Naik Bis Maju Terus yang Baru

Saya biasa naik bis Maju Terus dari Pinoh ke Pontianak. Kadang-kadang waktu dari Pontianak – Pinoh juga. Tarifnya 175 ribu. Beli tiketnya belum bisa online. Harus pesan dulu ke petugas ticketing. Setelah sampai di Pinoh baru saya ambil tiket di agennya. Warung kopi Maju Terus. Hikmahnya, saya punya kenalan petugas bagian pemesanan tiket. Namanya Udin.

Waktu naik bis itu tanggal 7 Januari lalu saya dapat bis yang baru. Warna kursinya ngejreng. Ungu muda. Serasi dengan sarung kursinya yang biru. Kontras dengan selimutnya yang oranye. Harga tiketnya masih sama. Saya dapat info bis baru itu dari Udin sebulan sebelumnya.

Setiap penumpang dapat satu botol air mineral ukuran kecil. Di sandaran tangan kiri ada dua colokan untuk mengisi ulang batere hp. Untuk yang kursinya tunggal. Yang kursinya satu baris berdua colokannya juga di masing-masing sandaran tangan.

Saya biasa pilih yang kursinya tunggal. Selain bisnya baru, yang bikin saya terkesan itu penumpang di depan saya. Sopan sekali. Waktu mau mundurkan kursinya, dia minta ijin dulu. Saya pun ijinkan. Jarang ada penumpang seperti itu.

Pendingin udara di atas kepala juga bisa diatur. Ada dua buah. Biasanya saya tutup separuh karena nggak tahan dingin.

Bis baru itu mungkin untuk peremajaan. Mengganti bis yang lama. Bisa juga supaya nggak kalah bersaing dengan bis-bis DAMRI. Yang armadanya baru-baru dan tiketnya bisa dibeli online.

Wisata Religi di Ponpes Al Bahjah Cirebon

Tahun 2018 ketika ngobrol dengan teman SMP, saya pernah bilang,”Nanti kalau ke Cirebon lagi saya mau kunjungi Ponpes Al Bahjah dan Sentra Batik Trusmi”

Setahun sebelumnya, di bulan Maret 2017, saya berkunjung ke Cirebon. Menghadiri reuni 30 tahun SMP 5 alumni tahun 1986. Pada waktu itu karena hanya semalam di Cirebon, tidak cukup waktu untuk berkunjung kedua tempat tadi. Sampai di Cirebon sore hari, diajak bertemu dengan teman-teman yang sedang futsal. Setelah itu kembali ke hotel. Malamnya diajak ke tempat reuni untuk melihat persiapannya. Setelah itu menikmati kuliner mie koclok di jalan Lawanggada.

Pagi harinya sudah dijemput teman untuk hadiri reuni mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Selesai reuni diantar teman ke stasiun Kejaksaan. Pulang ke Semarang naik kereta.

Kesempatan ke ponpes Al Bahjah baru terlaksana waktu saya ke Cirebon tanggal 29 Nopember tahun lalu. Berangkat dari Semarang naik kereta Ciremai jam 17.40. Sampai di Cirebon sekitar jam 21.00. Dijemput teman SMP dan diajak ngobrol di salah satu cafe dekat pertigaan jalan Siliwangi dan jalan Slamet Riyadi. Pulang ke hotel sekitar jam 23.00. Setelah itu istirahat dan bangun jam 04.00. Saya sempatkan sholat subuh di masjid At Taqwa.

Sekitar jam 06.00 saya naik ojol ke ponpes Al Bahjah. Ongkosnya 25 ribu. Jaraknya sekitar 10 km dari masjid At Taqwa. Sampai di ponpes sekitar jam 06.30. Suasana  tempat kajian masih sepi. Saya manfaatkan waktu untuk melihat-lihat lingkungan ponpes Al Bahjah.

Di depan pintu masuk, saya berjalan ke arah mess santri yang berupa gedung bertingkat. Terlihat para santri bermain bola di lapangan yang juga berfungsi sebagai halaman parkir mobil. Setelah itu saya berwudhu dan masuk ke ruangan  acara kajian.

Saya dapat tempat di shaf kedua. Cukup jelas melihat tempat ustadz memberikan taushiyah. Waktu itu saya berharap bisa melihat langsung taushiyah Buya Yahya. Ternyata beliau berhalangan hadir pada hari itu. Jadwal taushiyahnya diganti oleh dua orang ustadz yang menyampaikan dua materi kajian.

Sekitar satu jam saya mengikuti kajian. Saat kajian tahap kedua berakhir, saya keluar dari ruangan karena waktu sudah menunjukkan jam 08.15. Saya harus siap-siap untuk mengikuti acara berikutnya. Hadiri reuni 30 tahun SMA 1 alumni 1989.

Sebelum pulang, saya sempatkan sarapan di warung di ponpes. Yang menarik yang melayani pembeli itu para santri. Banyak keluarga yang singgah ke warung ini untuk makan dan minum. Saya beli nasi kuning sebungkus. Harganya hanya 2 ribu rupiah. Murah banget. Selesai sarapan saja sempatkan lagi melihat-lihat lingkungan ponpes di dekat pintu keluar. Setelah itu pesan ojol untuk kembali ke hotel.

Perjalanan pulang ke hotel, driver menempuh rute yang berbeda dibandingkan waktu berangkat. Saat pergi, saya melewati rute jalan Kartini -jalan Dokter Cipto – jalan Kanggraksan – jalan Kalitanjung – jalan Pangeran Cakrabuana dan belok kanan ke ponpes Al Bahjah.

Pulangnya lewat jalan Pangeran Cakrabuana –  jalan Sultan Ageng Tirtayasa – jalan Pilang – jalan Slamet Riyadi – jalan Siliwangi.

Ketika di jalan kenalan dan ngobrol dengan driver ojol, tak disangka-sangka ternyata dia kakak kelas waktu SMP. Tiga tahun di atas angkatan saya. Obrolan pun berlanjut seputar masa sekolah dulu. Dia masih ingat guru bahasa Inggris, pak Ali Khusnan, yang ternyata juga mengajar saya dan teman-teman waktu kelas 2.

Tak terasa obrolan berakhir ketika kendaraan sampai di halaman hotel Cordova di depan stasiun Kejaksan.

Sebuah perjalanan yang sangat berkesan. Tidak hanya mendapat ilmu di pengajian, namun juga bertemu teman-teman lama yang tulus dalam menjalin persahabatan.

Pengalaman Pertama di Bandara YIA

Pulang ke Jogja dari Pontianak biasanya saya memilih terbang dari Bandara Supadio ke bandara Adisucipto. Naik pesawat NAM Air atau Express Air. Namun, tanggal 24 Nopember lalu saya mencoba memilih naik Lion Air. Yang mendarat di bandara YIA. Berangkat dari Supadio jam 10.00. Harga tiketnya lebih murah daripada tiket pesawat yang mendarat di bandara Adisucipto.

Selain harga tiket yang lebih murah. Rasa ingin tahu yang membuat saya memilih penerbangan ini. Ingin tahu seperti apa suasana bandara baru di Kulonprogo ini. Ingin tahu bagaimana rasanya memilih maskapai yang bawaan bagasinya dibatasi. Ingin tahu bagaimana transportasi selajutnya dari YIA ke Jogja. Semuanya hal baru.

Sebelum mengalaminya, saya sudah bertanya ke teman yang pernah mendarat di bandara ini. Juga saya mencari informasinya di internet. Dari bandara ke kota Jogja naik kendaraan apa? Berapa ongkosnya? Turunnya di mana?

Informasi yang saya dapatkan, ada armada DAMRI yang melayani rute dari bandara YIA  ke Jogja. Jika naik bis turunnya di kantor DAMRI di Janti.

Saat check in di bandara Supadio, petugas meminta tas traveling saya supaya ditimbang. Beratnya 6,8 kg. Masih di bawah batas maksimal 7 kg per orang. Petugas memberi tanda dengan kertas kuning bertuliskan cabin baggage. Bagasi yang diperbolehkan dibawa ke kabin.

Sesaat sebelum mendarat di bandara YIA, saya melihat pemandangan yang bagus. Ombak laut pantai selatan. Dari dalam pesawat juga terlihat landasan pacu. Seakan berdekatan dengan pantai selatan.

Saat mendarat di bandara YIA sekitar jam 12 siang, saya bergegas ke luar  pintu kedatangan dan mencari armada DAMRI. Sempat ditawari taksi online, tapi saya tolak dengan halus. Saya berjalan lagi sampai di parkiran armada DAMRI. Setelah saya sebutkan tujuan perjalanan dan membayar ongkos 50 ribu rupiah, petugasnya mengarahkan saya ke mobil shuttle. Waktu menunggu di dalam mobil, petugasnya memberitahukan supaya saya dan penumpang lainnya pindah ke mobil lain yang berangkat lebih awal.

Mobilnya masih baru. Ada lima penumpang yang naik mobil itu. Tidak menunggu penumpang penuh, mobil berangkat ke Jogja. Di sini saya melihat lingkungan di sekitar bandara sampai dengan pintu keluar masih proses pembangunan.

Perjalanan dari bandara YIA sampai Jogja sekitar 1,5 jam. Saya dan dua orang penumpang turun di jalan Ahmad Dahlan dekat perempatan Malioboro. Penumpang sebelunya turun di Gamping. Satu orang turun di depan rumah sakit PKU Muhammadiyah. Dari tempat itu saya lanjut perjalanan ke rumah bapak ibu mertua menggunakan taksi online. Ongkosnya 30 ribu.

Yang masih bikin saya penasaran perjalanan sebaliknya. Dari kota Jogjakarta ke bandara YIA.

Reuni Sambil Berwisata

Reuni 3o tahun dengan teman-teman kuliah angkatan 1989 Fakultas Kehutanan UGM itu akhirnya tidak bisa saya ikuti. Karena saya dan teman-teman di camp sedang mempersiapkan untuk kegiatan sertifikasi pengelolaan hutan pada akhir bulan Oktober.

Acara reuni diadakan di Jogja tanggal 19-20 Oktober yang lalu. Melihat foto-foto kegiatannya, ada rasa penyesalan muncul di hati. Kenapa saya tidak berada di sana bersama teman-teman?

Diawali dengan acara di fakultas. Sebagian teman-teman yang setelah lulus belum pernah bertemu, pada saat itu berkumpul kembali. Dari 126 orang teman seangkatan yang hadir reuni 60 orang. Berfoto di ruang dekan yang juga angkatan 1989, Doktor Budiadi, ahli Agroforestry lulusan Jepang. Malam sebelumnya, teman-teman yang sudah datang bertemu di acara ramah tamah di fakultas, bergabung dengan kakak dan adik angkatannya.

Pagi harinya dengan menggunakan kaos dan rompi yang seragam, mereka berfoto di depan fakultas yang papan plang penandanya sudah direnovasi. Diganti dengan latar belakang gelondongan kayu yang dipotong-potong dan di depannya bertuliskan Fakultas Kehutanan UGM. Setelah itu mereka berfoto di depan Gedung Pusat.

Acara dilanjutkan dengan perjalanan ke hutan pendidikan Wanagama. Proses napak tilas mengenang kembali masa-masa ketika kami pada tahun 1989 belajar bagaimana menghijaukan daerah yang awalnya gersang.

Setelah itu, lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah tempat wisata Tebing Breksi. Panorama di sore hari menjelang senja cukup bagus dinikmati. Selesai dari Tebing Breksi, peserta reuni diajak menikmati makanan khas Jogja, gudeg Yu Jum, di sekitar lokasi Tebing Breksi.

Pengaturan acara reuni memang profesional. Teman-teman yang tinggal di Jogja membentuk panitia. Anggotanya Budiadi, Joko “Kempong” Sulistyo, Joko “Kepek” Supriyadi, Darul Falah, Liliek Harijanto, Setiaji Heri Saputro, Anik Sulistyawati dan Israr Ardiansyah. Saat rapat beberapa kali membahas persiapan reuni, pak dekan menyediakan ruang kerjanya.

Untuk akomodasi, ketua panitia yang juga kami biasa menyebutnya kepala suku angkatan ’89, Israr Ardiansyah, menyediakan rumahnya yang biasanya digunakan sebagai home stay untuk dijadikan menginap teman-teman dari luar Jogja. Gratis. Luar biasa semangatnya untuk membantu teman-teman. Semua peserta puas dengan jadwal acara dan pelayanannya.

Karena puas dan berkesan, bahkan teman-teman yang datang dari Pekanbaru, Medan, Sumba, Jambi, Lampung menginginkan agar reuni seperti ini bisa diadakan lagi. Bisa di tempat yang berbeda atau di tempat yang sama, sekaligus untuk menengok keluarga atau anak-anaknya yang kuliah di Jogja.

Bergabung dengan Komunitas Menulis

Semua berawal dari grup WA yang saya ikuti dengan istri. Tentang Parenting. Nama grupnya Smart Islamic Parenting (SIP). Yang diasuh oleh Sri Wahyu Indawati, M.Pd. Yang lebih akrab disapa bunda Iin.

Selain memberikan kuliah WA atau kulWA, di grup itu setiap Minggu ada tugas yang harus dikerjakan oleh para anggotanya. Tugas yang sudah dibuat difoto dan diunggah ke grup. Jika suami istri, tugas tidak harus dibuat per orang tetapi dua orang mengerjakan satu tugas. Hanya kami suami istri yang tergabung di grup tersebut. Yang lainnya ibu-ibu.

Kondisi kami yang berjauhan secara fisik karena saya tugas di Melawi dan istri di Pontianak menjadi tantangan tersendiri saat mengerjakan tugas. Kami harus mencari waktu untuk ngobrol membahas penyelesaian tugas tersebut. Di pagi sampai sore hari kami  sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi tugas-tugas itu baru dapat dikerjakan malam hari. Kami berdiskusi untuk membuat visi  dan misi keluarga, program-program keluarga yang melibatkan anak-anak. Misalnya memberikan kultum setelah sholat Maghrib.

Alhamdulillah sampai dengan minggu keempat, setiap tugas yang diberikan kami dapat kerjakan sesuai tenggat waktunya. Kegiatan mengikuti grup SIP pun usai. Tapi kami masih bergabung di grup tersebut.

Sampai suatu saya menerima pesan WA dari seseorang yang mengajak untuk bergabung di grup “Ssst.. Jangan Ghibah”. Grup yang sebagian anggotanya berasal dari grup SIP. Yang unik ketika itu adminnya, mbak Lelly, mengira saya wanita karena di foto profil yang terlihat foto istri dan anak-anak saya. Foto saya di bagian paling kiri terpotong pada saat diunggah di WA.

Karena terlanjur dimasukkan ke grup yang berisi ibu-ibu dan menyanggupi syarat dan ketentuan yang ada, saya aktif di grup tersebut. Saya menganggap kekeliruan itu adalah kehendak Allah SWT. Bisa jadi ini adalah cara Allah SWT untuk mengenalkan dunia literasi kepada saya. Setelah beberapa waktu lalu saya dipertemukan dengan komunitas penggiat baca Tepian Kapuas, kita saya dikenalkan dengan komunitas menulis.

Di grup ini setiap anggotanya diminta membuat tulisan dengan syarat yang sudah ditentukan. Temanya Jangan Ghibah. Kumpulan tulisan 20 orang penulis pemula itu selanjutnya akan djadikan buku Antologi berjudul Jangan Ghibah. Ini pengalaman pertama saya menulis untuk buku Antologi. Dan alhamdulillah, sebelum tenggat waktu pengiriman naskah tanggal 5 Nopember, tulisan saya sudah selesai dan sudah dikirimkan ke mba Lelly.

 

Sedekah Buku

Alhamdulillah, sebagian buku-buku di rumah akhirnya bisa disumbangkan. Awalnya saya diprotes istri karena koleksi buku-buku di rumah bertumpuk. Rak-rak buku di rumah sudah tidak bisa memuat lagi untuk diisi buku bacaan. Bahkan beberapa buku terpaksa disimpan di kotak kardus. Diletakkan di kamar tidur saya.

Sempat terpikir ingin membuka taman bacaan atau perpustakaan pribadi tapi belum ada kesempatan untuk memilah buku sesuai kategorinya. Juga mencari lokasinya.

Akhirnya ide itu datang juga ketika saya membaca postingan di grup WhatsApp Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Kalimantan Barat (KAGAMA KALBAR). Salah satu postingan berisi foto Komunitas Baca Tepi Kapuas. Yang juga tercantum nomor telepon nara hubungnya.

Sebuah komunitas yang digagas untuk menyediakan buku-buku yang dibaca gratis di lokasi tepi sungai Kapuas. Jadwal baca buku gratis seminggu sekali. Setiap Ahad sore. Personilnya para sukarelawan yang tertarik dengan dunia literasi. Salah satunya Agus Kusmawanto yang juga adik angkatan kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Angkatan 2010. Berasal dari Cilacap. Bekerja di Badan Restorasi Gambut (BRG).

Saya hubungi dia dan mengajak bertemu di rumah. Sekalian berkenalan dan saya sampaikan maksud untuk menyumbangkan buku-buku. Untuk komunitas tepian Kapuas. Mumpung saya sedang di Pontianak.

Tanggal 10 Oktober pukul 17.00 kami sepakat bertemu. Dia datang ke rumah bersama temannya, Ibo. Mengendarai dua motor. Setelah sampai rumah, kami pun berkenalan. Saya bawakan koleksi buku-buku yang akan disumbangkan. Sebagian besar berupa novel karangan S. Mara. Gd. Novel yang sudah saya koleksi sejak SMA. Buku lainnya berupa buku manajemen, buku agama dan komik untuk anak-anak.

Saat terdengar suara azan, Agus dan Ibo berpamitan. Juga tidak lupa menawarkan ke saya untuk datang ke lapak baca gratisnya.

Saya salut dengan mereka. Di usia muda sudah punya komitmen mulia. Menjadi sukarelawan. Mengumpulkan buku-buku dan membuka lapak baca gratis untuk warga masyarakat.

Bertemu Lagi Kawan Lama di Camp

Kemarin di tempat kerja, saya menerima tamu seorang wanita. Mahasiswa S2 dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pontianak. Namanya Siti Nurlaila. Sehari-hari bekerja sebagai guru negeri. Rencananya dia akan survei awal penelitian tentang konservasi.

Setelah menemui saya di ruang kerja, saya baru ingat ternyata dia dulu waktu penelitian S1-nya juga di tempat kerja saya. Tidak hanya menyelesaikan skripsinya, dia juga bertemu jodohnya di camp. Nama suaminya Slamet Imam Zarkasyi. Bekerja di bagian yang sama dengan saya pada waktu itu. Di Pembinaan dan Perlindungan Hutan. Di hutan mereka bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah dan memiliki anak, mas Imam, demikian saya biasa memanggilnya memutuskan berhenti kerja dan pindah ke Nanga Pinoh. Di kota itu dia diterima sebagai tenaga sekuriti di Telkom. Sejak itu sampai sekarang dia tinggal di Pinoh bersama keluarganya.

Yang tidak saya duga, ternyata waktu istrinya ke camp, mas Imam juga ikut mendampingi. Alhamdulilah, sempat bertemu di kantor dan bahkan bersama-sama sholat Asar dengan saya dan teman-teman kerja lainnya. Sebuah pertemuan yang menurut saya sudah diatur Allah SWT. Kenapa?

Karena sewaktu saya dari camp transit di Pinoh sebelum berangkat ke Pontianak, belum pernah singgah ke rumahnya. Pernah bertemu sewaktu di jalan atau di terminal bis Sidomulyo.

Demikian juga ketika saya dari Pontianak akan ke camp dan singgah di Pinoh, belum sekali pun datang ke rumahnya. Padahal dia menawarkan supaya saya singgah kalau di Pinoh.

Sebuah pertemuan yang tak terduga dan mengesankan. Sekaligus reuni dengan teman lama di camp.

Mas Slamet Imam Zarkasyi berdiri paling kiri