Pengurangan Karyawan itu Akhirnya Terjadi Juga

Selama saya bekerja 25 tahun di perusahaan, tahun inilah mengalami apa yang disebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Teman-teman yang jumlahnya seratusan orang lebih harus menerima pilihan diberhentikan, karena kondisi perusahaan yang dua tahun berturut-turut mengalami kerugian. Da total karyawan delapan ratusan, sekitar 20 % terpaksa di-PHK.

Alhamdulillah, saya melihat karyawan menerima keputusan itu apalagi pesangon mereka langsung dibayarkan tak lama setelah mereka manandatangani surat keterangan berhenti. Perusahaan telah menyiapkan dana untuk membayar pesangon karyawan sesuai ketentuan pemerintah. Pesangon yang mereka terima kan lebih lebih besar apabila mereka ketika PHK memasuki usia pensiun 56 tahun sesuai yang ditetapkan perusahaan.

Semoga teman-teman yang telah bekerja belasan bahkan puluhan tahun lebih sukses lagi di tempat yang baru.

Hari ke-14 Ramadhan

Hari ini memasuki hari ke-14 puasa Ramadhan. Sudah separuh kita lewati bulan penuh berkah ini. Semoga kita masih tetap sehat dan lancar menjalankan aktivitas.

Ramadhan sampai dengan hari ke-14 ini saya masih di camp. Insyaa Allah ke Pontianak minggu depan. Seminggu sebelum lebaran idul fitri.

Waktu puasa Ramadhan di camp, berbuka puasanya saya kadang-kadang di rumah, lebih seringnya di masjid. Kalau di rumah kudapannya lebih sedikit, sendiri, juga waktunya mepet antara buka puasa dengan sholat maghrib. Sementara kalau di masjid, lebih variasi hidangannya. Macam-macam kue, gorengan, kurma. Minumannya air mineral, sirup campur susu. Sebagian disediakan oleh masjid, sebagian lagi dibikin emak-emak yang dapat jadwal sediakan takjil dan sebagian lagi dari donatur pribadi.

Buka puasa di masjid lebih ramai karena bertemu dengan teman-teman kerja juga anak-anak karyawan. Biasanya hidangannya berlebih. Sebagian dibagikan ke anak-anak, sebagian lagi disimpan untuk dinikmati selepas sholat maghrib dan sholat tarawih.

Alhamdulillah, nikmat rasanya buka puasa bareng di masjid.

Kerjasama Siapkan Kudapan Buka Puasa

Sejak hari pertama puasa Ramadhan, karyawan dan keluarganya di camp sudah mulai sibuk bikin kudapan buka puasa bersama. Emak-emaknya kebagian tugas bikin macam-macam kue dan gorengan. Bapak-bapaknya yang ngantar ke masjid dan menghidangkan.

Dananya ada yang dari kas masjid. Ada dari donatur pribadi bapak-bapak. Ada juga dari emak-emak yang kebagian jadwal bikin ta’jil.

Biasanya di masjid sore sekitar jam 5 jamaah sudah berdatangan. Termasuk anak-anak juga. Bapak-bapaknya mengatur hidangan makanan ringan dan minuman. Ada juga yang datang, berdoa memanfaatkan waktu menjelang maghrib.

Setelah buka puasa bersama, dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu, sebagian ada yang masih di masjid menunggu waktu Isya. Sebagian lagi pulang ke mess untuk makan malam. Saya kadang-kadang pulang, kadang-kadang juga tetap di masjid.

Ketika sholat Isya dan Tarawih, imamnya bergantian antar karyawan. Sudah terjadwal. Alhamdulillah. Ramadhan penuh berkah di hutan.

Satu Pintu Tertutup, Pintu Lain Terbuka

Imbas pandemi Covid-19 terjadi juga di tempat kerja saya. Meski kegiatan operasional tetap berjalan, namun selama setahun ini tidak ada lagi training, sosialisasi secara tatap muka. Bahkan rapat bulanan pun yang biasanya rutin diadakan di Pontianak ditiadakan.

Untungnya di camp ada sinyal internet. Hanya satu operator dan saat ini sudah diupgrade menjadi 4G. Akses internet 4G ini yang jadi penyelamat ketika rapat, training dan sosialisasi tatap muka tidak bisa dilakukan. Sejak pandemi, agenda tersebut secara daring yang diadakan Kementerian LHK, Asosiasi, Lembaga Sertifikasi justru makin sering.

Setiap ada peraturan baru dari Kementerian, sering diadakan sosialisasi menggunakan aplikasi zoom meeting. Frekuensinya bisa 2 kali sebulan. Dulu, untuk mengikuti sosialisasi harus terbang ke Palangkaraya atau perjalanan darat ke Pontianak. Perlu dana untuk akomodasi, tiket pesawat dan konsumsi. Pesertanya pun dibatasi. Sekarang cukup duduk di ruang meeting kantor dan menyimak presentasi dari nara sumber. Peserta bisa lebih banyak. Bahkan sertifikat mengikuti sosialisasi dikirimkan via email. Semua serba simpel.

Satu hal yang menjadi kunci. Kelancaran akses internet. Pernah kami mengikuti sosialisasi tidak sampai selesai karena gangguan sinyal internet. Jadwal acaranya dari jam 9 – 12 WIB. Jam 11 koneksi internet mengalami gangguan. Terputus dari zoom meeting dan belum bisa join lagi.

Staf HRD sudah berusaha mencoba beberapa kali supaya koneksi internet tersambung, namun belum berhasil. Akhirnya kami putuskan nggak mengikuti sampai selesai. Jika sinyal internet lancar, selain mengikuti di ruang rapat pakai laptop, beberapa teman juga mengikuti di tempat kerja masing-masing pakai ponsel. Lebih fleksibel.

Setiap kondisi yang terjadi pasti ada hikmahnya. Demikian juga pandemi covid-19 ini. Ketika pintu-pintu pertemuan tatap muka tertutup, di saat yang sama terbuka lebar pintu-pintu pertemuan secara remote atau daring.

Perjalanan Sebuah Paket

“Mau dikirim apa, mas?”tanya istri

“Kalau bisa frozen food sama buah-buahan”jawab saya

Istri pun belanja. Beli buah naga, nugget, hekeng, bawang goreng, saos kecap dll. Dikemas kemudian dikirimkan ke camp. Perjalanan paket makanan pun dimulai. Paket dibawa ke kantor DAMRI di jalan Pahlawan. Biaya pengiriman ke Nanga Pinoh 25 ribu. Sehari sampainya. Biasanya diangkut mobil box yang berangkat malam hari dari Pontianak. Sampai Pinoh pagi atau siang hari.

Setelah istri foto paket makanan dan resinya, dia WA kan ke saya. Biasanya saya minta tolong bang Nurdin, supir mobil rental Dua Putri. Rumah dan warungnya di logpond. Sewaktu saya telpon, dia ada di Pinoh. Alhamdulillah. Saya infokan nomor resinya.

Sore hari saya telpon dia, belum bisa tersambung. Nggak lama kemudian dia telpon balik dan bilang kalau paket sudah diambil dan dititipkan ke Tukiman, sopir Logging Trailler.

Pagi hari saya dapat telpon dari sekuriti di portal km 34 ada titipan paket buat saya. Saya baru tahu, paket tersebut dititipkan supir Logging Trailler malam hari. Setelah itu dia lanjutkan perjalanan ke tempat kerja.

Bergegas saya hubungi bagian HRD minta kendaraan dan supir kantor untuk ambil paket tersebut. Sampai di portal sekuriti dengan ramah menyerahkan paket ke saya.

Begitulah perjalanan pengiriman paket dari Pontianak ke camp. Ada beberapa rute yang dilalui. Ada beberapa orang yang membantu hingga paket itu sampai di tangan saya.

Semoga Allah membalas semua kebaikan dan memudahkan urusan para pembawa paket tersebut.

Bergerak Dulu

Apa yang datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka bukan berarti tiba-tiba datang begitu saja meski kita sedang tidak melakukan apa-apa. Bergerak terlebih dahulu, kerjakan sesuatu dan kejarlah Target. Boleh jadi nanti di tengah perjalanan akan datang hal istimewa yang tidak disangka-sangka.

Seperti pagi ini ada teman kerja yang menemui saya dan menyerahkan Kartu Indonesia Sehat saya yang hilang.Untuk mencari kartu itu, saya tadi malam menyusuri jalan dari mess ke masjid. Tadi pagi habis subuh saya menyusuri lagi jalan dari masjid ke mess dengan rute yang berbeda. Lebih jauh karena jalanya memutar. Hasilnya? Kartu itu belum saya temukan juga. Saya pasrah.

Sampai akhirnya tadi pagi ketika saya di ruang kerja, ada teman yang mengetuk pintu. Saya buka pintu dan dia bilang, “Ini saya nyampaikan titipan Fauzi, dia nemukan kartu bapak yang jatuh di halaman masjid. Dia nunggu-nunggu bapak di logistik kok gak ketemu”

Alhamdulillah. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya.

Belajar Bikin Konten Video

Biasanya saya bikin konten dalam bentuk tulisan atau foto. Kali ini belajar bikin konten video. Nggak mudah lho. Untuk dapat tayangan sekitar 2 menit saya harus ulang-ulang sampai 7 kali.

Kalau nulis ada kata-kata yang salah kita nggak harus nulis ulang dari awal. Kata yang salah itu saja yang diganti. Kalau motret kita bisa ambil beberapa jepretan, terus kita pilih foto yang terbaik.

Tapi kalau bikin video nggak bisa seperti itu. Sekali salah ngomong, ya kudu dulang dari awal lagi. Makanya saya salut sama orang -orang yang bisa bikin film sampai berjam – jam. Pasti mereka bikinnya nggak sekali shooting langsung jadi. Ada adegan yang salah, yang harus diulang.

Tapi untuk sesuatu yang baru memang perlu belajar dan praktek. Ya kayak saya belajar ngevlog ini. Pengin bikin konten sendiri yang ori. Awalnya sih nggak mudah, tapi setelah bikin satu kok malah pengin bikin lagi yaaa.. Ketagihan deh 😄😄

Keran Dwi Fungsi

Di depan kantor di base camp dipasang keran air untuk cuci tangan sebelum masuk kantor. Melaksanakan program 3 M untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Dibuatkan juga semacam meja kecil untuk meletakkan sabun.

Setelah jadi, keran itu nggak hanya untuk cuci tangan. Teman-teman yang sholat ashar di kantor juga memanfaatkan keran itu untuk wudhu. Jaraknya lebih dekat dengan ruangan sholat dan posisi kerannya sejajar dengan badan. Biasanya mereka berwudhu di keran tempat cuci pakaian di dapur. Lokasinya memutar kantor dan posisi kerannya lebih rendah.

Di era pandemi ini, cuci tangan perlu sering dilakukan. Selain memakai masker dan jaga jarak. Dengan keran air yang dipasang di tempat yang mudah dijangkau, secara langsung juga memudahkan kita lakukan 3 M, khususnya mencuci tangan.

Bis Pontianak-Pinoh Singgah ke Sintang Dulu

Biasanya saya naik bis malam kalau pulang dari Pontianak ke camp. Sampainya di camp besok siangnya sekitar jam12. Sesuai saran rekan kerja, saya coba naik bis yang pagi tanggal 25 Oktober yang lalu.

Sampai di camp jam 10 malam. Berangkat dari kantor Damri jam 7.15 diantar bis shuttle sampai terminal Ambawang. Bis Damri berangkat dari terminal jam 8 menuju ke Sintang dulu. Perjalanan cukup lancar. Istirahat di Sosok sekitar jam 10.30. Setelah itu perjalanan ke Sintang. Sampai di sana sekitar jam 3 sore. Bis menurunkan penumpang tujuan Sintang.

Perjalanan dilanjutkan ke Nanga Pinoh dan sampai sekitar jam 16.30. Saya dijemput mobil langganan, Dua Putri, yang sebelumnya sudah dipesan untuk antar ke camp. Ada dua rekan kerja lain yang ikut ke camp.

Di Pinoh, saya makan sore dulu di terminal Sidomulyo. Sholat Maghrib juga. Setelah jemput dua penumpang lain kami pun berangkat ke logpond. Di logpond sudah menunggu mobil perusahaan. Kami pun melanjutkan perjalanan ke camp km 35.

Tidak hanya bis Damri yang ke Sintang dulu sebelum meneruskan perjalanan ke Pinoh. Saya juga pernah naik bis Maju Terus (Marus). Berangkatnya dari terminal Sudarso jam 7 malam. Sampai di Sintang sekitar jam 2 pagi. Sebelum ke Pinoh, bis ini juga singgah dulu ke Sintang untuk turunkan barang dan penumpang.

Pengalaman teman yang berangkat dari Pinoh pagi hari naik Damri juga sama. Bis yang sebelumnya berangkat jam 9 dimajukan jadi jam 8 pagi karena harus ke Sintang dulu.

Bisa jadi kedua perusahaan otobus itu menempuh kebijakan seperti itu untuk efisiensi karena jumlah penumpang yang berkurang. Biasanya rute Pontianak – Sintang dan Pontianak – Pinoh pp bisnya berbeda.

Meski harus singgah dulu ke Sintang, harga tiket tidak ada perubahan. Ini yang saya apresiasi.

Lokasi Wisata di km 37 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

 

Kunjungan tamu ke lokasi wisata km 37 Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TN BBBR) semakin ramai seiring dengan peningkatan fasilitas wisata. Juga peran beberapa pengunjung yang mengunggah foto-foto kunjungannya ke medsos.

Hari libur tanggal 20 Agustus 2020 yang bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijriyah ada dua mobil dari Menukung  ke lokasi tersebut. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Ada juga pengunjung yang datang naik sepeda motor. Beberapa karyawan perusahaan juga ke lokasi tersebut mengisi hari libur. Bahkan ada guru-guru yang camping. Merasakan suasana hutan alam tropis.

Lokasi wisata yang berjarak hanya 2 km dari fasilitas menara Base Tranceiver Station (BTS) di base camp km 35 memungkinkan pengunjung berkomunikasi melalui internet.

Biasanya selain berkunjung ke km 37, beberapa tamu juga singgah ke base camp perusahaan km 35 untuk berfoto di taman dan kolam ikan di depan kantor. Bahkan pernah juga saya lihat dua orang berfoto di samping BTS dengan latar belakang TNBBBR.

Pemandangannya cukup bagus. Saya yang karyawan perusahaan saja beberapa kali memotret nggak pernah merasa bosan. Apalagi tamu-tamu dari luar yang baru pertama kali datang.

Maka nggak heran ketika saya unggah foto-foto di FB, ada teman kuliah yang komentar,”Itu tempat kerja atau tempat wisata?” 🙂