Buah Tangan dari Kampung Halaman

Jpeg

Ada satu kebiasaan menarik yang dilakukan teman-teman kerja saat pulang kampung. Setelah kembali ke kantor mereka biasanya bawa oleh-oleh. Seperti yang dilakukan dua teman yang baru saja pulang kampung dari Lamongan Jawa Timur. Saat saya masuk kantor, sudah ada teman yang menawarkan oleh-oleh wingko babat di meja kerjanya.

Saya juga kalau pulang ke Jogja dan Semarang berusaha untuk bawakan makanan khas untuk mereka. Cemilan seperti bakpia, yangko, krasikan biasanya usahakan bawa untuk oleh-oleh. Jadi nggak hanya untuk keluarga di Pontianak saja oleh-olehnya. Demikian juga dengan teman-teman yang berasal dari daerah lain. Oleh-oleh khas daerahnya juga dibawa dan diberikan ke teman-teman kerja di camp

Teman-teman yang bekerja di camp asalnya memang dari berbagai daerah. Selain dari wilayah Kalbar (Melawi, Sintang, Sanggau, Pontianak, Kubu Raya, Landak, Bengkayang dan Sambas) dan Kalteng (Seruyan, Katingan), beberapa karyawan juga berasal dari luar Kalimantan. Ada yang dari Bengkulu, Malang, Jogja, Tasikmalaya, Purworejo dan daerah-daerah lain dari penjuru nusantara.

Sebuah kebiasaan yang baik, karena selain berbagi rejeki dengan teman-teman lain juga sekaligus mengenalkan produk-produk khas dari daerah asalnya. Kalau ada yang jeli melihat peluang usaha, bisa saja kebiasaan itu dijadikan bisnis untuk memperluas pemasaran hasil usaha  di daerahnya.

Berubah Sikap Setelah ke Tanah Suci

Jpeg

Ada sikap yang berbeda yang saya amati dari salah seorang teman kerja. Sejak pulang dari tanah suci dia sering sholat berjamaah di masjid. Datang di awal waktu dengan berjalan kaki saat shubuh dan isya, menghidupkan lampu di dalam masjid, mengumandangkan azan dan sholat sunnah terlebih dulu.

Terkadang dia juga menjadi imam sholat. Biasanya saat ke Pinoh atau tugas ke lapangan dia tidak hadir di mesjid. Padahal sebelumnya jarang sekali dia sholat berjamaah selain sholat Jumat dan sholat Hari Raya. Apa yang menyebabkan dia berubah?

Bisa jadi kepergiannya ke tanah suci bulan Agustus lalu telah mengubah dirinya. Hidayah dari Allah telah memperbaharui sikap dan tindakannya. Ibadah haji selama empat puluh hari telah membentuk kebiasaannya untuk berusaha sholat berjamaah di masjid. Spirit itu ternyata juga berimbas kepada teman-teman kerja lainnya. Yang sebelumnya jarang sholat berjamaah di masjid, sekarang saat maghrib, isya atau subuh mulai terlihat. Meski untuk menuju masjid mereka harus turun naik tangga.

Benar bahwa teman pergaulan sangat berpengaruh terhadap diri kita. Seperti yang dikatakan kanjeng Nabi Muhammad SAW,

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Sumber: http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

Suasana KEAKRABAN Saat Menengok Teman

Jpeg

“Mobilnya yang mau antar ke logpond sudah siap, pak?kata staf bagian HRD kemarin sore.

“Ya, nanti berangkatnya habis jam empat”jawab saya. Selesai jam kerja, kami bertujuh bergegas pulang ke mess. Mandi dan ganti baju, terus siap-siap ke kampung Nuak. Menengok teman yang sakit. Dua mobil mengantar sampai logpond, setelah itu naik dua speed boat sekitar 15 menit.

Sekitar jam 17.30, pas terdengar azan maghrib kami sampai di tepi kampung. Sebelum ke rumahnya, kami sempatkan dulu sholat magharib berjamaah di masjid yang letaknya di depan rumah teman tersebut

Bukan pertama kali kami datang ke kampung tersebut. Saya pernah sholat Jumat di masjid itu sekitar tahun 2000-an. Beberapa teman juga beberapa kali datang saat liburan atau ada undangan. Jadi nggak heran ketika beberapa jamaah masjid ada yang kenal dan gak kaget melihat kami datang malam-malam.

Jpeg

Sesampainya di rumah, kami melihat teman yang sakit tersebut duduk di atas kasur yang diletakkan di ruang keluarga. Nampaknya dia dan anggota keluarganya sudah menyiapkan saat kami berkunjung. Sebelumnya salah satu teman memang memberitahukan mau datang, supaya nanti saat datang bisa ketemu. Kalau tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan, khawatirnya tuan rumah tidak ada di tempat karena sedang berobat.

Ternyata saat kami berkunjung, tidak hanya makanan kecil yang disiapkan. Hidangan makan malam disajikan pihak keluarga. Nasi hangat, sayur ikan patin asam pedas, rendang dan kerupuk kami nikmati. Suasana kekeluargaan yang khas di kampung begitu terasa.

Menurut informasi dari keluarganya, setelah dirawat di rumah sakit di Pontianak sekitar dua bulan, teman tersebut akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Menurut dokter, hasil cek laboratorium, belum diketahui apa penyakitnya. Yang kami lihat lengan kanannya digips dan diperban. Saat kami datang, dia membuka balutan perbannya dan telapak tangannya nampak dipasang pen. Bagian jempol kakinya juga terlihat bengkak.

Teman yang sakit tersebut bekerja di bengkel Trailler Truck dan dia bilang mungkin dia nggak bisa lagi kerja seperti dulu. Salah seorang teman yang duduk mengingatkan agar nggak usah mikir pekerjaan. Yang penting berobat sampai sembuh dulu. Ada teman kerja yang lainnya yang bisa mengerjakan tugasnya. Kami mengiyakan dan memberi semangat supaya dia sembuh dari sakitnya. “Nggak ada penyakit yang nggak ada obatnya. Berdoa dan minta sama Allah agar disembuhkan”kata teman lainnya.

Saat kami asyik ngobrol, azan Isya terdengar. Satu persatu bersiap menuju tempat wudhu untuk sholat Isya berjamaah. Selesai sholat, kami pun berpamitan. Doa sebelum pulang untuk kesembuhan dan perlindungan dilantunkan salah seorang teman yang menjadi ketua pengurus masjid di camp.

Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan dan mengangkat penyakit pak Mahyudin. Aamiin yaa Robbal Aalamiin

Menikmati Kerupuk Basah Titipan dari Istri

Jpeg

Kerupuk basah

Jpeg

Kerupuk basah dan kentang dikukus

Jpeg

Irisan kerupuk basah, kentang dan tomat

Jpeg

Dilumuri sabel kacang pedas dan siap disantap

Setiap kali mau pulang ke camp, istri selalu nanya saya mau dibawain makanan apa. Biasanya dia yang nawarkan, apa mau bawa kue, batagor atau kerupuk basah. Kali ini saya pilih yang ketiga. Ada temannya yang jualan kerupuk basah. Waktu pertama kali dengar namanya, saya kira makanan ini seperti kerupuk yang renyah dan kriuk-kriuk dan makannya dicocol ke sambel. Ternyata dugaan saya salah.

Makanan ini terbuat dari campuran tepung dan ikan tengiri. Bentuknya silinder dan enaknya dimakan waktu hangat. Pasangannya kuah sambel kacang pedas yang dituangkan ke potongan kerupuk basah.

Waktu di camp, kerupuk basah saya bikin variasi dengan potongan kentang dan tomat. Kerupuk basah dan kentang direbus, diangkat ke piring dan dipotong-potong. Nggak lupa ditambahi dengan irisan tomat. Setelah itu dituangkan kuah sambal kacangnya. Kalau ada telur rebus dan kol, tampilannya hampir mirip dengan siomay. Rasanya mantaap…

Setelah makan menu kerupuk basah campur kentang dan tomat ini rasa kenyangnya tahan lama. Jadi kalau siang makan dengan menu seperti itu, jam 6-7 malam perut masih terasa kenyang.

Sempatkan Belanja ke Pasar Flamboyan

Biasanya waktu di Pontianak dan sebelum kembali ke camp, saya sempatkan belanja ke pasar Flamboyan. Berdua sama istri, kadang-kadang juga sendiri. Beli jagung manis, wortel, tomat dan kentang. Juga cemilan kue semprong dan minuman instan seperti jahe wangi, kopi susu atau sereal. Karena belanja sendiri jadi tau harganya. Lebih murah daripada kalau beli di supermarket atau toko dekat rumah.

Proses jual beli juga saya sukai. Ada obrolan yang terkadang menyentuh hati. Seperti ketika saya beli jagung manis. Saya tanya berapa harga sebiji jagung manis, ibu yang jualan bilang dua ribu. Waktu saya beli sepuluh biji terus ditambahi sebiji.

Beli barang yang ditimbang juga saya nikmati. Seperti waktu beli kentang, wortel dan tomat. Setelah memilih barang, ditimbang oleh pedagang, ada kalanya timbangannya kurang, terus saya disuruh ambil lagi tomatnya. Baru saya bayar sesuai harganya perkilo.

Selain beli sayur dan buah, saya ke pasar juga sering beli cemilan. Biasanya saya dan istri beli makanan khas jawa seperti getuk. Beberapa hari lalu saya nggak ketemu bapak yang jual getuk. Waktu ada seorang ibu yang berdiri menawarkan kue semprong di dekat pintu masuk, saya tertarik untuk beli kuenya. Saya dekati dan tanya berapa harganya. Dua plastik harganya lima ribu rupiah. Saya beli enam plastik. Senang rasanya ketika saya mau beli, ada ibu lain datang dan juga beli satu pastik ukuran besar. Semoga jualannya laris ya, bu..

Kesibukan di pasar Flamboyan sama seperti pasar-pasar tradisional lain. Pagi-pagi sudah ramai oleh penjual dan pembeli. Kalau saya berangkat dari Pinoh jam 7 malam naik bis dan sampai Pontianak jam 4 pagi, saya sering melihat kesibukan di sekitar pasar Flamboyan. Sambil dibonceng naik ojek, saya lihat berbagai sayuran segar dan buah di lapak-lapak tepi jalan Pahlawan. Mobil dan motor juga terlihat memenuhi tepi jalan Gadjah Mada yang dijadikan tempat parkir sementara.

Pernah juga berpapasan dengan tetangga yang naik motor pulang dari kulakan sayur, bahan makanan  dan kue-kue.

Semuanya berkesan saat belanja di pasar tradisional, apalagi setelah pasar Flamboyan direnovasi. Luas tempatnya, bisa beli sayuran dan buah segar yang harganya lebih murah, juga dengar tegur sapa pedagangnya.

Sebuah Lagu yang Membangkitkan Jiwa Kebangsaan

Lagu ini sering saya dengarkan karena isinya membikin saya bangga dengan Indonesia. Lagu Tanah Airku ciptaan ibu Sud yang sudah saya nyanyikan sejak SD dan sampai sekarang masih populer. Meski lagu lama, tapi iramanya juga masih enak didengarkan.

Sewaktu saya lihat lagu ini di YouTube, saya bayangkan betapa saudara-saudara kita yang berada di manca negara begitu rindu dengan nusantara. Kangen dengan kampung halamannya, budayanya, kulinernya, pemandangannya dan suasana keakraban khas negeri tercinta. Begitu rindunya saudara-saudara kita di Hamburg, Jerman, sampai-sampai mereka menyanyikan lagu ini dengan iringan angklung, mengenakan baju batik dan latar belakang tarian daerah.

Saya pernah punya gagasan, alangkah indah dan menyentuh hati jika lagu ini diputar di dalam pesawat Garuda Indonesia saat menjalani rute dari luar negeri ke Indonesia. Saat terbang dari negara eropa ke Jakarta atau dari Australia ke Denpasar.

Saat ini maskapai milik pemerintah itu sudah menyajikan pelayanan yang khas nusantara, mulai dari seragam pramugarinya, menu makanannya dan senyum keramahannya. Ditambah dengan memutar lagu Tanah Airku, lengkap sudah suasana Indonesia  di dalam pesawatnya.

Tanpa sadar, rasa kebangsaan dan kebanggaan saya akan nusantara muncul kembali setelah mendengar lagu ini.

Mencari Anak Keriang untuk Umpan Anak Ayam

Dua hari ini, ada kegiatan baru di pagi hari yang saya kerjakan. Mencari anak keriang untuk makanan anak ayam. Setelah sholat subuh berjamaah di masjid, saya sempatkan mencari keriang-keriang muda yang hinggap di kasa ventilasi masjid. Keriang, tonggeret atau garengpung. Sejenis serangga yang biasanya mendekati lampu yang menyala dan memiliki suara melengking saat menjelang senja.

Tadi pagi empat anak keriang berhasil saya tangkap. Beda ketika kemarin beberapa kali gagal menangkap dan baru dapat setelah dibantu kawan yang sering jadi imam masjid. Caranya pakai sapu yang didekatkan ke serangga itu, dapat tiga ekor dan seekor belalang daun. Setelah itu saya masukkan kantong plastik dan saya bawa pulang ke mess.

Istirahat sebentar di kamar dan minum air putih hangat, setelah itu saya turun ke kandang ayam. Induk dan anak-anaknya mendekat begitu saya panggil dengan suara kur…kurrr….kurr… Sepertinya mereka tahu akan dapat makanan lezat di pagi itu.

Satu persatu anak keriang saya keluarkan dan sodorkan ke induk ayam…. Haaap, langsung disambar induk ayam yang jinak… Kemudian dia letakkan di tanah dan di patuk-patuk. Belum sampai dia memakan, datanglah satu per satu anaknya dan satu hal yang bikin saya terdiam. Ketika satu anaknya merebut anak keriang yang sudah nggak berdaya itu, induknya mengalah.

Demikian juga ketika anak keriang kedua, ketiga sampai keempat saya sodorkan ke induknya. Disambar terus dipatuk-patuk di tanah dan ketika anaknya yang lain datang, direlakannya anak keriang itu dilarikan anak-anaknya. Saya kira dia akan memakan anak keriang berikutnya bulat-bulat. Ternyata tidak, dia hanya makan sisa-sisa anggota badan anak keriang. Setelah anak-anaknya lebih dulu memakan serangga itu.

Luar biasa. Naluri seekor induk ayam untuk mengalah dan memberikan makanan bagi anak-anaknya…