Sudah Ada Warung Bakso di Camp

Keinginan saya akhirnya terkabul. Bahwa suatu saat ada yang jualan bakso di camp. Meski harus menempuh perjalanan 45 menit dari km 35 ke logpond, rasanya puas bisa nikmatin enaknya makan bakso di warung bakso barokah.

Warung bakso yang menyediakan macam-macam bakso. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso beranak, bakso lava dan juga mie ayam. Minumannya juga ada es kopyor dan es kelapa muda campur susu.

Biasanya kalau ada teman yang pergi ke arah logpond atau sebaliknya yang dari Pinoh atau Pontianak, singgah dulu di buat ngebakso. Ada juga yang bawakan oleh-oleh buat koleganya. Juga ada yang nitip ke driver dari teman-teman yang tugasnya di kantor.

Baksonya memang enak. Kalau kita ke warungnya bisa makan sambil lesehan. Yang jualan suami istri  warga desa di sekitar perusahaan. Menyediakan menu yang selama ini dirindukan karyawan perusahaan. Yang kalau ingin makan bakso harus pergi ke Nanga Pinoh, Sintang  atau Pontianak. 🙂

Iklan

Kue Bingke, Oleh-oleh Khas Pontianak

Buat saya dan istri, rasanya kok ada yang kurang kalau pulang ke Jogja atau Semarang nggak bawa oleh-oleh. Apalagi mau silaturahmi ke orangtua.

Ada tentengan baru yang saya bawa waktu ke Jogja awal Agustus lalu. Kue bingke Anggrek Hj. Nurmawati. Satu duz isinya 8 kotak. Sesuai ide istri. Oleh-oleh buat anak-anak yang kuliah dan saudara yang tinggal di sana. Biasanya sih bawa kerupuk udang atau ikan teri untuk oleh-oleh. Nah, kalau oleh-oleh ini ibu mertua yang suka 🙂

Ada beberapa rasa kue bingke. Rasa durian, ubi rambat, pandan, keju, nangka, coklat, labu juga jagung. Kue produk rumah tangga yang sering disajikan ketika berbuka puasa atau lebaran. Kue yang berbentuk segi enam dan biasanya dipotong jadi enam bagian. Rasanya yang legit dan manis. Cocok dinikmati sambil minum teh hangat.

Waktu ke Jogja, Nadia, anak pertama sengaja datang dari lokasi KKN di Magelang. Untuk bertemu saya dan mamanya. Beberapa kotak kue bingke pun dia bawa ke lokasi KKN. Supaya teman-temannya merasakan juga oleh-oleh khas dari Pontianak.

 

Rencana Tiga Reunian di Akhir 2019

Akhir tahun ini teman-teman sekolah mengajak reuni. Jadwalnya berurutan tiga bulan terakhir tahun 2019.

Reuni dengan teman-teman kuliah rencananya tanggal 19-20 Oktober di Jogjakarta. Tanggal 30 Nopember 2019 jadwal reuni dengan teman-teman SMA di Cirebon. Dan bulan Desember teman-teman SD juga ingin  mengadakan reuni di Tulung Agung. Kalau reuni SMP sudah dilakukan tahun 2017 lalu di Cirebon.

Saya masih belum putuskan mau hadir di reuni yang mana. Apakah reuni dengan teman-teman kuliah, teman-teman SMA atau teman-teman SD. Setelah lulus, dengan teman kuliah pernah bertemu di kampus waktu saya ke Jogja. Pernah juga bertemu waktu  acara seminar. Ada juga teman yang bertemu saat berkunjung ke tempat kerja saya.

Kalau SMA, saya punya dua almamater. SMA 1 Cirebon dan SMA 2 Yogyakarta. Kelas 1 dan 2 di Cirebon. Kelas 3 pindah ke Jogja. Dengan teman SMA 1, saya pernah bertemu waktu dia kuliah di Semarang. Waktu saya kuliah di Jogja dan pulang menengok ortu, saya sempatkan bertemu. Sekarang dia sudah lulus jadi dokter dan bekerja di Banjarmasin.

Ada juga bertemu teman yang diterima kuliah di  Jogja. Untuk sementara tinggal di rumah ortu sebelum dia pindah ke tempat kostnya.

Namun masih banyak yang belum bertemu lagi setelah saya pindah ke Jogja. Waktu reuni perak tahun 2014 di Cirebon saya juga nggak bisa hadir. Nah, tahun ini  mau adakan reuni mutiara, 30 tahun, 1989 – 2019. Rencananya di Cirebon. Sudah dibuat kepanitiannya. Juga jadwal kegiatannya. Sampai beberapa teman sudah bikin foto jaman dulu dan foto sekarang. 🙂

Dengan teman-teman SMA 2, saya juga belum pernah hadir di acara reuninya. Setelah lulus, saya kehilangan kontak dengan mereka. Namun, kemarin waktu lebaran ada satu orang yang datang ke rumah mertua di Jogja. Janjian bertemu sebelum dia pulang ke Jakarta dan akhirnya terlaksana juga.

Awalnya bertemu di FB. Waktu saya update status, dia komentar. Ngobrol ngalor ngidul. Ujung-ujungnya ingin bertemu. Waktu sama-sama pulang ke Jogja.

Bertemu teman-teman lama bagi saya memang mengesankan. Seperti ada semangat dan suasana baru yang hadir.

Rasanya malah seperti mimpi bisa bertemu lagi. Rasanya baru kemarin sama-sama sekolah. Sama-sama kerjakan tugas di rumah. Sama-sama latihan vocal grup, pramuka dan olahraga.  Sampai ada yang masih ingat kalau dia pernah minjam gitar saya berbulan-bulan gak dikembalikan. Saya sendiri malah sudah lupa 🙂 Padahal itu sudah 30 tahun berlalu. Namun semua kenangan itu menguat kembali saat bercerita tentang satu kata: REUNI.

Alternatif Transportasi Darat Semarang ke Jogja

Kalau di postingan sebelumnya saya berbagi  pengalaman ketika naik kereta Joglosemarkerto, kali ini saya ingin cerita transportasi darat  lain dari Semarang ke Jogja. Ada dua transportasi yang pernah saya gunakan.

Yang pertama naik travel Joglosemar. Dari rumah orangtua di jalan Arjuna dekat Udinus ke kantor Joglosemar di jalan Pemuda biasanya saya naik gocar. Ongkosnya sekitar 15 ribu. Biasanya saya beli tiketnya online. Lewat Traveloka. Praktis sih. Meski saya masih di Kalimantan sudah bisa beli tiketnya.

Cuma kalau pas kita pilih hari Jumat, Sabtu dan Minggu tiket yang sudah kita beli online gak bisa di-reschedule. Ini sayang pernah saya alami. Waktu saya beli tiket dari Jogja ke Semarang untuk keberangkatan tanggal 4 Agustus 2019. Hari Minggu. Karena hari itu mendadak saya, istri dan ibu mertua ke Kroya, tiket yang telanjur saya beli hangus karena saya nggak sempat lagi refund.

Dari Semarang ke Jogja atau sebaliknya waktu tempuhnya sekitar 4 jam kalau naik travel Joglosemar. Karena harus singgah di SPBU dekat Akpol, SPBU Srondol dan di Magelang. Ongkosnya 85 ribu. Kelebihannya kalau beli online, kalau pas ada promo bisa dapat diskon lho. Lumayan. Pernah saya beli dua tiket dapat diskon 30 ribu.

Alternatif kedua naik bis. Ini juga pernah saya coba. Naik bis Nusantara dari Semarang ke Jogja berenam sama keluarga. berangkat jam 7 pagi. Titik kumpulnya di jalan Setiabudi atau lebih dikenal dengan Sukun. Saya juga nggak tahu kenapa disebut Sukun. Mungkin dulu banyak pohon sukunnya 🙂

Kalau naik bis ongkosnya per orang lebih murah. 60 ribu. Saya belinya juga online lewat RedBuss. Cuma dari rumah ke Sukun lumayan juga ongkos taksi online-nya. 53 ribu.

Kelebihan naik bis ini waktu tempuh lebih cepat. Hanya 3 jam. Mungkin karena penumpangnya penuh. Jadi tidak mampir-mampir lagi selama perjalanan. Di Jogja pemberhentian akhirnya di Terminal Jombor. Dekat dengan kantor travel Joglosemar. Sama-sama di jalan Magelang.

 

Pengalaman Pertama Naik Kereta Joglosemarkerto

Dua anak lelaki saya, Andra dan Nabil belum pernah naik kereta api. Umurnya 14 tahun dan 12 tahun. Mereka lahir di Pontianak. Meski pernah diajak ke Yogyakarta dan Semarang, namun sekali pun belum pernah merasakan naik kereta.

Pernah ada kejadian lucu. Waktu di Semarang kami sekeluarga menginap di rumah opa dan opanya. Di jalan Sadewa Utara kelurahan Pendrikan. Hanya berjarak 100 meter dari rel kereta api. Saking inginnya lihat kereta api, setiap kali ada suara kereta api akan lewat, mereka buru-buru berlari ke luar rumah. Berdiri di depan pagar menunggu kereta datang. 🙂

Keinginan naik kereta itu akhirnya terpenuhi. Waktu habis lebaran bulan Juni lalu. Kami berempat dari Jogja naik kereta Joglosemarkerto ke Semarang. Karena tiket kereta yang berangkat pagi habis, saya beli tiket kereta yang berangkatnya malam. Jam delapan dari stasiun Tugu berangkatnya.

Sampai di stasiun Tugu waktunya mepet dengan jadwal kereta berangkat. Setelah print tiket dan diperiksa petugas, buru-buru kami naik kereta. Dan ternyata salah masuk gerbong. Yang seharusnya di gerbong eksekutif malah masuk ke gerbong ekonomi. Mau keluar gerbong takut keretanya sudah jalan. Akhirnyamenyusuri gerbong ekonomi. Sampai ketemu gerbong eksekutif.

Meski sudah merasakan naik kereta api, satu hal yang Andra dan Nabil masih penasaran. Ingin naik kereta yang berangkatnya pagi atau siang hari. Supaya bisa lihat pemandangan. 🙂

Bertemu Lagi Adik Kandung Setelah 16 Tahun

“Kapan ya kita ketemu terakhir kali?”tanya saya ke adik perempuan yang baru saja pindah ke Jogja.

“Tahun 2002 mas, waktu pernikahannya dek Irma”jawab Shinta.

“Berarti sudah 16 tahun kita nggak ketemu”kata saya

Sejak tahun 2002 itu kami belum pernah bertemu lagi. Shinta kerja di Batam. Dia dan keluarganya juga tinggal di Batam. Saya dan keluarga di Pontianak. Saya belum pernah berkunjung ke Batam. Dia juga belum pernah ke Pontianak.

Saat mudik lebaran ke Semarang, kami nggak pernah bertemu. Saya dan keluarga memang tidak setiap tahun mudik lebaran. Biasanya tiga tahun sekali baru pulang mudik. Ongkos pesawat enam orang  pergi pulang yang menjadi pertimbangan jika sekeluarga mudik ke Jawa.

Untuk mensiasatinya, biasanya kami pulang bergantian. Tidak saat suasana lebaran. Terkadang saya sendirian ke Semarang terus ke Jogja. Di lain waktu giliran istri yang pulang  ke Jawa sewaktu ada acara keluarga.

Demikian juga Shinta dengan keluarganya. Tidak setiap tahun pulang lebaran. Jika pulang untuk menengok anak pertamanya, Shindi, yang saat itu sekolah di Semarang.

Meski terpisah jauh, keinginan kami untuk bertemu tetap ada. Sering saya berdoa sehabis sholat. Minta sama Allah SWT supaya bisa dipertemukan dengan Shinta dan keluarganya

Sampai akhirnya ada berita kalau dia mau pindah ke Jogja. Karena anak kedua dan ketiganya ingin sekolah di Jogja. “Ikut kakak Shindi sekolah di Jogja”kata Cintya dan Bobby. Shindi meneruskan kuliah d Jogja setelah diterima di Fakultas Hukum UGM tahun 2018.  Karena ketiga anaknya sudah sekolah di Jogja, dia dan suaminya juga dua anaknya yang tinggal di Batam akhirnya pindah ke Jogja.

Setelah tahu dia dan keluarganya di Jogja, saya pun berusaha kontak dia untuk bertemu. Awalnya saya mau bertemu tanggal 4 Agustus jam 10 pagi. Hari Minggu. Dengan pertimbangan anak-anak libur sekolah. Ternyata pada tanggal itu dia ada acara keluar rumah. Dia tawarkan gimana kalau bertemunya tanggal 2 Agustus malam hari. Saya setuju. Akhirnya saya berdua dengan istri menemui Shinta.

Momen yang di luar dugaan saya bisa bertemu dengan mereka sekeluarga. Dan di Jogja. Hanya perlu 15 menit dari rumah mertua ke tempat tinggal mereka.

Lega rasanya setelah bertemu mereka. Apalagi setelah bertemu pertama kali dengan ponakan-ponakan. Cintya, Bobby, Almira dan Bintang.

Alhamdulillah, jalinan silaturahmi itu tersambung kembali. Setelah 16 tahun terputus.

Tambahkan Nama Kelurahan dan Kode Pos Ketika Kirim Barang via JNE

Setiap bulan saya rutin mengirim dokumen dari Pontianak ke Jakarta via JNE. Biasanya saya datang langsung ke kantor JNE di jalan Merdeka. Meski jaraknya lebih jauh dari rumah, kantor tersebut buka lebih awal. Jam 6 pagi sudah buka. Sementara agen JNE yang dekat rumah buka jam 7 pagi.

Kesempatan datang ke JNE di jalan Merdeka biasanya setelah saya antar Nabil ke sekolah.  Ada sesuatu yang berbeda ketika saya akan mengirim dokumen ke Jakarta tangal 7 Agustus lalu. Setelah mengambil nomor antrian, saya menunggu giliran dipanggil. Ketika giliran saya, petugasnya bilang supaya alamatnya dilengkapi dengan nama kelurahan dan kode pos karena di sistem aplikasi dua informasi itu harus dimasukkan. Jika tidak, dokumen tidak bisa dikirim.

Petugasnya memberikan pilihan apakah saya mau cari informasi atau hubungi langsung ke personil yang tercantum di alamat tujuan. Saya jawab saya mau telepon dulu ke kantor di Jakarta untuk minta informasi. Oleh petugas saya dipersilakan kembali ke kursi antrian dan diberikan dispensasi kalau datanya sudah dapat supaya langsung kasih tahu dia.

Saya pun telpon ke rekan di kantor Jakarta meminta  datanya. Dan Alhamdulillah saat itu juga langsung datanya saya terima.

Satu lagi hal baru ketika saya mau bayar ongkirnya. JNE memberikan pilihan apa mau dibayar tunai atau via gopay. Saya pilih via gopay. Padahal ini baru pertama kali saya bayar ongkir JNE pakai e – money. Pengin coba praktekan fintech. Bayar pakai aplikasi di handphone. Apalagi ada cash backnya yang 5 ribu.

Nggak langsung lancar karena belum tahu langkah-langkahnya. Masih dua kali error. Akhirnya yang ketiga kalinya baru bisa. Ternyata gopay nggak hanya dipakai untuk pesan online motor, mobil dan makanan. Bayar ongkir JNE pun bisa.