Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba

Jpeg

Saat ini sedang musim liburan akhir tahun. Sebagian teman-teman kerja ijin atau menjalani cuti untuk bisa berkumpul dan berlibur bersama keluarga. Sebaliknya, ada juga keluarga teman-teman yang naik ke camp.

Berlibur di tengah hutan di tempat kerja ayahnya. Anak-anak terlihat sedang bertemu dengan kawan barunya. Baru pertama ketemu, kenalan dan terus langsung bermain sama-sama. Naik sepeda di lapangan badminton, masak-masakan, juga mandi di sungai sama orang tuanya.

Beberapa teman lain termasuk saya keluarganya nggak berlibur di camp. Istri saya sama anak-anak bilang punya rencana bersih-bersih rumah dan halaman sekitarnya. Memangkas tanaman, memotong rumput dan membersihkan sampah-sampahnya.

Karena keluarga nggak naik dan liburan ke camp, pernah satu ketika saya terpikir untuk sehari ijin dan liburan ke Pinoh. Menikmati wisata kuliner. Syukur-syukur ada teman yang mau diajak. Ingin silaturahmi ke teman-teman yang tinggal di Pinoh sekalian belanja buat keperluan di camp.

Nggak sampai seminggu punya keinginan seperti itu, tiba-tiba saya dapat undangan pernikahan. Seperti peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada teman kerja yang tinggal di Pinoh adik iparnya menikah. Resepsinya hari ini tanggal 28 Desember 2017 jam 16.00 sampai jam 20.00. Setelah ngobrol dengan teman-teman kerja, rencananya kami delapan orang yang mewakili beberapa bagian hadir di acara tersebut.

Setelah terima undangan itu saya merenung, belum lama punya niat mau pergi ingin ketemu teman dan sahabat, ternyata Allah sudah menunjukkan jalannya supaya saya bisa ke sana.

Buah Tangan dari Kampung Halaman

Jpeg

Ada satu kebiasaan menarik yang dilakukan teman-teman kerja saat pulang kampung. Setelah kembali ke kantor mereka biasanya bawa oleh-oleh. Seperti yang dilakukan dua teman yang baru saja pulang kampung dari Lamongan Jawa Timur. Saat saya masuk kantor, sudah ada teman yang menawarkan oleh-oleh wingko babat di meja kerjanya.

Saya juga kalau pulang ke Jogja dan Semarang berusaha untuk bawakan makanan khas untuk mereka. Cemilan seperti bakpia, yangko, krasikan biasanya usahakan bawa untuk oleh-oleh. Jadi nggak hanya untuk keluarga di Pontianak saja oleh-olehnya. Demikian juga dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain. Oleh-oleh khas daerahnya juga dibawa dan diberikan ke teman-teman kerja di camp

Teman-teman yang bekerja di camp asalnya memang dari berbagai daerah. Selain dari wilayah Kalbar (Melawi, Sintang, Sanggau, Pontianak, Kubu Raya, Landak, Bengkayang dan Sambas) dan Kalteng (Seruyan, Katingan), beberapa karyawan juga berasal dari luar Kalimantan. Ada yang dari Bengkulu, Malang, Jogja, Tasikmalaya, Purworejo dan daerah-daerah lain dari penjuru nusantara.

Sebuah kebiasaan yang baik, karena selain berbagi rejeki dengan teman-teman lain juga sekaligus mengenalkan produk-produk khas dari daerah asalnya. Kalau ada yang jeli melihat peluang usaha, bisa saja kebiasaan itu dijadikan bisnis untuk memperluas pemasaran hasil usaha  di daerahnya.

Sekeping Perhatian dari Seorang Teman

“Ini ada oleh-oleh abah Alwi, pak!”kata mas Mul kemarin sore setelah pulang kerja.

Saya nggak menyangka dia menyerahkan oleh-oleh dari Pak Alwi yang sering dipanggil abah oleh teman-teman kerja.

Sebuah sajadah yang bisa dilipat seperti tas, sebotol minyak kasturi dan seuntai tasbih. Oleh-oleh dari tanah suci setelah melakukan ibadah haji.

Saya tidak pernah titip oleh-oleh waktu dia berangkat haji. Ketika hadir di rumahnya untuk selamatan pertengahan Agustus lalu, saya hanya titip doa. Semoga juga dimudahkan beribadah haji, karena masih menunggu antrian 18 tahun.

Ternyata, meski saya nggak titip oleh-oleh, malah diberi dan diantar ke rumah. 

Nggak hanya itu, dia juga sudah menyiapkan buah tangan buat teman-teman kerja di camp. Di kantor dia bagikan cemilan buah kurma, kacang dan manisan arab yang terbungkus rapi di dalam plastik. 

Sebuah perhatian dari seorang teman kerja yang perlu ditiru. Semoga ibadah hajinya mabrur, abah. Aamiin.

Nggak Singgah ke Rumah, Malah Kena Marah

“Mau kemana?” kata pak Agus keluar dari mobilnya saat ketemu di terminal. Nada bicaranya agak tinggi dengan wajah menampakkan keheranan.

“Mau ke Ponti, Pak”jawab saya agak gugup. Dia menghujani dengan pertanyaan susulan,“Kenapa nggak ke rumah?”. Terus menyuruh saya masuk ke mobilnya di sore yang mulai gerimis itu. Di kursi belakang ada anak bungsunya. Rupanya dia baru saja ngajarin anaknya setir mobil di terminal bis.

Biasanya, kalau saya mau ke Pontianak selalu telpon dia dulu. Kasih tau atau minta tolong untuk pesankan tiket bis. Setelah sampai di Pinoh, singgah ke rumahnya untuk numpang mandi dan makan pecel lele di warung kang mas yang ada di depan rumahnya.

Juga kalau dari Pontianak dan mau pulang ke camp, saya kontak dia. Tanpa saya minta dia langsung nanya naik bis apa, nanti saya jemput di terminal ya. Sebelum bis datang, dia sudah di terminal. Sebelum bis sampai di Pinoh, dia kadang-kadang yang telpon duluan dan tanya sudah sampai mana. Terbalik nih, biasanya yang dijemput telpon yang menjemput memberitahu posisi terakhirnya dimana.

Saya sama pak Agus memang sudah soulmate untuk urusan melayani tamu. Jadi kalau ada tamu datang, dia yang mengurus kendaraan, penginapan sampai makan. Saya cukup informaskan saja kapan datangnya, berapa orang, naik pesawat atau lewat jalan darat. Setelah dapat itu dia yang mengurus semuanya dan menyampaikan perkembangannya.

Tapi di sore itu, dia agak marah ke saya karena mau ke Pontianak nggak bilang-bilang.

“Ngapain nunggu bis sampai 4 jam di terminal. Hujan-hujan lagi. Udah sekarang ikut ke rumah!”perintahnya setelah saya membayar minuman di warung. Saya ikuti permintaannya. Dua orang teman yang sama-sama satu kendaraan dari camp tetap nunggu di terminal.

Biasanya kalau ada kawan, saudara atau keluarga lain yang sering singgah ke rumah, si empunya rumah agak risih atau kerepotan. Tapi teman saya yang satu ini memang sebaliknya. Justru marah kalau saya nggak singgah ke rumahnya.

Ceritakanlah Apa yang Dirasakan

Bertemu orang baru senantiasa mengasyikkan. Pasti ada pengetahuan atau ilmu baru yang saya dapatkan. Tak terkecuali, waktu ngobrol dengan karyawan baru yang sebelumnya pernah mengajar di sekolah internasional di Jakarta.

Setiap kali bertemu orang baru, biasanya saya menempatkan diri pada posisi aktif bertanya dan mendengar. Ini yang terkadang membuat pembicaraan tanpa terasa berlangsung berjam-jam. Demikian juga dengan karyawan baru yang sekarang memutuskan terjun ke bidang pekerjaan yang sesuai latar belakang pendidikannya.

“Dulu waktu saya masih mengajar di sekolah dasar, setiap hari Jumat, murid-murid diberikan kesempatan untuk bercerita, Pak. Telling story”katanya.

“Cerita apa?”tanya saya. Kemudian dia menjelaskan dengan panjang lebar.

Oleh gurunya, murid-murid secara bergantian diminta bercerita apa yang dia rasakan selama seminggu mengikuti pelajaran. Bisa juga dia bercerita tentang keluarganya atau saudara-saudaranya. Intinya, apa yang dia rasakan termasuk yang menyebabkan dirinya tidak merasa nyaman, juga boleh diceritakan.

Selanjutnya, selesai murid tersebut bercerita, teman-temannya akan merespon. Ada yang bertanya, ada juga yang menyemangati bila ceritanya membuatnya sedih. Awalnya murid-murid memang enggan mengungkapkan apa yang dia rasakan. Apalagi di hadapan teman-teman dan gurunya. Namun dengan dorongan gurunya, murid-murid pun mau bercerita.

Metode yang memberikan kesempatan murid-murid bercerita yang dicontohkan rekan kerja tersebut memang memiliki banyak manfaat. Pertama,  anak-anak diajarkan untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.

Anak juga didorong untuk tidak menyimpan ketidaknyamanan yang dia alami baik di sekolah maupun di rumah. Dengan demikian jika pada saat itu terjadi sesuatu pada diri anak, misalkan bullying, teman-teman dan gurunya akan cepat mengetahui.

Manfaat yang kedua, adalah menanamkan rasa percaya diri murid. Tidak semua orang punya rasa percaya diri berbicara dan mengungkapkan perasaan atau gagasannya di depan orang banyak.

Dengan bercerita, murid-murid diberikan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan cara berbicara di depan kelas di hadapan teman-temannya.

Manfaat ketiga, bercerita secara psikologis juga dapat mengurangi beban psikis yang dialami anak-anak. Kita tak bisa menganggap karena mereka masih anak-anak, terus tak mungkin mengalami stress atau rasa kecemasan di dalam dirinya. Dengan bercerita, minimal dia telah mengeluarkan uneg-uneg atau ganjalan yang ada dalam hatinya.

Dia juga merasakan bahwa teman-teman dan gurunya memiliki empati atas kejadian yang dialami. Rasa kepedulian dari lingkungan sekitarnya yang ditunjukkan dengan bertanya atau dukungan bagi si anak.

Murid yang mengalami kejadian itu pun tidak merasa terasing dengan lingkungan sekitarnya. Dia tidak akan menganggap teman-temannya cuek dengan apa yang dia alami dan rasakan.

Metode murid bercerita atau bertutur kata ini memang belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah di negeri kita. Dalam proses belajar mengajar, kebanyakan masih bersifat satu arah. Guru menyampaikan pelajaran, murid lebih banyak mendengarkan dan mencatat. Sementara, kesempatan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan anak dengan bercerita, masih kurang.

Dari obrolannya, dia kelihatan terkesan dan dengan metode bercerita tersebut. Pengalaman selama mengajar di sekolah internasional, benar-benar memberikan pelajaran berharga yang tidak mudah dilupakan. Tak hanya itu, rekan kerja ini juga berkeinginan mencoba menerapkannya di sekolah dasar di desa sekitar tempat kerja saat ini.

Selain  membaca,  bercerita memang sebaiknya juga dibiasakan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar.

Kembalikan pada Tempatnya Semula

Ada satu masalah sepele yang sering bikin saya jengkel. Apa itu? Mencari barang yang nggak ingat lagi di mana menyimpannya.

Pada waktu tidak diperlukan, kita nggak peduli, tapi pada saat mau digunakan, baru sibuk setengah mati mencari.

Kunci kendaraan, kunci rumah, STNK, dompet, laporan sering membuat kita sibuk mencarinya gara-gara teledor menyimpan. Waktu pun habis terbuang dipakai mencari barang yang terselip entah dimana.

Dan kejadian ini bisa dialami siapa saja, termasuk  saya…

Cerita dimulai ketika salah satu teman kerja meminjam dokumen. Gara-gara satu berkas dokumen dipinjam teman lain dan tidak dikembalikan di tempat asalnya, saya sampai harus berkeringat mencarinya.  Di ruang kerja, lemari dan laci saya buka satu persatu dan periksa, ternyata hasilnya nihil!.  Nggak cuma saya, yang lain pun sibuk setengah mati mencari dan tetap nggak ditemukan.

Sementara itu, sang teman terus-terusan tanya, ada nggak dokumennya?

Karena terus-menerus ditanya, saya pun bilang, “Kalau dokumennya sudah dikembalikan, nggak mungkin nggak ada di tempat saya. Saya yakin dokumen itu belum dikembalikan“.

Sambil beristirahat sebentar menghilangkan keringat, saya pun coba merekonstruksi daya ingatan dan berpikir siapa  yang terakhir yang meminjam dokumen itu.

Akhirnya ingatan saya tertuju pada staf yang sudah berhenti. Proses pencarian pun dilanjutkan lagi dan saya meminta staf lain untuk mencarinya. Mencarinya di mana? Sasaran utama : meja mantan karyawan tersebut yang biasa dipakai untuk menyimpan arsip.

Dugaan saya tidak salah….

Tidak sampai seperempat jam, dokumen akhirnya ditemukan di dalam meja panjang dan disimpan dalam tas plastik putih, lengkap. Lega rasanya,  proses pencarian pun berakhir sudah.

Dari pengalaman tersebut, sekarang ini, siapa saja yang mau pinjam dokumen harus tulis nama dan dokumen yang dipinjam di buku catatan peminjaman.  Dan barang pun harus dikembalikan ke tempatnya semula.

Jadi,  jangan lagi hanya  mengandalkan daya ingat…

Sumber gambar : rumah online.blogspot.com