Tangkaplah Ide itu dan Simpanlah

Menyimpan ide? Kelihatannya memang tidak ada hubungan dengan ngeblog. Tapi justru inilah jurus yang saya lakukan untuk bisa tetap ngeblog. Jurus untuk menyiasati waktu-waktu sibuk, agar sewaktu di depan laptop sudah memiliki ide dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dimana saya menyimpan ide? Di smartphone. Di blackberry yang sering saya bawa waktu bepergian. Tuntutan tugas yang mengharuskan saya sering bepergian bukanlah halangan untuk tetap bisa ngeblog. Justru banyak ide dan tulisan saya yang lahir ketika menikmati perjalanan. Ide yang tiba-tiba muncul ketika melihat minibus yang saya tumpangi terperosok jalan tanah yang rusak, berada di dalam pesawat yang tidak ada nomor kursinya adalah beberapa postingan yang terlahir ketika dalam perjalanan.

Selain mendapatkan ide menulis, dalam perjalanan saya juga sering memotret peristiwa atau obyek untuk menguatkan jalan cerita postingan. Dan untuk mendapatkan jepretan ini memang nggak mudah, terkadang harus sembunyi-sembunyi. Ini yang saya lalukan waktu mengambil gambar kabin pesawat garuda waktu di bandara Soekarno-Hatta.

Pengambilan gambar di kabin ini memang perlu kiat khusus. Jangan sampai ditegur atau ketahuan oleh pramugari atau awak kabin. Malunya itu loh kalau sampai ditegur dan dilihat penumpang lain. Padahal, kalau minta ijin mungkin diperbolehkan ya sama pramugari garuda yang anggun? Apalagi postingan itu kan menceritakan kebanggaan saya terhadap maskapai nasional itu.

Akhirnya, jurus sembunyi-sembunyi saya lakukan. Di saat awak kabin sibuk membantu penumpang lainnya menyusun barang-barang di dalam kabin dan membantu penumpang mencari nomor kursi, saya keluarkan blackberry. Setelah tengok kiri kanan, belakang dan situasinya tepat, saya langsung jepret suasana kabin. Dan akhirnya dapatlah gambar yang saya inginkan. Silakan dibaca di postingan ini.

Saat-saat menunggu boarding di bandara juga waktu yang nyaman untuk membuat catatan di smartphone. Kalau penumpang lainnya ngomel-ngomel jika pesawat delay 2-3 jam. Saya justru berharap makin lama delaynya makin baik. Kok berharap gitu sih? Ya, karena inilah waktu yang tepat untuk meneruskan catatan untuk postingan.

Tak hanya itu, ini juga kesempatan untuk mengeksplorasi suasana bandara untuk judul postingan lainnya. Karena pesawat delay ini saya pernah dapat berita menarik. Di sini saya bisa mengamati para penjual yang penampilannya rapi seperti penumpang. Ceritanya begini. Menunggu pesawat lepas landas, saya dan teman menuju salah satu restoran di bandara. Sudah ada beberapa orang yang juga makan dan minum ditempat itu.

Nggak lama kemudian, ada satu orang yang berpenampilan rapi membawa tas. Saya pikir dia penumpang. Woow, ternyata bukan. Dia mendekati meja kami dan setelah menyapa dengan sopan, dia mengeluarkan dari dalam tasnya berbagai macam parfum. Ternyata saya salah menduga. Dikiranya sama-sama penumpang, ternyata penjual yang berpenampilan rapi seperti penumpang. Penyamaran yang sukses. Bahkan waktu saya posting di blog Kompasiana, tulisan ini diberikan predikat Headline oleh adminnya.

Postingan lain yang idenya saya dapatkan ketika di kendaraan, adalah ketika naik bis yang tiba-tiba mesinnya mogok dan penumpang di dalamnya kepanasan. Karena AC-nya padam, sebagian penumpang turun dan sebagain lainnya masih duduk dalam bis. Di saat penumpang lain di dalam bis sibuk cari bahan untuk kipas, saya sodorkan koran cetak yang saya bawa. Nah waktu mereka kipas-kipas pakai koran cetak itu, terus saya jepret pakai smartphone. Jadilah ide sebuah tulisan lagi plus fotonya. Ini hasilnya. Lho, memangnya saya juga nggak kepanasan di dalam bis? Iya juga sih, tapi demi sebuah ide postingan dan gambar yang menarik, rasa panas itu ditahan-tahan dulu meski badan bermandi keringat. Gemrobyos bahasa jawanya.

Ada juga kisah menarik lainnya waktu di perjalanan. Waktu sampai di Pontianak pagi hari setelah perjalanan dari Nanga Pinoh, saya dijemput keluarga di agen bis. Ketika melewati bangunan rumah adat dayak, tiba-tiba tercetus ide. Wah, bisa jadi bahan postingan nih.
Kendaraan saya tepikan dan istri di samping saya kaget.”Lho, kok berhenti, ada apa, Mas?” Anak-anak yang duduk di belakang juga heran. “Nggak ada apa-apa, cuma mau ambil foto bangunan di seberang jalan itu?”jawab saya. Setelah lalu lintas sepi, saya pun setengah berlari menuju rumah adat dayak di seberang jalan. Setelah masuk ke halaman, saya potret dari berbagai sisi. Bangunannya secara utuh, tangganya juga saya potret close up.

“Memang sudah kayak wartawan saja, papa kalian ini?”, komentar istri ketika saya kembali ke kendaraan. Kenapa sih harus saat itu juga diambil fotonya? Kenapa tidak lain waktu atau besok, toh bangunannya tidak akan pindah tempat? Benar juga sih kalau ada yang berpikir seperti itu. Namun saya punya pendapat lain. Ide atau gagasan yang tiba-tiba muncul harus saat itu juga dieksekusi. Perlu saat itu juga dicatat dan disimpan dalam memori kita. Jangan ditunda-tunda mengambilnya.

Nah, memori itu jaman sekarang sudah macam-macam jenisnya. Ada smartphone, laptop dan yang terbaru tablet. Dengan alasan kepraktisan, saya lebih sering membawa blackberry untuk menangkap dan menyimpan ide postingan itu ke dalam memori. Coretan-coretan kertas juga bisa digunakan kalau tiba-tiba ide muncul dan blackberry tidak dalam genggaman saya.

Setelah sampai di rumah atau kantor, jika ada waktu luang alias pekerjaan penting sudah beres, saya kembangkan lagi ide postingan itu. Bukan berarti nggak ada gangguan selama menulis postingan di laptop. Gangguan datang ketika aiphone berbunyi. Terkadang ada telepon yang masuk ke call center dan ada yang ingin bicara dengan saya.

Otomatis konsentrasi menulis pun terpecah. Bisa juga ada tamu yang ingin bertemu, atau ada panggilan dari bos dan diminta menghadap saat itu juga di ruang kerjanya. Namun, setelah urusan-urusan mendadak itu beres, jalan cerita bahan postingan sering terlupa. Akhirnya saya baca ulang lagi dari paragraf awal hingga kalimat terakhir yang terhenti tadi. Supaya waktu menulis kelanjutannya masih menyambung dan nggak ada cerita yang terputus.

Memang kalau dipikir dan ditimbang dari sisi materi. Kok mau-maunya sih melakukan seperti itu, padahal kan nggak dibayar, nggak ada yang memberikan imbalan. Meminjam istilah istri saya, serius benar cari ide tulisan sampai kayak wartawan.

Benar juga sih kalau pertimbangannya dari sisi itu. Hanya saja, bagi saya bisa mendapatkan ide postingan, menuliskannya dan bermanfaaat bagi pembaca adalah sebuah kepuasan. Plong rasanya bisa menyajikan postingan dari hasil jerih payah dan keringat sendiri. Dan mungkin itulah sebentuk kebahagiaan yang saya rasakan dalam hati.

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog”

Iklan

Akhirnya, Bisa Juga Pasang Emoticon

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah. Sudah tujuh bulan ngeblog, tapi selama itu saya belum bisa yang namanya pasang emoticon :sad:. Kelihatannya aneh dan sulit dipercaya. Lebih susah pasang emoticon daripada bikin tulisan. Tapi memang benar, coba lihat semua tulisan saya sebelumnya. Semuanya tanpa emoticon. Bukannya saya nggak mau pasang, tapi memang nggak tahu cara pasangnya.

Tulisan saya kata seorang kawan memang sudah renyah, bahasanya mudah dipahami. Tapi kalau saya nilai dan evaluasi, sebenarnya masih ada yang kurang.

Apa itu? Tidak ada emoticon. Simbol ekspresi berbentuk bulat yang dipasang untuk menjelaskan, menguatkan sekaligus menghibur 🙂 dalam tulisan atau komentar yang dibuat.

Sering saya merasa iri kalau ada narablog yang bisa pasang emoticon senyum atau ketawa  di tulisannya atau waktu kasih komentar di tulisan saya. Kelihatan lebih hidup dan segar.

Jadi, kalau ada yang komentar plus ada emoticonnya, sebenarnya saya dua kali mikir :-(. Nggak cuma mikir jawabannya, tapi sekaligus mikir gimana saya bisa pasang emoticon seperti itu.

Urusan pasang emoticon mungkin tampak sepele bagi narablog lain, tapi nggak bagi saya. Untuk yang kesekian kalinya, hari ini saya coba browsing lagi dan cari tahu gimana pasang emoticon.

Akhirnya, saya dapat juga jawabannya. Rupanya masing-masing ekspresi itu ada kode atau simbolnya. Pantas, saya pernah baca tulisan sobat terus ada kata mr green. Waktu itu saya mikir, apa itu artinya mr green? Apa hubungannya dengan tulisan itu, kok sampai ada mr green. Kenapa nggak pilih mr black atau mr brown saja. Bingung saya waktu itu.

Setelah dapat artikel tentang emoticon, baru tahu jawabannya. Rupanya mr green itu kode ekspresi orang ketawa, bergambar wajah orang berwarna hijau sambil tertawa ngakak :mrgreen:.

Kalau cuma tahu emoticon saja belum cukup, harus dipraktekkan dan coba dipasang. Nah, di tulisan kali ini, saya pasang emoticon perdananya ya….. Memang kalau belajar itu harus sabar….

Tulisannya Renyah, Bahasanya Mudah Dipahami

Sampai hari ini (25/10), sudah 22 narablog yang menjadi follower dan 364 orang yang mengikuti tulisan saya via email. Terima kasih sekali pembaca. Karena tanpa anda, blog ini tak berarti apa-apa. Sebagai tanda terima kasih untuk pembaca, saya hadiahkan hasil jepretan saya, foto anggrek tanah.

Blog ini umurnya masih muda banget, baru tujuh bulan. Belum genap setahun. Meski masih muda, tetap saya usahakan memberikan yang terbaik untuk pembaca. Sebab pembaca ibarat raja yang perlu dilayani sebaik-baiknya. Bentuk pelayanan yang seperti apa? Menyajikan tulisan yang menarik, ringan dan bermanfaat.

Tak hanya itu, 2 – 3 orang teman di tempat kerja juga membaca tulisan saya di blog. Teman-teman yang salah satu kesibukannya adalah update status di FB. Setiap tulisan yang saya buat,  saya tautkan ke FB. Jadi selain terbit di blog, juga otomatis menjadi update status di FB.

Judul tulisan, foto, alamat domain dan sebaris kalimat di paragraf awal langsung muncul di beranda FB, sewaktu postingan di blog saya terbitkan.

Saya pernah bilang dengan teman yang rajin buat status di FB,” Saya sekarang jarang update status di FB. Sesekali saja kasih komen atau konfirmasi teman yang minta add”. Pernyataan yang saya lontarkan sekadar untuk memancing tanggapannya.

Terus, apa jawabnya,”Update status memang jarang, tapi postingan di blog makin lancar”. Rupanya jeli juga dia mengamati .

Awal-awal dulu, saya memang aktif di FB. Update status, beri komentar, kasih cap jempol sampai buka-buka wall teman lainnya. Saya bahkan jadi anggota grup yang isinya teman-teman SMA, teman kuliah, jamaah masjid, teman kerja. Semuanya sering saya datangi dan komentari. Bahkan terkadang saya juga buat tulisan di grup.

Setelah kenal dengan dunia blogging, secara perlahan lokasi berselancar saya mulai bergeser. Dari FB ke blog, dari membuat sebaris tulisan menjadi sebaris cerita. Ada lebih banyak tantangan yang saya rasakan ketika mulai ngeblog.

Tantangan yang nggak saya dapatkan di FB. Mulai memilih disain blog, mengisi side bar, menjaring ide untuk menulis, sampai blogwalking. Ada suasana lain ketika memasuki dunia blogging. Saya ibaratkan seperti orang yang membangun rumah.

Lahan atau domainnya sudah ada, setelah itu saya pilih template atau rumah yang ada bagian-bagiannya. Ada ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang makan,

Setelah itu, masing-masing ruang tadi harus diisi. Ada meja kursi di ruang tamu. Televisi dan sofa di ruang keluarga. Ranjang dan lemari pakaian di kamar tidur. Suasana kreatif dan daya imajinasi itu yang saya sukai di dunia blogging dan tidak saya temukan di FB. Dan kita diberi keleluasan untuk merancang seperti apa rumah yang saya inginkan. Keleluasaan untuk menulis dan mengalirkan ide-ide ke setiap ruangan yang telah dibuat.

Cuma bedanya, memang jarang yang kasih komentar setelah saya tautkan postingan di FB. Komentar dan tanggapan tidak sebanyak di blog.  Wajar juga sih, pengguna FB ‘kan terbiasa membaca status yang kalimatnya pendek-pendek. Setelah itu, beri komentar atau cuma like. Hanya orang-orang tertentu yang betah membaca cerita postingan, setelah itu berkomentar.

Sementara kalau kita masuk di blog, secara nggak langsung kita sedikit dipaksa untuk membaca tulisan yg menurut kita menarik. Nah, tulisan yang membuat pembaca tertarik itu seperti apa, sih?

Waktu saya tanya salah satu teman yang sering baca postingan saya, dia bilang,” Saya suka baca tulisan Bapak, karena bahasanya mudah dipahami”. Teman lainnya berkomentar,”Tulisannya renyah, Pak”.

Renyah? Memangnya tulisan saya ini seperti rempeyek yang enak dimakan.

Salam

Dua Tulisan Jadi Headline di Kompasiana

Maaf, sobat blogger,  akhir-akhir ini saya jarang update postingan di blog. Bukan nggak punya judul, lagi nggak mood atau sibuk. Ceritanya lagi belajar menulis di kompasiana. Setelah mencoba dunia blogging,  sekarang saya lagi belajar memasuki dunia yang baru,  Kompasiana.

Sebagai seorang anggota baru  alias kompasianer, mau tak mau, suka tak suka, saya harus rajin buat tulisan. Nggak ada alasan nggak bikin tulisan. Memang tidak ada aturan tertulis, kompasianer harus menulis tiap hari. Juga tak ada deadline tulisan, harus jadi tanggal sekian karena ditunggu redaksi.

Semua tergantung niat dan tekad kita untuk menulis. Sama seperti di blog. Mau menulis setiap hari silakan, seminggu tiga kali juga tidak apa-apa. Tiga kali sehari buat tulisan, hmmm memangnya minum obat.

Di kompasiana, ada tiga kategori utama bentuk tulisan : reportase, opini dan fiksi. Saya paling suka menulis opini, urutan kedua reportase, terakhir fiksi. Opini berisi pendapat kita terhadap suatu masalah atau peristiwa yang terjadi. Reportase lebih mengedepankan tulisan tentang sesuatu yang terjadi, apa obyeknya, dimana lokasinya dan kapan waktunya. Penjelasan dalam bentuk gambar atau foto akan lebih memperkuat liputan yang ditulis. Sedangkan fiksi lebih mengarah pada daya imajinasi kita dalam membuat suatu tulisan. Kategori ini cocok bagi yang suka menulis puisi, prosa atau cerpen.

Bergabung sekitar sebulan, sejak 25 Agustus 2012, baru 14 artikel saya tulis. Pertama menulis, langsung dinilai admin sebagai Highlight. Meski jarang menulis dalam bentuk reportase, namun 2 kali tulisan saya secara beruntun masuk Headline (HL). Dalam kategori menulis di kompasiana, tulisan yang masuk HL terpampang di urutan pertama halaman utama setiap rubrik.

Alhamdulillah, reportase tentang air PDAM yang macet di Pontianak dan cerita tentang bunga bangkai dikategorikan HL. Meski tidak ada balasan berupa materi, penilaian admin Kompasiana adalah hadiah dan penghargaan besar bagi penulis pemula seperti saya. Minimal, tulisan saya nggak malu-maluin. Bangga dan bahagia rasanya.

Tak hanya itu, dukungan teman-teman kompasianer agar saya tetap berkarya dan terus menulis juga menjadi motivasi tersendiri. Inilah hebatnya dunia maya. Meski secara fisik belum pernah kopdar alias ketemu langsung, terasa ada jalinan yang erat di antara sesama kompasianer. Saling berbagi, berkomunikasi dan memotivasi satu dengan lainnya. Sesuai slogan Kompasiana “ Sharing. Connecting”.  Benar-benar mengasyikkan dan mencerahkan diri saya.

Hambatan dalam Membuat Sebuah Tulisan

Menulis itu gampang-gampang susah. Gampangnya adalah setiap orang sebenarnya bisa melakukan. Setiap orang punya modal yang sama, yaitu anggota badan berupa tangan yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Bandingkan anugerah tangan yang lengkap yang kita miliki dengan gambar anak di atas. Jika anak tersebut dengan kondisi anggota badan yang luka dan tangan diperban masih punya kemauan untuk menggambar, bagaimana dengan kita yang memiliki kondisi fisik lebih baik ?

Tidak hanya itu, dari segi perlengkapan untuk menulis, saat ini kondisinya sudah jauh lebih maju. Kalau dulu sebelum ada komputer, cukup menggunakan mesin ketik.

Sekarang, setelah tersedia komputer desktop dan notebook, kegiatan menulis semakin dimudahkan. Bagaimana tidak, bila ada kesalahan ketik, tidak perlu di tipp ex, cairan putih yang diperlukan untuk menghapus tulisan yang salah. Bila belum selesai, bisa disimpan dahulu sebelum diterbitkan.  Dengan bantuan notebook, menulis pun dapat dilakukan tidak hanya di rumah atau di kantor. Di kafetaria bandara sambil menunggu pesawat, waktu bisa diisi dengan mengetik sebuah tulisan. Di dalam mobil yang terjebak kemacetan, waktu tidak akan terasa lama bila diisi dengan mengetik konsep postingan.

Lalu dimana susahnya?

1. Mencari gagasan atau bahan untuk ditulis.
Ini yang tidak setiap orang bisa melakukan. Gagasan sudah berada dalam pikiran, namun kesulitan saat menuangkan dalam bentuk tulisan.

Sebenarnya gagasan atau bahan tulisan dapat diperoleh dari beberapa sumber. Paling mudah adalah berasal dari pengalaman atau peristiwa yang terjadi pada diri anda.

Berangkat ke tempat kerja menggunakan kendaraan umum dan macet di jalan sehingga terlambat datang, bisa jadi sebuah tulisan. Bertemu dengan teman lama di mall dan mengingat kembali masa-masa kecil juga bisa jadi ide suatu tulisan. Menerima keluhan anak di rumah karena banyak tugas di sekolah juga gagasan yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Ini yang saya lakukan ketika bertemu dengan bermacam-macam orang dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda.  Pernah saya menulis tentang kegigihan seseorang dalam berupaya mencari nafkah dalam tulisan Pelajaran dari Seorang Tukang Ojek.

Di lain waktu saya bertemu dengan tiga mahasiswi praktek dan saya mendapat ide untuk menuliskan kesan yang saya peroleh dalam postingan Bukan Sekadar Praktek Kerja. Pernah juga saya mengantar tamu dari perusahaan yang lain yang ingin melihat batas propinsi dan saya mendapat ide cerita untuk sebuah tulisan yang berjudul Perbatasan Kalbar – Kalteng.

Begitu banyak gagasan dan ide yang melintas di depan kita setiap hari. Diperlukan sedikit kepekaan dan proses berpikir untuk menangkap gagasan tersebut. Supaya tidak mudah lupa, saya biasa mencatat setiap gagasan tersebut dalam buku kecil.

2. Memulai Menulis.
Setelah gagasan diperoleh, inilah saatnya untuk menuliskan pemikiran anda. Pada tahap ini, ada beberapa gangguan yang biasanya datang. Pertama, keinginan untuk mengedit setiap kalimat atau paragrap sebelum satu tulisan selesai. Banyak waktu kita tersita dan habis gara-gara hasrat ingin menyempurnakan kalimat dalam paragraf atau kata-kata dalam kalimat.

Bila anda sekilas salah menulis huruf, kata atau istilah, jangan berhenti untuk memperbaiki. Teruslah untuk menulis hingga paragrap terakhir. Sekali anda berhenti dan mengedit, anda akan kehilangan alur cerita dan dipaksa untuk mengingat kembali isi tulisan dari awal.

Disini diperlukan kemauan yang kuat untuk menyelesaikan hingga akhir paragrap. Setelah selesai, silahkan anda membaca konsep tulisan dari awal hingga akhir paragrap. Lengkapi kata yang kurang, koreksi huruf yang salah, kurangi kalimat yang berlebihan.

Gangguan kedua adalah dering suara telepon selular karena ada pesan atau telepon masuk. Meski tidak terlalu sering, namun gangguan ini dapat membuyarkan konsentrasi anda menulis. Karena anda akan dihadapkan pada situasi yang cenderung mengharuskan untuk menerima dan membalas pesan masuk atau menerima panggilan masuk dan berbicara.

Bukan berarti tidak boleh menerima sms atau panggilan telepon. Namun tidak setiap pesan atau panggilan tersebut harus seketika itu juga direspon. Ini tergantung pada penting tidaknya pesan atau berita yang masuk tersebut. Jika penting, biasanya penelepon akan menghubungi lagi dan tidak hanya sekali.

Alhamdulillah, ini yang saya lakukan ketika membuat tulisan yang sedang anda baca saat ini. Jika anda dapat mengatasi hambatan tersebut , anda dapat membuat dua tulisan sederhana dalam waktu kurang dari setengah hari.

Referensi gambar :

http://www.kompasiana.com

Menjelajahi Dunia Kompasiana

Tanggal 25 Agustus 2012 menjadi momen penting dan tak terlupakan. Pada hari itu tulisan saya yang pertama sebagai seorang kompasianer langsung masuk kategori highlight dalam rubrik Muda.

Benar-benar diluar dugaan, tapi bikin saya puas dan senang. Betapa tidak, bagi seorang kompasianer pemula seperti saya, tampilnya tulisan di highlight adalah bentuk pengakuan dan penghargaan atas hasil karya seseorang. Sebuah bentuk apresiasi dari media online yang terpercaya, mempunyai jangkauan luas dan memiliki reputasi tinggi.

Pada hari itu, satu paket kegiatan untuk menjelajahi dunia kompasiana saya lakukan. Mulai pertama kali mendaftar, melakukan konfirmasi ulang, mendapatkan akun, hingga buat tulisan. Rupanya tulisan perdana saya yang berjudul “Haruskah Anak SMP Menunggu Hingga Umur 17 Tahun untuk Mendapatkan SIM C”, dinilai admin sebagai hal yang penting.

Sampai dengan pagi ini (27/8), judul tersebut masih nongol di highlight rubrik muda dan disimak sekitar 290 pembaca. Ketertarikan saya dengan kompasiana berawal ketika saya membaca edisi cetaknya yang terbit seminggu sekali. Sampai saat ini, sudah sekitar 5 tahun ini saya berlangganan harian Kompas. Walaupun sering membaca edisi online-nya, saya tidak berhenti berlangganan Kompas edisi cetak.

Setiap hari Kamis, edisi cetak kompas memuat satu halaman khusus kompasiana. Halaman yang ditujukan bagi pembaca yang aktif menulis di website www.kompasiana.com. Halaman yang mengusung slogan esensi dan bukan sensasi tersebut menarik minat saya karena tema tulisan yang disajikan isinya tidak terlalu berat, sebagian besar berupa pengalaman pribadi dan bervariasi.

Saya juga baru mengetahui, rupanya jumlah kompasianer sudah mencapai lebih dari 120 ribu orang. Di media tersebut, selain dapat mengekspresikan suara hati kita dengan menulis, kita juga memperoleh informasi suatu kejadian dari sisi yang lain yang belum ditampilkan oleh media lainnya. Pokoknya mengasyikkan sekali.

Memberikan komentar atas suatu isi tulisan dan mendapatkan teman baru juga merupakan manfaat lain kita menjadi kompasianer. Bagi saya, kompasianer adalah kommbinasi dari seorang facebooker dan blogger.

Seorang facebooker akan selalu mengupdate status terhadap sesuatu kejadian yang ia rasakan atau pikirkan. Sementara blogger lebih mengedepankan pada sisi menceritakan, mengkaji atau memberikan informasi lebih mendalam kepada pembaca tentang sesuatu peristiwa.

Bagi peminat dunia maya yang sudah kenyang sebagai facebooker dan banyak makan asam garam menjadi blogger, tidak ada salahnya terjun untuk menjadi kompasianer dan menjelajahi dunia baru yang lebih menantang dan mengasyikkan : dunia Kompasiana.

Sumber gambar :

http://www.kompasiana.com