Momen Berkesan di Upacara Hari Kemerdekaan RI ke-73

Meski berada di tengah hutan, kami tetap memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-73. Di halaman SDS Sari Lestari Base Camp km 35, rekan-rekan kerja, guru-guru, sekuriti, anak-anak dan mahasiswa Fakultas Kehutanan UNTAN yang selesai praktek ikut berpartisipasi.

Saat upacara memperingati hari kemerdekaan, hal yang paling berkesan adalah ketika pengibaran sang Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Selalu hati ini larut dalam suasana sakral dan mata pun berkaca-kaca. Saya bisa paham kenapa Susi Susanti menangis di podium ketika meraih medali emas bulutangkis tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 dan melihat bendera Merah Putih dinaikkan diiringi lagu Indonesia Raya.

Saya juga mengerti mengapa anggota paskibraka sampai meneteskan air mata ketika mencium sang Merah Putih pada acara pengukuhannya. Demikian juga ketika  pemain Timnas Sepakbola U16 tak mampu menahan air mata  yang jatuh ketika menyanyikan lagi Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai.

Rasa kebangsaan itu menguat ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ditambah lagi ketika paduan suara anak-anak menyanyikan lagu Tanah Air. Semakin meleleh rasanya di hati. Bahkan beberapa peserta upacara juga terdengar ikut bernyanyi. Spontan.

Dirgahayu Tanah Airku, Indonesia

 

 

Iklan

Tiga Taman di Dekat UNTAN

Awalnya saya dan istri bermaksud jalan-jalan di pagi hari di sekitar Untan. Ada taman di samping Fakultas Teknik yang dibangun oleh Pemkot Pontianak untuk publik. Taman Catur namanya. Dinamakan seperti itu karena salah satu disainnya berupa bidak-bidak catur berukuran besar. Ada juga track buat jogging, tempat papan luncur dan lapangan basket mini. Kalau ingin menikmati fasilitas di taman ini gratis, cuma bayar uang parkir saja.

Jalan kaki ke arah pos polisi di dekat bundaran Untan, saya dan istri berhenti sejenak menikmati taman Arboretum Sylva Untan. Ini taman yang dibuat di mulai dari tepi traffic light sampai di atas pos polisi. Bentuknya seperti jalan layang dan posisinya mendaki. Hanya saja kita gak bisa jalan di taman itu.

Setelah memotret taman itu, perjalanan kami teruskan ke taman Digulis. Taman ini persis berada di tepi bundaran Digulis di sisi Timur. Tempat yang cocok buat duduk-duduk sambil menikmati lalu lintas di bundaran Untan. Tanamannya ditata rapi. Nah, di belakang taman ini ada hutan kota dan jogging track. Ada juga tempat bermain anak-anak.

Jalan-jalan menyusuri jogging track ini baru pertama kali buat saya dan istri. Udaranya segar dan banyak pepohonan. Beberapa jenis tanaman hutan saya lihat di sini seperti meranti, ulin. Hanya saja informasinya masih kurang. Alangkah lebih apabila di tempat ini dibuat semacam denah atau peta yang memuat posisi jogging track, tempat bermain anak-anak, wc/toilet dan dimana saat itu pengunjung berada.

Lebih informatif lagi setiap tanaman hutan diberi papan nama yang menunjukkan jenis tanaman dan bahasa latinnya. Selain pengunjung berekreasi dan berolahraga, juga sekaligus belajar mengenal pepohonan.

Kalau sudah jalan-jalan dan capai dan perut lapar, gak usah khawatir. Di dekat taman Digulis ada kantin yang menyediakan menu sarapan. Jalan-jalan yook ke tiga taman di dekat UNTAN.

Ketika Musim Durian belum Berlalu

Lima orang ibu dari desa Penyuguk sudah berada di depan kantor base camp. Di hadapannya beberapa keranjang yang berisi buah durian. Sebagian keranjang lain sudah berpindah buah duriannya. Dibeli karyawan dan dimakan bareng di teras kantor.

Penyuguk berada di wilayah kecamatan Nanga Ella kabupaten Melawi, Kalbar. Berbatasan dengan desa Tanjung Paku yang sudah masuk kabupaten Seruyan di propinsi Kalteng.

Perjalanan ibu-ibu itu menjual buah durian lebih panjang dan unik daripada tetangganya yang tinggal di Tanjung Paku. Mereka tinggal di Kalbar. Melintas Kalteng untuk menjual durian dan hasil kebun mereka ke Kalbar lagi.

Dari desa, mereka menempuh perjalanan 8 km ke km 77. Ada jalan yang bisa dilewati sepeda motor. Terkadang juga mereka jalan kaki. Sampai di km 77 mereka beristirahat sambil menunggu truk perusahaan yang lewat. Setelah itu mereka menumpang truk menuju base camp selama 1,5-2 jam. Lokasi base camp di wilayah desa Belaban Ella, kecamatan Menukung, kabupaten Melawi.

Ada pilihan lain jika mereka tidak melintasi Kalteng. Tapi rutenya melewati sungai dan memutar untuk sampai base camp. Otomatis waktu dan jarak tempuhnya lebih lama.

Seperti ibu-ibu penjual durian dari Tanjung Paku, mereka lebih suka kalau duriannya diborong.  Dari lima keranjang yang ditawarkan, empat diantaranya sudah terjual. Ada yang diborong, ada juga yang dijual eceran. Jika deal, langsung bayar cash di tempat.

Senang juga lihat teman-teman borong durian. Juga waktu ibu-ibu itu terima uangnya. Dua-duanya kelihatan puas. Karyawan nggak perlu jauh-jauh beli durian. Ibu-ibu itu juga jualannya cepat laku dan gak kelamaan menunggu.

Durian yang Dibarter dengan Beras

Musim durian tahun ini di camp berbeda. Hanya satu desa di dalam dan sekitar camp yang pohon-pohonnya berbuah.

Di Tanjung Paku, desa yang tahun ini pohon duriannya berbuah, banyak warga desa khususnya ibu-ibu dan anak-anak cewek yang biasa jualan durian ke camp.

Menumpang truk perusahaan, mereka datang ke base camp. Bawa keranjang dari rotan atau lanjung berisi durian.

Ketika saya bertemu dua orang ibu pas jam makan siang, keduanya tawarkan buah durian.

Yang bikin saya terkejut, mereka nggak mau dibayar pakai uang tunai. Maunya dibarter beras dua karung. Sekeranjang berisi 10-12 buah durian.

“Wah, kalau beras dua karung saya nggak punya, bu?”

Nggak menyerah, dia masih tawarkan ke ibu-ibu pengurus dapur. Ternyata tukar-menukar barang masih ada juga di jaman now.🙂🙂

Karena ibu itu kekeuh duriannya nggak mau dibeli pakai uang tunai, saya beralih membujuk ibu yang lainnya. 😀

Akhirnya, setelah alot bertransaksi, luluh juga ibu itu. Empat buah durian dia berikan dan selembar lima puluh ribuan saya berikan.

Cafe Kozzi, Cafe yang Cocok buat Keluarga

Kesempatan makan bareng keluarga itu datang ketika buka puasa bersama. Nadia yang kuliah di Jogja lagi liburan di Pontianak.. Dua bulan lamanya. Kembali ke kampus awal Agustus.

Nah, waktu itulah kami sempatkan buat acara buka puasa bersama di luar rumah. Pilihan jatuh ke cafe Kozzy yang  beralamat di jalan Reformasi. Jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Sebelum bukber, saya dan istri reservasi dulu siangnya. Sekalian pesan menu untuk 6 orang.

Saat kami datang, hidangan sudah tersaji. Ada ta’jil yang lengkap. Setelah sholat maghrib baru kami makan malam. Cafe ini memang cocok buat keluarga. Segmen yang ingin diraih adalah orangtua yang datang bersama anak-anaknya.

Suasananya familiar banget, banyak dihiasi tanaman dan hiasan yang bertuliskan kata-kata motivasi. Juga penataan meja makannya spesial. Sedikit tapi berkelas. beda dengan cafe-cafe buat anak muda yang mejanya lebih banyak dan seragam.

Nggak hanya itu bedanya. Cafe-cafe lain biasanya menyediakan wifi. Di sini justru ada pemberitahuan, cafe ini nggak menyediakan wifi supaya masing-masing anggota keluarga bisa berinteraksi dan ngobrol2. Jadi masing-masing nggak sibuk dengan gawainya. Di cafe ini ada juga larangan merokok supaya tamu-tamu lain tetap dapat udara bersih dan segar. Ada juga tulisan yang mengingatkan kita supaya berdoa dulu sebelum makan. Bukan motret dulu ya 🙂

Menu yang kami pilih saat itu nasi goreng kampung dan sup tom yam. Harganya terjangkau. Total kami makan dan minum berenam 154 ribu. Hanya saja di cafe ini agak kesulitan mendapatkan tempat parkir, khususnya buat yang naik mobil. Belum disediakan halaman khusus untuk parkir sehingga kendaraan roda empat berhenti di tepi jalan di deretan ruko di sebelahnya.

So, bagi teman2  yang akan berkunjung ke Pontianak, cafe ini  bisa jadi salah satu alternatif  buat tempat kuliner.

 

3 Tips yang Harus Disiapkan Saat Presentasi Rapat

Setiap bulan saya ditugaskan  mempresentasikan bahan rapat di kantor cabang. Peserta yang hadir dari camp-camp lain, pimpinan bagian di kantor cabang dan utusan dari kantor pusat.

Supaya presentasi berjalan lancar, tentunya materinya harus disiapkan  sebaik-baiknya. Nah, di postingan kali ini, saya akan berbagi tips bagaimana menyiapkan materi presentasi bahan rapat. karena bisa jadi teman – teman juga pernah diminta presentasi. Ada 3 tips yang saya biasa lakukan;

  1. Mengumpulkan bahan rapat.                                                                              Bahan rapat saya terima dari beberapa bagian. Pada awal bulan sekitar tanggal 1 saya sudah mengumpulkan data progres kegiatan. Misalnya berapa produksi kayu bulan sebelumnya, berapa totalnya sampai bulan berjalan. Apa saja unit kendaraan yang rusak, berapa lama rusaknya dan sudah sejauh mana pemenuhan spare partnya. Data-data itu sudah dibuat oleh bagian-bagian terkait dan saya rangkum dalam power point. Jika ada yang mendekati deadline belum menyerahkan datanya, saya tanyakan.
  2. Menginput ke Power Point.                                                                                   Pada saat menggunakan power point, saya memilih latar belakang warna putih dengan tulisan warna gelap. Agar mudah dibaca oleh peserta rapat. Selain itu juga saya hindari menampilkan tulisan yang kecil-kecil dan rapat.
  3. Konsultasi dengan Pimpinan.                                                                              Nah, setelah materi power point selesai saya print out dan konsultasi ke pimpinan camp. Ada beberapa tambahan atau koreksi yang biasanya saya terima saat konsultasi. Jika ada yang belum lengkap, saya perbaiki lagi. Konsultasi ini penting karena kita akan mendapatkan pemikiran yang selaras saat menyampaikannya di ruang rapat.

Nah, itu 3 tips yang biasa saya lakukan sebelum hadir di rapat bulanan dan mempresentasikan bahan rapat. Gimana dengan teman-teman? Ada yang ingin menambahkan?

 

Kreativitas dalam Tugas Kelompok

Pesan lewat WA dari Nadia itu cukup menarik buat saya. Diawali dengan pendahuluan yang diteruskan sebuah pertanyaan,”Kesehatan mental, perlu nggak sih?”

Di bawahnya ada tautan video di youtube untuk mengetahui isinya. Terus ada catatan juga setelah melihat video itu supaya berikan komentar dan saran.

Setelah saya klik tautannya, isinya edukasi tentang apa itu kesehatan mental.

Ada beberapa orang dengan latar belakang mahasiswa/mahasiswi, tentara, turis yang diminta pendapatnya tentang kesehatan mental. Kemudian ada seorang coach sekaligus penulis yang menjelaskan apakah kesehatan mental itu.

Melihat video itu membuat saya tertarik. Ternyata sebuah tema edukasi jika disampaikan dalam bentuk visual (video) lebih menarik dan memicu terjadinya interaksi. Ada belasan orang yang berkomentar dan ratusan yang like. Padahal video itu baru diunggah sehari.

Setelah saya lihat video itu, saya chat dengan Nadia di WA. Ternyata dia dan teman-temannya di Psikologi UNY dapat tugas kelompok membuat materi edukasi kesehatan mental.

Di satu angkatan di bagi tiga kelompok. Ada dua kelompok yang membuat materi dalam bentuk video. Nadia termasuk anggota salah satu kelompok yang jumlahnya 13 orang.

Dia juga tampil di video berdurasi 8 menit itu. Yang saya salut dengan mereka itu ya kreativitasnya untuk membuat tugas kelompok dan mengunggahnya di https://youtu.be/FXwaFBR-5VM

Waktu saya tanya,”Gimana dosennya menilai tugas kelompok itu?”

“Dilihat seberapa dampaknya dan keberlanjutannya, Pa. Apakah sudah menjawab permasalahan. Ini nama programnya psikoedukasi hehe..”jawab Nadia

Kreativitas yang perlu dihargai karena menghadirkan program edukasi dengan memanfaatkan teknologi. Lebih mudah dipahami dan jangkauannya luas.