Jawaban yang Tak Diduga-Duga

Obrolan sore tadi di WA membuat saya makin yakin bahwa miracle atau keajaiban itu ada. Miracle yang menunjukkan kekuasaan dan kehendak Allah SWT.

Ceritanya saya ngobrol dengan teman SMP waktu kelas 1. Saya tebak dia lahirnya bulan Juni karena namanya Wahyuni. Ternyata tebakan saya meleset. Nama Wahyuni belum tentu mencerminkan seseorang dilahirkan di bulan Juni

Dia nggak mau jawab dan malah ngasih PR ke saya tentang bulan kelahirannya. Saya bilang kalau,”Kalo jawabannya benar, apa hadiahnya?”

“Tahu gejrot sepabrik”jawabnya sambil mengetikkan emoticon orang ketawa

Tahu gejrot itu makanan khas Cirebon. Dia jawab seperti itu karena dia tinggal di Cirebon.

“Jawabannya hanya sekali”pesannya lagi.

“Ok. Deal”jawab saya. Padahal saya juga nggak tahu pasti gimana nyari informasi bulan kelahirannya. Kalau kata ustadz Yusuf Mansyur,”Jatuhin omongan dulu”

Setelah ngobrol sama dia, saya pindah ke obrolan grup SMP. Scroll-scroll dan saya langsung tertarik dan ikuti ketika teman-teman di grup bicarakan bulan kelahiran teman tadi. Teman tadi juga ikut ngobrol di grup itu, tapi saya nggak.

Salah seorang yang jadi admin langsung menyebutkan bulan bahkan tanggal kelahiran teman tadi. Padahal saya nggak komen atau nanya di grup itu.

Saya balik lagi ngobrol lewat jalur pribadi ke teman tadi dengan jawaban yang sudah saya kantongi.

“Saya bilang, tanpa saya sengaja mencari jawabannya datang sendiri”

Dia bilang di grup sudah ada yang berikan infonya.

Nah itu dia ajaibnya. Allahu Akbar. Subhanallah. Di saat saya sedang mikir gimana nyari data bulan kelahirannya, tanpa saya duga Allah SWT gerakkan salah satu admin untuk menyebutkan infonya lengkap di grup. Tak hanya bulan, bahkan  tanggalnya.

Awalnya dia nggak percaya kalau saya bilang saya nggak pernah nanya admin. Kalau pun nanya pasti ditanya balik, untuk apa?

“Subhanallah. Itu tandanya Allah SWT baik sama Yudhi”begitu komentarnya ketika saya cerita.

“Alhamdulillah, inilah juga efeknya bergaul sama orang baik”kata saya

Iklan

Teman Akrab Istri Waktu SMP Ternyata satu SMA dengan Saya

“Dunia ini memang sempit”kata Erri, panggilan akrab teman SMP istri saya.

Teman cewek yang akrab banget dan duduk berdekatan waktu klas 1 SMP di Jambi. Kalimat yang terucap ketika istri silaturahmi ke Erri yang baru saja pindah ke Pontianak. Mengikuti tugas suaminya yang bertugas di salah satu bank BUMN.

Waktu ngobrol, istri bilang kalau suaminya (saya) dulu SMAnya di Cirebon juga. Sama seperti Erri.

“SMA berapa Eka?”

“SMA 1. Erri SMA berapa?”

“Lho, saya SMA 1 juga. Siapa namanya?” Erri mulai penasaran 🙂

Istri pun menyebutkan nama saya, angkatan 86, kelas bio 2.

Erri ini memang teman akrab istri waktu SMP. Kalau di sekolah sering kemana-mana berdua. Sayangnya keakraban itu hanya setahun. Naik kelas 2, Erri dan istri saya sama-sama pindah sekolah.

Erri pindah ke Cirebon, istri pindah ke Bandung. Setelah itu hilang kontak. Mereka berdua nggak pernah bertemu lagi. Pertemanan tersambung kembali lewat FB. Mereka saling menyapa dan komen di FB.

Sekali waktu istri ke Jakarta. Menghadiri pernikahan saudara sepupunya yang perempuan. Tapi waktu itu nggak sempat bertemu Erri yang juga tinggal di Jakarta.

Sampai suatu saat, Erri kabari istri kalau suaminya pindah tugas ke Pontianak. Janjian ketemuan pun dirancang. Disepakati bertemu di rumah dinas suaminya di jalan Johan Idrus. Akhirnya pertemuan dua sobat lama itu pun terjadi. Akrab.

Dan ketika bicara tentang keluarga, dia pun penasaran dengan saya. Teman ketika SMA. Cuma istri cerita lewat WA, kalau dia dari SMA 1 juga, saya masih belum ingat yang mana orangnya. Saya coba ingat-ingat, Erri ini gak pernah sekelas sama saya waktu klas 1 – 3. Kalau pernah sekelas, pasti saya inget. Ternyata benar.

Setelah saya tanya balik lewat istri, Erri cerita dulu kelas 1-1 dan sosial 2. Sementara saya 1-7 dan biologi 2.  Beda kelas ternyata, tapi beberapa teman saya di kelas 1 dan 2 dia kenal baik. Sama saya sendiri dia nggak terlalu kenal. Saya juga tahu wajahnya tapi nggak pernah ngobrol2…..wkwkwk…

Setelah itu ya saya kenalan dan ngobrol sama Erri lewat WA. Lucu yaaa ceritanya….

“Ternyata Eka, teman akrab waktu SMP suaminya satu SMA sama saya”kata Erry…

Wah, kalau kami bertiga ketemu lebih seruuu tuh ceritanya.

Bertemu lagi Asisten Dosen Setelah 21 Tahun

“Dulu Yudhi ini yang bantu waktu praktikum penyakit hutan”kata seorang wanita diantara belasan tamu yang datang ke camp awal bulan lalu.

Wanita yang bernama Dr. Sri Rahayu itu bercerita kepada kolega-koleganya yang berprofesi sebagai dosen dan peneliti saat kami menyambutnya di Camp km 35. Baru pertama kali  dia datang ke camp tempat saya kerja. Datang belakangan dibanding koleganya dari UGM yang pernah ke camp.

Mbak Yayuk, begitu beliau akrab disapa ketika kami masih jadi coass di laboratorium penyakit tanaman hutan Fakultas Kehutanan UGM. Kalau kita lihat foto di atas, mbak Yayuk yang berdiri paling kanan.

Waktu itu di semester akhir tahun 1993-1994, saya dan dua teman seangkatan: Gunawan dan Istiono sama-sama mendaftar coass praktikum dan diterima. Dipanggil mbak, karena umurnya  dengan kami hanya selisih dua atau tiga tahun

Tugas kami membantu mbak Yayuk menyiapkan bahan-bahan praktikum. Mulai menyiapkan preparat, membacakan pre test sebelum praktikum, menilai hasil pre test sampai mendampingi mahasiswa-mahasiswi yang lagi praktikum.

Setelah lulus tahun 1994, sesekali waktu saya ke Jogja singgah di kampus. Waktu nikah tahun 1997 saya undang dosen-dosen dan asisten dosen. Dan mbak Yayuk datang waktu resepsi pernikahan. Setelah itu saya dapat kabar beliau teruskan S3 di Malaysia dan kami gak pernah bertemu lagi.

Setelah 21 tahun, akhirnya kami bertemu lagi di hutan. Bersama 14 dosen dan 6 orang dari Kementerian LHK, mbak Yayuk berkunjung ke tempat kerja saya. Dia  salah satu pakar penyakit tanaman hutan yang bertugas mengevaluasi ancaman penyakit pada penanaman Dipterocarp dengan sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dan Silvikultur Intensif (SILIN).

Surprise. Reunian lagi sama mbak Yayuk. Dia cerita, dulu waktu praktik kalau ada mahasiswa yang badannya gede, kami coass yang cowok yang disuruh menghadapi.

Sayangnya, kunjungan mba Yayuk hanya 2 hari di camp dan pulang duluan karena harus menghadiri acara di Korea.

Inisiatif Aysha dan Teman-Temannya Adakan Les Tambahan di Rumah

Sudah sebulan ini Aysha dan lima temannya yang kelas XII IPS rutin terima les tambahan matematika di rumah. Jadwalnya  Senin dan Kamis mulai jam 16.00 sampai jam 17.30. Pengajarnya dari lembaga bimbingan belajar. Targetnya bisa lolos tes SBMPTN tahun 2019.

Pada awalnya Aysha dan temannya rencana ikut les tambahan reguler di bimbel. Tapi setelah dihitung biayanya cukup mahal untuk ukuran mereka. Akhirnya mereka putuskan lebih baik panggil pengajar dan lesnya di rumah. Hitungannya lebih murah. Setiap anak cukup membayar 200 ribu sebulan untuk delapan kali pertemuan.

Setelah diputuskan panggil pengajar ke rumah, yang perlu ditentukan selanjutnya tempatnya dimana. Karena pertimbangan lokasi di tengah kota dan dekat dengan sekolahnya, akhirnya les tambahan diadakan di rumah kami. Jadi mereka setelah belajar di sekolah, istirahat sekitar satu jam terus belajar lagi.

Mereka  duduk lesehan di ruang tamu yang sementara waktu diubah jadi tempat belajar mengajar.  Menggunakan white board kecil ukuran 60 x 90 cm yang sudah ada di rumah. Setelah berjalan beberapa minggu, mamanya Aysha melihat anak-anak kok sering mendekat ke white board itu. Rupanya karena ukurannya kecil, mereka tidak bisa melihat jelas kalau duduknya jauh.

Muncul usulan dari mamanya Aysha supaya belikan white board yang ukurannya lebih besar. Nggak pakai lama berpikir dan ingin mensupport anak-anak yang bersemangat belajar di rumah, saya pergi ke toko buku dan ATK untuk beli white board yang ukuran 80 x 120 cm. Kalau untuk urusan sekolah, belajar dan pendidikan anak-anak seperti itu memang saya dukung penuh. Menyediakan tempat dan perlengkapannya.

Jangan sampai anak-anak sudah punya inisiatif adakan les tambahan di rumah, mencari pengajarnya, tentukan waktunya kita sebagai orang tua malah nggak peduli.

 

 

Lezatnya Lontong Sayur Citraz Nanga Pinoh

Biasanya kalau sampai Nanga Pinoh subuh setelah naik bis 8 jam dari Pontianak, paginya saya dan Pak Agus, teman yang tinggal di Pinoh, sempatkan sarapan dulu sebelum lanjutkan perjalanan ke camp.

Biasa sarapan gado-gado atau lontong sayur di warung lapangan kecamatan depan kantor pos Nanga Pinoh. Nah, seminggu lalu saya diajak menikmati lontong sayur di warung yang lain. Citraz.

Saya pesan lontong sayur dan pak Agus pesan bubur ayam. Setelah disajikan, tampilan lontong sayurnya lebih mirip sayur lodeh. Saya cicipi, rasanya eunaaak tenan. Cocok banget dengan lidah jawa hehehe. Sayurnya, lontongnya, kuahnya semuanya mantap..Seporsi harganya 15 ribu. Baru kali ini saya makan lontong sayur seenak ini.

Makasih pak Agus, sudah kasih referensi kuliner yang enak buat sarapan di Nanga Pinoh.

Novel Canting: Kisah Gadis Pembatik Membangun Rumah Tangga bersama Anak Majikannya

Untuk memiliki novel Canting hasil karya Fissilmi Hamida ini saya harus pre order sebulan. Bersabar menikmati kisah Sekar, anak rewang di keluarga Sri Sundari yang bikin jatuh hati anak lelaki semata wayangnya, Hadi.

Sekar  yang sejak kecil ikut simboknya bekerja sebagai rewang tidak pernah menduga Hadi yang sepuluh tahun lebih tua, lulusan S2 dari Inggris akhirnya memilih dirinya sebagai istri.

Memilih gadis yang piawai membatik yang baru berumur 18 tahun dan lulusan SMA daripada Ajeng, adik almamaternya yang berprofesi sebagai dokter dan telah memendam rasa cinta padanya sejak kuliah.

Novel ini bercerita tentang dua insan yang berusaha membangun rumah tangga dengan berbagai ujian yang benar-benar menguji kesabaran keduanya. Sekar yang difitnah sudah pernah ditiduri Hadi  hingga akhirnya dia menikahi. Ajeng yang terus menghubungi Hadi dengan berbagai cara saat keduanya sudah berumah tangga. Kecelakaan yang menimpa keduanya yang menyebabkan beberapa bulan Hadi tidak dapat memberi nafkah batin bagi istrinya. Dan puncaknya ketika Ajeng dengan nekat meminta ijin Sekar menjadi madunya.

Suasana budaya Jawa khususnya kota Jogja dan sekitarnya terasa kental di novel ini. Juga nilai-nilai filosofi Jawa dan spiritualitas Islam dalam mengatasi problem kehidupan termasuk berumah tangga disajikan dengan cara yang bijaksana. Seperti yang tertera di bawah judul Canting, Gusti paring pitedah, bisa liwat bungah bisa liwat susah.

Novel ini seperti kisah Cinderellla di jaman old yang terjadi kembali di jaman now. Meski belum selesai saya membacanya, namun setiap selesai membaca satu episode ingin meneruskan membaca episode berikutnya.

 

 

 

Sosialisasi UNBK dan Bimbingan Belajar

Sudah dua kali saya hadir tahun ini di pertemuan orangtua siswa kelas XII dengan guru-guru SMU 1 Pontianak. Yang pertama waktu pembagian rapor bulan Juni. Kedua, waktu sosialisasi UNBK dan Bimbingan Belajar pada hari Jumat lalu (24/8).

Pada pertemuan kedua, awalnya acara akan diadakan di gedung amphi theater, tapi karena orangtua atau wali murid yang datang  melebihi kapasitas amphi theater, akhirnya acara dipindah ke masjid sekolah.

Presentasi disampaikan langsung oleh ibu kepala sekolah. Saya ambil posisi duduk lesehan di baris pailng depan supaya bisa melihat dengan jelas slide yang ditampilkan di layar.

Acara diawali dengan memperkenalkan wakil-wakil kepala sekolah dan para wali kelas  XII. Semuanya ada 9 orang wali kelas IPA dan 3 wali kelas IPS. Disebutkan namanya dan dilayar dicantumkan juga nomor hpnya. Sayangnya wali kelasnya Aysha di kelas XII IPS 1 nggak bisa hadir karena mengikuti acara di Kementerian Agama.

Setelah perkenalan, ada tiga topik yang disampaikan kepala sekolah. Pertama kesiapan menghadapi UNBK, kedua tentang bimbingan belajar dan yang ketiga jumlah siswa yang diterima di PTN tahun 2018.

Saya tertarik dengan upaya sekolah yang mendata kebutuhan komputer yang harus disiapkan menghadapi UNBK. Selain menyiapkan sebanyak 73 unit, pihak sekolah juga akan mendata jumlah siswa yang memiliki laptop. Data ini penting karena untuk mengetahui berapa jumlah keseluruhan komputer dibandingkan jumlah siswanya. Termasuk upaya yang akan dilakukan pihak sekolah jika jumlah komputer belum cukup.

Kepala sekolah dalam kesempatan ini juga menjelaskan ada program bimbingan belajar setiap hari Senin sampai dengan Kamis. Waktunya mulai jam 15.45 sampai dengan 16.45.  Tidak ada biaya tambahan yang harus dibayarkan orangtua ke sekolah. Orangtua atau wali murid hanya diminta menambah uang makan untuk anak-anaknya.

Pada kesempatan selanjutnya, kepala sekolah juga menjelaskan jumlah siswa yang tahun 2018 diterima di PTN. Saya cukup terkejut dengan data yang diberikan karena jumlahnya lebih dari yang saya bayangkan.

Ada 60 siswa yang diterima melalui jalur undangan atau SNMPTN. 127 siswa diterima lewat jalur tes tertulis serentak atau SBMPTN dan 36 siswa diterima lewat jalur kedinasan. Itu berdasarkan data siswa yang sudah melaporkan ke pihak sekolah.

Sebuah prestasi yang membanggakan bagi sekolah karena siswa-siswi mereka dipercaya untuk menempuh studi di PTN dan sekolah-sekolah kedinasan. Jika melihat upaya-upaya yang akan dilakukan sekolah untuk persiapan tahun 2019, saya optimis prestasi terssebut bisa dipertahankan. Dengan catatan juga siswa-siswinya mengimbangi dengan belajar sungguh-sungguh.

Acara sosialisasi seperti ini perlu karena keberhasilan siswa tak hanya ditentukan satu pihak saja tapi hasil kerjasama antara tiga pihak: sekolah, siswa dan orangtua siswa.

Selamat buat SMU 1 Pontianak.