Beli Produk Usaha Teman Sekolah

Jogja Donuts

Saya punya beberapa teman sekolah yang punya usaha kuliner. Di Jogja, ada dua teman yang punya usaha kue dan olahan coklat. Yang satu namanya Nunung Krisnayanto. Punya usaha kue dengan merk Jogja Donuts.

Saya pernah beberapa kali beli kuenya. Untuk dikirim ke mertua dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Waktu adik saya yang di Jogja ulang tahun, saya juga kirim kue Jogja Donuts ke rumahnya.

Sebelumnya saya juga pernah beli langsung ke gerainya di SPBU Mlati Sleman. Nunung itu adik angkatan waktu kuliah di fakultas kehutanan. Saya angkatan 1989, dia 1991.

Teman kedua punya usaha produk coklat merk Makaryo. Namanya Sapardiyono. Dulu waktu kuliah dia kakak angkatan satu tingkat. Yang unik, label coklatnya bisa kita pesan dengan ucapan atau slogan sesuai keinginan kita.

Coklatnya juga pakai gula semut. Saya pernah pesan coklatnya untuk ibu bapak mertua dan anak-anak di Jogja. Pernah juga pesan untuk keluarga di Pontianak.

Ada juga teman SMA 1 Cirebon yang punya usaha bikin kue di Bogor. Spesialisasinya pie. Setelah puluhan tahun hilang kontak, waktu menjelang reuni 30 tahun akhirnya bertemu lagi di grup SMA dan grup kelas. Dulu waktu kelas satu dan dua kami sekelas. Namanya Widyasari. Biasa dipanggil Utun.

Waktu adik di Bogor ulang tahun bulan Pebruari lalu, saya pesan kue ke dia. Awalnya saya pesan kue tart. Ternyata dia tidak terbiasa bikin kue tart dan tawarkan kue lainnya: Maccaroni Pie alias Mac Pie.  Setelah lihat fotonya, saya tertarik dan setuju pesan kue itu.

Waktu hari H ultah, ternyata adik saya, Irma, sedang cuti. Rencana Utun ketemu dia di tempat kerjanya, Kuntum Nurseri, ditunda jadi hari Selasa.  Untuk bawakan kuenya sekalian kenalan. Padahal sebelumnya saya sudah minta supaya kuenya dikirim via ojol, tapi Utun menolak. Dia tawarkan dirinya antar kue ultah Irma.

Satu lagi teman SMA yang punya usaha kuliner, khususnya katering makanan tradisional dan modern, Ratengan. Teman ketika di SMA 2 Yogya. Namanya Sjamsiar Agustin, biasa dipanggil Titin.

Waktu saya ke Jogja bulan Nopember 2019 lalu sempat silaturahmi ke rumahnya. Di Argomulyo, Sedayu, Bantul. Janjian bertemu dengan teman-teman lainnya. Bertemu lagi setelah sekitar 3o tahun berpisah. Saya baru tahu dia punya usaha kuliner setelah bertemu di rumahnya.

Dijamu makan siang dengan berbagai hidangan. Ada juga cemilan. Waktu pulang dikasih oleh-oleh lagi. Tepung krispi, sayur dan lauk-pauk.

Seperti ketika beli produk makanan teman-teman lainnya, saya juga pesan dan beli produk kulinernya untuk bapak ibu dan anak-anak di Jogja. Pesan ikan tongkol suwir pedas dan ayam karipop. Masing-masing satu porsi. Yang bikin saya surprise, dikasih bonus babat gongso dan koro bacem. 🙂

Matur nuwun ya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan berkah usahanya.

 

1 Bulan Minimal Baca 1 Buku

Di awal tahun 2020 ini sudah dua buku yang saya baca. Bulan Januari lalu saya baca buku yang judulnya Nadiem Makarim. Kisah kehidupan penemu aplikasi Gocar yang fenomenal itu.

Ternyata ide munculnya aplikasi itu ketika dia sering ngobrol dengan para pengemudi ojek pangkalan yang sering lama menunggu penumpang.

Di sisi lain, Nadiem yang ketika itu bekerja di lembaga konsultan sering naik ojek supaya cepat sampai ke kantornya. Namun, dia kesulitan mencari ojek dan harus jalan kaki ke pangkalan ojek.

Buku kedua yang saya baca Bangkit dari Titik Minus tulisan Saptuari Sugiarto. Kisah jatuh bangun orang-orang yang terjerat utang dan akhirnya bisa melunasi utang-utangnya. Kalau buku yang pertama tadi saya beli di Gramedia, buku kedua ini saya beli online.

Alhamdulillah, bukunya sudah selesai saya baca di bulan Pebruari. Target sementara ini tercapai. Dua bulan baca dua buku. Well done. .. Semangat.

Buku-buku berikutnya yang saya baca ada tiga. Temanya tentang self development atau pengembangan pribadi dan keuangan. Tulisan Yodhia Antariksa. Buku-buku itu saya beli online.

Kebetulan lagi promosi. Harganya hanya 145 ribu untuk satu paket isi tiga buku. Satu buku isinya sekitar 200 halaman. Free ongkir lho.

Bukunya sudah datang. Alhamdulillah buku yang judulnya Change Your Habits, Change Your Life mulai saya baca. Isinya bagus banget.

Intinya kalau kita mau ubah kebiasaan itu mulaj dari target yang kecil dan mudah dulu. Small and tiny step. Jangan punya target yang muluk-muluk untuk mulai kebiasaan baru.

Misalnya kita ingin punya kebiasaan baca buku. Mulai baca 1 halaman saja sehari. Sehari sehalaman tapi rutin. Tetapkan waktunya kapan.

Misal jam 19.30 setelah makan malam atau setelah sarapan. Lakukan rutin 1 hari 1 halaman saja. Nggak perlu sekali baca satu bab atau 10 halaman. Bagi yang belum biasa memang awalnya bisa dipaksakan, tapi apakah bisa berjalan rutin di hari-hari berikutnya?

Masih banyak contoh lain di buku ini tentang gimana cara membangun kebiasaan baru yang positip. Tentang kebiasaan menjaga kesehatan, menulis, olahraga sampai membaca buku. Disertai cara-caranya dengan rinci dan semuanya sudah dipraktekkan penulisnya.

Belanja Emping Jagung di Pasar Nologaten Sleman

Salah satu hal yang saya lakukan waktu traveling itu mencari oleh-oleh. Sewaktu pulang ke Jogja biasanya saya bawakan kue bingke, kerupuk ikan dan ikan teri untuk bapak ibu mertua  dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Demikian juga kalau pulangnya lewat Semarang.

Sebaliknya, waktu pulang ke Pontianak, saya juga usahakan bawa buah tangan buat keluarga di Pontianak. Kalau ke Jogja, oleh-oleh yang saya bawa biasanya bakpia. Kadang-kadang yangko atau geplak. Bapak ibu mertua juga sering titip oleh-oleh gudeg untuk anak dan cucu-cucunya.

Waktu ke Jogja bulan Nopember 2019, lalu saya bawakan oleh-oleh yang berbeda. Emping jagung. Cemilan yang disukai anak-anak dan istri. Pertama kali beli cemilan itu waktu ke Kroya. Ketika saya dan istri menemani ibu mertua yang ingin menengok putra bungsu dan keluarganya. Sewaktu wisata di pantai Ayah, Kebumen, ada banyak pedagang yang menawarkan makanan ringan. Termasuk emping jagung. Rasanya manis dan renyah.

Di Jogja, saya dapat informasi dari istri kalau mau beli emping jagung di pasar Nologaten, Gowok. Kalau ke Jogja saya jarang berbelanja ke pasar Nologaten. Meski jaraknya dekat dari rumah. Lebih sering berbelanja cemilan ke pasar Beringharjo atau toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja.

Di pasar Nologaten, saya tidak langsung bisa menemukan kios penjual emping jagung. Saya datangi lapak penjual buah-buahan. Beli pisang dan bertanya di mana yang jualan emping jagung. Penjualnya menunjukkan lokasinya,”Tiga gang dari sini ke arah keluar, Mas”

Ternyata kios penjual emping jagung tadi sudah saya lewati waktu saya masuk pasar. Sampai di tempat yang dituju, saya terkejut. Beraneka cemilan dijajakan di dalam kantong-kantong plastik.

Saya beli emping jagung  2 kg dan slondok 1 kg. Saya juga minta tiap kantong plastik isinya 0,5 kg. Jadi ada 6 bungkus. Untuk oleh-oleh keluarga di Pontianak dan teman-teman kerja di camp. Harganya 32 ribu per kg.

Karena saya pulangnya naik Lion Air dari Semarang, oleh-oleh itu saya kemas dalam kardus dan saya kirim via JNE di Seturan. Apalagi untuk maskapai itu ada pembatasan berat barang yang boleh dibawa di bagasi kabin maksimal 7 kg. Saya juga nggak perlu nenteng barang itu dari Jogja ke Semarang.

Saya kaget ketika diberitahu petugas berapa biaya pengiriman barangnya. Berat totalnya 3,5 kg dan dibulatkan jadi 5 kg. Per kilonya seingat saya 33 ribu. Ternyata biayanya lebih besar daripada harga oleh-olehnya. 🙂 Padahal saya sudah pilih pengiriman biasa yang sampainya 3 hari.

 

 

Naik Bis Maju Terus yang Baru

Saya biasa naik bis Maju Terus dari Pinoh ke Pontianak. Kadang-kadang waktu dari Pontianak – Pinoh juga. Tarifnya 175 ribu. Beli tiketnya belum bisa online. Harus pesan dulu ke petugas ticketing. Setelah sampai di Pinoh baru saya ambil tiket di agennya. Warung kopi Maju Terus. Hikmahnya, saya punya kenalan petugas bagian pemesanan tiket. Namanya Udin.

Waktu naik bis itu tanggal 7 Januari lalu saya dapat bis yang baru. Warna kursinya ngejreng. Ungu muda. Serasi dengan sarung kursinya yang biru. Kontras dengan selimutnya yang oranye. Harga tiketnya masih sama. Saya dapat info bis baru itu dari Udin sebulan sebelumnya.

Setiap penumpang dapat satu botol air mineral ukuran kecil. Di sandaran tangan kiri ada dua colokan untuk mengisi ulang batere hp. Untuk yang kursinya tunggal. Yang kursinya satu baris berdua colokannya juga di masing-masing sandaran tangan.

Saya biasa pilih yang kursinya tunggal. Selain bisnya baru, yang bikin saya terkesan itu penumpang di depan saya. Sopan sekali. Waktu mau mundurkan kursinya, dia minta ijin dulu. Saya pun ijinkan. Jarang ada penumpang seperti itu.

Pendingin udara di atas kepala juga bisa diatur. Ada dua buah. Biasanya saya tutup separuh karena nggak tahan dingin.

Bis baru itu mungkin untuk peremajaan. Mengganti bis yang lama. Bisa juga supaya nggak kalah bersaing dengan bis-bis DAMRI. Yang armadanya baru-baru dan tiketnya bisa dibeli online.

Wisata Religi di Ponpes Al Bahjah Cirebon

Tahun 2018 ketika ngobrol dengan teman SMP, saya pernah bilang,”Nanti kalau ke Cirebon lagi saya mau kunjungi Ponpes Al Bahjah dan Sentra Batik Trusmi”

Setahun sebelumnya, di bulan Maret 2017, saya berkunjung ke Cirebon. Menghadiri reuni 30 tahun SMP 5 alumni tahun 1986. Pada waktu itu karena hanya semalam di Cirebon, tidak cukup waktu untuk berkunjung kedua tempat tadi. Sampai di Cirebon sore hari, diajak bertemu dengan teman-teman yang sedang futsal. Setelah itu kembali ke hotel. Malamnya diajak ke tempat reuni untuk melihat persiapannya. Setelah itu menikmati kuliner mie koclok di jalan Lawanggada.

Pagi harinya sudah dijemput teman untuk hadiri reuni mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Selesai reuni diantar teman ke stasiun Kejaksaan. Pulang ke Semarang naik kereta.

Kesempatan ke ponpes Al Bahjah baru terlaksana waktu saya ke Cirebon tanggal 29 Nopember tahun lalu. Berangkat dari Semarang naik kereta Ciremai jam 17.40. Sampai di Cirebon sekitar jam 21.00. Dijemput teman SMP dan diajak ngobrol di salah satu cafe dekat pertigaan jalan Siliwangi dan jalan Slamet Riyadi. Pulang ke hotel sekitar jam 23.00. Setelah itu istirahat dan bangun jam 04.00. Saya sempatkan sholat subuh di masjid At Taqwa.

Sekitar jam 06.00 saya naik ojol ke ponpes Al Bahjah. Ongkosnya 25 ribu. Jaraknya sekitar 10 km dari masjid At Taqwa. Sampai di ponpes sekitar jam 06.30. Suasana  tempat kajian masih sepi. Saya manfaatkan waktu untuk melihat-lihat lingkungan ponpes Al Bahjah.

Di depan pintu masuk, saya berjalan ke arah mess santri yang berupa gedung bertingkat. Terlihat para santri bermain bola di lapangan yang juga berfungsi sebagai halaman parkir mobil. Setelah itu saya berwudhu dan masuk ke ruangan  acara kajian.

Saya dapat tempat di shaf kedua. Cukup jelas melihat tempat ustadz memberikan taushiyah. Waktu itu saya berharap bisa melihat langsung taushiyah Buya Yahya. Ternyata beliau berhalangan hadir pada hari itu. Jadwal taushiyahnya diganti oleh dua orang ustadz yang menyampaikan dua materi kajian.

Sekitar satu jam saya mengikuti kajian. Saat kajian tahap kedua berakhir, saya keluar dari ruangan karena waktu sudah menunjukkan jam 08.15. Saya harus siap-siap untuk mengikuti acara berikutnya. Hadiri reuni 30 tahun SMA 1 alumni 1989.

Sebelum pulang, saya sempatkan sarapan di warung di ponpes. Yang menarik yang melayani pembeli itu para santri. Banyak keluarga yang singgah ke warung ini untuk makan dan minum. Saya beli nasi kuning sebungkus. Harganya hanya 2 ribu rupiah. Murah banget. Selesai sarapan saja sempatkan lagi melihat-lihat lingkungan ponpes di dekat pintu keluar. Setelah itu pesan ojol untuk kembali ke hotel.

Perjalanan pulang ke hotel, driver menempuh rute yang berbeda dibandingkan waktu berangkat. Saat pergi, saya melewati rute jalan Kartini -jalan Dokter Cipto – jalan Kanggraksan – jalan Kalitanjung – jalan Pangeran Cakrabuana dan belok kanan ke ponpes Al Bahjah.

Pulangnya lewat jalan Pangeran Cakrabuana –  jalan Sultan Ageng Tirtayasa – jalan Pilang – jalan Slamet Riyadi – jalan Siliwangi.

Ketika di jalan kenalan dan ngobrol dengan driver ojol, tak disangka-sangka ternyata dia kakak kelas waktu SMP. Tiga tahun di atas angkatan saya. Obrolan pun berlanjut seputar masa sekolah dulu. Dia masih ingat guru bahasa Inggris, pak Ali Khusnan, yang ternyata juga mengajar saya dan teman-teman waktu kelas 2.

Tak terasa obrolan berakhir ketika kendaraan sampai di halaman hotel Cordova di depan stasiun Kejaksan.

Sebuah perjalanan yang sangat berkesan. Tidak hanya mendapat ilmu di pengajian, namun juga bertemu teman-teman lama yang tulus dalam menjalin persahabatan.

Pengalaman Pertama di Bandara YIA

Pulang ke Jogja dari Pontianak biasanya saya memilih terbang dari Bandara Supadio ke bandara Adisucipto. Naik pesawat NAM Air atau Express Air. Namun, tanggal 24 Nopember lalu saya mencoba memilih naik Lion Air. Salah satu maskapai yang mendarat di bandara YIA. Berangkat dari Supadio jam 10.00. Harga tiketnya lebih murah daripada tiket pesawat yang mendarat di bandara Adisucipto.

Selain harga tiket yang lebih murah. Rasa ingin tahu alias kepo yang membuat saya memilih penerbangan ini. Ingin tahu seperti apa suasana bandara baru di Kulonprogo ini. Ingin tahu bagaimana rasanya memilih maskapai yang bawaan bagasinya dibatasi. Ingin tahu bagaimana transportasi selanjutnya dari YIA ke Jogja. Semuanya hal baru yang ingin saya ketahui dan jalani.

Sebelumnya sudah bertanya ke teman yang pernah mendarat di bandara ini. Juga saya mencari informasinya di internet. Dari bandara ke kota Jogja naik kendaraan apa? Berapa ongkosnya? Turunnya di mana?

Bekal informasi selengkap-lengkapnya sudah saya kantongi. Langkah selanjutnya adalah menjalani.

Informasi yang saya dapatkan, ada armada DAMRI yang melayani rute dari bandara YIA  ke Jogja. Jika naik bis turunnya di kantor DAMRI di Janti.

Saat check in di bandara Supadio, petugas meminta tas traveling saya supaya ditimbang. Beratnya 6,8 kg. Masih di bawah batas maksimal 7 kg per orang. Petugas memberi tanda dengan kertas kuning bertuliskan cabin baggage. Bagasi yang diperbolehkan dibawa ke kabin.

Sesaat sebelum mendarat di bandara YIA, saya melihat pemandangan yang bagus. Ombak laut pantai selatan. Dari dalam pesawat juga terlihat landasan pacu. Seakan berdekatan dengan pantai selatan.

Saat mendarat di bandara YIA sekitar jam 12 siang, saya bergegas ke luar  pintu kedatangan dan mencari armada DAMRI. Sempat ditawari taksi online, tapi saya tolak dengan halus.

Saya berjalan lagi sampai di parkiran armada DAMRI. Setelah saya sebutkan tujuan perjalanan dan membayar ongkos 50 ribu rupiah, petugasnya mengarahkan saya ke mobil shuttle. Waktu menunggu di dalam mobil, petugasnya memberitahukan supaya saya dan penumpang lainnya pindah ke mobil lain yang berangkat lebih awal.

Mobilnya masih baru. Ada lima penumpang yang naik mobil itu. Tidak menunggu penumpang penuh, mobil berangkat ke Jogja. Di sini saya melihat lingkungan di sekitar bandara sampai dengan pintu keluar masih proses pembangunan.

Perjalanan dari bandara YIA sampai Jogja sekitar 1,5 jam. Saya dan dua orang penumpang turun di jalan Ahmad Dahlan dekat perempatan Malioboro. Penumpang sebelumnya turun di Gamping.

Satu orang turun di depan rumah sakit PKU Muhammadiyah. Dari tempat itu saya lanjut perjalanan ke rumah bapak ibu mertua menggunakan taksi online. Ongkosnya 30 ribu.

Ada yang masih bikin saya penasaran.  Perjalanan sebaliknya. Dari kota Jogjakarta ke bandara YIA. Ini yang saya harus cari informasi dan praktekkan lagi 🙂

Reuni Sambil Berwisata

Reuni 3o tahun dengan teman-teman kuliah angkatan 1989 Fakultas Kehutanan UGM itu akhirnya tidak bisa saya ikuti. Karena saya dan teman-teman di camp sedang mempersiapkan untuk kegiatan sertifikasi pengelolaan hutan pada akhir bulan Oktober.

Acara reuni diadakan di Jogja tanggal 19-20 Oktober yang lalu. Melihat foto-foto kegiatannya, ada rasa penyesalan muncul di hati. Kenapa saya tidak berada di sana bersama teman-teman?

Diawali dengan acara di fakultas. Sebagian teman-teman yang setelah lulus belum pernah bertemu, pada saat itu berkumpul kembali. Dari 126 orang teman seangkatan yang hadir reuni 60 orang. Berfoto di ruang dekan yang juga angkatan 1989, Doktor Budiadi, ahli Agroforestry lulusan Jepang. Malam sebelumnya, teman-teman yang sudah datang bertemu di acara ramah tamah di fakultas, bergabung dengan kakak dan adik angkatannya.

Pagi harinya dengan menggunakan kaos dan rompi yang seragam, mereka berfoto di depan fakultas yang papan plang penandanya sudah direnovasi. Diganti dengan latar belakang gelondongan kayu yang dipotong-potong dan di depannya bertuliskan Fakultas Kehutanan UGM. Setelah itu mereka berfoto di depan Gedung Pusat.

Acara dilanjutkan dengan perjalanan ke hutan pendidikan Wanagama. Proses napak tilas mengenang kembali masa-masa ketika kami pada tahun 1989 belajar bagaimana menghijaukan daerah yang awalnya gersang.

Setelah itu, lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah tempat wisata Tebing Breksi. Panorama di sore hari menjelang senja cukup bagus dinikmati. Selesai dari Tebing Breksi, peserta reuni diajak menikmati makanan khas Jogja, gudeg Yu Jum, di sekitar lokasi Tebing Breksi.

Pengaturan acara reuni memang profesional. Teman-teman yang tinggal di Jogja membentuk panitia. Anggotanya Budiadi, Joko “Kempong” Sulistyo, Joko “Kepek” Supriyadi, Darul Falah, Liliek Harijanto, Setiaji Heri Saputro, Anik Sulistyawati dan Israr Ardiansyah. Saat rapat beberapa kali membahas persiapan reuni, pak dekan menyediakan ruang kerjanya.

Untuk akomodasi, ketua panitia yang juga kami biasa menyebutnya kepala suku angkatan ’89, Israr Ardiansyah, menyediakan rumahnya yang biasanya digunakan sebagai home stay untuk dijadikan menginap teman-teman dari luar Jogja. Gratis. Luar biasa semangatnya untuk membantu teman-teman. Semua peserta puas dengan jadwal acara dan pelayanannya.

Karena puas dan berkesan, bahkan teman-teman yang datang dari Pekanbaru, Medan, Sumba, Jambi, Lampung menginginkan agar reuni seperti ini bisa diadakan lagi. Bisa di tempat yang berbeda atau di tempat yang sama, sekaligus untuk menengok keluarga atau anak-anaknya yang kuliah di Jogja.