Bergabung dengan Komunitas Menulis

Semua berawal dari grup WA yang saya ikuti dengan istri. Tentang Parenting. Nama grupnya Smart Islamic Parenting (SIP). Yang diasuh oleh Sri Wahyu Indawati, M.Pd. Yang lebih akrab disapa bunda Iin.

Selain memberikan kuliah WA atau kulWA, di grup itu setiap Minggu ada tugas yang harus dikerjakan oleh para anggotanya. Tugas yang sudah dibuat difoto dan diunggah ke grup. Jika suami istri, tugas tidak harus dibuat per orang tetapi dua orang mengerjakan satu tugas. Hanya kami suami istri yang tergabung di grup tersebut. Yang lainnya ibu-ibu.

Kondisi kami yang berjauhan secara fisik karena saya tugas di Melawi dan istri di Pontianak menjadi tantangan tersendiri saat mengerjakan tugas. Kami harus mencari waktu untuk ngobrol membahas penyelesaian tugas tersebut. Di pagi sampai sore hari kami  sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi tugas-tugas itu baru dapat dikerjakan malam hari. Kami berdiskusi untuk membuat visi  dan misi keluarga, program-program keluarga yang melibatkan anak-anak. Misalnya memberikan kultum setelah sholat Maghrib.

Alhamdulillah sampai dengan minggu keempat, setiap tugas yang diberikan kami dapat kerjakan sesuai tenggat waktunya. Kegiatan mengikuti grup SIP pun usai. Tapi kami masih bergabung di grup tersebut.

Sampai suatu saya menerima pesan WA dari seseorang yang mengajak untuk bergabung di grup “Ssst.. Jangan Ghibah”. Grup yang sebagian anggotanya berasal dari grup SIP. Yang unik ketika itu adminnya, mbak Lelly, mengira saya wanita karena di foto profil yang terlihat foto istri dan anak-anak saya. Foto saya di bagian paling kiri terpotong pada saat diunggah di WA.

Karena terlanjur dimasukkan ke grup yang berisi ibu-ibu dan menyanggupi syarat dan ketentuan yang ada, saya aktif di grup tersebut. Saya menganggap kekeliruan itu adalah kehendak Allah SWT. Bisa jadi ini adalah cara Allah SWT untuk mengenalkan dunia literasi kepada saya. Setelah beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan komunitas penggiat baca Tepian Kapuas, kita saya dikenalkan dengan komunitas menulis.

Di grup ini setiap anggotanya diminta membuat tulisan dengan syarat yang sudah ditentukan. Temanya Jangan Ghibah. Kumpulan tulisan 20 orang penulis pemula itu selanjutnya akan djadikan buku Antologi berjudul Jangan Ghibah. Ini pengalaman pertama saya menulis untuk buku Antologi. Dan alhamdulillah, sebelum tenggat waktu pengiriman naskah tanggal 5 Nopember, tulisan saya sudah selesai dan sudah dikirimkan ke mba Lelly.

 

Sedekah Buku

Alhamdulillah, sebagian buku-buku di rumah akhirnya bisa disumbangkan. Awalnya saya diprotes istri karena koleksi buku-buku di rumah bertumpuk. Rak-rak buku di rumah sudah tidak bisa memuat lagi untuk diisi buku bacaan. Bahkan beberapa buku terpaksa disimpan di kotak kardus. Diletakkan di kamar tidur saya.

Sempat terpikir ingin membuka taman bacaan atau perpustakaan pribadi tapi belum ada kesempatan untuk memilah buku sesuai kategorinya. Juga mencari lokasinya.

Akhirnya ide itu datang juga ketika saya membaca postingan di grup WhatsApp Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kalimantan Barat (KAGAMA KALBAR). Salah satu postingan berisi foto Komunitas Baca Tepi Kapuas. Yang juga tercantum nomor telepon nara hubungnya.

Sebuah komunitas yang digagas untuk menyediakan buku-buku yang dibaca gratis di lokasi tepi sungai Kapuas. Jadwal baca buku gratis seminggu sekali. Setiap Ahad sore. Personilnya para sukarelawan yang tertarik dengan dunia literasi. Salah satunya Agus Kusmawanto yang juga adik angkatan kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Angkatan 2010. Berasal dari Cilacap. Bekerja di Badan Restorasi Gambut (BRG).

Saya hubungi dia dan mengajak bertemu di rumah. Sekalian berkenalan dan saya sampaikan maksud untuk menyumbangkan buku-buku. Untuk komunitas tepian Kapuas. Mumpung saya sedang di Pontianak.

Tanggal 10 Oktober pukul 17.00 kami sepakat bertemu. Dia datang ke rumah bersama temannya, Ibo. Mengendarai dua motor. Setelah sampai rumah, kami pun berkenalan. Saya bawakan koleksi buku-buku yang akan disumbangkan. Sebagian besar berupa novel karangan S. Mara. Gd. Novel yang sudah saya koleksi sejak SMA. Buku lainnya berupa buku manajemen, buku agama dan komik untuk anak-anak.

Saat terdengar suara azan, Agus dan Ibo berpamitan. Juga tidak lupa menawarkan ke saya untuk datang ke lapak baca gratisnya.

Saya salut dengan mereka. Di usia muda sudah punya komitmen mulia. Menjadi sukarelawan. Mengumpulkan buku-buku dan membuka lapak baca gratis untuk warga masyarakat.

Bertemu Lagi Kawan Lama di Camp

Kemarin di tempat kerja, saya menerima tamu seorang wanita. Mahasiswa S2 dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak. Namanya Siti Nurlaila. Sehari-hari bekerja sebagai guru negeri. Rencananya dia akan survei awal penelitian tentang konservasi.

Setelah menemui saya di ruang kerja, saya baru ingat ternyata dia dulu waktu penelitian S1-nya juga di tempat kerja saya. Tidak hanya menyelesaikan skripsinya, dia juga bertemu jodohnya di camp. Nama suaminya Slamet Imam Zarkasyi. Bekerja di bagian yang sama dengan saya pada waktu itu. Di Pembinaan dan Perlindungan Hutan. Di hutan mereka bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah dan memiliki anak, mas Imam, demikian saya biasa memanggilnya memutuskan berhenti kerja dan pindah ke Nanga Pinoh. Di kota itu dia diterima sebagai tenaga sekuriti di Telkom. Sejak itu sampai sekarang dia tinggal di Pinoh bersama keluarganya.

Yang tidak saya duga, ternyata waktu istrinya ke camp, mas Imam juga ikut mendampingi. Alhamdulilah, sempat bertemu di kantor dan bahkan bersama-sama sholat Asar dengan saya dan teman-teman kerja lainnya. Sebuah pertemuan yang menurut saya sudah diatur Allah SWT. Kenapa?

Karena sewaktu saya dari camp transit di Pinoh sebelum berangkat ke Pontianak, belum pernah singgah ke rumahnya. Pernah bertemu sewaktu di jalan atau di terminal bis Sidomulyo.

Demikian juga ketika saya dari Pontianak akan ke camp dan singgah di Pinoh, belum sekali pun datang ke rumahnya. Padahal dia menawarkan supaya saya singgah kalau di Pinoh.

Sebuah pertemuan yang tak terduga dan mengesankan. Sekaligus reuni dengan teman lama di camp.

Mas Slamet Imam Zarkasyi berdiri paling kiri

 

Menikmati Mie Ciplak di Pontianak

Ada beberapa makanan khas yang berbahan dasar mie di Pontianak. Seperti kwee tiau atau biasa disebut mie tiau. Ada juga mie kering Haji Aman. Asalnya dari Singkawang tetapi sudah buka cabang di jalan Karya Baru Pontianak. Satu lagi mie Ciplak.

Mie tiau dan mie kering Haji Aman saya dan istri sudah pernah menikmati hidangannya. Bahkan untuk mie tiau, istri di rumah juga biasa memasak sendiri. Istri saya sudah pernah beli mie Ciplak dan dimakan di rumah. Saya belum pernah.

Sewaktu di Pontianak, saya sempatkan berdua dengan istri ke warungnya.

Lokasinya di jalan Johar. Kalau dari arah SMPN 1 Pontianak sebelah kanan jalan.  Selain mie Ciplak, di warung itu kita juga bisa hidangan khas Jawa seperti nasi pecel, mie rebus, mie goreng, lontong sayur, gado-gado dan nasi rawon.

Satu porsi mie Ciplak harganya 20 ribu rupiah. Gado-gado 18 ribu rupiah. Istri saya pesan mie Ciplak dan saya pesan gado-gado. Yang khas di dalam mie Ciplak itu mie putih gepeng yang biasa juga untuk mie tiau. Campurannya potongan keripik paru, tahu, telur, sawi dan tauge.

Waktu kami ke sana sekitar jam 12 siang. Hampir semua kursi terisi karena waktunya jam makan.

Setelah merasakan enaknya makan gado-gado, di lain waktu ingin datang lagi untuk mencoba menu yang lainnya 🙂

Beli Tiket Bis DAMRI Sudah Bisa Online

Setiap bulan, saya rutin bepergian Nanga Pinoh – Pontianak  PP naik bis antar kota dalam propinsi. Biasanya kalau mau beli tiket harus telpon dulu ke agen bisnya. Atau ketik lewat nomor nara hubung di WhatsApp (WA).

Setelah itu, infokan tujuannya mau ke mana, kapan mau berangkat, untuk berapa orang dan pesan nomor kursinya. Dua atau tiga hari sebelum berangkat, saya harus datang ke kantor agennya untuk membayar sekaligus mengambil tiketnya. Agak repot.

Tapi kini urusan beli tiket jadi lebih mudah. Khusus kalau bepergian naik bis DAMRI. Sudah ada aplikasi DAMRI apps yang bisa diunduh di play store. Di aplikasi itu kita bisa beli tiket elektronik bis seperti beli tiket elektronik kereta api atau pesawat.

Dengan harga yang sama dengan kalau kita beli tiket tunai. Bahkan kita bisa pilih jenis bis dan nomor kursinya. Untuk jurusan Pontianak – Pinoh PP ada tiga jenis bis DAMRI. Eksekutif, Royal dan Limusin.

Semua rute bis DAMRI termasuk bis DAMRI bandara juga bisa kita beli tiketnya lewat aplikasi itu. Praktis. Menghemat waktu dan kertas. Tidak perlu datang ambil tiket di kantor atau agen dan tidak perlu lagi harus mencetak tiket.

Beli tiket elektronik bis DAMRI tidak hanya di DAMRI Apps. Di Traveloka juga bisa. Bedanya adalah kita harus bayar tambahan biaya administrasi.

 

Hujan di Akhir September

Alhamdulillah.

Hujan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya turun juga. Di akhir September. Hujan yang mampu menghilangkan kabut asap. Yang sebulan ini melanda wilayah Kalimantan. Tak terkecuali di camp. Sebagian karyawan bekerja menggunakan masker yang dibagikan pihak perusahaan. Termasuk ketika berangkat dan pulang kerja. Udara terasa pengap.

Bangunan camp masih terlihat jelas ketika terjadi kabut asap. Namun kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya tajuk pohonnya terlihat putih tertutup kabut asap.

Kini pemandangannya berbeda. Pohon-pohon yang terlihat putih terselubungi asap perlahan  menghijau lagi. Debu-debu tebal di jalanan yang beterbangan ketika kendaraan melintas tak ada lagi. Karyawan pun tak perlu lagi menyiram jalanan di depan mess supaya basah. Udara kering dan panas berubah menjadi sejuk dan segar.

Semoga ini menjadi akhir musim kemarau di tahun ini. Dan pertanda musim hujan telah tiba.

Sudah Ada Warung Bakso di Camp

Keinginan saya akhirnya terkabul. Bahwa suatu saat ada yang jualan bakso di camp. Meski harus menempuh perjalanan 45 menit dari km 35 ke logpond, rasanya puas bisa nikmatin enaknya makan bakso di warung bakso barokah.

Warung bakso yang menyediakan macam-macam bakso. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso beranak, bakso lava dan juga mie ayam. Minumannya juga ada es kopyor dan es kelapa muda campur susu.

Biasanya kalau ada teman yang pergi ke arah logpond atau sebaliknya yang dari Pinoh atau Pontianak, singgah dulu di buat ngebakso. Ada juga yang bawakan oleh-oleh buat koleganya. Juga ada yang nitip ke driver dari teman-teman yang tugasnya di kantor.

Baksonya memang enak. Kalau kita ke warungnya bisa makan sambil lesehan. Yang jualan suami istri  warga desa di sekitar perusahaan. Menyediakan menu yang selama ini dirindukan karyawan perusahaan. Yang kalau ingin makan bakso harus pergi ke Nanga Pinoh, Sintang  atau Pontianak. 🙂