Baru Belajar jadi Admin di Grup WA

Saya baru sadar rupanya anggota baru di grup WhatsApp (WA) itu namanya belum masuk. Baru saja teman di grup WA bilang nama ibu yang kemarin itu namanya belum bergabung di grup jamaah dan leader umroh.

Oleh leader yang ada di Jogja, saya diberikan tugas menjadi admin grup tersebut. Padahal saya memang belum pernah  jadi admin grup. Gimana caranya ya supaya bisa? Bertanyalah saya dengan teman kerja di kantor gimana caranya masukkan anggota baru di grup WA.

“Nomor telepon anggota baru harus disimpan dulu, Pak. Nanti otomatis namanya ada di kontak WA”kata teman

“Ooo pantas, tadi saya cari di daftar kontak WA kok nggak ada. Lha, namanya belum disimpan”. Piye to ?

Saya ketikkan nomor hpnya dan saya simpan. Setelah itu saya coba cari lagi di menu grup WA. Akhirnya ketemu. Klik di pojok kanan atas. Setelah itu pilih info grup dan akan muncul menu dimana kita bisa add atau tambahkan anggota yang akan dimasukkan ke dalam grup.

Akhirnya lega saya waktu baca kalimat di grup, “Anda menambahkan ibu I”. Dan tak lama di layar atas terleihat nama ibu itu sedang mengetikkan kalimat. Beruntung masih ada yang mengingatkan saya ketika belum paham saat belajar.

 

Perlunya Berpikir Alternatif

Tadi malam, waktu kumpul-kumpul dengan teman kerja, saya  menerima kuis dari salah admin salah satu grup WA.

Kuisnya sederhana. Berupa tiga baris dan dua kolom yang membentuk deret aritmatika. Seperti ini soalnya:

2   3

5   6

8   9

?    ?

Anggota grup diminta menjawab apa isi tanda tanya yang berada di baris paling bawah.

Satu persatu anggota menjawab dengan spontan. Sebagian besar menjawab 11  12. Dan menurut pak Haryanto, admin yang juga memberikan soal tersebut menjawab masih belum tepat.

Saya juga heran dengan penjelasan pak Har. Kenapa dijawab 11  12 salah. Bukankan deret angka di atas memiliki pola atau rumus?  Polanya tambah satu angka untuk baris dan tambah 3 angka untuk kolom. Hasilnya adalah angka pada baris dan kolom berikutnya.

untuk baris 2+1 = 3, untuk angka 2+3 = 5

Lho, dimana salahnya?

Untuk menjawabnya, anda perlu berpikir out of the box.  Tidak hanya mengandalkan lgika matematika

Anda tahu jawabannya?

 

Ketika Nadia harus Tes SBMPTN di Jogja

Selama anak saya yag pertama, Nadia, berada di Pontianak, jarang sekali saya komunikasi dengannya via whatsapp. Sesekali hanya telpon atau SMS. Menanyakan kabarnya atau kegiatannya di sekolah. Namun semuanya itu berubah ketika Dea, nama panggilannya, memutuskan untuk ikut tes SBMPTN di Jogja.

Setelah tidak diterima di PTN melalui jalur SNMPTN, dia mencoba lagi menggunakan jalur SBMPTN. Karena pilihan fakultasnya semua berada di wilayah II, dia harus mengikuti tes di salah satu kota yang PTN-nya termasuk wilayah II.

Bisa saja dia tetap tes di Pontianak, asalkan salah satu pilihan fakultasnya berada di PTN yang termasuk dalam wilayah I, baik di Sumatera, Banten, DKI Jaya , Jawa Barat maupun Kalbar.

Seminggu sebelum berangkat ke Jogja, saya sering ingatkan dia supaya jaga kondisi kesehatan. Usahanya untuk diterima di PTN begitu besar. Setelah UN, hampir setiap hari dia mengikuti les di lembaga bimbingan belajar di Pontianak.  Ikut try out, belajar lagi di rumah. Bahkan saya pernah melihat dia belajar hingga larut malam.

Ketika perjalanan dari Pontianak ke Jogja, saya tidak bisa mengantar. Demikian juga ibunya yang tidak bisa ke Jogja karena mendampingi anak bungsu, Nabil, yang menghadapi ulangan. Meski nggak bisa mengantar, komunikasi saya dengannya tetap lancar. Setelah saya kirim pesan lewat whatsapp menanyakan apakah sudah sampai di Jogja, rasanya nggak sabar menunggu balasannya.

Demikian juga ketika menanyakan apakah dia sudah melihat lokasi tesnya, mengingatkan perlengkapan yang harus dibawa saat tes seperti pensil, pulpen, penghapus dan kartu peserta tes. Hal-hal kecil yang jarang saya perhatikan ketika dia berada di Pontianak.

Dan hari ini, setelah mengukti tes SBMPTN, dia mencoba lagi kemampuannya di jalur Ujian Tulis (UTUL) yang dilaksanakan secara mandiri oleh UGM. Saya hargai usahanya, upaya belajar keras yang telah dilakukannya. Ibunya juga tak lupa minta supaya dia berdoa selain belajar. Semoga engkau diterima di fakultas dan PTN yang engkau idam-idamkan, Nak.

Gabung di Blog English Club

Rupanya sesama blogger juga punya komunitas, lho. Nggak cuma komunitas seputar dunia blogging, tapi lebih dari itu, ada komunitas Blog English Club (BEC) alias perkumpulan para blogger untuk melatih percakapan bahasa Inggris. Ijin dulu nih sama mas Ryan kalau BEC-nya saja jadikan postingan.

Awalnya sih nggak sengaja. Waktu blogwalking di blognya mas Ryan, terus baca beberapa komen di postingannya. Nggak tahunya waktu itu ada komentar mas Dani yang nanyakan jadi nggak Blog English Clubnya? Waktu baca itu langsung saya komen, kalau sudah launching ikutan ya. Lumayan sudah lama nggak praktek bahasa Inggris meski sebatas obrolan yang ringan-ringan di medsos.

Gayung pun bersambut, mas Ryan yang super aktif. Langsung kirim email minta nomor telepon saya karena akan add di whatsapp. Setelah saya kasih nomor telepon, yang tampaknya akan berjalan lancar ternyata nggak semulus yang diduga. Nama saya nggak muncul di whatsapp. Bahkan mas Ryan sampai tanya via SMS apa nomor telepon yang dikasihkan itu nomor telepon aktif.

Setelah beberapa kali kami berdua otak-atik di Whatsapp, akhirnya ada kabar gembira juga, nama saya muncul. Terus saya diminta memperkenalkan diri di situ. Yang waktu itu lagi online selain mas Ryan, mas Dani, Nita juga Asmi alias Aaraminoe (ini artinya apa ya?)

Malam itu kami ngobrol mulai komen isi postingan sampai cerita empek-empek kapal selam :-). Ini karena ada anggota baru di BEC yang juga waktu itu memperkenalkan diri. Namanya kalau nggak salah Grant Gloria, asal dari Palembang. Hayoo tebak dia ini cewek apa cowok?

Besok siangnya obrolan di BEC dilanjut lagi, kali ini cerita masalah kerjaan. Waktu saya cerita saya sudah 20 tahun kerja di tempat yg sama, banyak yang pada heran. Kok, bisa ya kerja selama itu nggak pernah pindah-pindah. Saya terus terang waktu itu juga heran, rupanya banyak teman-teman di BEC yang mungkin semuanya lebih muda dari saya rata-rata sudah beberapa kali pindah kerja. Apa generasi sekarang memang mudah sekali pindah kerja ya?

Sebenarnya nggak apa-apa sih kalau memang di tempat kerja lama udah nggak ada chemistry dengan teman kerja atau pimpinan. Atau ada tawaran di tempat lain yang kariernya cetar membahana. Atau mungkin ada yang mau ngasih take home pay plus lain-lainnya yang lebih tinggi daripada tempat kerja lama. It’s ok. Every decision always carries its own risk, including when no decision is made.

Setelah itu, sorry ya friends, beberapa hari terakhir ini saya nggak aktif ngobrol di BEC karena sibuk dengan pekerjaan offline. Tapi saya senang bisa bergabung di BEC, ya minimal bisa dapat wadah dan teman untuk ngobrol dan nulis bahasa Inggris. Yang namanya belajar bahasa itu ‘kan yang saya tahu memang harus dipraktekkan. Harus dibiasakan ngomong atau nulis langsung, nggak cuma menghapal grammar atau vocabulary. Buat teman-teman blogger lainnya, gabung yuuuk di Blog English Club….