Indahnya Wisata di Alamanda Jogja Flower Garden

Hari pertama lebaran di Jogja full untuk acara keluarga besar. Sholat Idul Fitri di Kampus UNY Karangmalang. Pulangnya sungkeman di rumah. Juga foto-foto.

Hari kedua lebaran buat wisata. Tujuan pertama ke wisata bunga dan taman. Berenam kami menuju Alamanda Jogja Flower Garden. Di kecamatan Turi. Lokasinya dekat dengan SMA Negeri 1 Turi. Dari rumah di daerah Pringwulung Mrican sekitar 3o menit.

Tiket masuknya 15 ribu per orang. Setelah itu kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Menikmati taman yang terawat, bersih dan asri. Yang hobinya foto-foto dan suka posting di medsos, pasti senang datang ke tempat ini. Banyak spot yang bagus buat motret. Saya pun awalnya tertarik datang ke tempat ini ya setelah browsing di internet. Lihat gambarnya, amati rutenya dan baca postingannya. Setelah infonya lengkap, baru datangi tempatnya.

Yang kepingin  banget ke tempat ini ya Aysha. Anak kedua kami. Rencana awalnya ingin wisata taman yang ada di daerah Kaliurang. Karena dapat informasi dari adik ipar kalau lokasinya lebih jauh dan jalan menuju lokasi agak curam dan berbatu, akhirnya kami pilih wisata ke daerah Turi.

Puas banget lihat taman dan bunga di tempat ini. Toiletnya juga unik. Dihias. Dan lokasinya dekat dengan taman. Mushola dindingnya berbentuk segitiga seperti atap rumah. Ada kolam yang ditengahnya ada jembatan dan jalan. Beberapa kincir angin berada di tepi kolam ini. Juga pondok-pondok buat kita istirahat. Juga spot yang bagus buat motret.

Dengan tiket masuk yang tergolong murah, kita bisa dapat banyak view yang bagus di tempat ini. Nggak rugi deh.

 

Iklan

Perjuangan Mudik Naik Kapal Laut

Sudah dua minggu lebih lebaran Idul Fitri berlalu. Tapi rasanya kok kayak baru kemarin saja ya. Itu mungkin efek perasaan bahagia setelah berkumpul sama keluarga di Semarang dan Jogja. Saking bahagianya sampai lupa posting nih gimana cerita lebarannya. Yang jelas berangkat mudiknya penuh perjuangan dan doa lho.

Gimana enggak, kami sudah beli tiket kapal Dharma Kencana. Rutenya Pontianak –  Semarang. Harganya 412 ribu per orang. Tiket dewasa. Ditambah tuslah 8 ribu jadi total 420 ribu. Karena yang berangkat lima orang, perlu biaya 2,1 juta. Masih lebih murah sih dibandingkan naik pesawat Pontianak – Jogja atau Pontianak – Semarang. Yang waktu itu harga tiketnya sekitar 1,6 juta  per orang.

Memang sih harga tiket kapal seperempat tiket pesawat. Tapi waktu tempuhnya itu lho. Lumayan beda jauuh. Naik pesawat hanya 1 jam 30 menit. Tapi kalau pakai kapal sampai 45 jam. Hampir dua hari dua malam di tengah laut Jawa.

Sebelum berangkat tgl 31 Mei jam 2 pagi, dikasih tahu petugasnya supaya datang awal ke pelabuhan supaya dapat seat. Sekitar lima hari sebelum berangkat istri terima SMS yang isinya pemberitahuan kalau kapal berangkatnya dimajukan jadi jam 8 malam. Nah, pas di Pontianak, saya putuskan berangkat dari rumah jam 3 sore. Masih ada waktu 5 jam buat persiapan, check in dan nunggu kapal berangkat.

Sampai di pelabuhan, jadwal berangkat kapal berubah lagi. Di layar digital diumumkan kapal berangkat jam 10 malam. Ya Robbana. Makin lama kami berada di Pelabuhan Dwikora 🙂 . Untungnya sudah bawa banyak cemilan dan nasi buat buka puasa di pelabuhan. Dan kenyataannya kapal baru diberangkatkan pas jam 12 malam.

Nggak hanya itu ceritanya. Waktu saya self check in di mesin untuk cetak tiket ada kejutan berikutnya. Lima tiket yang terlihat di layar tidak tertulis nomor seatnya. Otomatis tiket yang dicetak tertulis no seat. Padahal saya sudah antri dan pajang antrian belum sampai 20 orang. Bisa jadi penumpang lain juga seperti itu. Ini artinya kami harus berebut masuk ke kapal supaya dapat seat.

Benar-benar perjuangan. Naik ke kapal  membawa tas traveling dan koper harus berebut dengan penumpang lain supaya dapat seat. Untungnya waktu keluar dari ruang tunggu dan waktu naik tangga ke kapal ada petugas pelabuhan yang mengatur. Dan memerintahkan penumpang agar tidak berebut keluar dari pintu ruang tunggu. Juga antri satu per satu naik ke kapal. Nah, waktu di dalam kapal itulah hampir semua ruangan penuh penumpang. Di ruang kafetaria, kamar tidur, ruang depan dan dek dipenuhi penumpang dan barang-barang bawaannya.

Akhirnya kami putuskan lesehan di dek luar sebelah kanan. Beli alas dari plastik yang harganya 10 ribu per buah. Hanya berjarak 1,5 meter dari pagar. Jadi setiap saat kami bisa memandang laut. Masih untung kami berada di dek itu karena saat itu angin laut berhembus dari timur ke barat. Bukan dari barat ke timur. Saya lihat penumpang yang lesehan di dek timur hampir setiap waktu terkena hembusan angin laut yang kencang. Dan mereka terlihat sibuk menata lagi alas plastik,  sarung atau pakaiannya.

Siap-siap Mudik Lebaran

Bagi yang mau mudik lebaran, banyak persiapan yang dilakukan. Beli tiket pergi pulang, cemilan selama di perjalanan, angpao buat kerabat keluarga. Dan satu lagi, transportasi selama di kampung halaman.

Ini yang saya juga bicarakan sama keluarga. Mudik ke Semarang dan Jogja. Gimana nanti kendaraan buat silaturahmi, jalan-jalan dan wisata? Memang sih ada kendaraan orang tua juga mertua, tapi kok kayaknya nggak enak ya setiap kali mau pergi pinjam kendaraan.

Bisa juga naik taksi online. Tapi jangkauannya terbatas. Ada tempat tertentu yang taksi online bisa antar, tapi waktu mau baliknya nggak mudah carinya. Kecuali sudah janjian sama drivernya.

Cari-cari info rental mobil di internet. Tanya-tanya juga berapa sewanya. Nggak langsung deal. Karena pas tanggal 6-8 Juni banyak yang sudah terjadwal. Ada juga yang masih belum terjadwal, tapi mintanya 5 hari. Per hari 500 ribu, lepas kunci alias nggak pakai sopir. Wah, belum cocok sama rencana karena kami pakai tiga hari saja.

Belum dapat mobil rental juga, akhirnya saya cerita di grup WA keluarga istri. Saya susun rencana selama di Jogja. Dari tanggal 5 – 10 Juni. Dan saya juga bilang kalau lagi cari mobil rental.

Gayung pun bersambut. Adik ipar yang tinggal di Jakarta minta saya supaya hubungi nomor teman SMPnya. Yang punya usaha rental mobil. Langsung saya hubungi dan diminta tunggu. Setelah ada jawaban, ternyata pada tanggal itu mobil rentalnya sudah terjadwal juga. Saya malah disuruh lagi hubungi nomor temannya. Temannya teman SMP adik ipar.

Adik ipar yang tinggal di Jogja juga ngasih tawaran. Ada temannya yang rental mobil. Lewat istri dia ngasih nomor WA suami temannya. Saya coba hubungi dia apa bisa rental pada tanggal tersebut. Diminta menunggu sebentar dan dia bilang kalao lebaran harga rental mobil naik. Jadi 450 ribu per hari untuk lepas kunci.

Nggak banyak mikir, saya terima tawarannya. Deal di hari Sabtu dan saya diminta konfirmasi sekalian transfer dananya pada hari Senin. Bukti transfer saya kirim ke dia dan sekalian jawab pertanyaannya kemana mobil mau diantar.

Saya bilang supaya diantar ke rumah mertua di Pringwulung Sleman. Alhamdulillah. Urusan mobil rental sudah beres. Semoga pada hari H nanti lancar. Dari pengalaman cari mobil rental itu, saya pun jadi tahu dan rasakan gimana sibuknya orang yang mudik.

Perlu persiapan yang matang. Siapkan tiket perjalanan pergi pulangnya, akomodasi, bekal di perjalanan, apa yang harus dilakukan setelah sampai di tempat yang dituju, mau wisata atau jalan-jalan ke mana saja semua harus disiapkan.

Dulu Mencatat Isi Ceramah, Sekarang Merekamnya

Ada pemandangan menarik di masjid Al Adh ha ketika selesai sholat Isya. Anak-anak cewek yang duduk di shaf belakang bergegas ke serambi masjid membawa HP. Satu per satu menyodorkan HPnya lewat jendela ke shaf pertama. Dibantu bapak-bapak meletakkan HPnya ke dekat ustadz. Terlihat HPnya sudah distel untuk rekam suara ustadz yang mengisi tausiyah.

Perubahan telah terjadi. Bulan Ramadhan sebelumnya, ketika mendengarkan tausiyah anak-anak itu mencatat di buku. Ada tugas dari sekolah selama bulan Ramadhan. Mencatat siapa penceramah malam itu, apa isi ceramahnya. Setelah tarawih, anak-anak itu maju dan dekati ustadz untuk minta tanda tangan.

“Siapa yang menyuruh kalian merekam ceramah ustadz?”tanya saya ketika bertemu mereka menjelang sholat subuh.

“Bu Hanny, pak”

Kreatif apa yang dilakukan anak-anak itu, Juga ide yang bagus dari gurunya. Artinya, selama bulan Ramadhan mereka punya rekaman tausiyah ustadz yang lengkap materinya. Yang suatu saat bisa dibawa-bawa dan didengarkan lagi. Di rumah, di sekolah atau di kendaraan. Yang durasinya 10-15 menit.

Merekam juga memudahkan mereka fokus mendengarkan tausiyah. Beda kalau mencatat. Konsentrasi terbagi dua. Antara memahami isi tausiyah dan mencatat poin penting ceramahnya.

Saya tersentak dan merenung, kok malah bapak-bapaknya nggak ada yang merekam tausiyahnya ya?

Lebih Sering Bukber di Masjid

Kalo di Pontianak, saya lebih sering bukber di rumah bersama keluarga. Beda ketika di camp. Hampir tiap hari bukber di masjid. Bertemu dengan jamaah lain. Teman kerja dan anak-anak.  Suasananya akrab.

Setelah bukber terus sholat maghrib berjamaah. Sambil menunggu waktu Isya saya gunakan waktu untuk baca Quran. Setelah itu lanjut lagi dengan sholat Tarawih dan Witir. Juga berjamaah. 11 rakaat. Setelah itu baru pulang. Sekitar jam 20.15.

Berbeda dengan pola sebelumnya. Pernah saya coba bukber di masjid, setelah itu pulang ke rumah dan makan malam. Selesai makan, berangkat lagi ke mesjid untuk sholat Isya, Tarawih dan Witir. Selanjutnya ngaji.

Ternyata ketika menjalani pola yang kedua ini, saat tarawih terasa mengantuk. Hal yang nggak saya alami sewaktu makan malamnya selesai tarawih. Badan pun terasa lebih ringan untuk sholat.

Bisa jadi karena tubuh terisi makanan seperlunya saja waktu itu. Memang waktu bukber di masjid banyak cemilan. Kurma, gorengan, kue basah. Minumannya air mineral, sirup, kopi, terkadang ada cendol atau kolak.

Saya memilih minum air putih, makan kurma dan kue basah waktu bukber. Setelah sholat maghrib dan ngaji, ngemil kue lagi secukupnya. Nggak sampai kenyang.

Ternyata pola seperti itu yang menyehatkan badan dan menyegarkan mata. Ibadah di malam hari pun bisa lebih fokus dan nggak terganggu karena mengantuk.

 

Kopdar Setelah Kenalan di Blog

Berawal dari seringnya saya membaca postingan di blog https://madeandi.com/.  Postingan dosen Fakultas Teknik Geodesi yang juga Kepala Kantor Urusan Internasional UGM.  I Made Andi Arsana, Ph.D.

Pernah juga saya komen di salah satu postingannya. Kemudian kenalan dan berharap satu saat bisa kopdar di Jogja. Ternyata, dibalas dengan antusias.

“Nanti kalau mau ke Jogja, kabari via email ya”katanya.

Bulan Desember tahun 2018 lalu alhamdulillah, saya ada kesempatan ke Jogja. Nengok anak sulung yang kuliah di sana. Sekalian silaturahmi ke bapak dan ibu mertua. Sebelum ke Jogja, saya ke Semarang dulu menemui orangtua.

Saya pun kirim email ke mas Andi. Memberitahukan mau ke Jogja dan bertanya kapan bisa menemuinya. Tanggalnya pun ditentukan.  28 Desember. Setelah  sampai Jogja, kami pun intensif berkomunikasi via whatsapp.

Rencana mau kopdar jam 9 pagi. Ternyata waktu itu mas Andi sedang rapat di Gedung Pusat. Kondisi saya pun nggak fit. Sampai mas Andi bilang, “Nggak usah dipaksakan Pak kalau sedang sakit”.

Tapi karena sudah janji, saya berusaha tetap datang dan menemui mas Andi setelah jam 10 siang.

Akhirnya kopdar pun terlaksana. Setelah ngobrol di Gedung Pusat, saya diajak ke kantornya di dekat masjid Kampus. Ditraktir makan siang juga. Gudeg Jogja. Enak sekali rasanya. Dalam perjalanan dari Gedung Pusat ke kantornya, dia pun tanya apa yang bikin saya tertarik kopdar.

Terus saya jelaskan awalnya saya nggak sengaja menemukan blog itu. Setelah saya baca kok tulisannya menarik. Mudah dipahami orang awam meskipun yang menulis seorang dosen. Bergelar Ph.D. Lulusan S2 dan S3 dari Australia. Nggak banyak dosen yang ngeblog. Apalagi dosen yang punya keahlian dalam ilmu batas maritim rajin menulis di blog dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Akhirnya, mas Andi pun buka rahasia. Sebenarnya saya bisa seperti itu karena sejak lama saya punya kebiasaan bercerita kepada kedua orangtua, terutama ibu. Saya harus bisa bercerita tentang istilah istilah teknis dengan bahasa yang mudah dipahami. Dan kebiasaan itu akhirnya terbawa ketika menulis.

Obrolan pun berakhir ketika terdengar suara adzan sholat Jumat. Saya pun pamit dan minta ijin foto di kantornya. Dan di luar dugaan, dia sendiri yang mengantar saya dengan mobilnya sampai masjid Kampus UGM.

Terima kasih mas Andi atas waktunya juga obrolannya yang berbobot dan mencerahkan saya.

 

Lupa Libur

Seperti hari-hari sebelumnya, kemarin hari Minggu tanggal 19 Mei saya ke kantor. Awalnya sudah curiga. Kok jendela dan korden di lantai dua masih tertutup? Dugaan saya, ini pasti office boy kesiangan.

Waktu di depan kantor, rasa curiga itu tambah kuat. Kok pintu kantor tertutup? Dan waktu saya buka dan masuk ke kantor, ternyata hanya ada satu karyawan yang masuk. Itu pun nggak pakai seragam kantor. Saya tambah penasaran.

“Lho, hari ini libur to mas?”tanya saya

“Ya, Pak. Ini kan hari Waisak. Libur Nasional”jawabnya sambil senyum-senyum  melihat saya.

“Saya kira pak Yudhi tadi mau dampingi tamu. Kok ke kantor pakai seragam”tambahnya lagi.

“Astaghfirullah al azhiim. Rupanya hari ini hari libur”saya baru ngeh  🙂