Kuliner Soto Seger Kartosura dan Tahu Gimbal di Semarang

Waktu ke Semarang, maksud hati pengin nguliner ke Soto Pak Man yang kondang itu lho tapi nggak kesampaian. Akhirnya soto seger  Kartosuro pun jadilah. Sebagai obat penawar kangen makan soto di Semarang.

Ceritanya waktu itu ibu pengin beli kalender tahun 2019. Belinya di pasar Johar. Saya sama adik bungsu yang ikut. Pulangnya karena pas jam makan siang, munculah ide makan soto. Pas waktunya, makan siang yang seger-seger. Pilihan jatuh ke warung Soto Seger Kartosura yang di jalan Depok.

Pesan tiga mangkok kecil soto seger. Rasanya memang enak. Apalagi makannya pakai sate, gorengan sama kerupuk. Minumannya es jeruk sama teh manis. Nggak lupa juga pesan ayam goreng krispi buat yang di rumah. Dan waktu bayar ke kasir, saya kaget. Untuk semuanya cukup bayar 79 ribu.

Satu lagi kuliner yang saya nikmati waktu di Semarang. Tahu Gimbal. Ini belinya pas saya di rumah orangtua. Di jalan Arjuna. Dekat Udinus.

Waktu mau sholat Ashar di masjid ketemu sama penjual tahu gimbal di dekat jembatan. Balik lagi saya ke rumah. Pesan ke adik bungsu supaya beli tahu gimbal 2 porsi. Sebelum besoknya kembali ke Pontianak.

Masih banyak lagi kuliner khas Semarang yang belum saya Nikmati. Tahu Petis, Tahu Pong, Lumpia.

Insya Allah, lain waktu disempatkan lagi datang. Silaturahmi ke orangtua. Sekalian wisata kulinernya.

 

Iklan

Suasana Baru di bandara Jendral Ahmad Yani Semarang

Salah satu sebab kenapa saya pilih penerbangan Pontianak – Semarang PP waktu pulang ke Jawa ya karena pengin liat bandara Jendral Ahmad Yani setelah direnovasi. Penasaran lihat di internet, lihat videonya, juga info teman yang pernah merasakan bandara yang baru.

Biasanya sih, kalau nengok orangtua di Semarang sekalian juga nengok anak sama bapak ibu mertua di Jogja. Nah, dulu-dulu rutenya Pontianak – Semarang. Setelah itu menginap beberapa hari di Semarang baru lanjutkan perjalanan ke Jogja naik travel Joglosemar. Bisa juga dari Pontianak ke Jogja dulu, setelah itu baru ke Semarang. Juga naik travel joglosemar.

Nah, untuk perjalanan akhir tahun lalu saya memang rencanakan beli tiketnya Pontianak – Semarang PP. Apalagi kalau bukan ingin merasakan suasana bandara yang baru.

Waktu mendarat di bandara Jendral Ahmad Yani, saya sudah merasakan kesan luas. Apalagi waktu masuk ruang pengambilan bagasi. Luas banget deh. Ada dua ban berjalan tempat meletakkan bagasi. Malah di ban berjalan yang sebelahnya troli-trolinya disusun rapi sekali. Beda banget dengan kondisi di bangunan lama yang sempit dan berdesak-desakan.

Gimana dengan ruang check in? Kesempatan melihat ruangannya itu datang waktu mau pulang. Saya diantar ibu dan adik bungsu  naik taksi online dari rumah ke bandara. Sampai di terminal keberangkatan, nggak cuma penumpang saja yang diperbolehkan masuk. Para pengantar juga boleh masuk sampai ke dalam.

Ibu yang baru pertama kali lihat bandara yang baru senang sekali bisa masuk ke ruangan tempat gerai makanan. Rupanya dari ruangan ini, kita masih harus jalan lagi melewati ruangan yang berkaca dan didominasi warna putih. Ada juga kolam ikan di sisi kiri.

Setelah dari ruangan ini, barulah masuk ke ruang check in alias lapor tiket pesawat. Ada 30 konter di ruangan ini. Waktu saya masuk ke ruangan ini masih agak sepi. Konter Lion tujuan Pontianak malah belum buka. Kesempatan deh keluar lagi dan motret suasana di ruangan lain.

Dari sisi jalan masuk dan keluar bandara sekarang lebih dekat dari rumah karena lewat jalan Madukoro yang pas disebelah banjir kanal. Pantas waktu perjalanan dari bandara ke rumah, karena kami asyik ngobrol, ibu kaget kok mobil sudah belok ke jalan Indraprasta. Ternyata rutenya sudah berubah. Jadi rute sekarang lewat depan PRPP dan kampung laut.

Rasanya belum puas menikmati suasana bandara baru, waktu lihat suasana ruang boarding yang lapang dan tenang, sudah ada panggilan buat penumpang yang akan terbang ke Pontianak.

Wisata Murmer di Jungkat Beach dan Mempawah Mangrove Park

Rencana wisata ke Jungkat Beach dan Mempawah Mangrove Park akhirnya terlaksana juga. Anak-anak sama ibunya yang sudah lama pengin liat dua tempat itu. Ke pantai yang lebih jauh seperti pasir Panjang, Mimi Land dan pantai Kijing sudah pernah, eh malah dua wisata pantai yang jaraknya lebih dekat malah belum pernah 🙂

Tujuan wisata pertama ke Jungkat Beach. Kami berangkat tanggal 23 Desember 2018 berlima. Saya, istri, Caca, Andra dan Nabil. Mba Deanya nggak ikut karena sedang di Jogja. Edisi wisata mengisi hari libur akhir tahun. Suasana di jalan agak ramai. Lalu lintas merayap ketika melewati Jembatan Kapuas I dan Jembatan Landak. Setelah itu perjalanan lancar sampai ke Jungkat Beach. Waktu tempuhnya sekitar 50 menit dari Pontianak.

Tiket masuk di Jungkat beach 10 ribu per orang. Tapi sayangnya waktu saya bayar untuk 5 orang kok nggak dikasih karcis atau tiketnya ya sama petugasnya? Ini baru pertama kali saya sekeluarga datang ke obyek wisata ini. Setelah masuk, kami pilih duduk-duduk di saung di tepi danau sambil melihat pengunjung lainnya yang naik bebek air.

Setelah itu, kami teruskan duduk-duduk di tepi pantainya. Ada dinding pembatas setinggi sekitar 1,5 meter yang memisahkan pantai dengan tempat duduk dan meja untuk kongkow-kongkow. Di tempat ini kami pesan es kelapa muda. Harganya 13 ribu per buah. Disajikan dengan batoknya.

Di lokasi ini ada juga kolam pemancingan, rumah makan dan spot-spot untuk pemotretan. Tempat yang paling bagus sih menurut saya ya di tepi pantai itu. Kita bisa melihat laut luas sambil menikmati makanan atau minuman di bawah pepohonan yang rindang.

Setelah dari Jungkat Beach, kami meluncur ke Mempawah Mangrove Park. Waktu saya setting track di google maps, perlu waktu tempuh 3o menit dari Jungkat Beach. Karena sudah masuk waktu dhuhur, kami singgah dulu di masjid untuk sholat.

Ada yang unik waktu kami sampai di Mangrove Park. Karena lokasinya harus jalan kaki dari tepi jalan raya Mempawah – Singkawang, kendaraan harus parkir di tepi jalan raya. Dan tempat parkirnya adalah halaman Taman Makam Pahlawan 🙂 Dari lokasi ini kami jalan kaki sampai ke loket penjualan tiket. Beli tiket yang harganya 5 ribu rupiah. Nah, kalau di tempat ini petugasnya berikan tiketnya. Jadi ada buktinya.

Kalau datang ke sini pas siang hari, perlu bawa topi atau payung. Kalau nggak bawa payung, gak perlu khawatir karena di dekat tempat parkir ada penyewaan payung. Sewanya 2 ribu rupiah untuk payung kecil dan 4 ribu rupiah untuk payung besar.

Sebelum loket penjualan tiket ada peta lokasi Mangrove Park. Saya lihatnya malah setelah jalan-jalan waktu mau pulang. Harusnya sih lihat dulu ya. Ada beberapa obyek kunjungan yang menarik. Menara pandang, tempat2 selfi, dermaga, persemaian, pusat edukasi dan tempat rehat.

Di Mangrove Park ini memang kita dituntut sering jalan kaki kalau mau lihat banyak obyek. Beda dengan di Jungkat Beach yang lebih banyak duduk-duduk. Setelah lewat loket penjualan tiket ada 3 track jalan kaki yang harus kita pilih. Mau lurus, belok kiri atau belok kanan.

Kami waktu itu pilih lurus, ternyata track itu menuju ke dermaga. Ada perahu-perahu yang sedang ditambat di tepi dermaga. Ternyata ada juga yang menyewakan perahu buat pengunjung yang mau berkeliling ke pulau Penibung. Tarifnya 30 ribu per orang.

Setelah puas lihat dermaga, kami balik lagi dan belok ke track sebelah kanan dari arah dermaga. Nah, di track ini lokasinya agak rimbun karena pohon-pohonnya sudah agak tinggi. Beda dengan yang dekat dermaga, pohon-pohonnya masih setinggi kami. Di lokasi ini ada menara pandang, pusat edukasi mangrove, tempat selfi dan tempat rehat.

Selesai menikmati tempat-tempat itu, kami jalan kaki lagi ke track yang lainnya. Memutar dan menyeberangi sungai di depan loket penjualan tiket. Di sini ada tempat bagus untuk pemotretan. Lokasinya di ujung Mangrove Park. Di seberang terlihat dengan jelas pulau Penibung. Pohon-pohon bakaunya juga belum tinggi, jadi kita bisa lihat hamparan hutan mangrove dengan jelas.

Itulah dua tempat wisata alam murmer yang saya sekeluarga kunjungi. Nggak cuma melihat pemandangan alam saja, Mangrove Park selain obyek kunjungan wisata alam juga cocok buat wisata edukasi keluarga. Khususnya yang ingin melihat langsung hutan bakau. Di tempat ini kita bisa belajar apa saja jenis pohon-pohon yang tumbuh, gimana perkembangbiakannya dan apa manfaat hutan mangrove.

Sempatkan Menyapa Ibu

Hampir tiap hari saya usahakan menyapa ibu yang tinggal di Semarang. Meski kerja di camp, saya sempatkan menelepon beliau. Dan kalau sudah bicara, bisa sampai setengah jam. Bahkan lebih. Pembicaraan berakhir biasanya karena suara azan. Saat itu ibu yang ingatkan saya.

Di lain waktu, saya juga ngobrol via WhatsApp. Dan ibu cukup trampil mengetik, mengirim gambar atau video. Di usia yang ke-68, beliau juga masih rajin senam, ikut pengajian, jalan-jalan bersama ibu-ibu tetangga. Jarang ada keluhan yang saya dengar dari beliau. Bukannya gak ada masalah. Namun beliau selalu berusaha tidak memperlihatkan sedang ada masalah.

Beliau juga rajin silaturahmi. Menyambungkan kembali persaudaraan yang renggang dengan keluarga besar. Baik dengan keluarga dan saudara bapak ataupun dengan keluarga besar ibu. Jika ada saudara yang sakit, beliau usahakan untuk datang menengok. Termasuk juga ketika tetangga yang mengidap kanker. Beliau bersama ibu-ibu yang lain menengok ke rumah sakit.

Jika saya datang ke Semarang, ibu dan bapak serta adik bungsu hampir selalu menjemput di bandara. Juga ketika saya ke Semarang naik kereta. Beliau dan adik menjemput di setasiun. Termasuk ketika saya naik bus, beliau mengantar sampai ke kantor agen bis. Semuanya dilakukan dengan ringan dan tidak terpaksa. Padahal saya pernah bilang supaya gak usah dijemput atau diantar.

Bisa jadi begitulah tanda kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Meski anaknya sudah berkeluarga, tetaplah kasih sayang itu tidak hilang.

Semoga ibu senantiasa dalam perlindungan Alloh SWT dan dikaruniakan sehat wal afiat.

Subsidi dari Gocar

Biasanya waktu tugas di Pontianak, saya dari rumah ke kantor atau sebaliknya naik Gocar. Tarifnya sekali jalan 24 ribuan waktu berangkat dan pulangnya 22 ribu. Waktu berangkat ke kantor tanggal 11 dan 12 Desember lalu dan pulangnya ada yang bikin saya penasaran. Dalam perjalanan ke kantor saya bertanya dalam hati,”Kok tarifnya turun?”

Waktu pulangnya, saya order lagi dan di aplikasi terlihat tarifnya turun jadi 14 ribu. Antara senang bercampur heran saya cek lagi. Ternyata memang tarifnya segitu. Nah, waktu perjalanan pulang saya iseng-iseng tanya ke drivernya.

“Bang, di aplikasi saya tarifnya turun jadi 14 ribu ya. Di aplikasi abang berapa?”

“22 ribu, Pak”jawabnya sambil menunjukkan HPnya ke saya.

“Lho, kok bisa beda sih?” tanya saya.

“Yang konsumen bayar memang 14 ribu, yang 8 ribu dibayar sama Gocar”ungkapnya.

Baru saya tahu,  rupanya ada program subsidi dari Gocar buat konsumennya.

Apa karena persaingan tarif dengan Grab sehingga Gocar mengambil strategi seperti itu? Mengikat pelanggan agar tidak pindah dengan cara mensubsidi pembayaran ke drivernya. Bagi saya sih senang, karena dengan tarif yang lama sebenarnya sudah termasuk wajar. Apalagi sekarang ada diskonnya.

Satu Orang Teman Kuliah Berpulang

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun

Satu orang teman telah berpulang ke rahmatullah. Teman satu angkatan waktu kuliah di kehutanan UGM. Setelah dirawat di salah satu rumah sakit di Malang, kemarin kondisinya masih koma. Dan sehari kemudian, teman lainnya yang bekerja di instusi yang sama dengannya mengabarkan dia sudah tidak ada.

Setelah itu ucapan duka cita pun mengalir dari teman-teman lain ke grup WA.      Ada salah satu teman yang meneruskan pesan dia sebelum meninggal. Di tengah rasa sakit, dia nitip pesan ke teman-teman supaya jaga sholat dan ingatkan betapa pentingnya jaga kesehatan. Trenyuh membaca pesannya.

Sebelum meninggal, beberapa teman sempat menjenguk di rumah sakit. Juga menyampaikan uang sumbangan dari teman-teman lainnya. Salah satu teman yang menjabat wakil dekan Fakultas Kehutanan UGM juga hadir.

Doa-doa diucapkan teman-teman dengan harapan, kondisinya kesehatannya membaik. Namun Alloh berkehendak lain.

Selamat jalan kawan, semoga Alloh menerima amal ibadah  dan memberikan ampunan atas kesalahan-kesalahannya. Aamiin.

 

 

Canvas, Satu Aplikasi untuk Berbagai Kartu Ucapan dan Promosi

Jika kita bergabung di satu grup WhatsApp (WA) biasanya kita akan ucapkan berbagai ucapan selamat. Ada ucapan selamat ultah, selamat hari raya, selamat atas kelahiran anak, selamat wisuda atau selamat atas pernikahan. Ada juga ucapan duka cita dan doa-doa yang kita copas dan di posting di grup.

Terkadang, karena ingin mudah, beberapa anggota grup langsung copas ucapan-ucapan itu. Copas apa adanya tanpa ada perubahan. Memang praktis sih, hemat waktu, nggak perlu repot-repot ngetik.

Pola seperti itu awalnya juga saya ikuti. Tapi lama-lama ada hal yang nggak sreg karena kok saya nggak kreatif ya. Monoton. Akhirnya saya berpikir buat ucapan sendiri, merangkai kata-kata sendiri. Tapi gimana caranya supaya disainnya menarik?

Sampai satu saat saya lihat ada kata-kata motivasi yang dibuat dengan disain yang bagus. Tulisannya kontras dengan latar belakangnya. Ada gambarnya juga di sampingnya. Saya pikir bikinnya pakai corel draw atau photoshop. Dua aplikasi yang nggak saya kuasai. Bayangan saya setelah disain jadi terus di transfer ke handphone.

Ternyata saya keliru. Untuk membuat disain-disain ucapan, kata-kata motivasi, promosi yang bagus itu bisa pakai aplikasi Canvas di Playstore. Kita unduh aplikasinya dan pasang di handphone. Terus bisa kita pakai. Ada banyak pilihan template yang gratis atau berbayar.

Sekarang, kalau ada teman di grup yang ultah, saya pakai aplikasi Canvas untuk berikan ucapan. Hasilnya, kemarin teman SMP yang ultah langsung komentar,”Makasih ya ucapannya, bagus, kreatif, bikinnya pakai apa sih?”