Suzuki Futura yang Masih Eksis dan Bermanfaat

Tak terasa 14 tahun sudah Suzuki Futura itu menemani saya dan keluarga saat bepergian. Saat ini mungkin agak susah menemukan mobil seperti itu di jalan. Mobil generasi 90-an yang saat itu banyak digunakan oleh keluarga maupun untuk angkutan kota. Keberadaannya sekarang sudah tergantikan dengan avanza dan xenia.

Berawal dari keinginan kami untuk punya mobil keluarga. Setelah survei dan cari mobil yang sesuai isi kocek, akhirnya pilihan jatuh ke Suzuki Futura tahun 1991. Kami beli saat itu dengan harga 34 juta.

Selama kami gunakan, mobil itu lancar-lancar saja. Jarang bahkan hampir nggak pernah mogok di jalan. Yang pernah kami alami bannya kempes atau bocor. Pernah juga terpikir menjual mobil itu. Sempat hubungi teman yang bisa bantu jualkan.

Setelah saya foto beberapa bagian, ada pembeli yang ingin lihat mobil itu. Tapi nggak cocok karena melihat bodinya yang saat itu di beberapa bagian retak. Jual mobil pun batal.

Akhirnya mobil saya bawa ke bengkel. Diketok dan cat ulang. Setelah lihat bodinya yang mulus, sayang kalau dijual. Sampai sekarang mobil itu tetap kami pakai. Memang dibanding avanza dan xenia, bodinya lebih panjang. Ruang di baris kedua juga lebih lebar, jadi kaki bisa selonjor. Suaranya pun masih halus.

Saya juga perhatikan jadwal penggantian oli di kartu perawatannya. Tanggal berapa harus ganti oli mesin, oli persneling, ilo gardan dan filter oli. Air radiator sebelum mesin dinyalakan juga saya cek. Kalau kurang saya tambah dan sering saya ganti baru kalau warnanya sudah keruh.

Saat mengendarai di jalan yang sepi, saya pernah coba persneling 5 dan masih oke. Cuma kalau pas jalan sama istri, dia sering khawatir kalau saya bawa mobil dan pakai gigi 5. “Hati-hati, mas, mobilnya sudah tua”katanya. Akhirnya saya turunkan kecepatan dan pindah ke gigi 4. 🙂

Ya, betul juga, harus ingat dengan kondisi mobil yang sudah  usianya 20 tahun lebih. Perlu hati-hati dan jangan emosi waktu mengendarai.

Iklan

Pemandangan Alam yang tak Pernah Bosan Memandangnya

Bekerja di camp yang dikelilingi hutan, tidak hanya dapat merasakan udara segar dan air bersih. Juga dapat bonus  pemandangan alam yang indah. Rasanya saya tidak pernah bosan memandang dan memotret pemandangan alam dari ruang kerja.

Biasanya pagi hari sebelum bekerja, saya lihat panorama Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari ruang kerja di lantai dua. Berada di ketinggian sekitar 350 di atas permukaan laut, saya begitu menikmati pemandangan dari balik jendela.

Terkadang spontan muncul keinginan memotret. Saya duduk di atas lemari arsip, handphone saya pegang dan letakkan di luar jendela dan pemandangan itu saya potret. Nggak mudah sih, karena saya hanya bisa menggunakan satu tangan untuk memegang handphone dan memotret. Bisa saja saya pegang handphone pakai dua tangan dan memotret dari dalam ruang kerja, tapi akan terhalang kaca jendela.

Dari lantai dua ruang kerja, tidak hanya melihat hutan, tapi juga bangunan mess karyawan, logistik dan karyawan yang sedang beraktivitas. Termasuk ibu-ibu yang sedang ngobrol di depan mess karyawan. Juga ibu-ibu dan karyawan yang menghampiri pedagang sayur yang menawarkan dagangannya di depan mess karyawan.

Apabila malam hari dan subuh turun hujan, terlihat kabut seperti kapas yang menyelimuti pepohonan. Ketika sang mentari mulai bersinar, perlahan-lahan kabut itu naik dan menghilang. Setelah itu pemandangan berganti dengan hamparan pepohonan yang sekilas seperti lukisan di studio. Diam, tenang dan kokoh.

Ketika sore hari dan turun hujan, kabut kembali datang dan menutupi hijaunya hutan. Jika setelah itu cuaca berubah panas dan cerah, sering muncul pelangi dalam waktu yang singkat. Sekitar 15 menit.

Itulah kelebihan bekerja di camp dan berada di ruang kerja di lantai dua. Pandangan lebih luas. Banyak hal dan aktivitass yang bisa dilihat dan dipotret.

Kudapan Siang di Kantor

Kemarin siang ada rejeki yang datang menghampiri. Saat kerja di depan laptop, office boy masuk ke ruangan sambil bawa sepiring kue donat. Nggak cuma untuk saya. Ada beberapa piring kue donat yang disajikan untuk teman-teman lainnya juga. Pas dengan kopi hangat yang sebelumnya saya buat. Cocok juga dengan cuaca yang beberapa hari ini hujan.

Sudah lama nggak ada kudapan seperti ini di kantor. Khususnya siang hari antara jam 2 – 3. Sejak ada pengetatan anggaran, kudapan yang dulu kami nikmati pasa jam kerja seperti singkong goreng, pisang goreng atau bubur kacang hijau sudah lama nggak ada.

Nah, kalau siang kemarin muncul kue donat, semoga ini menjadi awal yang baik. Tanda-tanda sudah ada perbaikan. Dan waktu pulang kerja jam empat, yang masih tersisa kue donatnya hanya yang di meja saya. Yang lainnya hanya tersisa piringnya saja. Kue donatnya? Ludes semua.. 🙂

Bersekolah di Dua SD, Satu SMP dan Dua SMA

Selama bersekolah dari SD sampai SMA, saya pernah mengalaminya di lima sekolah yang berbeda.

Waktu SD, kelas 1 – 3 di SD Citarum Semarang. Naik kelas 4 pindah ke Tulungagung mengikuti tugas orangtua. Pindah sekolah ke SD Kampung Dalem 3 sampai kelas 6.

Waktu kenaikan kelas 6 ada berita  bapak dipindahtugaskan ke  Cirebon. Sebenarnya waktu itu sudah mendaftar ke SMP 1 Tulungagung, tapi karena bertepatan dengan kepindahan ke Cirebon, proses pendaftaran di SMP 1 Tulungagung tidak saya teruskan.

Di Cirebon, karena rumah dinasnya masih ditempati, kami sekeluarga sempat menginap di hotel Cordova selama dua minggu. Awal-awal bersekolah di SMPN 5 Cirebon, saya dan adik-adik masih pergi pulang dari hotel ke sekolah. Memasuki awal minggu ketiga akhirnya kami bisa pindah ke rumah dinas.

Di Cirebon sampai kelas 2 di SMA 1. Waktu naik kelas 3 semester 1 bapak dipindatugaskan lagi ke Jogja. Waktu itu saya bimbang apakah ikut ke Jogja atau tetap meneruskan sekolah di Cirebon sampai kelas 3. Karena ingin lolos PMDK dimana nilai raport semester 1 sampai 5 sangat dipertimbangkan, akhirnya saya putuskan tetap tinggal dan sekolah di Cirebon. Itulah awal saya berpisah dengan orangtua. Saya tinggal di rumah teman bapak di jalan Pilang. Hampir setiap pagi berangkat dan pulang sekolah naik elf.

Mungkin karena kecapaian, setelah 3 bulan di kelas 3 saya sakit dan harus opname di klinik. Terkena typus. Bapak dan Ibu sampai datang ke Cirebon untuk menjenguk. Untuk perawatan lebih lanjut, diputuskan saya pindah sekolah ke Jogja.

Di Jogja, saya diterima di SMA 2 Babarsari. Nilai-nilai saya di semester 5 jatuh. Biasanya di SMA 1 Cirebon saya masuk 5 besar, di SMA 2 Jogja peringkat saya jatuh di luar 20 besar. Cita-cita lolos PMDK dengan pilihan ke IPB pun kandas.

Untuk lolos PTN, satu-satunya jalan waktu itu adalah lewat jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dengan mengikuti tes tertulis.

Saya sadar bahwa pelajaran saya tertinggal,  mau nggak mau saya harus ikut les atau bimbingan belajar. Mendekati SIPENMARU, di sekolah juga diberikan pelajaran tambahan. Saya ikuti juga, cuma kalau jadwalnya bentrok dengan jadwal bimbingan belajar, saya nggak ikut yang di sekolah. Saat ada try out pun saya ikuti.

Waktu pendaftaran SIPENMARU, karena waktu SMA berasal dari jurusan A2 saya pilih Fakultas Kehutanan UGM sebagai pilihan pertama dan pilihan keduanya di Fakultas Perikanan Undip. Alhamdulillah, Allah SWT mengijabah doa dan ikhtiar saya.  Saya diterima di pilihan pertama.

Ada hikmah yang saya petik dari sakit typus waktu awal kelas 3 itu. Rencana saya kuliah di Bogor sudah saya niatkan sejak kelas 1 SMA. Saya pun belajar keras dan meraih peringkat 5 besar di semestar 1 sampai 4 dengan nilai yang stabil. Hanya perlu 1 semester lagi untuk memenuhi persayaratan PMDK.

Namun rencana saya tidak seperti yang diharapkan ketika kelas 3. Sakit typus, opname dan setelah sembuh pindah ke Jogja. Ternyata kejadian sakit itu menjadi jalan bagi saya untuk bisa diterima kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Kuliner khas Singkawang, Mie Ayam Haji Aman, Hadir di Pontianak

Ada satu kuliner khas kota Singkawang yang terkenal. Mie ayam haji Aman. Saya dan keluarga belum pernah ke Singkawang. Apalagi menikmati kuliner khasnya.

Waktu jalan-jalan, hanya sampai pantai Pasir Panjang dan Sinka Island. Masih sekitar 17 km lagi kalau ke Singkawang. Jadi kalau ada teman yang pernah ke Singkawang dan kuliner mie ayam haji Aman, kami hanya mendengar saja.

Awal bulan September ini, saya terkejut sewaktu melintas di jalan Karya Baru. Di deretan ruko yang posisinya sebelah kiri jalan dari arah rumah, saya lihat ada satu pintu ruko yang dibuka untuk jualan mie ayam haji Aman. Dulu tempat itu digunakan untuk bimbingan belajar. Apa benar  ini cabang mie ayam haji Aman yang di Singkawang?

Karena penasaran, akhirnya sore hari saya ajak istri makan di situ. Anak-anak yang sudah mulai remaja nggak ada yang mau ikut. Semuanya tinggal di rumah. Sibuk dengan dunianya masing-masing.

Kami pesan dua porsi. Saya mie ayam yang kuahnya langsung dituang di mangkoknya. Istri pesan mie kering yang kuahnya dipisah dengan menu mie ayamnya. Untuk minumnya, saya dan istri pesan jus buah. Seporsi mie ayam harganya 16 ribu dan segelas jus buah 8 ribu.

Yang membedakan mie ayam haji Aman dengan mie ayam lainnya adalah campuran dalam mienya. Kalau mie ayam yang biasa, campurannya adalah irisan sawi hijau. Tapi mie ayam haji Aman sawi hijaunya malah nggak ada. Yang ada campuran taoge, bakso, irisan pangsit dan irisan tipis telur dadar.

Ketika pesanan selesai dihidangkan, saya bertanya ke masnya,”Apa ini cabang mie ayam haji Aman Singkawang?”

“Ya, pak”

“Selain disini, di Pontianak ini dimana lagi cabangnya?”tanya saya lagi

“Belum ada, Pak. Baru di Karya Baru ini”jawabnya

Kami benar-benar menikmati mie ayam haji Aman. Rasanya memang lezat, beda sekali dengan mie ayam biasa. Kalau ke Pontianak jadi ingin singgah ke sana lagi.

 

 

Dapat Informasi dan Segera Ditanggapi

“Mas, mobil kita mesinnya nyala tapi nggak mau digerakkan”kata istri lewat whatsapp kemarin pagi.

Dapat berita seperti itu, saya langsung telpon pak Udin, mekanik yang biasa memperbaiki mobil kami kalau ada kerusakan. Saya jelaskan masalahnya dan dia pagi itu juga akan ke rumah untuk cek mobilnya. Setelah dicek rupanya oli persnelingnya yang hampir habis. Untung pagi itu cepat diketahui penyebabnya dan ditangani pak Udin. Kalau terlambat dikerjakan bisa jadi bermasalah ketika mobil sedang dipakai.

Apalagi ketika dua hari sebelumnya pak Triyanto, tetangga belakang rumah bilang mau sewa mobil kami untuk bawa barang-barang yang akan dikirim pakai kargo di bandara. Nggak heran waktu istrinya pak Triyanto ke rumah terkejut, kok nggak ada mobil yang biasa diparkir di garasi.

“Maaf bu, mobilnya lagi dibawa mekanik. Oli persnelingnya hampir habis dan harus diisi.”kata istri saya. Setelah mobil diantar kembali pak Udin ke rumah, nggak lama kemudian pak Triyanto dan istrinya datang. Setelah sepakat nilai sewanya, kunci mobil diserahkan istri.

Beruntung, waktu dipakai pergi pulang pak Triyanto dan istrinya dari rumah ke bandara, nggak ada masalah. Beruntung waktu saya dapat informasi mobilnya bermasalah, saya cepat-cepat telepon pak Udin supaya segera ditangani.

“Saya senang mas, bisa bantu tetangga yang lagi perlu mobil”kata istri.

Ya, semoga mobil kita bisa banyak bermanfaat buat bantu orang yang memerlukan.

Ketika Banjir Mendatangkan Rejeki Bagi Warga Masyarakat

Banjir tak selalu identik dengan hambatan. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagi para pengguna jalan termasuk saya dan dua teman yang ditugaskan ke Pontianak dan Sintang, banjir di jalan induk km 3 arah logpond benar-benar menjadi penghalang perjalanan.

Namun bagi masyarakat, banjir adalah rejeki yang diberikan Tuhan. Sekali membantu menyeberangkan motor mereka mendapatkan 50 ribu rupiah dan 20 ribu untuk penumpang.

Lolos dari genangan air di km 5 dengan menerobos banjir menggunakan Hilux, di depan ada lagi hambatan. Kami turun dari mobil dan melihat apakah memungkinkan menerobos.

Oleh warga yang siap-siap menyeberangkan sepeda motor, kami diingatkan bahwa makin ke tengah air makin dalam. Kami sejenak amati apa yang dibilang warga. Ternyata benar, semakin rakit didorong ke arah tengah oleh empat orang, badan mereka semakin masuk ke dalam air hingga setinggi pinggang.

Hampir saja kami menyeberang naik sampan atau rakit. Beruntung bantuan datang. Dari logpond ada berita sedang kirimkan speed untuk jemput kami. Saat itu kami memutuskan balik lagi ke km 5.

Akhirnya kami tiba di logpond. Lanjut perjalanan menggunakan mobil avanza sampai Pinoh. Sarapan dulu dan teruskan lagi naik bis Damri. Dua orang kawan ke Pontianak, saya melanjutkan ke Sintang.