Bergaul dengan Penjual Minyak Wangi atau Pandai Besi?

Sejak membaca artikel tentang motivasi dan pengembangan diri, saya rasakan ada yang berubah dari diri ini. Apalagi setelah saya juga ikuti training High Class Response Kang Harri Firmansyah yang ditujukan buat leader-leader dan mitra-mitra ARMINA DAILY. Rasanya suasana hati lebih tenang, pikiran juga lebih fokus, tidak terganggu dengan macam-macam kondisi lingkungan.
Apa rahasianya? Saya praktekkan ilmunya, salah satunya adalah memilih bacaan-bacaan dan informasi di internet. Saya pilih bacaan dan informasi yang tidak membikin hati panas, gelisah atau cemas.
Dulu, hampir setiap berita online saya baca, tayangan berita di televisi saya lihat. Karena ingin update dengan kondisi terbaru, supaya tetap bisa menyambung kalau diajak ngobrol.
Tapi saat ini saya batasi lihat televisi. Saya utamakan lihat acara olahraga yang live. Namun, selama covid belum ada lagi siaran langsung olahraga.
Bacaan di internet juga saya benar-benar pilih. Hanya yang berpengaruh menambah skill dan pengembangan diri yang saya baca. Juga postingan-postingan di medsos. Saya selektif baca postingan di FB, IG, Twitter dan WA.
Alhamdulillah, yang awalnya saya melahap semua jenis informasi, sekarang lebih selektif. Saya lebih fokus mengoptimalkan menu-menu yang ada di FB, IG maupun WA. Yang selama ini saya abaikan karena waktunya tersita membaca beragam informasi.
Saya jadi ingat pesan Nabi Muhammad SAW, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Teman di hadits di atas kalau boleh saya artikan tidak hanya teman atau kawan kita secara fisik atau virtual, namun juga berupa derasnya informasi yang kita terima setiap hari.
Kalau kita sering membaca informasi-informasi yang banyak kandungan hoaknya, maka kita juga akan mendapatkan percikan api yang bisa menyulut pertentangan dengan pihak lain. Apalagi sebelum cross check kita langsung share informasi tersebut ke orang lain atau grup.
Pengaruhnya tak hanya itu, di hadits di atas disebutkan dua hal akibat kita bergaul dengan pandai besi: terkena percikan apinya atau mencium bau asapnya.
Kita tahu bagaimana rasanya menghirup bau asap dari besi-besi yang sedang ditempa dan dipanaskan. Napas terasa sesak, pengap dan terkadang bikin mata pedih.
Demikian juga saat kita terima informasi yang bersifat hoak, kekerasan, kriminal. Saya merasa dada saya jadi sesak, hati cemas, pikiran tambah stress dan susah berkonsentrasi.
Sebaliknya, saat saya melihat tayangan yang berkualitas, inspiratif dan memotivasi, hati berubah menjadi lebih optimis, semangat dan bahagia.
Benar sekali apa yang disabdakan kanjeng nabi, dan beliau juga bijaksana. Memberikan perumpamaan dalam memilih teman.
Beliau menawarkan dua pilihan beserta resikonya. Beliau tidak memaksakan kehendak, namun menyerahkan kepada kita untuk memilih. Beserta konsekuensi dari pilihan tersebut.
Semoga bisa konsisten nulis seperti ini

Semua Berawal dari Pikiran

Dalam surat Ar Rad ayat 11 disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Petikan ayat di atas memberikan pemahaman bahwa yang bisa mengubah nasib kita adalah diri kita sendiri. Allah hanya mengikuti apa yang sudah kita lakukan untuk mengubah nasib itu. Jadi kendalinya ada di dalam diri kita.

Jika kita ingin nasib kita ubah, yang pertama kali harus hijrah atau berubah adalah pikiran kita terlebih dahulu. Karena pikiran kita akan menentukan perbuatan atau tindakan kita.

Misalnya saya rencana hari ini akan menulis di blog ini. Itu adalah hasil dari pikiran saya bahwa saya hari ini punya rencana menulis.

Setelah punya pemikiran menulis, tindakan saya adalah buka laptop atau ponsel dan mengetikkan kata demi kata hingga terangkai menjadi sebuah kalimat, paragrap dan cerita.

Kalau saya tidak punya pikiran mau menulis, tangan tidak akan bergerak merangkai kata dan mengungkapkan gagasan. Bisa jadi saya malah gunakan tangan untuk keperluan yang lainnya.

Jika saya menulis beberapa kali atau bahkan rutin misalkan minimal seminggu sekali, maka menulis bisa menjadi kebiasaan. Dan membangun kebiasaan ini nggak mudah. Karena dipengaruhi faktor dalam diri kita dan faktor luar.

Misalkan saya belum menemukan ide menulis atau faktor luar karena sinyal internet mengalami gangguan. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu ketika 19 jam koneksi internet terputus.

Untuk mengatasi tantangan faktor internal, saya harus rajin mencari ide apa yang mau ditulis. Sumbernya bisa dari mana saja, dari apa yang saya lihat, saya baca, saya rasakan, bahkan komentar teman di postingan pun bisa jadi ide tulisan.

Kebiasaan yang dilakukan secara rutin itu akan membentuk karakter diri kita. Dari yang sebelumnya kurang produktif gunakan waktu menjadi berusaha mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Setelah punya kebiasaan menulis, waktu yang ada lebih sering digunakan hal yang produktif misalkan mencari ide menulis, membaca tulisan-tulisan orang lain yang menginspirasi, dan mengikuti komunitas yang memotivasi.

Seperti yang saya lakukan saat bergabung menjadi mitra Armina Daily. Di komunitas tersebut selain saya bertemu dengan mentor yang sudah terbukti sukses dan memotivasi diri saya untuk sukses.

Saya juga mendapatkan training-training pengembangan diri seperti training High Class Response, training Magnet Rezeki. Saya juga bertemu dengan mitra-mitra lain yang punya semangat bersilaturahmi.

Jika karakter kita sudah terbentuk dan kita mendapatkan lingkungan atau situasi yang mendukung maka potensi diri kita akan berkembang.

Keunggulan diri kita akan melejit. Kelebihan diri kita akan menemukan jalannya. Di titik ini peran diri kita akan meluas dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Dan ketika orang lain merasa terbantu dengan kehadiran kita, merasa kita bisa menjadi problem solver maka nasib kita sudah berubah.

Kita yang sebelumnya hanya berpikir untuk diri sendiri, untuk kepentingan pribadi maka dengan meluaskan niat kita menolong orang lain, nasib kita pun akan berubah

 

Dua Anak Tetap di Jogja

Dua anak cewek yang sedang kuliah di Jogja belum bisa pulang ke Pontianak saat wabah Covid-19 ini. Si sulung, Nadia, sedang sibuk menyusun skripsi.

Waktu saya  WA kemarin (26/4) tanya perkembangan skripsinya, bab tiga analisis statistik harus diperbaiki sesuai permintaan dosennya. Karena sibuknya, sampai tidak sempat baca apalagi komen postingan saya dan mamanya di grup WA keluarga. Dia memang fokus ke penyelesaian skripsi supaya bulan Mei nanti bisa ujian.

Anak kedua, Aysha, bulan Maret lalu hampir saja pulang ke Pontianak. Sudah cari tiket Jogja – Pontianak. Waktu mamanya tanya pendapat saya, keputusan pulang tidaknya saya serahkan ke Aysha. Setelah sering telepon mamanya, keputusannya berubah. Tetap tinggal di Jogja.

Dia juga mikir kalau pulang ke Jogja pasti buku-bukunya juga harus dibawa. Ini berarti tambahan bagasi di pesawat. Meski kuliahnya online, namun tugas-tugasnya cukup banyak dan perlu buku referensi.

Meski kami berjauhan. komunikasi tetap berjalan lewat WA. Pernah dia dapat tugas statistika. Tentang programasi linier. Dia kirim soalnya ke mamanya untuk cari cara pengerjaannya. Mamanya teruskan soal itu ke saya malam hari jam sepuluh dan bilang tugasnya dikumpulkan besok pagi. Mungkin mamanya sudah berusaha kerjakan dan ingin tahu gimana jawaban saya.

Waktu itu saya sudah tidur dan baru buka WA paginya. Sampai di kantor saya belum sempat kerjakan tugas Aysha itu. Baru sekitar jam 10 saya kerjakan, saya foto tulisan di kertas dan saya kirim ke mamanya Aysha.

Setelah itu ada jawaban, “Sayang tugasnya sudah dikumpulkan  ke dosennya”

 

Hari Pertama Ramadhan Diiringi Hujan

Hari ini 24 April 2020 bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 1441 H. Di camp, hari pertama bulan Ramadhan Allah SWT turunkan hujan sejak jam 5 pagi.

Udara bertambah segar dan sejuk. Bisa jadi inilah berkah bulan Ramadhan. Meski sudah memasuki bulan April yang biasanya musim kemarau, namun masih ada hujan.

Bahkan sampai dengan jam 7 pagi ketika masuk kerja, hujan masih turun.  Bisa jadi nanti siang jam 11 cuaca berubah cerah dan hangat. Kondisi cuaca saat ini memang tidak mudah diprediksi dan cepat berubah.

Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1441 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita.

 

 

Rapat Online

Setiap bulan, saya biasanya ke Pontianak untuk ikut rapat. Biasanya minggu pertama di bulan tersebut. Dua hari rapatnya. Hari pertama membahas bidang Logistik dan Teknik. Hari kedua bidang Pengusahaan Hutan.

Peserta rapat dari masing-masing camp dan personil di Pontianak. Direktur yang bertugas di Pontianak sebagai pimpinan rapat. Ada juga satu orang perwakilan dari kantor Jakarta.

Saat rapat, masing-masing camp diminta presentasi. Menyajikan data realisasi kegiatan dan permasalahannya. Selanjutnya dibahas dan ditanggapi oleh pimpinan rapat.

Rapat dimulai jam 9 pagi dan biasanya selesai jam 4 sore. Terkadang lebih cepat selesai. Tergantung permasalahan yang ada.

Namun rapat pada bulan April ini berbeda. Tidak lagi peserta hadir ke Pontianak. Wabah COVIC-19 telah mengubah bentuk rapat. Dari yang hadir secara fisik dan bertemu di ruang rapat menjadi rapat online. Masing-masing tetap berada di lokasi kerja dan rapat menggunakan teknologi internet. Tele conference. Masing-masing menggunakan laptop.

Selain bentuknya yang berbeda, isinya juga lebih ringkas. Pimpinan rapat meminta supaya poin-poin dan masalah penting saja yang disampaikan. Tidak perlu ada presentasi masing-masing camp. Efisien.

Ini pengalaman pertama rapat online. “Canggih ya. Dari hutan bisa langsung lihat orang-orang di Pontianak” kata boss saya.

“Ya, pak. Yang penting sinyal internet lancar”jawab saya

 

Mudahnya Memperpanjang Masa Berlaku SIM A dan C

Tanggal 9 Maret 2020 lalu saya mengurus perpanjangn SIM A dan C di SATPAS  (Satuan Penyelenggara Administrasi SIM) Polresta Pontianak. Sebelum ke sana saya lengkapi dulu persyaratannya. Bawa Surat Keterangan Dokter (SKD), SIM asli dan foto copy KTP.

Ada dua SKD yang saya dapatkan karena saya memperpanjang dua SIM. Satu SKD untuk perpanjang SIM A dan satu SKD untuk perpanjang SIM C.

Setelah dapatkan SKD di Puskesmas Purnama, saya datang ke Polresta Pontianak. Saya kira proses perpanjangan SIM masih di Polresta.

Petugas di sana menjelaskan bahwa pembuatan dan perpanjangan SIM sudah sekitar dua bulan di SATPAS di jalan Martadinata, dekat SPBU. Bergegas saya menuju ke SATPAS. Sampai di lokasi saya baca pengumuman prosedur perpanjangan SIM.

Setelah itu saya ke loket pendaftaran. Menyerahkan berkas persyaratan dan oleh petugasnya diberikan formulir isian. Karena ada dua SIM yang harus diperpanjang, maka formulir isiannya juga dua. Di loket itu juga saya membayar biayanya. Untuk perpanjangan SIM A 80 ribu dan SIM C 75 ribu.

Kemudian saya diminta menyerahkan ke petugas di loket 1. Saya masuk ke dalam SATPAS. Menyerahkan berkas dan bukti pembayaran ke petugasnya. Setelah itu saya diberikan nomor antrian. Siang itu hanya ada 4 orang termasuk saya yang antri.

Setelah berkas persyaratan dicek oleh petugas, saya  diberi bukti pengecekan berkas dan diminta antri foto di loket 5. Letaknya di bagian belakang kantor. Di tempat itu ada 4 orang yang antri untuk foto. Saya serahkan  bukti pengecekan dan memilih menunggu di luar ruangan. Setelah nama saya dipanggil saya masuk ke ruang foto.

Selesai foto saya menunggu di luar ruangan di tempat yang sama karena tempat pengambilan SIM di depan ruang foto. Saya serahkan bukti sudah foto ke petugasnya. Nggak sampai 15 menit saya dipanggil. Petugasnya menyerahkan SIM A dan C yang baru.

Saya hitung-hitung, waktu mulai serahkan berkas sampai SIM perpanjangan selesai, hanya sekitar 20 menit. Mudah dan cepat. Bisa jadi karena saya datang siang hari dan pengantrinya nggak ramai. Juga karena petugasnya cekatan dan profesional dalam melayani.

Beli Produk Usaha Teman Sekolah

Jogja Donuts

Saya punya beberapa teman sekolah yang punya usaha kuliner. Di Jogja, ada dua teman yang punya usaha kue dan olahan coklat. Yang satu namanya Nunung Krisnayanto. Punya usaha kue dengan merk Jogja Donuts.

Saya pernah beberapa kali beli kuenya. Untuk dikirim ke mertua dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Waktu adik saya yang di Jogja ulang tahun, saya juga kirim kue Jogja Donuts ke rumahnya.

Sebelumnya saya juga pernah beli langsung ke gerainya di SPBU Mlati Sleman. Nunung itu adik angkatan waktu kuliah di fakultas kehutanan. Saya angkatan 1989, dia 1991.

Teman kedua punya usaha produk coklat merk Makaryo. Namanya Sapardiyono. Dulu waktu kuliah dia kakak angkatan satu tingkat. Yang unik, label coklatnya bisa kita pesan dengan ucapan atau slogan sesuai keinginan kita.

Coklatnya juga pakai gula semut. Saya pernah pesan coklatnya untuk ibu bapak mertua dan anak-anak di Jogja. Pernah juga pesan untuk keluarga di Pontianak.

Ada juga teman SMA 1 Cirebon yang punya usaha bikin kue di Bogor. Spesialisasinya pie. Setelah puluhan tahun hilang kontak, waktu menjelang reuni 30 tahun akhirnya bertemu lagi di grup SMA dan grup kelas. Dulu waktu kelas satu dan dua kami sekelas. Namanya Widyasari. Biasa dipanggil Utun.

Waktu adik di Bogor ulang tahun bulan Pebruari lalu, saya pesan kue ke dia. Awalnya saya pesan kue tart. Ternyata dia tidak terbiasa bikin kue tart dan tawarkan kue lainnya: Maccaroni Pie alias Mac Pie.  Setelah lihat fotonya, saya tertarik dan setuju pesan kue itu.

Waktu hari H ultah, ternyata adik saya, Irma, sedang cuti. Rencana Utun ketemu dia di tempat kerjanya, Kuntum Nurseri, ditunda jadi hari Selasa.  Untuk bawakan kuenya sekalian kenalan. Padahal sebelumnya saya sudah minta supaya kuenya dikirim via ojol, tapi Utun menolak. Dia tawarkan dirinya antar kue ultah Irma.

Satu lagi teman SMA yang punya usaha kuliner, khususnya katering makanan tradisional dan modern, Ratengan. Teman ketika di SMA 2 Yogya. Namanya Sjamsiar Agustin, biasa dipanggil Titin.

Waktu saya ke Jogja bulan Nopember 2019 lalu sempat silaturahmi ke rumahnya. Di Argomulyo, Sedayu, Bantul. Janjian bertemu dengan teman-teman lainnya. Bertemu lagi setelah sekitar 3o tahun berpisah. Saya baru tahu dia punya usaha kuliner setelah bertemu di rumahnya.

Dijamu makan siang dengan berbagai hidangan. Ada juga cemilan. Waktu pulang dikasih oleh-oleh lagi. Tepung krispi, sayur dan lauk-pauk.

Seperti ketika beli produk makanan teman-teman lainnya, saya juga pesan dan beli produk kulinernya untuk bapak ibu dan anak-anak di Jogja. Pesan ikan tongkol suwir pedas dan ayam karipop. Masing-masing satu porsi. Yang bikin saya surprise, dikasih bonus babat gongso dan koro bacem. 🙂

Matur nuwun ya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan berkah usahanya.

 

1 Bulan Minimal Baca 1 Buku

Di awal tahun 2020 ini sudah dua buku yang saya baca. Bulan Januari lalu saya baca buku yang judulnya Nadiem Makarim. Kisah kehidupan penemu aplikasi Gocar yang fenomenal itu.

Ternyata ide munculnya aplikasi itu ketika dia sering ngobrol dengan para pengemudi ojek pangkalan yang sering lama menunggu penumpang.

Di sisi lain, Nadiem yang ketika itu bekerja di lembaga konsultan sering naik ojek supaya cepat sampai ke kantornya. Namun, dia kesulitan mencari ojek dan harus jalan kaki ke pangkalan ojek.

Buku kedua yang saya baca Bangkit dari Titik Minus tulisan Saptuari Sugiarto. Kisah jatuh bangun orang-orang yang terjerat utang dan akhirnya bisa melunasi utang-utangnya. Kalau buku yang pertama tadi saya beli di Gramedia, buku kedua ini saya beli online.

Alhamdulillah, bukunya sudah selesai saya baca di bulan Pebruari. Target sementara ini tercapai. Dua bulan baca dua buku. Well done. .. Semangat.

Buku-buku berikutnya yang saya baca ada tiga. Temanya tentang self development atau pengembangan pribadi dan keuangan. Tulisan Yodhia Antariksa. Buku-buku itu saya beli online.

Kebetulan lagi promosi. Harganya hanya 145 ribu untuk satu paket isi tiga buku. Satu buku isinya sekitar 200 halaman. Free ongkir lho.

Bukunya sudah datang. Alhamdulillah buku yang judulnya Change Your Habits, Change Your Life mulai saya baca. Isinya bagus banget.

Intinya kalau kita mau ubah kebiasaan itu mulaj dari target yang kecil dan mudah dulu. Small and tiny step. Jangan punya target yang muluk-muluk untuk mulai kebiasaan baru.

Misalnya kita ingin punya kebiasaan baca buku. Mulai baca 1 halaman saja sehari. Sehari sehalaman tapi rutin. Tetapkan waktunya kapan.

Misal jam 19.30 setelah makan malam atau setelah sarapan. Lakukan rutin 1 hari 1 halaman saja. Nggak perlu sekali baca satu bab atau 10 halaman. Bagi yang belum biasa memang awalnya bisa dipaksakan, tapi apakah bisa berjalan rutin di hari-hari berikutnya?

Masih banyak contoh lain di buku ini tentang gimana cara membangun kebiasaan baru yang positip. Tentang kebiasaan menjaga kesehatan, menulis, olahraga sampai membaca buku. Disertai cara-caranya dengan rinci dan semuanya sudah dipraktekkan penulisnya.

Belanja Emping Jagung di Pasar Nologaten Sleman

Salah satu hal yang saya lakukan waktu traveling itu mencari oleh-oleh. Sewaktu pulang ke Jogja biasanya saya bawakan kue bingke, kerupuk ikan dan ikan teri untuk bapak ibu mertua  dan anak-anak yang kuliah di Jogja. Demikian juga kalau pulangnya lewat Semarang.

Sebaliknya, waktu pulang ke Pontianak, saya juga usahakan bawa buah tangan buat keluarga di Pontianak. Kalau ke Jogja, oleh-oleh yang saya bawa biasanya bakpia. Kadang-kadang yangko atau geplak. Bapak ibu mertua juga sering titip oleh-oleh gudeg untuk anak dan cucu-cucunya.

Waktu ke Jogja bulan Nopember 2019, lalu saya bawakan oleh-oleh yang berbeda. Emping jagung. Cemilan yang disukai anak-anak dan istri. Pertama kali beli cemilan itu waktu ke Kroya. Ketika saya dan istri menemani ibu mertua yang ingin menengok putra bungsu dan keluarganya. Sewaktu wisata di pantai Ayah, Kebumen, ada banyak pedagang yang menawarkan makanan ringan. Termasuk emping jagung. Rasanya manis dan renyah.

Di Jogja, saya dapat informasi dari istri kalau mau beli emping jagung di pasar Nologaten, Gowok. Kalau ke Jogja saya jarang berbelanja ke pasar Nologaten. Meski jaraknya dekat dari rumah. Lebih sering berbelanja cemilan ke pasar Beringharjo atau toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Jogja.

Di pasar Nologaten, saya tidak langsung bisa menemukan kios penjual emping jagung. Saya datangi lapak penjual buah-buahan. Beli pisang dan bertanya di mana yang jualan emping jagung. Penjualnya menunjukkan lokasinya,”Tiga gang dari sini ke arah keluar, Mas”

Ternyata kios penjual emping jagung tadi sudah saya lewati waktu saya masuk pasar. Sampai di tempat yang dituju, saya terkejut. Beraneka cemilan dijajakan di dalam kantong-kantong plastik.

Saya beli emping jagung  2 kg dan slondok 1 kg. Saya juga minta tiap kantong plastik isinya 0,5 kg. Jadi ada 6 bungkus. Untuk oleh-oleh keluarga di Pontianak dan teman-teman kerja di camp. Harganya 32 ribu per kg.

Karena saya pulangnya naik Lion Air dari Semarang, oleh-oleh itu saya kemas dalam kardus dan saya kirim via JNE di Seturan. Apalagi untuk maskapai itu ada pembatasan berat barang yang boleh dibawa di bagasi kabin maksimal 7 kg. Saya juga nggak perlu nenteng barang itu dari Jogja ke Semarang.

Saya kaget ketika diberitahu petugas berapa biaya pengiriman barangnya. Berat totalnya 3,5 kg dan dibulatkan jadi 5 kg. Per kilonya seingat saya 33 ribu. Ternyata biayanya lebih besar daripada harga oleh-olehnya. 🙂 Padahal saya sudah pilih pengiriman biasa yang sampainya 3 hari.

 

 

Naik Bis Maju Terus yang Baru

Saya biasa naik bis Maju Terus dari Pinoh ke Pontianak. Kadang-kadang waktu dari Pontianak – Pinoh juga. Tarifnya 175 ribu. Beli tiketnya belum bisa online. Harus pesan dulu ke petugas ticketing. Setelah sampai di Pinoh baru saya ambil tiket di agennya. Warung kopi Maju Terus. Hikmahnya, saya punya kenalan petugas bagian pemesanan tiket. Namanya Udin.

Waktu naik bis itu tanggal 7 Januari lalu saya dapat bis yang baru. Warna kursinya ngejreng. Ungu muda. Serasi dengan sarung kursinya yang biru. Kontras dengan selimutnya yang oranye. Harga tiketnya masih sama. Saya dapat info bis baru itu dari Udin sebulan sebelumnya.

Setiap penumpang dapat satu botol air mineral ukuran kecil. Di sandaran tangan kiri ada dua colokan untuk mengisi ulang batere hp. Untuk yang kursinya tunggal. Yang kursinya satu baris berdua colokannya juga di masing-masing sandaran tangan.

Saya biasa pilih yang kursinya tunggal. Selain bisnya baru, yang bikin saya terkesan itu penumpang di depan saya. Sopan sekali. Waktu mau mundurkan kursinya, dia minta ijin dulu. Saya pun ijinkan. Jarang ada penumpang seperti itu.

Pendingin udara di atas kepala juga bisa diatur. Ada dua buah. Biasanya saya tutup separuh karena nggak tahan dingin.

Bis baru itu mungkin untuk peremajaan. Mengganti bis yang lama. Bisa juga supaya nggak kalah bersaing dengan bis-bis DAMRI. Yang armadanya baru-baru dan tiketnya bisa dibeli online.