Tugas Dadakan

Beberapa kali saya dapat tugas dadakan yang berkaitan dengan public speaking. Berbicara di depan orang banyak. Pernah waktu malam Jumat, ada teman yang WA saya.

“Besok mohon bisa gantikan saya tugas jadi imam dan khotib sholat Jumat ya, Pak”.

Pesannya baru saya balas paginya. “Ya, Insyaa Allah saya siap”.  Dan pagi itu saya siapkan materi yang akan disampaikan saat khotbah Jumat.

Pernah juga waktu acara peringatan Maulid Nabi Muhammad, teman yang mewakili pimpinan perusahaan tidak bisa berikan sambutan. Karena saat yang sama ada kunjungan tamu dari kecamatan. Agendanya pertandingan bulutangkis persahabatan. Waktu kegiatan bersamaan dengan maulid nabi.

Akhirnya teman tersebut telpon saya minta tugasnya digantikan saya. Saya pun mengiyakan karena pas nggak ada acara dan juga akan hadir di acara Maulid. Yang terbaru, dua hari lalu. Saat acara peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional. Yang acaranya disatukan di hari yang sama. Karena sudah dekat dengan ujian.

Saya baru tahu dikasih tugas sebagai pembaca doa ketika acara berlangsung. Kalau pemberitahuannya mendadak gini, saya ambil sikap tenang. Maju ke panggung, memberikan uluk salam.

Kemudian mulai berdoa dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Sudah nggak sempat lagi nyiapkan konsep doa. Untungnya setiap habis sholat saya selalu berdoa. Yang kadang-kadang dengan suara pelan. Di lain waktu dengan suara agak keras waktu jadi imam.

Nggak semua permintaan tugas dadakan itu saya penuhi. Pernah juga saya tolak.  Karena saat yang sama saya sedang mendampingi tamu perusahaan.

Semua kegiatan memang seharusnya direncanakan. Tapi terkadang ada tugas dadakan yang kita harus siap mengerjakannnya.

Iklan

Bertemu lagi Setelah 24 Tahun

Alip Winarto, dua dari kiri

Ada beberapa teman kuliah seangkatan yang sejak lulus tahun 1994 sampai tahun 2018 belum pernah bertemu lagi. Teman kuliah di Kehutanan UGM. Angkatan ’89. Belum pernah bertemu di acara seminar, reuni, kondangan atau janjian ngopi di cafe.

Salah seorang teman itu Alip Winarto. Asli Kulonprogo yang sekarang kerja di Dinas Kehutanan Kalsel di Banjarbaru. Satu kali dia pernah wa ke saya sedang di Pontianak. Sayangnya, waktu itu saya lagi di camp. Jadi nggak bisa bertemu.

Yang kedua, bulan Maret 2019 lalu. Dia dan beberapa staf Dishut Kalsel, KPH dan perusahaan diperintahkan studi banding penanaman meranti dengan sistem Silvikultur Intensif (SILIN) di tempat kerja saya.

Jadwal sudah disusun. Nama personil sudah ditentukan. Namun ada pemberitahuan, kunjungan ditunda. Karena dia dan rekan-rekannya harus mempersiapkan acara Geopark di Kalsel.

Sampai akhirnya ada pemberitahuan. Rencana kunjungan ke camp dijadwalkan lagi tanggal 2-4 April. Semoga tidak ada penundaan lagi. Dan ternyata benar, dia dan beberapa orang dari kehutanan Kalsel akhirnya tiba di camp tanggal 2 April. Kunjungan dua hari ke lapangan. Padahal perjalanannya untuk sampai ke camp cukup panjang.

Meski Banjarbaru dan Pontianak sama-sama berada di Kalimantan, tapi perjalanan harus  memutar. Banjarbaru – Jakarta – Pontianak – Sintang naik pesawat. Setelah itu dari bandara di Sintang ke camp naik mobil 4 jam. Saya sambut dia di camp km 35. Atas ijin Allah SWT kami bertemu lagi setelah 24 tahun berpisah. Reuni kecil pun terjadi di camp. Plong rasanya

Semoga pada kesempatan berikutnya, saya masih dipertemukan dengan teman-teman lainnya semasa kuliah, SMA, SMP dan SD.

Belajar E-Filling SPT Pajak

Sebelum tahun 2019, kalau saya mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak, biasanya secara manual. Mengisi formulir dengan tulisan tangan. Kemudian diserahkan ke perusahaan. Beberapa waktu kemudian saya akan menerima bukti pelaporan SPT dalam bentuk lembar warna kuning.

Tahun 2019 ini saya belajar mengisi SPT atau e-filling secara online. Belajar dari dua teman kerja yang sudah sukses mengisi e-filling dan menerima bukti pelaporannya.

Bayangan saya mengisi secara online akan lebih mudah dan cepat daripada secara manual. Ternyata nggak semudah yang saya pikirkan. Tidak hanya punya NPWP saja. Tapi juga harus punya E-FIN atau Electronic Filling Identification Number. E-FIN ini yang digunakan saat login ke laman DJP Online.

Nah, untuk mendapatkan E-FIN kita harus datang ke kantor pelayanan pajak. Juga harus punya NPWP dan bawa fotocopy KTP. Setelah mengisi formulir kita akan mendapatkan E-FIN.

Setelah itu baru kita pilih dan isi tahap demi tahap di komputer. Untuk memilih dan mengisi data yang 18 tahap itu siapkan juga Kartu Keluarga dan Bukti Pemotongan PPH pasal 21 bagi wajib pajak yang statusnya pegawai atau karyawan.

Pada saat pengisian inilah problem muncul. Karena pengisian secara online, maka lancarnya akses internet sangat diperlukan. Saya sempat mengalami kesulitan karena sinyal internet di camp naik turun. Mengisi NPWP pemotong dan tanggal pemotongan lancar tapi nama perusahaan pemotong nggak muncul. Saya ulangi lagi sampai 5 kali. Khawatir salah input datanya. Ternyata masih sama hasilnya. Nama perusahaan kok nggak ada.

Sampai saya panggil teman kerja yang pernah mengisi e-filling. Dia bilang langkah-langkahnya sudah betul, dan harusnya nama perusahaan otomatis muncul. Mengisi formulir diulang lagi. Masih sama juga. Belum muncul nama perusahaannya. Akhirnya baru tahu kalau penyebabnya bukan karena salah pengisian tapi kondisi jaringan internetnya yang nggak stabil.

Saya coba lagi akhirnya di malam hari, karena sampai jam setengah lima sore belum bisa juga proses pelaporan onlinenya. Mungkin karena siang dan sore hari banyak yang akses internet, jadi agak lemot untuk proses pengisian data online.

Jam delapan malam, setelah makan malam, saya ulangi lagi prosesnya. Dari awal mengetik lagi sampai langkah ke-18. Alhamdulillah, berhasil. Dan SPT Pajak tahun 2018 pun dikirimkan langsung lewat email. Malam itu juga.

Puasa Internet

Selama tiga hari pelatihan Dendrologi di camp Litbang dan Lingkungan km 54, dua hari saya puasa akses internet. Benar-benar stop browsing, chatting dan update status. Fokus belajar dan praktek ilmu pengenalan jenis tumbuhan dan pohon.

Meski hanya berjarak 19 km dari base camp, akses internet belum sampai ke sana. Yang bisa hanya akses SMS dan telepon di tempat tertentu. Itu pun harus menggunakan hp jadul. Bukan hp smartphone.

Hari pertama terasa berat. Masih adaptasi. Tiap pagi biasa buka wa dan liat informasi terbaru. Jawab atau komen di whatsapp. Karena nggak ada akses internet, nggak bisa lagi merespon. Tapi malah ada hikmahnya. Saya punya kesempatan baca-baca info dan chat di whatsapp yang selama ini nggak  tersentuh.

Hari kedua dan ketiga sudah mulai terbiasa nggak buka hp. Jadi waktu yang ada ya buat training. Dengerin tentor di ruangan dan ke lapangan. Pulangnya istirahat. Atau nonton tivi. Juga ngobrol. Bertatap muka. Bukan ngobrol yang dikit-dikit liat notifikasi. Benar-benar bebas suara hp.

Setelah ikut training dan puasa akses internet, ada efeknya. Waktu pulang ke base camp, saya lebih bisa mengendalikan diri untuk nggak cepat-cepat respon atau liat notifikasi. Lebih rileks, nggak buru-buru pengin jawab atau komen lagi. Ada jeda waktu. Yang bisa saya gunakan lebih banyak buat kegiatan offline. Dan yang saya rasakan, hati jadi lebih tenang. Ayem.

Saya berpikir, sesekali kita perlu rehat sejenak dari akses internet. Sehari puasa dari scroll-scroll dan klik-klik. Apalagi membaca sampai rinci isi chat yang panjang. Dan pengin banget komen.  Atau unggah foto kegiatan yang sedang dilakukan.

Sebagai gantinya, waktu bisa digunakan fokus buat kegiatan yang bukan online.

Musim Kelengkeng Hutan dan Sembulan

Kelengkeng Hutan

Bulan Maret ini lagi musim buah-buahan lokal di camp. Kelengkeng hutan dan sembulan. Bentuk kelengkeng hutan agak berbeda dengan kelengkeng biasa. Terutama permukaan kulitnya. Kalau kelengkeng biasa kulitnya polos dan halus sementara kelengkeng hutan sekilas mirip dengan buah rotan. Permukaannya bergerigi.

Daging buah dan biji kelengkeng hutan

Daging buah kelengkeng hutan lebih tipis daripada kelengkeng biasa. Rasanya seperti buah leccy. Kalau kita buka kulitnya tangan terasa agak lengket. Bijinya sama-sama berwarna hitam.

Ada satu buah lagi yang lagi musim di camp. Sembulan. bentuk dan ukurannya mirip buah langsat atau duku. Bedanya kalau sembulan rasanya agak asam dan tekstur buahnya lebih tipis.

Kalau sudah musim dua buah itu, jumlahnya melimpah. Beberapa teman kadang-kadang menawarkan ke saya supaya ambil dan nikmati. Lumayan, rejeki temannya sholeh. 🙂

Anggrek Tanah dan Anggrek Tebu

Anggrek Tanah

Tiga hari mendampingi tamu ke camp Litbang dan Lingkungan (LLB) km 54 membawa berkah. Tamu dari WWF  yang akan memberikan pelatihan Dendrologi. Ilmu dan praktek tentang pengenalan jenis tumbuhan dan pohon.

Tak hanya bisa ikut pelatihan Dendrologi. Waktu jam istirahat  saya gunakan memotret anggrek tanah dan anggrek tebu di sana. Padahal waktu di perjalanan camp km 35 – camp LLB sejauh 19 km, di kiri kanan jalan saya lihat tak satu pun anggrek tanah yang berbunga.

Anehnya, waktu di camp LLB anggrek tersebut malah berbunga. Segar dan indah sekali. Demikian juga dengan anggrek tebu yang ditanam di depan kantor. Tumbuh subur dan berbunga indah.

Anggrek Tebu

Berbeda lokasi ternyata berpengaruh pada proses pembungaan anggrek tanah. Padahal jenisnya sama dan tempat tumbuhnya juga relatif sama. Iklim juga sama. Cuaca yang kadang-kadang berbeda karena jika di camp km LLB hujan, di beberapa lokasi di jalan km 35 – camp LLB belum tentu hujan. Dan sebaliknya.

Daun Ubi Rebus Kesukaan

Salah satu menu kesukaan saya itu daun ubi rebus, tahu goreng dan sambal. Sudah beberapa minggu tidak menikmati menu itu. Sampai ketika sore-sore habis pulang kerja ada seorang ibu yang jualan daun ubi. Ditemani bocah lelaki anaknya. Menawarkan sampai ke depan kamar.

Saya yang lagi telpon awalnya nggak tertarik beli. Ketika beberapa kali nawarkan luluh juga hati saya. Dua lembar lima ribuan saya serahkan ke ibu itu. Sekantung plastik besar daun ubi saya terima.

Daun ubinya dimasak dengan tangkainya. Diberi sedikit minyak. Waktu dihidangkan, daun-daunnya baru dipetik untuk lalapan. Rasanya lebih enak daripada kalau daunnya dipetik dari tangkainya sebelum dimasak.

Dan keinginan makan siang dengan menu kesukaan pun kesampaian. Makan siang bareng teman-teman kantor. Kalau menunya seperti itu, nggak nahan kalau nggak nambah. Ya nasinya, tahu gorengnya, daun ubi rebusnya sambalnya juga.