Penempatan bahasa Indonesia yang Tepat di Papan Informasi Bandara

Ada yang menarik ketika saya tiba di ruang kedatangan di bandara Supadio, Pontianak. Ada dua papan informasi yang tergantung di ruang itu. Satu papan menunjukkan lokasi pengambilan bagasi. Papan lainnya menunjukkan lokasi pindah pesawat dan toilet.

Yang bikin saya terpaku adalah penggunaan bahasanya. Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ada bahasa lainnya untuk menerjemahkannya :  bahasa Arab, bahasa Mandarin dan satu lagi kalo nggak salah bahasa Jepang.

Jarang saya melihat bandara internasional di negara kita papan informasinya menggunakan lebih dari dua bahasa. Biasanya yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Tata letak penggunaan bahasa Indonesia di papan informasi itu juga sudah tepat. Ukuran tulisannya lebih besar dan ditempatkan di posisi atas. Saya yakin perancang papan informasi ini mengerti betul bagaimana seharusnya menggunakan bahasa Indonesia di tempat-tempat umum. Penempatan posisi seperti itu selain menghargai bahasa nasional juga karena lokasi bandara itu di wilayah nusantara.

Sudah seharusnya papan informasi di tempat-tempat pelayanan publik mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia, setelah itu di bawah atau di sampingnya terjemahannya dalam bahasa asing.

Bukankah mengutamakan penggunaan bahasa persatuan, bahasa Indonesia, adalah salah satu bentuk kecintaan kita pada NKRI?

 

Nostalgia Makan Angkringan di Jogja

Waktu menjalani cuti bulan Juli yang lalu, saya sempatkan ke Jogja. Mengunjungi ibu bapak mertua, adik ipar dan keponakan-keponakan. Waktu ke rumah keluarga adik istri, malamnya saya diajak suaminya ke Bong Supit di Bogem Kalasan. Mendaftarkan dua anaknya yang akan dikhitan. Sekeluarga berangkat semua.

Ternyata  sampai di tempat tersebut, pendaftarannya sudah tutup. Karena waktu berangkat belum makan malam, kami mencari tempat makan yang searah pulang ke rumah di  Kadipolo, Berbah, Sleman.

Ada beberapa pilhan yang ditawarkan mas Ndoko, suami adik ipar saat ngobrol di mobil. Mau bakmi jowo, soto ayam atau angkringan. Pilihan jatuh ke angkringan yang lokasinya berada di jalan Solo-Jogja km 14.

Baru pertama kali saya ke tempat ini. Ternyata berbeda dengan bayangan saya waktu jaman kuliah dulu. Waktu itu namanya angkringan ya tempat makan mahasiswa yang murah meriah. Sebuah angkringan yang menyediakan menu khas sego kucing dan tempatnya disinari lampu teplok yang remang-remang.

Tapi angkringan yang saya temui malam itu berbeda sekali. Beberapa mobil parkir berjejer di depan empat angkringan yang terang disinari lampu neon. Setelah mengambil menu khas angkringan, pengunjung bisa memilih duduk di bangku panjang atau lesehan.

Kami berlima memilih duduk lesehan, sementara yang lainnya lebih memilih duduk di kursi panjang. Nikmat sekali rasanya bisa makan menu khas angkringan: sego kucing, tempe, sayur tumis, sate ayam dan krupuk.

Ya, meski berbeda suasananya, namun menu khasnya itu lho yang bikin kangen…sego kucing.

 

Mengejar pak Jamil Azzaini dan Ilmunya


Di susunan acara Milad ke-27 travel umroh, PT Arminareka Perdana, 16 Juli 2017 di Plenary Hall Balai Sidang Senayan Jakarta, tidak tercantum nama Jamil Azzaini, motivator, yang saya kagumi.

Namun, saya kaget ketika mendapat informasi lisan bahwa Jamil Azzaini akan tampil berbagi ilmu dan pengalaman di hadapan 4.000-an undangan, mulai jajaran direksi hingga leader-leader yang datang dari berbagai daerah.

Ini adalah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengannya.

Dan benar, selama dua jam mulai pukul 13.30 WIB saya bisa melihat langsung, menyerap ilmu dan energinya bahkan foto bersama motivator yang tulisan-tulisannya sering saya baca di blog http://www.jamilazzaini.com/

Sebelumnya, pernah juga saya lihat penampilannya di acara I’m Possible Metro TV bersama Merry Riana.

Satu hal yang saya kagumi dari sosok motivator itu adalah ekspresinya dalam presentasi. Begitu menjiwai seperti seorang aktor.

Dia bisa bersedih hingga meneteskan air mata dan berhenti sejenak menghapus air matanya dengan sapu tangan ketika bercerita kesalahannya pada sang ayah.

Di saat lain, dia begitu bersemangat mengajak hadirin menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Senyum dan tawa hadirin juga muncul ketika dia menceritakan kisah-kisah yang lucu yang dialaminya bersama anak-anaknya.

Ketika pak Jamil turun dari panggung, saya sudah berniat untuk mencegat dan minta foto bersama. Saya dan istri yang duduk di tribun di sebelah kiri panggung, harus bersiap-siap keluar ruangan. Saya bilang sama istri mau foto bareng pak Jamil. Istri mengiyakan dan menunggu saya di tribun.

Turun dari kursi, saya bergerak ke pintu keluar berlomba dengan pak Jamil yang mulai melangkah meninggalkan ruang VIP. Dalam hati saya berdoa,”Bantu aku, ya Allah bisa bertemu pak Jamil Azzaini. Ini momen yang langka”.

Alhamdulillah, ketika keluar dari ruangan, saya lihat ada beberapa orang yang mendekati pak Jamil. Otomatis langkah pak Jamil berhenti sejenak, melayani para penggemarnya yang minta foto bersama.

Setelah selesai, gantian saya yang menyapa,”Perkenalkan saya Yudhi dari Pontianak, pak, saya sering baca tulisan bapak di blog. Boleh saya foto bareng bapak?”

‘Boleh, kita foto selfi ya”jawab pak Jamil dengan senyum ramah.

Dan jadilah foto berdua dengan pak Jamil Azzaini seperti yang terlihat di atas.

 

 

Munzalan Ashabul Yamin, Ponpes Modern di Tengah Pemukiman Warga

Sewaktu di camp di awal Ramadhan dan ngobrol  santai di masjid dengan ustadz yang datang dari Pontianak, saya bercerita tentang ustadz Lukmanul Hakim, Pengasuh Ponpes Munzalan Ashabul Yamin, Kubu Raya.

Sebelumnya saya sudah baca buku karyanya yang berjudul Mustahil Miskin. Saya juga mendengar dari istri kalau ustadz Lukmanul Hakim sering mengisi pengajian Adh Dhuha di masjid Mujahidin Pontianak. Pengajian yang jamaahnya ibu-ibu semua.

Terbersit dalam hati ingin sekali datang dan silaturahmi ke Ponpesnya. Niat itu akhirnya kesampaian sewaktu saya ke Pontianak  sekitar dua minggu lalu. Setelah mengikuti rapat selama dua hari,  Sabtunya saya dan istri bersilaturahmi ke ponpes yang berada di tengah pemukiman tersebut. Istri berniat menyerahkan sumbangan uang untuk gerakan sedekah beras yang akan disalurkan bagi anak-anak panti asuhan.

Setelah bertemu dengan pengurus Baitul Maal Tamwil  (BMT) yang menerima sedekah tersebut, kami melihat-lihat suasana sekitar ponpes. Di masjid sedang ada kajian, jadi kami nggak masuk. Ada yang unik dari bangunan masjidnya. Bentuknya seperti kapal. Ada juga Radio Munzalan yang berada di sebelah BMT. Di seberang masjid.

Ponpes berada di tengah-tengah pemukiman warga. Membaur dengan warga sekitar. Bahkan ada terpal memanjang yang dipasang di sepanjang jalan di depan ponpes. Lingkungannya juga bersih, tertata rapi dan petugas yang melayani juga ramah-ramah. Rasanya betah ingin berlama-lama di situ.

Sayangnya waktu itu kami nggak bertemu dengan Ustadz Lukmanul Hakim. Ingin sih, kenalan dan ngobrol-ngobrol dengan ustadz lulusan Gontor tersebut.

Semoga di kesempatan selanjutnya bisa silaturahmi lagi ke ponpes modern itu.

Senangnya Bisa Beli Buah-buahan Langsung di Kebunnya

“Mas, hari libur kita ke kebuh buah-buahan yuk”kata mamanya Aysha.

“Dimana?”tanya saya

‘Di jalan Perjuangan, simpang Ampera terus ke barat”tambahnya

“Ya, boleh, hari libur kita ke sana”kata saya

Kami bertiga: saya, mamanya Aysha dan Nabil pun berangkat menuju tempat yang dimaksud.

Karena informasi tempatnya mengandalkan ingatan mamanya Aysha, saya coba manfaatkan google maps. Rupanya di peta digital itu belum ada penanda tempat yang dimaksud. Akhirnya, diputuskan bertanya langsung kepada orang-orang yang kami temui. Setelah berada di jalan Perjuangan, kami berhenti di dekat lapak penjual makanan. Mamanya Aysha bertanya dan diperoleh informasi, tempatnya masih lurus setelah itu ada gang dan belok kanan.

Sampai di gang yang dimaksud, saya tengok kiri kanan mencari papan nama lokasi kebun buah. Nggak ketemu juga. Terpaksa mama Aysha turun lagi dari mobil. Juga saya menanyakan ke orang- orang yang tinggal di daerah itu. Saya diberitahu bahwa lokasinya sudah terlewati.

“Itu, pak, sebelum masjid, sebelah kanan ada jalan masuk, tapi mobil nggak bisa masuk. Harus jalan kaki”kata seorang bapak sambil menunjuk ke kubah masjid yang terlihat dari depan rumahnya.

Mobil saya putar dan kembali menuju ujung jalan masuk dan parkir di halaman masjid. Kami bertiga jalan kaki ke kebun buah yang dimaksud. Setelah melewati pintu gerbang, saya lihat tidak ada tanaman buah. Yang ada bedengan-bedengan yang ditutup plastik dan ada lubang di atasnya yang tumbuh semai.

Kami pun mendekati seseorang yang sedang memperbaiki mesin potong rumput di rumah di belakang kebun buah.

Dari informasi yang kami peroleh, di kebun milik Tim Penggerak PKK Propinsi Kalbar ini memang setelah panen, baru disemaikan lagi. Jadi belum ada tanaman yang besar.

“Kalau bapak ingin lihat yang sudah besar, bisa lihat kebun yang di Kurnia, sebelum simpang Ampera sebelah kanan jalan”dia menjelaskan.

Setelah mendapat informasi itu, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Mobil saya kemudikan perlahan-lahan mendekati simpang Ampera. Mata saya fokuskan melihat nama-nama jalan yang berada di sebelah kanan jalan Prof M. Yamin. Dan akhirnya mobil saya belokkan setelah melihat plang nama jalan Kurnia. Sekitar 100 meter dari jalan Prof Yamin, di sebelah kiri jalan tepat di samping Kantor Kelurahan Kotabaru, saya temukan lokasi kebun buah itu.

Di kebun buah yang dikelola Tim Penggerak PKK Kota Pontianak itu, pemandangannya bagus sekali. Stelah melewati pintu masuk, kita akan disambut dengan buah-buah prenggi, sejenis blewah yang bergelantungan di atas kepala kita. Oleh pengelolanya, tanaman itu dirambatkan ke atas membentuk atap. Pemandangan daun hijau terlihat indah dengan kombinasi buahnya berwarna oranye kemerahan yang bergelantungan.

Tak hanya itu, saat kita masuk dan belok ke sebelah kiri, tampak tanaman melon di kanan-kiri jalan yang buahnya siap dipanen, Juga tanaman labu yang buahnya bergelantungan di atas dan samping jalan.

Pengunjung bisa langsung membeli buah segar tersebut. Saya coba memetik dua buah melon langsung dari pohonnya. Harganya sekilo 20 ribu rupiah.

“Itu anak-anak muda yang memetik melon anak-anak SMK yang sedang praktek. Anak-anak sekolah juga sering datang ke sini sama guru-gurunya. Bagus supaya mereka tahu buah melon nggak cuma di toko saja”kata pak Bambang, pengelola kebun itu.

Betul, pak. Ini anak saya juga tadi nanya,”Pohon melonnya mana, Pa?”

“Ituu… yang merambat di tongkat kayu”jawab saya

Saya baru paham, rupanya Nabil mengira pohon Melon itu bentuknya tinggi dan besar seperti pohon mangga atau jambu 🙂

 

Terharu Ketika Menghadiri Pelepasan Siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari

Tiada kata terlambat untuk belajar”

Itulah tema yang dipilih ketika pelepasan siswa-siswi kelas 6 SDS Sari Lestari yang diadakan tanggal 20 Mei lalu dan bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional.

Setiap tahun acara tersebut diadakan pihak sekolah dengan mengundang para orangtua siswa kelas 6 dan beberapa perwakilan bagian. Saya termasuk salah satu yang diundang dan sekaligus diminta memberikan sambutan mewakili pimpinan peruahaan.

Pada tahun 2017, ada 15 siswa-siswi SDS Sari Lestari yang menamatkan pendidikan di sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1999. Setelah itu, mereka akan melanjutkan sekolah ke Nanga Pinoh, Sintang atau kota-kota lainnya tempat asal orangtuanya.

Suasana pelepasan siswa juga diisi dengan penampilan murid-murid TK dan siswa-siswi kelas 1 s/d kelas 5. Ada yang menampilkan tarian dengan diiringi lagu-lagu daerah, tarian modern dengan iringan musik pop, vocal grup yang menyanyikan lagu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan ucapan terima kasih dari perwakilan kelas 6 dan orangtua siswa.

Setelah acara gerak dan lagu selesai, anak-anak kelas 6 diminta berdiri di panggung di depan masing-masing orangtuanya. Saat itulah banyak siswa dan orangtuanya yang terisak-isak ketika satu per satu guru dan karyawan menyalami mereka. Raut muka sedih tampak ketika mereka harus berpisah dengan guru-guru yang telah mendidik mulai dari TK sampai SD.

Setelah orangtua dan siswa-siswa turun dari panggung, acara berikutnya adalah ramah tamah. Acara tersebut diisi oleh kepala sekolah, Bapak Heri Kiswanto, S.Pd yang menyanyikan lagu campursari. Suaranya merdu, selaras dengan musik yang mengiringinya.

Giliran berikutnya saya tampil menyanyikan lagu yang sebelumnya dipesan oleh salah satu orangtua murid.

“Nanti waktu perpisahaan, request lagu Kemesraan, Pak”kata seorang bapak orangtua murid di kantor sehari sebelum acara.

Suasana haru saat perpisahaan kian terasa ketika secara spontan saya menyanyikan lagu tersebut yang dipopulerkan oleh Iwan Fals dan beberapa penyanyi lainnya. Beberapa siswa kelas 6 yang kembali berada di panggung melambaikan tangannya ke arah hadirin dan menangis.

Sebuah acara yang sederhana, diadakan di halaman SD, namun begitu membawa kesan yang mendalam bagi semuanya.

 

 

Bertemu Teman-Teman Lama di Palangkaraya

Jika berada di satu kota, saya berusaha bertemu dengan teman-teman yang tinggal atau bekerja di kota itu. Tak terkecuali ketika saya berada di Palangkaraya dalam rangka tugas. Mengikuti pembinaan tenaga teknis yang diadakan Balai Pengelolaan Hutan Produksi wilayah X Palangkaraya.

Saat berada di bandara tanggal 22 Mei menunggu terbang ke Palangkaraya, saya berusaha hubungi Nandang, teman kuliah, yang bekerja di BKSDA. Saya ngobrol via WA dan mengajak bertemu. Rupanya dia sudah pindah ke Jakarta sejak Pebruari lalu.

Saya coba hubungi teman lainnya yang bekerja di Dinas Kehutanan Propinsi. Namanya Rujito. Juga teman satu angkatan waktu kuliah di Jogja. Waktu itu belum ada jawaban. Alhamdulillah, sampai di Palangkaraya ada tanggapan dan dia menanyakan posisi saya. Setelah saya jelaskan saya sudah sampai di Palangkaraya, kami pun janjian bertemu tanggal 23 Mei malam. Dia juga berusaha hubungi Gunawan teman sekantornya. Selesai acara  di hotel Aquarius sekitar jam 2 siang, saya dihubungi lagi oleh Rujito. Malah dia bilang hotelnya itu dekat dengan tempat kerjanya. Hanya saja karena selesai acara diajak teman-teman dari perusahaan lain ngebakso di warung Arema, saya nggak sempat datang ke kantornya.

Sore hari menjelang maghrib Rujito telepon. Tapi karena handphone saya low batt, belum sempat saya jawab, sambungan telepon terputus. Saya harus isi dulu baterenya beberapa menit. Saya coba hubungi balik Rujito dengan handphone yang satunya. Disepakati, dia akan jemput saya di hotel dan setelah itu ke rumah Gunawan, baru ke kedai kopi.

Sekitar jam 19.30, Rujito menjemput saya di hotel dan kami berdua meluncur ke rumah Gunawan. Saat kami datang ke rumahnya, kondisi Gunawan sedang kurang fit karena batuk dan pilek. Setelah ngobrol di rumahnya, sekitar jam 21.00 kami pun pergi mencari kedai kopi.

Sampai di tempat, kami pesan kopi gayo dan robusta dengan cemilan roti bakar. Nikmatnya ngopi dan ngemil sambil bernostalgia dengan teman lama. Nggak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.20. Sudah lewat dari jadwal kedai kopi yang tutupnya pukul 22.00. Meski pintu sliding door kedai sudah tutup, namun saya lihat masih ada beberapa pengunjung yang berada di kedai itu.

“Besok siapa yang antar ke bandara?Kalau belum ada, nanti saya antar”tanya Rujito di dalam mobil sewaktu mengantar saya kembali ke hotel.

“Saya sudah pesan kawan, supaya jemput jam 5 pagi antar ke bandara”jawab saya.

“Kamu ke Palangka cuma sebentar, kalau agak lama, kita jalan-jalan lagi”kata Rujito.

“Makasih, Insyaa Allah kalau ke Palangka lagi saya hubungi. Saya ingin juga lihat tempat rehabilitasi orang utan”komentar saya

“Oo.. rehabilitasi orang utan nyaru menteng ya”kata Gunawan

Obrolan kami pun berakhir ketika mobil sampai di hotel. Setelah turun dari mobil, saya berkali-kali bilang terima kasih ke Rujito dan Gunawan. Semoga kita bisa bertemu lagi ya teman. Bersilaturahmi, bernostalgia dan menikmati sedapnya segelas kopi robusta dan lezatnya roti bakar di Palangkaraya.