Tes Darah

Beberapa hari ini kepala saya terasa agak pusing. Berbeda rasanya dengan hari-hari sebelumnya. Akhirnya saya putuskan tes darah di klinik. Saya curiga kolesterol saya naik. Dua hari lalu, saya pun cek tekanan darah. Juga cek sampel darah untuk mengetahui kadar gula darah, kadar asam urat dan kadar kolesterol.

Setelah dicek, tekanan darah masih normal: 110/70 mmHg, asam urat 4,7mg/dL dan gula darah 122 mg/dL. Nah, yang di atas normal perkiraan saya betul, kolesterolnya tinggi sampai 321 mg/dL. Saya pun diberi obat yang diminum sehari sekali setelah makan malam.

Untuk mengurangi kolesterol yang tinggi, saya pun sementara pantang makan kuning telur, kurangi makanan yang digoreng. Sebagai penggantinya saya masak sayur bening sawi. Juga bikin jus wortel, minum kopi merah (Red Kofiie) sehari sekali. Sekali minum kopi merah takarannya setengah sachet diseduh dengan air hangat.

Setiap hari jalan kaki tetap saya jalankan. Juga olahraga badminton sepekan 2 kali.

”Sebulan lagi cek darah ya pak, untuk tahu kondisinya”kata perawat di klinik mengingatkan saya ketika selesai cek darah.

Eat better, Move more, Manage Stress

Sabtu lalu (9/10) saya hadir di webinar berjudul Deteksi Dini Penyakit Jantung Koroner. Diadakan oleh KAGAMA. Ada dua pembicara yaitu dr. Vita Yanti, Ph.D dan Dr. dr Emmy.

Dari webinar tersebut saya mendapatkan wawasan, bahwa penyakit jantung koroner tidak hanya karena pola makan yang tidak tepat dan perilaku sedentary alias malas gerak. Namun juga disebabkan ketidakmampuan seseorang mengelola stress yang dihadapi.

Hal lain yang penting diketahui adalah resiko penyakit jantung koroner tidak hanya terjadi pada orang dewasa yang berumur di atas 50 tahun. Namun sudah terjadi juga pada usia 30 tahunan.

Artinya, penyakit jantung koroner ini meskipun tidak menular namun perlu diwaspadai sejak usia muda. Oleh karena terkait dengan pola makan dan kebiasaan aktivitas fisik sehari hari.

Kalau Udah Rezeki Nggak Akan Tertukar

Tanggal 1 Oktober lalu saya antar tamu dari camp ke Nanga Pinoh. Berangkat dari camp jam setengah enam pagi. Cuaca waktu itu hujan. Ada lima tamu. Dua dari Jakarta dan tiga dari Pontianak. Dua orang dari camp ikut juga. Ada dua mobil yang digunakan dengan driver dari camp.

Hampir di sepanjang jalan cuaca hujan. Ketika mobil sampai di daerah Kebebu, mobil yang saya tumpangi pecah ban sebelah kanan belakang. Mobil pun berjalan pelan mencari lokasi yang datar untuk ganti ban. Akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah yang bagian depannya dijadikan lapak. Kami semua turun dari mobil dan berteduh di depan rumah.

Ada satu orang ibu dan anaknya yang waktu itu ada di situ. Dia mempersilahkan kami duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Ibu itu mengelap bagian bangku yang basah. Dua orang driver masih sibuk mengganti ban yang pecah. Cuaca masih hujan. Untung dari camp saya bawa payung dan dipakai salah satu driver.

Ketika menunggu itulah, kami ngobrol dengan ibu yang ternyata asalnya dari Karawang, Jawa Barat. Dia baru saja panen semangka dan ditaruh di atas lapak dan ditutupi terpal plastik. Musik dari flash disk khas sunda terdengar merdu. Teman dari Pontianak begitu tahu ada buah semangka langsung beli dan dihadiahkan buat dua driver. “Ini buat ongkos ganti ban”katanya. Dua karung beras berisi semangka pun berpindah ke bagasi mobil.

Semua terjadi sudah diatur Allah. Begitu kami ngobrol dalam perjalanan lanjutan ke Nanga Pinoh. Betul sekali. Menurut kita pecah ban itu kebetulan. Tapi semua sudah dalam rencana Allah untuk memberikan rezeki bagi ibu itu dan dua orang driver. Mengapa pecah bannya tidak waktu di logpond atau di Nanga Pinoh? Mengapa terjadi di daerah Kebebu dan dekat dengan rumah ibu itu? Itulah rahasia rezeki dari Allah SWT.

YNWA

YNWA

Waktu melijtas di depan pendopo gubernur, ada poster yang tulisannya bikin saya penasaran.YNWA. Sebelumnya, saya sama Dienna Eka janjian mau ketemu bu Nurhayati Naim yang bawakan pesanan 1 box Propolis Ashiha .Janjian ketemu di auditorum Untan.

Ingatan saya langsung ke klub sepak bola asal Inggris, Liverpool. Dalam hati saya bertanya, “Apa klub ini punya banyak penggemar ya di Kalbar? Kok ada tulisan YNWA”

Sebagai fans Liverpool FC, saya nggak asing dengan singkatan ini. YNWA..You’re Not Walking Alone. Judul lagu kebangsaan Liverpool FC Saya pun pelankan kendaraan.. Eh, ternyata NYWA itu singkatan dari You’re Nothing Without Allah.

Kalau direnungi betul juga isi poster itu. Kamu nggak ada apa-apanya tanpa Allah. Nggak ada daya dan upaya melainkan dari Allah. Meski kita pintar, punya ilmu, kemamouan dan relasi kalau Allah nggak ijinkan ya lewat deh. Jangan hanya mengandalkan kemampuan kita. Hadza Min Fadhil Robbi. Semua karunia dari Allah

Iuran Keluarga

Salah satu kegiatan rutin saya di awal bulan adalah bayar iuran keluarga. Nilainya 150 ribu per bulan. Kalau saya di rumah, uangnya saya serahkan ke istri. Kalau di luar kota saya transfer ke rekeningnya.

Kurang lebih tiga tahun ini dia diminta adik-adiknya simpan uang iuran keluarga. Sebelumnya adik di Kroya yang simpan dan catat pembukuannya.

Ide iuran keluarga ini muncul sekitar enam. tahun lalu. Biasanya kalau lebaran Idul Fitri, keluarga pihak istri, lima bersaudara, pulang ke rumah bapak ibu di Jogja.

Acara lebaran biasanya setelah sholat Ied dilanjutkan sungkeman, makan bersama dan jalan-jalan ke tempat wisata. Saat itulah terpikir adakan iuran keluarga. Awalnya iuran 100 ribu per bulan per keluarga ditambah eyangnya. Ada 6 keluarga. Berarti 600 ribu per bulan. 7,2 juta setahun. Lumayan juga ya jumlahnya. Bayarnya ada yang per bulan. Ada juga yang sekaligus bayar setahun.

Sejak tiga tahun ini iurannya dinaikkan jadi 150 ribu per keluarga. Nah, dari uang kas itu dipakai buat beli hidangan lebaran dan berwisata. Bagi keluarga yang nggak bisa mudik diberikan cash back. Sudah dua tahun ini sejak wabah covid19, kami belum bisa lebaran Idul Fitri lagi dan berkumpul bersama.

Terus gimana dengan saldo kas iuran keluarga? Digunakan buat apa? Sesuai kesepakatan, sebagian tetap digunakan untuk membeli hidangan lebaran. Buat yang berlebaran di Jogja. Sebagian lagi digunakan untuk bantuan pengobatan yang sakit dan angpau buat anak-anak.

Dalam kondisi seperti saat ini, begitu berarti punya iuran keluarga. Minimal kita bisa bantu anggota keluarga yang memerlukan.

Selamat pagi teman-teman. Semoga manfaat dan salam sehat penuh keberkahan.

Pengurangan Karyawan itu Akhirnya Terjadi Juga

Selama saya bekerja 25 tahun di perusahaan, tahun inilah mengalami apa yang disebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Teman-teman yang jumlahnya seratusan orang lebih harus menerima pilihan diberhentikan, karena kondisi perusahaan yang dua tahun berturut-turut mengalami kerugian. Da total karyawan delapan ratusan, sekitar 20 % terpaksa di-PHK.

Alhamdulillah, saya melihat karyawan menerima keputusan itu apalagi pesangon mereka langsung dibayarkan tak lama setelah mereka manandatangani surat keterangan berhenti. Perusahaan telah menyiapkan dana untuk membayar pesangon karyawan sesuai ketentuan pemerintah. Pesangon yang mereka terima kan lebih lebih besar apabila mereka ketika PHK memasuki usia pensiun 56 tahun sesuai yang ditetapkan perusahaan.

Semoga teman-teman yang telah bekerja belasan bahkan puluhan tahun lebih sukses lagi di tempat yang baru.

Hari ke-14 Ramadhan

Hari ini memasuki hari ke-14 puasa Ramadhan. Sudah separuh kita lewati bulan penuh berkah ini. Semoga kita masih tetap sehat dan lancar menjalankan aktivitas.

Ramadhan sampai dengan hari ke-14 ini saya masih di camp. Insyaa Allah ke Pontianak minggu depan. Seminggu sebelum lebaran idul fitri.

Waktu puasa Ramadhan di camp, berbuka puasanya saya kadang-kadang di rumah, lebih seringnya di masjid. Kalau di rumah kudapannya lebih sedikit, sendiri, juga waktunya mepet antara buka puasa dengan sholat maghrib. Sementara kalau di masjid, lebih variasi hidangannya. Macam-macam kue, gorengan, kurma. Minumannya air mineral, sirup campur susu. Sebagian disediakan oleh masjid, sebagian lagi dibikin emak-emak yang dapat jadwal sediakan takjil dan sebagian lagi dari donatur pribadi.

Buka puasa di masjid lebih ramai karena bertemu dengan teman-teman kerja juga anak-anak karyawan. Biasanya hidangannya berlebih. Sebagian dibagikan ke anak-anak, sebagian lagi disimpan untuk dinikmati selepas sholat maghrib dan sholat tarawih.

Alhamdulillah, nikmat rasanya buka puasa bareng di masjid.

Kerjasama Siapkan Kudapan Buka Puasa

Sejak hari pertama puasa Ramadhan, karyawan dan keluarganya di camp sudah mulai sibuk bikin kudapan buka puasa bersama. Emak-emaknya kebagian tugas bikin macam-macam kue dan gorengan. Bapak-bapaknya yang ngantar ke masjid dan menghidangkan.

Dananya ada yang dari kas masjid. Ada dari donatur pribadi bapak-bapak. Ada juga dari emak-emak yang kebagian jadwal bikin ta’jil.

Biasanya di masjid sore sekitar jam 5 jamaah sudah berdatangan. Termasuk anak-anak juga. Bapak-bapaknya mengatur hidangan makanan ringan dan minuman. Ada juga yang datang, berdoa memanfaatkan waktu menjelang maghrib.

Setelah buka puasa bersama, dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu, sebagian ada yang masih di masjid menunggu waktu Isya. Sebagian lagi pulang ke mess untuk makan malam. Saya kadang-kadang pulang, kadang-kadang juga tetap di masjid.

Ketika sholat Isya dan Tarawih, imamnya bergantian antar karyawan. Sudah terjadwal. Alhamdulillah. Ramadhan penuh berkah di hutan.

Satu Pintu Tertutup, Pintu Lain Terbuka

Imbas pandemi Covid-19 terjadi juga di tempat kerja saya. Meski kegiatan operasional tetap berjalan, namun selama setahun ini tidak ada lagi training, sosialisasi secara tatap muka. Bahkan rapat bulanan pun yang biasanya rutin diadakan di Pontianak ditiadakan.

Untungnya di camp ada sinyal internet. Hanya satu operator dan saat ini sudah diupgrade menjadi 4G. Akses internet 4G ini yang jadi penyelamat ketika rapat, training dan sosialisasi tatap muka tidak bisa dilakukan. Sejak pandemi, agenda tersebut secara daring yang diadakan Kementerian LHK, Asosiasi, Lembaga Sertifikasi justru makin sering.

Setiap ada peraturan baru dari Kementerian, sering diadakan sosialisasi menggunakan aplikasi zoom meeting. Frekuensinya bisa 2 kali sebulan. Dulu, untuk mengikuti sosialisasi harus terbang ke Palangkaraya atau perjalanan darat ke Pontianak. Perlu dana untuk akomodasi, tiket pesawat dan konsumsi. Pesertanya pun dibatasi. Sekarang cukup duduk di ruang meeting kantor dan menyimak presentasi dari nara sumber. Peserta bisa lebih banyak. Bahkan sertifikat mengikuti sosialisasi dikirimkan via email. Semua serba simpel.

Satu hal yang menjadi kunci. Kelancaran akses internet. Pernah kami mengikuti sosialisasi tidak sampai selesai karena gangguan sinyal internet. Jadwal acaranya dari jam 9 – 12 WIB. Jam 11 koneksi internet mengalami gangguan. Terputus dari zoom meeting dan belum bisa join lagi.

Staf HRD sudah berusaha mencoba beberapa kali supaya koneksi internet tersambung, namun belum berhasil. Akhirnya kami putuskan nggak mengikuti sampai selesai. Jika sinyal internet lancar, selain mengikuti di ruang rapat pakai laptop, beberapa teman juga mengikuti di tempat kerja masing-masing pakai ponsel. Lebih fleksibel.

Setiap kondisi yang terjadi pasti ada hikmahnya. Demikian juga pandemi covid-19 ini. Ketika pintu-pintu pertemuan tatap muka tertutup, di saat yang sama terbuka lebar pintu-pintu pertemuan secara remote atau daring.

Perjalanan Sebuah Paket

“Mau dikirim apa, mas?”tanya istri

“Kalau bisa frozen food sama buah-buahan”jawab saya

Istri pun belanja. Beli buah naga, nugget, hekeng, bawang goreng, saos kecap dll. Dikemas kemudian dikirimkan ke camp. Perjalanan paket makanan pun dimulai. Paket dibawa ke kantor DAMRI di jalan Pahlawan. Biaya pengiriman ke Nanga Pinoh 25 ribu. Sehari sampainya. Biasanya diangkut mobil box yang berangkat malam hari dari Pontianak. Sampai Pinoh pagi atau siang hari.

Setelah istri foto paket makanan dan resinya, dia WA kan ke saya. Biasanya saya minta tolong bang Nurdin, supir mobil rental Dua Putri. Rumah dan warungnya di logpond. Sewaktu saya telpon, dia ada di Pinoh. Alhamdulillah. Saya infokan nomor resinya.

Sore hari saya telpon dia, belum bisa tersambung. Nggak lama kemudian dia telpon balik dan bilang kalau paket sudah diambil dan dititipkan ke Tukiman, sopir Logging Trailler.

Pagi hari saya dapat telpon dari sekuriti di portal km 34 ada titipan paket buat saya. Saya baru tahu, paket tersebut dititipkan supir Logging Trailler malam hari. Setelah itu dia lanjutkan perjalanan ke tempat kerja.

Bergegas saya hubungi bagian HRD minta kendaraan dan supir kantor untuk ambil paket tersebut. Sampai di portal sekuriti dengan ramah menyerahkan paket ke saya.

Begitulah perjalanan pengiriman paket dari Pontianak ke camp. Ada beberapa rute yang dilalui. Ada beberapa orang yang membantu hingga paket itu sampai di tangan saya.

Semoga Allah membalas semua kebaikan dan memudahkan urusan para pembawa paket tersebut.