Perahu Klotok, Transportasi Utama di Pedalaman Kalteng

Tidak seperti di Pulau Jawa ataupun Sumatera, dimana untuk menjangkau satu wilayah dengan wilayah lainnya telah terhubung dengan transportasi darat, di daerah pedalaman Kalimantan termasuk wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng),  transportasi sungai merupakan urat nadi bagi mobilitas warga masyarakat.

Di tengah keterbatasan infrastruktur jalan darat yang belum memungkinkan  menghubungkan satu wilayah kecamatan dengan kecamatan lainnya ataupun beberapa desa dalam satu kecamatan, warga masyarakat sering menggunakan perahu klotok untuk berbagai keperluan, mulai berbelanja kebutuhan pokok, mengunjungi sanak saudara ataupun menjual hasil usaha.

Perahu klotok, alat transportasi sungai yang biasa digunakan masyarakat terbuat dari bahan kayu keras seperti ulin (Eusideroxylon swageri) dan digerakkan menggunakan mesin kendaraan roda empat berbahan bakar solar. Alat transportasi berupa perahu klotok tersebut memiliki kapasitas penumpang bervariasi, mulai klotok berukuran kecil yang berisi 5 penumpang (biasanya untuk transportasi dalam satu desa dan tidak memiliki atap), dan klotok berukuran besar berkapasitas 15 – 30 orang  untuk melayani rute yang menghubungkan antar kecamatan.

Perahu klotok besar dilengkapi dengan stir seperti kendaraan roda empat dan dikemudikan oleh seorang motoris, sementara satu orang di belakang bertugas mengarahkan baling-baling dan membuang air sungai yang masuk ke dalam perahu. Para penumpang biasanya duduk di deretan depan dan tengah perahu, sementara itu barang-barang bawaan atau belanjaan diletakkan di bagian belakang.

Karena menempuh perjalanan jauh dan untuk mengurangi sengatan matahari, perahu klotok berukuran besar ini memiliki atap yang terbuat dari terpal plastik yang diikatkan pada kerangka besi yang dibuat melengkung dan melintang dari sisi kiri – kanan perahu. Dan untuk para penumpang, jangan lupa membawa bekal minuman dan makanan ringan secukupnya, karena hempasan angin dan deru suara mesin perahu di sepanjang perjalanan  membuat perut cepat lapar.

Perahu klotok berukuran besar sering digunakan masyarakat termasuk karyawan perusahaan yang bepergian menyusuri sungai dari daerah hulu ke hilir dan sebaliknya yang rutenya belum tersedia transportasi darat.

Salah seorang rekan kerja, Mas Aldy  yang pernah bepergian ke Palangkaraya melalui transportasi sungai menceritakan, dia harus berangkat dari base camp jam 4 pagi untuk mendapatkan perahu klotok reguler dari Tumbang Kejamei (Ibukota Kecamatan Bukit Raya) menuju Tumbang Senamang (Ibukota kecamatan Katingan Hulu) dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kalau terlambat, resiko carter dengan biaya lebih mahal pun siap menanti dibandingkan dengan tarif reguler sebesar Rp 100.000 per orang.

Tiba di Tumbang Senamang, ada dua pilihan rute yang tersedia. Pilihan pertama, perjalanan dilanjutkan ke Tumbang Hiran (Ibukota kecamatan Marikit) selama sekitar 3 jam menggunakan perahu klotok yang berbeda. Pilihan kedua dari Tumbang Senamang langsung ke Tumbang Samba (Ibukota Kecamatan Katingan Tengah).

Rute Tumbang Senamang – Tumbang Hiran sering menjadi pilihan, karena tersedia jalan tanah melewati perusahaan HPH dari Tumbang Hiran menuju Tumbang Samba. Selain itu, jika memilih langsung ke Tumbang Samba berarti siap-siap menguji nyali karena harus melewati Riam Mengkikit, riam yang sangat terkenal di jalur sungai Katingan.

Jika tetap harus melewati riam ini, bagi penumpang yang tidak mau bertaruh nyawa disarankan turun dari perahu klotok dan berjalan kaki sekitar 600 meter, sambil sesekali melihat perjuangan motoris mengemudikan perahu klotok berusaha lolos dari pusaran arus air yang deras. Tapi bagi yang punya hobi arung jeram, tantangan Riam Mengkikit tampaknya boleh dicoba.

Tiba di Tumbang Samba, tersedia banyak pilihan kendaraan roda empat menuju Kasongan (ibukota Kabupaten Katingan) dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Dari Kasongan, perjalanan melewati jalan aspal mulus dan relatif lurus menuju Palangkaraya selama 1,5 jam, seperti mengobati rasa lelah perjalanan menyusuri sungai, hingga akhirnya tiba di Palangkaraya sekitar jam 7 malam.

Luar biasa sobat, betapa tidak, untuk menempuh perjalanan dari ibu kota kecamatan hingga tiba di ibukota propinsi, sang teman dan para penumpang lainnya harus memerlukan waktu tempuh lebih dari 12 jam. Kalau di pulau Jawa, waktu tempuh itu setara dengan perjalanan dari Jakarta ke Jogjakarta menggunakan kendaraan roda empat dan melewati empat propinsi.

11 pemikiran pada “Perahu Klotok, Transportasi Utama di Pedalaman Kalteng

  1. bisa juga jadi sarana perjalanan wisata tuh.. tapi, sungguh jauh dari ibukota kecamatan ke ibukota propinsi, dengan langkanya BBM di kalimantan, wajarlah saudara kita disana demo minta jatah BBM yang lebih banyak..

  2. ovann

    kalo mau pesan utk pembuatan perahu kelotok ini dimana y? please no kontaknya kl ada di info kan mas… mksh

    1. Perahu klotok tersebut buatan warga desa Tumbang Kejame, Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan.
      Maaf, saya nggak punya no kontaknya. Desa tersebut saat ini belum terjangkau jaringan telekomunikasi seluler.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s