Reuni SMPN5 Cirebon Angkatan 86

Sing Penting Teka

Seperti itu slogan yang terpilih untuk acara reuni teman-teman SMP.

Awalnya obrolan di grup WA dengan teman-teman SMP 5 Cirebon angkatan 86. Angka 86 ini merujuk pada tahun kelulusan. Jadi masuknya tahun 83/84. Setelah itu ada yang punya ide untuk adakan reuni, karena sudah 30 tahun lebih nggak bertemu.

Disepakati tanggalnya 26 Maret 2017 dari jam 09.00-14.00. Tanggapan teman-teman pun hampir semuanya setuju. Tidak terasa sudah lama berpisah, akhirnya dipertemukan lagi lewat WA.

Satu persatu teman gabung di WA, teman yang jadi Admin menambahkan nomor HP  teman lain yang baru ditemuinya. Ada juga tim blusukan yang domisilinya di Cirebon rajin mencari teman-teman yang hilang kontak. Ada yang datang ke rumahnya sesuai alamat yang tercantum di buku raport. Nah, pas datang ke rumahnya nggak langsung ketemu, karena teman yang dicari sudah pindah. Akhirnya tim blusukan tanya ke tetangga atau pak RT. Juga hubungi saudaranya.

Ada juga berita sedih karena beberapa teman sudah meninggal, ada yang sedang dirawat di rumah sakit menjalani terapi.

Teman-teman pun berdebat dalam hal penyelenggaraan reuni. Beberapa orang berpendapat bikin saja panitia. Ada ketua, sekretaris, bendahara dan nanti panitia ini yang mengadakan acara reuni.

Yang lainnya punya ide serahkan saja reuni ke Event Organizer (EO), biar panitia nggak repot mengatur persiapan acaranya. Mulai sewa tempat, isi acara, konsumsi, dokumentasi dan lain-lainnya. Akhirnya voting dan banyak yang setuju acara diserahkan ke EO. Nggak hanya itu penentuan tempat reuni juga dilakukan pemungutan suara. Ada dua hotel yang diusulkan panitia. Anggota WA pada hari dan jam yang ditentukan diminta memberikan suaranya di grup. Keputusan lokasi reuni pun tuntas sudah.

Nah, buat anggota grup juga diminta iurannya. Minimal 200 ribu per orang. Bagi yang ingin menjadi donatur alias menyumbang diluar iuran itu juga dibuka kesempatan seluas-luasnya. Terutama bagi yang secara finansial berkecukupan. Para donatur diharapkan mensubsidi teman-teman lainnya yang belum mampu.

Acara reuni kurang lengkap tanpa kehadiran guru-guru yang saat itu mengajar kami. Panitia berinisiatif  blusukan lagi silaturahmi ke rumah guru-guru. Alhamdulillah, sebagian besar masih bisa ditemui langsung di rumahnya. Ada sekitar 10 orang yang masih sehat dan semoga hadir di acara reuni.

Ada pak Andi guru matematika yang sangat disiplin, bu Tati guru bahasa Indonesia yang jadi favorit saya ketika di kelas 3. Pak Effendy yang cara mengajarnya membuat saya suka pelajaran bahasa Inggris dan beliau pun ingat betul dengan saya saat itu hingga kata teman nama saya pun dimasukkan dalam soal cerita ulangan 🙂

Menyimak kegiatan teman-teman di WA untuk menyiapkan reuni akbar ini membuat saya terharu. Ternyata 30 tahun lebih berpisah, tak menyurutkan niat dan langkah untuk bertemu. Mengingat kenangan dan persahabatan ketika masih memakai seragam putih biru.

Semoga Allah SWT memudahkan teman-teman angkatan 86 SMP 5 Cirebon bertemu kembali di acara reuni.

Saya yang kerja di hutan pun berusaha hadir, bertemu dengan teman-teman dan para guru. Karena bagaimana pun kondisi kita, selawase tetep sedulur..

Sayang kalau Mobilnya Dijual

P_20170309_065912

“Sayang  kalau mobilnya dijual, Pak. Apalagi ini kan mobil keluarga”kata pak Bambang, mekanik yang perbaiki mobil saya.

Obrolan di pagi hari itu menyadarkan saya. Ada hikmah di setiap  masalah. Itu yang saya alami waktu mau jual mobil suzuki Futura yang saya beli  tahun 2003. Sudah 13 tahun lebih saya dan keluarga pakai mobil itu. Saya beli mobil bekas itu 34 juta. Rencananya sih kalau terjual, uangnya dipakai buat tukar tambah beli sepeda motor. Motor Supra yang tahun 2006 saya jual, terus beli motor baru cash. Uangnya untuk beli motor baru ya sebagian dari jual mobil futura itu. Saya dan istri sepakat beli cash saja, nggak pakai kredit atau cicilan-cicilan.

Sempat tawarkan mobil itu ke teman, minta tolong jualkan. Saya hubungi teman via BBM. Saya foto dari depan, samping kiri kanan, belakang dan atapnya. Juga interiornya.

Waktu dia tawarkan ke calon pembeli, teman itu yang bawa mobilnya. Saya sih mintanya 19 juta terima bersih. Ternyata setelah dilihat sama pembelinya, nggak jadi beli. Alasannya cat bodinya sudah mulai mengelupas. Lantai depannya juga ada yang keropos.

Memang saya akui waktu mau jual mobil itu kondisi bodinya nggak mulus. Meski mesinnya halus, pajaknya sudah terbayar alias masih hidup, tetap saja pembeli melihat sisi kurangnya.

Akhirnya mobil itu saya bawa ke bengkel ketok magic. Sesuai saran pak Kurnia, mekanik yang biasa perbaiki mobil, ada kawannya yang buka bengkel ketok dan cat mobil. Saya datangi bengkelnya. Sepakat untuk ongkos ketok mobil, cat dasar dan cat akhir 9,5 juta. pernah saya tanya-tanya ke bengkel lainnya. Biayanya  13-14 juta.

Saya serahkan mobil dan kuncinya ke pak Bambang, mekanik yang memoles mobil suzuki supaya mulus kembali bodinya. Di bengkel yang sederhana itu, hanya ada mobil saya saja yang diperbaiki. Ada bagusnya juga, karena dia bisa fokus dengan kerjaannya.

Setelah lima minggu, selesai  juga perbaikan mobilnya. Melihat kondisi bodinya yang mulus, jadi sayang deh mau dijual.

Jual Ayam Kampung buat Pulang Kampung

Teman-teman kerja di camp sebagian asalnya dari luar Kalimantan. Jadi kalau mau pulang kampung kebanyakan naik pesawat. Rutenya bisa dari camp ke Pontianak dulu, setelah itu terbang ke Jakarta, Surabaya, Jogja, Solo, Bengkulu atau Padang.

Ada juga yang pulang lewat Palangkaraya. Perjalanannya lebih menantang. Lewat darat, sungai dan udara. Dari camp naik kendaraan ke ibukota kecamatan Bukit Raya. Setelah itu naik perahu klotok ke ibukota Kecamatan Katingan Hulu di Senamang. Lanjut lagi naik klotok yang lebih besar sampai Tumbang Hiran. Nah, dari tempat ini ada mobil taksi  menuju Kasongan dan Palangkaraya. Biasa berangkat jam 5 pagi sampai Palangkaraya jam 7 malam. 14 jam perjalanan, padahal  perjalanan dari Tumbang Senamang sampai Palangkaraya masih dalam satu propinsi, lho

Untuk ongkos pulang kampung mereka biasanya nunggu gajian. Karena akhir-akhir ini gajian sering telat, sebagian berpikir alternatif. Daripada nunggu gajian yang belum pasti, mendingan jual aset yang dimiliki. Termasuk seorang kawan yang punya ayam kampung belasan. Dia jual sepasang ayam kampung. Induk dan jagonya dibeli kepala tukang seharga 500 ribu.

Nah, waktu dia ditanya temannya pulang naik apa, dia bilang naik ayam air”katanya sambil guyon.

Temannya heran,”Ayam air? Apa ada maskapai baru?”

“Nggak, kemarin tuh ayamnya saya jual buat beli tiket pesawat buat pulang kampung “jelasnya

🙂

Supir Taksi yang Cepat Bereaksi

Kalau pergi antar jemput ke bandara, saya dan keluarga punya langganan taksi. Nama supirnya pak Aban. Waktu Nadia pulang ke Pontianak untuk liburan setelah ujian akhir semester, pak Aban masih sempat antar istri dan Aysha menjemput Nadia di bandara Supadio. Tapi ketika Nadia balik ke Jogja pas Imlek, dia nggak bisa antar karena ada acara ke luar kota.

Mau nggak mau saya harus pakai taksi lain. Setelah googling, saya lihat website sebuah perusahaan taksi lengkap dengan tarifnya. Sekilas cukup profesional dan informatif. Saya coba hubungi nomor kontaknya. Saya pesan untuk tanggal 28 Januari, jemput ke rumah dan antar ke bandara jam 05.30.

Dia bilang supaya saya tunggu 1 jam kemudian untuk kepastiannya. Mungkin dia lagi atur kendaraan dan supirnya untuk antar kami sekeluarga. Cuma setelah sejam lebih dia nggak kasih kabar, tidak telpon atau kirim pesan via BBM. Saya pun nggak nanya lagi karena nampaknya dia tidak benar-benar menanggapi pesanan saya.

Setelah itu, saya googling lagi dan coba-coba klik Meniko Taxi. Namanya kelihatannya berbau Jawa, Meniko, yang artinya yang itu dalam bahasa Jawa halus. Kontak personnya namanya mas Eko. Saya hubungi via Black Berry Messenger, pesan taksi untuk tanggal 28 Januari dan langsung direspon saat itu juga. Bisa. Beda sekali dengan respon perusahaan taksi yang pertama.

Satu hari kemudian saya konfirmasi lagi dan pesan via WA kalau besok jadi ke bandara. Padahal waktu itu sudah hampir jam 11 malam. Saat itu juga langsung dibalas dan dia bilang sudah atur kendaraan untuk antar saya ke bandara. Waktu saya tanya berapa ongkosnya, dia bilang 100 ribu. Nah, kalau responnya cepat begini kan penumpang senang juga. Nggak disuruh nunggu dan berharap tanpa ada kepastian.

Besoknya saya kaget, karena jam 05.15, taksi avanza sudah ada di depan rumah. Rupanya mas Eko sudah minta ke temannya yang namanya mas Budi untuk layani kami ke bandara. Benar-benar serius melayani penumpang. Karena kalau kendaraan sudah datang, kami nggak perlu lama menunggu. Minimal sudah mengurangi kecemasan kami 🙂 . Kami juga nggak bertanya-tanya, kok belum datang ya mobilnya?

Setelah pesawat yang ditumpangi Nadia terbang, kami masih di bandara. Menunggu jamaah yang mau berangkat umroh. Sekalian saja tunggu di bandara daripada pulang terus balik lagi ke bandara. Sebelumnya saya sudah pesan mobil ke mas Eko dan dia siap untuk jemput kami di bandara dan antar lagi ke rumah.

Sekitar jam 10, setelah dua orang jamaah masuk ruang check in, kami pun pulang. Mas Eko jam 9 pagi sudah siap di parkiran bandara sesuai jam yang saya pesan. Saya pun WA dia dan sudah siap pulang. Langsung dia meluncur dari tempat parkir ke depan ruang keberangkatan.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, kami nggak ngobrol ngalor ngidul. Ternyata mas Eko orangnya masih muda, enerjik dan penampilannya rapi. Dia sebelumnya kerja di perusahaan HTI dan resign, kemudian mencoba berwirausaha melayani antar jemput penumpang menggunakan mobil dia dan mobil teman-temannya.

“Sebelum resign dan usaha taksi ini, saya sudah merintis jaringan dulu Pak”ungkapnya.

“Mobilnya yang ditaksikan punya berapa, Mas?”tanya saya

“Saya punya satu pak, yang ini”jawabnya.

“Lho, saya kira punya dua atau tiga mobil”kata saya dengan nada agak heran.

“Saya ajak teman-teman supir yang biasa mangkal di hotel dan mereka mau, Pak. Kalau dapat order dari saya ya tarifnya ikut saya, kalau ordernya dari hotel sesuai tarif hotel.

“Oo, begitu ngaturnya ya, Mas”

Boleh juga tuh kreatifitasnya dalam mengelola mobil yang ditaksikan. Sama-sama diuntungkan. Mas Eko untung, temannya untung dan penumpang termasuk saya juga puas dengan pelayanannya yang cepat, tepat waktu dan sopan.

 

Tugas Dadakan, Siang ke Lapangan Malam Bikin Laporan

Benar sih, yang namanya kerja itu harus pakai rencana. Apa yang mau dikerjakan, kapan mau dilaksanakan, semuanya ada rencananya. Tapi terkadang ada juga kerja dadakan. Seperti yang saya alami empat hari lalu.

Ceritanya, siang jam 10.10 saya dan teman kerja dipanggil bos ke ruangannya. Setelah dijelaskan, jam 13.00 langsung meluncur ke lapangan. Setelah koordinasi sama kepala logpond, liat-liat lokasi juga ambil fotonya. Jam 15.30 balik lagi dari logpond ke kantor. Sampai kantor sekitar jam 16.30 dan menghadap bos sampai jam 17.45. Bos pesan supaya malam itu juga dibikin laporan dan emailkan ke kantor Pontianak dan kantor Jakarta.

Istirahat sebentar, sholat maghrib dan makan malam, habis Isya lanjut buat laporannya. Untungnya saya terbiasa ngeblog, jadi nggak susah bikin laporan singkat hasil survei dilengkapi foto-fotonya… Setelah jadi, langsung emailkan dan alhamdulillah pesan terkirim. Untung diemailkan malam itu juga, karena besoknya laporan itu langsung dipelajari bos di Pontianak dan jadi informasi awal buat teman kerja di Pontianak yang mau ke camp…Ploong rasanya bisa selesaikan tugas dan laporkan hasil surveinya dengan lancar…

Selamat Atas Postingan ke-500

Congratulations on writing 500 posts on Yudhi Hendro Berbagi Cerita!

Seperti itu ucapan selamat dari wordpress buat saya. Suprise, karena selama hampir 5 tahun ngeblog, sudah 500 postingan yang saya buat. Sejak ngeblog tahun 2012 sampai sekarang, alhamdulillah masih konsisten buat nulis… Memang yang namanya istiqomah itu berat, kalau ringan namanya istirahat 🙂

Minggu awal Januari tahun 2017 ini saja sempat nggak sempat buat postingan. Pekerjaan offline yang sering menyita waktu. Waktu lihat statistik per bulan di wordpress, baru tahu kalau sampai minggu kedua Januari belum ada tulisan.

Ada perasaan bersalah kalau sampai satu bulan nggak menulis. Rasanya gimana gitu kalau ide-ide yang ada di kepala nggak tersalurkan dalam postingan. Ada yang kurang dan bikin hati belum plong kalau satu hari mau menulis, tapi nggak jadi. Akhirnya jadi hutang yang harus dikerjakan besoknya.

Makasih ya buat adminnya wordpress yang sudah kasih ucapan. Minimal sudah menyemangati saya buat menulis lagi dan lagi. Juga buat teman-teman blogger yang sudah berkunjung ke blog ini, kasih komentar dan juga like. Syukur-syukur setelah baca tulisannya, dapat tambahan informasi dan pengetahuan.

Karyawan yang Bekerja Melebihi Tanggung Jawabnya

“Gimana menurut pak Yudi, warna dindingnya setelah dicat?”tanya seorang rekan kerja

“Warnanya kalem pak, cocok sama warna lantainya”jawab saya.

Obrolan di atas terjadi ketika saya keluar kantor dan bertemu dengan rekan kerja yang sedang memantau pengecatan mess karyawan. Sejak mess karyawan kami direnovasi lebih dari sepuluh tahun lalu memang belum pernah dicat lagi. Warna lama dindingnya merah muda. Pintu dan jendelanya dicat putih.

Sekarang hampir semuanya sudah berubah. Dindingnya dicat coklat muda dan pintunya coklat tua. Hanya warna jendelanya yang masih tetap. Meski warnanya nggak ngejreng tapi kesannya malah lebih cerah dan segar dibandingkan sebelumnya.

Tidak hanya itu, warna pagar yang sebelumnya coklat tua juga diganti menjadi kombinasi coklat muda dan putih. Kesannya tidak lagi gelap tapi bertambah terang. Tiang-tiang lampu dan kotak sampah juga dicat dengan warna coklat. Plang di bawah atap yang sebelumnya kombinasi warna merah putih juga diganti dengan warna coklat susu dan coklat muda.

“Sebelumnya ada yang usul dicat warna biru, tapi saya pikir-pikir nggak cocok”ungkapnya.

Dia yang memberikan perintah ke staf bagian umum yang ditugasi mengawasi pekerjaan karyawan harian kantor mengecat ulang mess karyawan.

Meski bertugas di bagian keuangan, saya melihat dia cocok dengan ide-ide menata dan merawat bangunan, termasuk memilih warna apa yang sesuai untuk pengecatannya. Bahkan pernah bilang juga kalau ada teman-teman lain yang mau memberi saran untuk perbaikan dan pembenahan lingkungan, silakan saja. Nanti dia yang akan pertimbangkan dan kalau sesuai akan dikerjakan.

Sungguh senang apabila ada rekan kerja yang punya perhatian seperti itu untuk kerapian dan kebersihan lingkungan kerja. Punya kepedulian membantu bagian lain agar lingkungan kerja dan tempat tinggal karyawannya lebih terawat. Yang jelas, kalau tempat kerja juga lingkungannya rapi dan bersih, kita pun yang kerja juga ikut nyaman.