ingin makan buah durian sebelum pulang. Seperti awal Desember lalu ketika mengantar tamu ke bandara Sintang. Tamu dari UGM dan Jepang tersebut pesan ke saya supaya cari buah durian dulu sebelum ke bandara. Dan permintaan itu mendadak ketika kami selesai ngopi dan sarapan di Nanga Pinoh.

Berangkat dari camp jam 6 pagi ke Sintang, perjalanan normal perlu waktu 4 jam. Pesawat Sintang-Pontianak rencana terbang jam 12.10. Saya bilang kita cari duriannya di Sintang saja ya, karena dari Nanga Pinoh ke Sintang masih 1,5 jam perjalanan.

Pada awal kedatangan tamu, di tepi jalan dekat bandara memang ada penjual durian. Tapi ketika masuk kota Sintang, teman yang bawa mobil di depan rupanya membawa kami ke pasar Sungai Durian.

Sampai di pasar, kami langsung menuju lapak seorang bapak yang jualan di emperan toko yang sedang tutup. Satu per satu tamu mencicipi buah durian, terasa nikmat makan buah durian langsung di tempat jualan. Saya sendiri cukup makan dua butir. Enak sih enak tapi ingat dengan kesehatan. Kalau makan durian agak banyak, kepala terasa pusing.

Jpeg

Puas menikmati durian di pasar, jam 10.30 kami bergegas menuju bandara karena khawatir ketinggalan pesawat. Setelah tamu check in dan masuk ruang boarding, ada pemberitahuan dari petugas bandara bahwa pesawat delay dan baru mendarat jam 14.20 WIB. Tiga tamu keluar ruang tunggu dan ketemu saya di mushola

“Lho, kok masih di sini, saya kira sudah balik ke Pinoh”kata seorang tamu

“Kami tunggu sampai pesawat yang membawa bapak terbang. Mari kita makan siang dulu, pak”jawab saya dan mengajak tamu berjalan ke warung di kompleks bandara

Iklan

Nggak Singgah ke Rumah, Malah Kena Marah

“Mau kemana?” kata pak Agus keluar dari mobilnya saat ketemu di terminal. Nada bicaranya agak tinggi dengan wajah menampakkan keheranan.

“Mau ke Ponti, Pak”jawab saya agak gugup. Dia menghujani dengan pertanyaan susulan,“Kenapa nggak ke rumah?”. Terus menyuruh saya masuk ke mobilnya di sore yang mulai gerimis itu. Di kursi belakang ada anak bungsunya. Rupanya dia baru saja ngajarin anaknya setir mobil di terminal bis.

Biasanya, kalau saya mau ke Pontianak selalu telpon dia dulu. Kasih tau atau minta tolong untuk pesankan tiket bis. Setelah sampai di Pinoh, singgah ke rumahnya untuk numpang mandi dan makan pecel lele di warung kang mas yang ada di depan rumahnya.

Juga kalau dari Pontianak dan mau pulang ke camp, saya kontak dia. Tanpa saya minta dia langsung nanya naik bis apa, nanti saya jemput di terminal ya. Sebelum bis datang, dia sudah di terminal. Sebelum bis sampai di Pinoh, dia kadang-kadang yang telpon duluan dan tanya sudah sampai mana. Terbalik nih, biasanya yang dijemput telpon yang menjemput memberitahu posisi terakhirnya dimana.

Saya sama pak Agus memang sudah soulmate untuk urusan melayani tamu. Jadi kalau ada tamu datang, dia yang mengurus kendaraan, penginapan sampai makan. Saya cukup informaskan saja kapan datangnya, berapa orang, naik pesawat atau lewat jalan darat. Setelah dapat itu dia yang mengurus semuanya dan menyampaikan perkembangannya.

Tapi di sore itu, dia agak marah ke saya karena mau ke Pontianak nggak bilang-bilang.

“Ngapain nunggu bis sampai 4 jam di terminal. Hujan-hujan lagi. Udah sekarang ikut ke rumah!”perintahnya setelah saya membayar minuman di warung. Saya ikuti permintaannya. Dua orang teman yang sama-sama satu kendaraan dari camp tetap nunggu di terminal.

Biasanya kalau ada kawan, saudara atau keluarga lain yang sering singgah ke rumah, si empunya rumah agak risih atau kerepotan. Tapi teman saya yang satu ini memang sebaliknya. Justru marah kalau saya nggak singgah ke rumahnya.

Lain Orang Lain Cara Memperlakukannya

Kalau ada peribahasa yang mengatakan lain lubuk lain ikannya, maka buat teman yang tugasnya sebagai pendamping tamu peribahasa itu berubah jadi lain orang lain cara memperlakukannya.

Ide postingan ini muncul waktu sarapan dengan teman-teman di ruang makan kantor. Ada satu teman yang ditugaskan oleh pimpinan untuk mendampingi tim tamu yang. Bisanya dalam satu tim ada 3-4 orang yang masing-masing punya karakter berlainan.

Ada satu orang yang sifatnya pendiam, tapi langsung muncul semangat bicaranya kalau diajak ngobrol soal bola. Maksudnya dia akan antusias banget kalau lawan bicaranya mengajak ngobrol soal sepakbola, mulai dari Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Champions, Piala Eropa sampai Piala Dunia. Obrolan pun akan nikmat kalau yang diajak ngobrol juga tahu siapa pemain top yang ada di Chelsea, berapa skor City lawan Barcelona, siapa pimpinan klasemen Liga Spanyol.

Ada juga tamu yang lainnya yang punya sifat suka cerita, apa saja diomongin. Mulai dari urusan pekerjaan, panasnya perdebatan antara Ahok dan DPRD DKI Jakarta sampai fenomena batu akik yang lagi mewabah. Kalau ketemu orang yang seperti itu, cukup pasang kuping dan duduk manis. Jadi Yang mendampingi lebih banyak jadi pendengar. Sesekali berkomentar boleh-boleh saja. Kalau komentarnya bernada nggak setuju harus disampaikan dengan kalimat dan nada yang tepat. Sekali kita berkomentar pakai argumen, dia bukannya bisa menerima, tapi justru makin ngotot dengan pendapatnya.

Saya nggak tahu apa tips-tips seperti itu juga diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi yang jelas, sekali kita salah memperlakukan orang karena ketidaktahuan kita tentang sifat dan hobinya, komunikasi selanjutnya bakal macet. Cerita akan berbeda kalau kita sudah tahu duluan bagaimana sifat orang yang diajak bicara, apa saja hobinya, bagaimana keluarganya. Lalu kita memulai obrolan dengan informasi itu dan coba perhatikan apa yang terjadi. 🙂

Oleh karena itu nggak salah kalau ada yang bilang, dalam berkomunikasi upayakan ambil hatinya dulu sebelum berusaha mempengaruhi jalan pikirannya. Karena siapa pun orangnya, bila hatinya sudah tersentuh, yang tadinya ngotot lama-kelamaan akan luluh.

Narsis di hutan Tropis

DSC06459Berada di dekat tanaman meranti yang ditanam pada tahun 1999

Ini foto-foto sekitar 3-4 tahun yang lalu. Waktu masih sering tugas ke lapangan. Jalan-jalan ke hutan mendampingi tamu yang ingin melihat  hutan tropis. Profesinya macam-macam, mulai dari dosen, auditor, wartawan, peneliti hingga anggota LSM. Mereka biasanya penasaran ingin lihat langsung kondisinya di lapangan. Gimana sih hutan yang katanya paru-paru dunia ini dikelola?

DSC05051Adi  ketinggian 352 m
IMG_1622Sungai yang terlihat jernih dengan pepohonan menghijau
IMG_0595Berhenti sejenak di sungai. Istirahat sambil mencari batu untuk suiseki

Selama ini, mereka sering mendapat informasi yang buruk tentang hutan tropis Kalimantan dari televisi, koran atau internet. Berita yang muncul tentang hutan nggak jauh-jauh dari bencana kabut asap, banjir, tanah longsor, hingga pemanasan global.  Hal itu bisa saja terjadi di tempat yang pengelolaan hutannya nggak serius. Hanya menebang tapi tidak mau menanam. Cuma kondisinya nggak bisa disamaratakan seperti itu dong. Kalau lihat beberapa tempat jelek, dianggapnya semuanya pasti buruk.

Itulah kenyataan yang terjadi. Sebuah berita buruk akan cepat tersebar dan disebarkan. Namun kalau berita baik, jarang sekali ada yang mengekspos. Jadi informasi yang diterima publik akhirnya kurang berimbang.

Banyak manfaatnya untuk saya waktu sering tugas ke lapangan. Selain kenal tamu-tamu dari berbagai profesi, juga bagus buat kesehatan. Waktu itu karena seringnya jalan kaki, jarang sekali kena kolesterol tinggi. Sekarang setelah umur kepala empat, sudah jarang blusukan ke hutan. Lebih banyak bertugas di kantor. Untuk tugas pendamping ke lapangan dan masuk hutan diserahkan ke teman kerja lainnya. Terutama yang berumur lebih muda. Supaya proses regenerasi berjalan lancar. Seperti halnya pepohonan di hutan yang memiliki beberapa tingkatan. Mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Jika kondisi lingkungan mendukung, semai akan terus tumbuh membesar dan akhirnya menjadi pohon.

Gimana kawan, apa pernah juga jalan-jalan atau berwisata ke hutan? Menghirup udara segar di alam terbuka dan menikmati hijaunya pepohonan?

 

Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Sebagai karyawan yang sering ditugaskan mendampingi tamu, begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan saat berinteraksi dengan mereka.

Berbagai tamu, mulai mahasiswa praktek kerja, dosen, peneliti, karyawan perusahaan lain maupun pejabat, semuanya memberikan pelajaran yang mencerahkan.

Pelajaran nyata yang belum tentu saya peroleh dari bangku sekolah maupun kuliah. Pengalaman kehidupan yang belum pasti diajarkan dalam berbagai pelatihan, kursus maupun seminar yang sering diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja karyawan.

Hari Jumat (22/6) yang lalu, saya memetik beberapa pelajaran ketika menghadiri acara pelantikan Kepala Desa (Kades) oleh bapak Bupati di desa yang berada  di ujung utara wilayah Kabupaten.

Ada beberapa sikap bapak Bupati yang telah menjabat selama dua periode tersebut yang  benar-benar membuka wawasan  saya, yaitu :

1.  Hadir  Sebelum Acara Dimulai

Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah, meskipun acara dimulai pukul 08.00 WIB, beliau tiba di desa 45 menit sebelum acara dimulai. Ini yang bikin panitia terkejut sekaligus kelabakan. Bagaimana tidak, pimpinannya sudah hadir, sementara warga masyarakat justru masih banyak yang berada di rumah.

Akhirnya,  perangkat desa dan guru-guru yang pontang-panting memberitahukan kepada masyarakat agar segera menuju gedung sekolah dimana pelantikan tersebut akan dilaksanakan. Sementara itu, menunggu acara dimulai, pak Bupati dan pejabat dari kabupaten dengan sabar berbincang-bincang dengan Kades baru di rumahnya.

Selama ini, kalau kita menerima undangan menghadiri sebuah acara lengkap dengan informasi tanggal, hari dan jamnya, biasanya yang terjadi adalah jam acara sering dimundurkan karena berbagai sebab, padahal beberapa orang telah hadir. Terkadang molornya nggak tanggung-tanggung, bisa lebih dari 30 menit, bahkan sejam lebih.

Dalam urusan disiplin, pak Bupati telah menunjukkan kepada masyarakat betapa dirinya sangat menghargai waktu. Tindakannya datang sebelum acara dimulai adalah contoh yang konkret dan jauh lebih bermakna daripada sekadar ceramah atau seminar yang membahas tentang bagaimana menghargai waktu.

2. Klarifikasi Informasi

Sempat muncul pertanyaan dalam diri saya, “Kenapa untuk melantik seorang Kades saja harus dilakukan oleh Bupati ? Kenapa harus pak Bupati yang mendatangi lokasi desa dan bukan meminta Kades untuk datang ke Kecamatan atau Kabupaten untuk dilantik ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika pak Bupati memberikan sambutannya di hadapan warga masyarakat. Dia menjelaskan, “Saya sering menerima SMS dari beberapa orang tidak dikenal yang meminta supaya membatalkan Surat Keputusan (SK) Kades terpilih. Saya tidak bisa membatalkan SK tersebut hanya karena informasi dari SMS yang belum tentu kebenarannya. Saya harus konsekuen menandatangani SK dan melantik Kades yang telah dipilih oleh suara mayoritas masyarakat di sini”.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat termasuk saya benar-benar mendapatkan informasi  yang akurat yang berasal dari orang nomor satu di wilayah kabupaten tersebut. Penjelasan seperti ini akan mengurangi tingkat keresahan masyarakat akibat  informasi yang simpang siur mengenai kepastian status  Kades yang terpilih dengan suara terbanyak .

Suatu sikap yang perlu dicontoh, ketika pak Bupati langsung mendatangi dan memberikan penjelasan sekaligus klarifikasi kepada masyarakat tentang bagaimana sebenarnya kondisi yang sedang terjadi.

3. Tugas = Tanggungjawab

Sebenarnya, poin ketiga ini ditujukan khusus untuk Kades terpilih. Seorang Kades, ketika proses pemilihan pasti ada warga masyarakat yang tidak memilih dirinya dan memilih calon lainnya. Ada warga yang menyukai dirinya, namun ada juga sebagian yang membenci dirinya.

Dalam situasi ketika Kades tersebut telah memenangkan proses pemilihan dan menjabat sebagai pemimpin, maka dia harus melayani semua warga masyarakat, baik yang memilih dirinya maupun tidak.

Dan dalam kegiatan melayani ini, pesan lain pak Bupati adalah Kades tidak perlu heran bila di luar jam kerja, ada warga masyarakat yang mendadak minta bantuan ketika Kades sedang asyik menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. Kades tidak boleh menolak, bila malam-malam ada seorang warga yang minta bantuan karena istrinya mau melahirkan.

Satu hal lagi, dalam pengambilan keputusan, pasti ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, pasti  ada tarik menarik antara keinginan menegakkan aturan dan di sisi lain adalah rasa iba terhadap seseorang. Pak Bupati bercerita bagaimana dia dengan berat hati harus mengambil sikap tegas memecat anak buahnya (suami istri) yang sering bolos kerja tanpa alasan yang jelas, meskipun di dalam hati dia merasa kasihan dengan anak-anaknya.

4. Pemimpin dan Keluarganya = Obyek Pembicaraan dan Peliputan

Setelah bercerita tentang tugas dan tanggung jawab seorang Kades, tak lupa pak Bupati juga berpesan kepada istri Kades agar menjaga nama baik dirinya dan keluarganya di depan warga masyarakat.

Pak Bupati memberi contoh sederhana, bila ada anggota masyarakat yang mengecat rambutnya dengan warna pirang, itu dianggap hal yang biasa dan bukanlah sebuah berita. Tapi bila dilakukan oleh istri Kades, pasti akan jadi bahan pembicaraan hangat warga lainnya. Setiap gerak-gerik, tingkah laku para pemimpin dan keluarganya, tidak akan luput dari perhatian dan pengamatan warga masyarakatnya.

Keempat poin di atas, disampaikan dengan penuturan yang tidak menggurui, sehingga warga masyarakat termasuk saya tidak merasa sedang diceramahi. Masyarakat pun dengan seksama menyimak kalimat demi kalimat yang disampaikan, contoh-contoh nyata, harapan serta rasa optimisme, sehingga waktu satu jam pun terasa cepat berlalu.

Memang, sambutan dari pak Bupati tersebut ditujukan kepada Kades terpilih, namun saya sebagai warga masyarakat merasakan bahwa hal tersebut seperti menjadi cermin bagi semuanya.

Sungguh, suatu pengalaman sekaligus pelajaran berharga di dalam kehidupan dan sebuah teladan yang membangkitkan motivasi dalam diri.